Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
CEO muda


__ADS_3

...💔💔🌹...


Pak Jaya menganggukkan kepalanya, pada mama Nami. Sepasang suami istri itu kembali ke rumah mereka, dan membiarkan Aulia dengan di temani 2 orang bodyguard Radit.


...🌹🌹🌹...


Waktu terus bergulir, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Setelah meninggal


nya Raditia Prasetyo. Aulia yang ceria telah lenyap seiring waktu. Terlahir lah Aulia yang pendiam, tidak banyak bicara, dan Aulia yang tertutup. Aulia benar benar berubah menjadi seseorang yang sulit untuk di mengerti.


Namun rumah singgah yang dulu di dirikan oleh Radit, masih tetap berlanjut hingga saat ini. Setiap tanggal di mana harusnya Aulia menikah dengan Radit, menjadi tanggal suram untuk Aulia.


Tanggal ia di tinggal untuk selama nya oleh Radit, cinta pertamanya yang tidak mungkin untuk Aulia lupakan.


"Ma, Aulia berangkat dulu ya!" Aulia mencium punggung tangan mama Nami dan papa Jaya.


"Kamu gak sarapan dulu, sayang?" tanya papa Jaya.


"Nanti aja pah di kampus." kilah Aulia.


"Ayo lah nak, kita sarapan bersama. Kita sudah lama tidak sarapan bersama." terang papa Jaya dengan setengah memaksa.


"Baik lah." dengan berat hati, Aulia mendudukkan dirinya di kursi, mereka bertiga akhirnya sarapan bersama di pagi hari yang cerah.


"Apa gak sebaiknya kamu mencari pacar, nak? Nak Radit pasti mengerti, dan bahkan merasa bahagia jika melihat kamu memiliki pendamping baru. Kamu berhak untuk bahagia, nak!" ujar mama Nami.

__ADS_1


"Kita mau sarapan atau cuma akan membahas ini mah? Jika mama ingin membahas ini lagi, hasilnya tetap sama mah!" Aulia yang baru makan dua suap pun memilih untuk beranjak, kembali mencium punggung tangan mama Nami dan papa Jaya.


"Sayang! Habiskan dulu sarapan kamu, nak!" ujar papa Jaya dengan menggelengkan kepalanya pada mama Nami.


"Maafkan mama sayang! Mama hanya ingin melihat kamu bahagia!" seru mama Nami dengan wajah sedihnya.


"Aulia harus ke kampus mah, aku ada mata kuliah pagi!" ucap Aulia datar, aku tidak ingin menghianati mu, Radit.


Aulia melenggang ke luar, meninggalkan meja makan. Sebelum ke kantor, ia akan ke kampus dulu untuk mengikuti mata kuliah.


Aulia mengelola perusahaan yang di tinggalkan Radit untuknya. Aset aset berharga milik Radit, sudah berganti nama menjadi milik Aulia. Dengan di bantu David dan Dava, Aulia semakin melebarkan sayap usahanya itu.


Aulia menjelma menjadi CEO muda, ia juga sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar sarjana. Sedangkan aset lainnya atas nama orang tua Radit, di hibahkan untuk pembangunan masjid, serta pantai asuhan.


"Apa Nona mau sarapan dulu? Saya yakin, Nona pasti belum sarapan!" ujar David yang berada di belakang kemudi.


Di kampus Aulia mengikuti mata kuliah dengan serius. Ia satu jurusan dengan Seli dan Farel. Sedangkan Lia memilih untuk membuka usaha, dengan memanfaatkan salah satu rumah kontrakannya.


"Aulia, habis ini lo ada acara gak?" tanya Seli.


"Balik kantor. Gimana dengan rencana kalian? Lo berdua jadi kan merid di tahun ini?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik.


"Gwe kurang tahu kalo itu, ka Arya belum ngebahas lagi sama gwe. Tapi kalo jodoh, gak akan ke mana ko. Jika benar gwe ini berjodoh dengan ka Arya, pasti kita bakal merid." terang Seli dengan senyum getir.


"Yang sabar ya! Semoga lo tahun ini beneran bakal mengakhiri masa lajang kalian berdua." ujar Aulia dengan penuh harap.

__ADS_1


"Terus, lo kapan nyusul buat merid? Setahu gwe, setelah kejadian itu... lo gak pernah deket lagi sama cowok mana pun! Kecuali ke 2 bodyguard lo itu!" cicit Seli.


Aulia membuang nafasnya dengan kasar, "Kita kan lagi bahas lo, jangan bahas gwe!" ucap Aulia dingin.


"Sorry, tapi lo mesti buka hati lo, Aulia... lo gak mungkin bisa akan terus seperti ini!" ujar Seli.


Farel yang mendengarnya pun ikut bicara, dengan menghampiri ke duanya, "Ehem ehem, gak usah maksa Aulia gitu lah Seli... sama kaya lo aja, jika udah jodoh pasti gak akan ke mana. Begitu pun dengan Aulia, jika Aulia udah ketemu sama cowok yang pas buat hatinya, pasti dengan sendirinya Aulia akan membuka hati buat itu cowok!"


"Lo bener Farel, maaf ya Aulia... gwe udah maksain banget lo buat buka hati lo, sedangkan hati lo aja masih terluka." ujar Seli.


"Iya, gwe maafin lo. Tapi tolong jangan pernah ngomongin itu lagi, oke!" Aulia menunjukkan jari kelingking kanannya ke hadapan Seli.


Seli menyunggingkan senyumnya, ikut menunjukkan jari manisnya dan menautkan jari manis ke duanya.


"Gitu kan enak, jadi adem tau gak. Gwe tuh ngelietnya!" ucap Farel.


Aulia kembali memasuki mobil setelah mata kuliah usai di kampus. Menuju kantor bersama dengan David dan Dava.


Bugh


Bersambung...


...🌹🌹🌹...


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅

__ADS_1


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2