Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Radit terpaku


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


Devi yang samar samar mendengar ucapan Nindi, mengerutkan keningnya, "Lo ngomong apaan, Nin?" tanyanya dengan polos.


"Gak, gwe laper!" Nindi menduduk kan dirinya di kursi yang tidak jauh dari meja Aulia.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Orangnya nongol juga itu, baru juga di omongin namanya! Ehem ehem." ledek Seli saat melihat Nindi.


Radit, Danu, Aulia serta Lia melihat ke arah Nindi berada.


Deg deg deg.


Tatapan Danu beradu pandang dengan Nindi, sialll kenapa lagi sama jantung gwe nih! Kenapa jadi berdebar gini sih! Apa gwe salah makan ya?


Nindi melihat Danu dengan datar, lalu memalingkan wajah ke mang Dadang.


"Tega banget kalian, makan gak ajak ajak gwe!" sungut Farel yang baru saja tiba di kantin.


"Lo yang kelamaan ngerjain soalnya, dodol!" celetuk Seli.


"Lo pesen bakso gih! Sama minum sekalian!" ujar Radit.


Farel mengerutkan keningnya, "Lo yang bayarin ya!"


"Iihs bawel banget! Gwe nyuruh lo mesen, bukan bayar, dodol!" Radit menyuapkan kembali bakso ke mulut Aulia, begitu pun dengan Aulia.


Tanpa terasa waktu terus berputar, hari berganti hari, minggu berganti minggu, persiapan untuk acara pernikahan Radit dan Aulia sudah mulai tampak rampung.


Usai jam sekolah usai, Radit dan Aulia langsung menuju sebuah butik yang cukup terkenal di kota itu.


"Apa kamu yakin, Dit! Cuma kita berdua doang yang ke sana?" tanya Aulia.


"Yakin sayang, kenapa? Kamu gak yakin sama aku? Kan sebentar lagi juga kita akan menikah, tinggal di atap yang sama." terang Radit.


"Aku masih gak nyangka loh Dit, waktu berputar begitu cepat. Kayanya tuh baru kemarin kita ketemu tunangan, deket, dan sekarang kita mau fitting gaun pengantin." ujar Aulia panjang lebar.


"Setelah feeting gaun, kamu mau kan ke apartemen ku dulu, apartemen yang kelak akan kita tempati?"


Aulia langsung menoleh ke arah Radit, "Apartemen? Kita tidak tinggal di rumah biasa?"


Radit menggelengkan kepalanya, "Tidak, uang ku belum cukup untuk membangun rumah besar, dengan kolam renang, beberapa fasilitas yang cukup lah membuat mu merasa nyaman berlama lama di dalam rumah." ujar Radit.


"Radit, aku tidak butuh rumah yang besar bak istana... cukup rumah sederhana, dengan adanya kamu dan aku yang tinggal di sana. Itu sudah cukup mewah bagi ku!" ujar Aulia.


Radit menatap Aulia dengan bangga, "Aku beruntung mendapat kan wanita seperti mu, sayang! Jika ke banyakan wanita menginginkan rumah besar, beberapa fasilitas mewah, serta alat transportasi yang memadai. Tapi kamu malah meminta hal yang berbeda dari ku."


"Harta masih bisa kita cari bersama, Radit! Tapi Radit ---" Aulia tidak melanjutkan perkataannya, ia menggantungkan kata katanya.


Radit mengerutkan keningnya, "Tapi apa? Apa masih ada yang mengganjal di hati mu? Katakan saja, aku akan mendengarkan mu bicara!"


"Bagai mana cara kita bertahan hidup? Kita kan masih sama sama sekolah, Radit!" terang Aulia.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu, aku sudah memikirkan nya, jauh sebelum pertunangan kita di langsungkan." terang Radit.


Aulia membola, "Kamu serius sudah memikirkan hal itu, Dit?"


Radit menganggukkan kepalanya, bertepatan dengan Radit yang menepikan mobilnya di parkiran.


"Apa kamu akan bekerja sambil sekolah, Dit?" tanya Aulia yang kini ke duanya melangkah memasuki butik.


"Nanti kita bicarakan ya!" Radit merekatkan tangannya di pinggang Aulia, mereka langsung di sambut seorang wanita cantik yang sudah berumur, wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik butik itu sendiri.


"Selamat datang, Tuan Muda!" ucapnya dengan ramah, menyambuat Radit dan Aulia.


"Mama sudah membuatkan janji pada mu kan?" tanya Radit dengan datar.


"Sudah Tuan, mari ikuti saya Tuan. Kami sudah menyiapkan beberapa gaun yang sesuai dengan standar Nyonya, semua sudah kami siapkan di ruang VVIP." ucap Eti.


"Jika ada yang kurang, Nona bisa katakan langsung pada saya, biar nanti bisa langsung di sesuaikan dengan ke inginan Nona." ujar Eti.


"Apa di sini hanya aku saja yang akan mencoba gaun pengantin ku? Apa kamu tidak akan mencoba jas mu, Dit?" tanya Aulia.


"Aku juga akan mencobanya." cicit Radit.


"Waaah apa gak salah? Aku hanya akan mencoba gaun pengantin, kenapa sebanyak ini yang kalian siapkan?" tanya Aulia, yang terpukau dengan beberapa gaun pengantin terpajang di depan matanya.


"Kami hanya menjalankan apa yang di perintahkan Nyonya Sita, Nona!" ujar Eti.


"Bukannya kita hanya akan melangsungkan pernikahan secara tertutup ya, Dit?" tanya Aulia.


Sementara tangan Radit langsung tertuju pada sebuah gaun, dan mengambilnya, "Coba kamu pakai ini!"


"Tidak di sini sayang, tapi di tempat ganti. Tapi jika kamu tidak ke beratan, aku tidak masalah melihat mu berganti di depan ku!" ledek Radit dengan senyum menyeringai.


"Radit, ihs... nyeselin banget sih!" Aulia mengambil gaun dari tangan Radit, gaun yang di pilihkan sendiri oleh calon imamnya.


"Biar saya antar Nona!" Eti mengantar Aulia ke ruang ganti.


Sementara Radit langsung mengambil jas, pasangan dari gaun pengantin yang sedang di coba Aulia.


Keren juga gwe. Semoga hari cepat berganti, gwe sah jadi suami lo, temen hidup lo, Aulia Anastasya. Gwe berharap apa yang udah gwe lakuin selama ini bisa membuat ke hidupan kita kelak bahagia, tanpa ke kurangan suatu apa pun.


Radit sengaja menyembunyikan beberapa usahanya dari Aulia, Radit sudah berencana untuk memberi tahukan nya pada Aulia setelah mereka sah menjadi suami istri.


Itu ia akan jadikan hadiah pernikahan untuk Aulia, beberapa nama aset perusahaan milik Radit, sudah ia ganti dengan nama Aulia Anastasya, serta untuk ke dua orang tuanya.


Radit berbicara dengan seseorang lewat hape-nya, "Cepat ke butik xxxx, aku ingin kau mengambil beberapa gambar ku untuk prewedding. Aku tunggu kau dalam waktu 5 menit dari sekarang!" ucap Radit, setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


[ "A- apa bos? 5 menit, mana cukup bos untuk aku sampai di tempat itu! Setidaknya aku butuh waktu 15 menit untuk sampai di tempat itu!" ] ujar seseorang dari sebrang sana.


"Baik lah, waktu mu hanya 15 menit dari sekarang." Radit langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Aulia berjalan menghampiri Radit, dengan di bantu Eti yang memegangi ekor gaun pengantin yang di kenakan Aulia.

__ADS_1


"Ehem ehem, Radit... gimana penampilan ku!" ujar Aulia yang kini sudah berada di belakang Radit yang sedang menunggunya.


Aulia tidak berani menatap Radit, wajahnya teramat malu, ia yakin jika Radit akan memujinya.


Radit membalikkan tubuhnya, melihat ke arah Aulia, gila Aulia cantik bangat, gak salah mama sama papa jodohin gwe sama dia. Gak cuma wajahnya yang baik, tapi hatinya juga baik.


Aulia langsung mengerucutkan bibirnya tajam, saat Radit malah memberikan kode pada Eti untuk lebih dekat lagi padanya.


Aulia membatin dengan menatap Radit jengkel, dasarrr pria gak peka, puji gwe kek, bilang cantik, manis, imut, atau apa kek gitu! Nyeselin banget sih lo Radit!


"Ada apa Tuan? Apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya Eti yang kini sudah berdiri di dekat Radit.


"Aku ingin kau makeup dirinya, buat ia secantik mungkin. Waktu mu hanya 15 menit dari sekarang!" titah Radit.


"Radit, buat apa makeup? Kita di sini cuma mau fitting gaun lo! Jangan aneh aneh, Radit!" sungut Aulia.


"Aku berubah pikiran Aulia, sayang kan kamu udah mengenakan gaun itu, sudah cantik tapi kita tidak mengabadikan nya, lebih baik sekalian aja kita prewedding." ucap Radit dengan santainya.


"Ide bagus Tuan Muda!" seru Eti dengan mengacungkan 2 jempolnya.


"Astagaaa Radit!" sungut Aulia dengan membola.


Radit memberikan kerintah pada Eti, lewat gerakan kepalanya, Eti yang mengerti langsung mengangguk patuh.


"Ayo Nona, ikut saya sebentar! Ini tidak akan memakan waktu lama, kok!" seru Eti.


Aulia di makeup oleh Eti, selain pemilik butik, Eti juga seorang MUA, sudah banyak artis serta pejabat yang menggunakan jasa MUA nya.


"Nona ini sudah cantik, manis, tidak perlu makeup tebal pun, aura ke cantikan mu sudah nampak Nona." terang Eti, yang tampak kagum dengan wajah polos, cantik yang di miliki Aulia.


Eti membawa kembali Aulia yang sudah di rias ke hadapan Radit. Radit terpaku melihat Aulia dengan balutan gaun pengantin, serta makeup tipis yang menambah cantik wajah calon istrinya itu.


Sepertinya ke putusan mama itu ada benarnya juga, aku memang harus segera menikahi mu, Aulia.


"Apa aku terlalu buruk di mata mu, hingga kamu gak berkedip, Radit?" tanya Aulia dengan polosnya.


"Kamu sangat cantik!" puji Radit.


Ke duanya melakukan prosesi pemotretan, untuk prewedding mereka yang tidak akan lama lagi berlangsung.



"Aku mencintai mu, Aulia!" seru Radit dengan tatapan yang terus mengarah pada wajah Aulia.


"Jangan lihat aku seperti itu, Radit! Malu itu ada tukang fotonya!" Aulia memalingkan wajahnya dengan pipi yang merona di tatap Radit.


"Bukan tukang foto, tapi fotografer!" Radit menyunggingkan senyumnya, melihat Aulia yang salah tingkah dalam dekapannya.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2