
...🌹🌹🌹...
Beberapa menit kemudian, di lobby rumah sakit Permata.
"Ka, kita duluan aja deh ke tempat Aulia di rawat." ajak Seli pada Arya, setelah beberapa saat menunggu Lia dan Farel di lobby rumah sakit.
"Ga enak Sel, mungkin lagi di jalan. Tunggu bentar lagi." bujuk Arya dengan sabar.
Beberapa kali Seli beranjak dari duduknya di sofa, menoleh ke arah pintu masuk lobby rumah sakit, berharap dapat melihat 2 mahkluk yang sedang mereka tunggu.
"Harusnya Lia sama Farel itu udah nyampe ka. Danu aja udah nyampe, merekakan sama sama pake motor ke sininya!" ucap Seli dengan wajah gelisah, pikirannya sudah sangat ingin berada di dekat Aulia.
"Kata Seli ada benernya juga tuh ka. Kita duluan aja lah ka!" Danu mendukung ajakan Seli.
Dengan berat hati, Arya menyetujui ke inginan Seli dan Danu. Mereka bertiga langsung menuju ruang rawat Aulia yang sebelumnya, karena dari mereka bertiga tidak ada yang tahu, jika Aulia di pindahkan dari ruang rawat.
Ceklek.
Seli berseru dengan riang, membuka pintu ruang rawat Aulia, namun ucapannya terhenti. Saat melihat ruang rawat yang kini kosong.
"Aulia, kita dat- teng! Lo mana Aulia nya? Ko kosong?" cicit Seli dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa mungkin Aulia sudah di bawa pulang ke rumah?" pikir Arya.
"Gak mungkin kan, Aulia itu masih butuh perawatan dari dokter." bantah Seli.
"Apa mungkin Aulia, pindah ruang rawat?" tebak Danu.
Dengan bodohhhnya Arya mengajukan pertanyaan pada Seli, setelah mendengar ucapan Danu.
"Kamu tau ruang rawat Aulia yang baru?"
Seli menggelangkan kepalanya, sebagai jawaban tidak tahu.
"Kalo gitu... biar gwe telpon Radit, ka." usul Danu dengan mengeluarkan hapenya dari saku celananya.
Arya mencegah Danu untuk menghubungi Radit, "Kita tanya bagian informasi aja." usul Arya.
"Kenapa gak telpon Aulia aja si ka!" tanya Seli.
"Biar ke jutan buat Aulia... jadi kita gak perlu kasih tau dia kalo kita udah di sini." pikir Arya.
Ke tiganya melangkah ke luar dari ruang rawat yang kosong itu. Mencoba bertanya pada bagian informasi.
"Kalian tunggu di sini, biar gwe yang tanya." ucap Arya pada ke duanya, untuk menunggu di depan lift.
"Permisi suster." tanya Arya, saat sudah berdiri di depan suster yang berada di belakang meja kerjanya.
"Iya... ada yang bisa saya bantu, dik?" tanya suster Lala dengan ramah.
"Saya mau tanya, ruang rawat atas nama Aulia Anastasya di mana ya, sus?" tanya Arya.
"Adik ini temannya ya?" tebak suster Lala.
"Iya suster... kami temannya." Arya menoleh ke arah Seli dan Danu berada, "Apa suster bisa memberi tahu, di mana ruang rawatnya?" tanya Arya.
"Ada di lantai 5 dan ruang VVIP, yang di jaga oleh dua pengawal ya dik." ucap suster Lala.
"Makasih ya sus." ucap Arya, lalu mengayunkan langkah kakinya menuju Danu dan Seli.
"Kamu kasih tau Lia, kalo kita duluan ke ruang rawat Aulia, sekalian kasih tau kalo ruang rawat Aulia udah pindah, jangan sampe kaya kita." ujar Arya memberi tahu Seli, setelah menekan tombol 5 pada dinding lift.
"Lo di mana, Lia? Gwe sama yang lain duluan ke ruang rawat Aulia. Lo nyusul ya! Ada di lantai 5, VVIP yang pintunya di jaga 2 orang penjaga." pesan chat yang di kirim Seli ke nomor Lia.
"Apa kita gak salah lantai ini, ka? Sepi banget ka." tanya Seli, dengan berbisik pada Arya, merinding dengan lorong rumah sakit yang ia lihat sepi.
"Bener ko." ucap Arya.
__ADS_1
"Wiiiih Aulia sultan ini mah ka." ujar Danu yang sudah di buat geleng geleng kepala.
"Maaf, kalian mau cari siapa?" tanya David dengan datar, saat melihat Arya yang kini berdiri di depannya.
"Kami mau bertemu dengan Aulia. Apa benar ini ruang rawatnya?" tanya Arya pada orang yang berdiri lebih dekat darinya.
"Nama kalian siapa?" tanya pengawal yang satunya, suaranya tidak kalah datar.
"Saya Arya, ini Seli dan ini Danu." Arya menunjuk Seli dan Danu.
"Tunggu sebentar." ucap David.
Tok tok tok.
Pintu di ketuk oleh David.
"Masuk." seru Radit, dari dalam ruang rawat.
David masuk ke dalam ruang rawat. Setelah dekat David menunduk hormat pada Radit.
"Ada apa?" Tanya Radit.
"Di luar ada Arya, Seli dan Danu... Tuan. Mereka ingin bertemu dengan Nona Aulia." ucap David setelah membungkuk hormat.
"Aulia, apa kamu mau menemui mereka?" tanya Radit sebelum memberi ke putusan.
"Ya pasti lah, Dit. Merekakan teman dan sahabat ku." Aulia mengerucutkan bibirnya, melihat Radit yang malah memberikan pertanyaan konyol baginya.
"Biarkan mereka masuk." titah Radit pada David.
Setelah mendengar apa jawaban Radit, David kembali ke luar dan mengatakan pada ke tiganya.
"Kalian boleh masuk." cicit David pada ke tiganya.
Dava yang mendengarnya, langsung membukakan pintu untuk ke tiganya.
"Aulia, gwe kangen banget sama lo." Seli mencium ke dua pipi Aulia, yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.
"Gwe juga kangen banget sama lo." Aulia membiarkan tangan kirinya di genggam Seli.
"Hai bro, tadi kenapa gak masuk lo?" tanya Danu sambil memeluk Radit.
"Aulia gak bisa jauh dari gwe." ledek Radit.
Aulia mengerutkan keningnya, "Apa sih kamu, Dit."
"Kamu gimana Aulia? Apa udah enakan?" tanya Arya dengan penuh perhatian.
"Mendingan ko ka." Aulia menyunggingkan senyumnya.
Seli duduk di sisi kiri Aulia di sofa panjang. Sambil terus memperhatikan sahabatnya yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. Sedangkan Radit, Danu dan Arya duduk di bangku untuk membahas Lusi.
"Aulia, maafin gwe... andai waktu itu gwe ikut lo ke toilet. Lo pasti gak akan kaya gini." ucap Seli dengan penuh sesal.
"Udah Sel, ini bukan salah lo ko. Gak usah di bahas ya. Oh iya, Lia tumben gak ikut sama lo?" tanya Aulia.
"Harusnya si udah dari tadi itu anak nyampe. Mungkin ada yang di beli dulu sama Lia." pikir Seli.
Seli dan Aulia membahas pelajaran, dan Seli juga tidak lupa menceritakan pada Aulia, tentang ke jadian tadi di sekolah.
Di tempat lain, Lia dan Farel.
"Kamu gimana sih Lia." Kata Farel dengan kesalnya.
Jelas Farel kesal, sudah dua kamar yang di masukinya, ternyata bukan tempat di mana Aulia di rawat. Yang ada hanya di semprot orang karena salah faham.
"Aku itu udah yakin banget Farel, kalo ini benar lantai di mana Aulia di rawat." ujar Lia meyakinkan Farel, dengan rasa bersalahnya, maaf Farel, kan gwe juga gak tau kalo jadinya kaya gini.
__ADS_1
"Itu mungkin, ruang VIP yang itu." Lia menunjuk salah satu ruang.
Kreeek, pintu langsung di buka oleh Lia.
Lia melihat hanya ada pasien dengan kepala di perban, yang sedang tidur membelakangi dirinya, tanpa ada seorang pun yang menunggunya.
Lia dan Farel pun langsung masuk ke ruang rawat itu. Farel meletakkan bungkusan roti bredtolk ke atas meja.
"Ya ampun Aulia, pasti kepala lo sakit banget sampe di perban gitu!" ucap Lia sambil duduk di sisi kanan ranjang rawat.
"Cantik Aulia, lo beneran tidur ya? Gwe Farel nih dateng jenguk lo bareng bebeb Lia." tangan Farel, terulur menyentuh bahu orang yang sedang tidur itu.
Farel mengerutkan keningnya, kenapa bahu Aulia jadi keras gini ya. Apa karena efek lagi sakit kali ya.
"Apaan si lo, ngaur aja lo... duduk sana lo. Itu ada bangku nganggur!" gerutu Lia, menunjuk ke arah bangku.
"Gwe mau di sini aja deket lo terus bebeb Lia." ledek Farel.
"Lebay lo." sungut Lia.
Lia memijat kaki si pasien yang tengah tertidur itu.
Kreeek.
Pintu di buka.
"Kalian siapa?" tanya wanita muda, yang sedang menggendong anak perempuan balitanya dengan tangan kirinya.
Lia menoleh dan membatin, perasaan Aulia gak punya kaka perempuan atau pun ponakan balita.
"Maaf ka, kami ini temanya Aulia." ucap Lia dengan beranjak dari duduknya, menatap wanita yang menggendong anaknya, melangkah masuk ke dalam ruang rawat.
"Aulia siapa maksud kalian?" tanya wanita muda itu lagi, ia berjalan mendekat ke sisi kiri ranjang.
"Ini ka, Aulia teman kami yang sedang sakit." Lia menunjuk ke arah orang yang sedang tidur di ranjang itu.
"Sejak kapan suami saya berubah jadi perempuan?" tanya wanita muda itu lagi.
"Apa, suami?" tanya Lia dan Farel berbarengan.
"Mas, bangun kamu mas!" wanita muda itu mengguncangkan tubuh orang yang berbaring di ranjang, dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mengendong balitanya.
"Ada apa si mah, kepala papa masih sakit." ujar si pasien dengan terpaksa membuka ke dua matanya, dari rasa kantuk yang menyerangnya.
"Sejak kapan kamu pake nama Aulia, mas?" tanya wanita muda itu lagi, dengan sorot mata tajam, berfikir jika suaminya berkhianat.
"Aulia apa sih maksud kamu itu, mah." ucap si pasien dengan bungung.
Wanita muda itu menunjukkan jari ke arah belakang suaminya.
"Ya ampun, Lia!" Farel nampak syok, saat melihat seseorang yang ia pikir adalah Aulia.
"Ma- maaf ka, ka- kami salah masuk kamar rawat. Ka- kami ki- kira ini tempat teman kami di rawat. Ma- maaf ya ka!" Farel menarik tangan kanannya Lia, dan langsung ke luar dari ruang rawat.
Saking asyiknya bercerita pada Aulia. Seli jadi lupa, jika dia juga sedang menunggu Lia untuk menjenguk Aulia di rumah sakit.
Danu mengerutkan keningnya, "Bro, sepertinya ada yang kurang! Tapi apa ya!" tanya Danu, yang merasa formasi gengnya kurang lengkap.
"Astaga Farel dan Lia!" ujar Radit dan Danu berbarengan.
Bersambung....
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1