
...π₯π₯π₯...
"Gimana pergerakan nya, David?" tanya Radit, saat sambungan teleponnya kini di jawab oleh seseorang yang ada di sebrang sana.
Rupanya saat ini Radit sedang menelepon David, orang ke percayaannya yang ia tugaskan, untuk mengikuti ke mana pun Lusi pergi.
Setelah kejadian di rumah sakit, saat Lusi berniat ingin menjenguk Aulia, Radit mencium bau balas dendam yang akan di lakukan gadis itu. Sejak itu lah Radit menugaskan David, untuk mengawasi pergerakan yang Lusi lakukan.
Sedangkan untuk Aulia, Radit sendiri yang akan mengawasi dan melindunginya. Gimana tidak, pulang pergi sekolah selalu dengan Radit, hanya tinggal menunggu waktu untuk meresmikan hubungan mereka.
[ "Lusi siang ini menemui beberapa preman, bos!" ] kata David.
Radit mengerutkan keningnya, apa lagi yang akan ia rencanakan kali ini?
"Awasi terus apa saja yang ia lakukan." titah Radit dengan datar, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa memberikan ke sempatan untuk David menjawab perkataannya.
Radit menyimpan kembali ponselnya di dekat ia duduk, dan kembali fokus pada laptopnya.
Mama Sita yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Radit, akhirnya mengayunkan ke dua kakinya memasuki kamar putra tunggalnya.
"Kamu belum tidur, Dit?"
"Belum mah, mama sendiri kenapa belum tidur?" Radit menatap wajah sang mama, yang nampak keriput halusss di wajah cantiknya.
Bukannya menjawab pertanyaan Radit, mama Sita justru memberi kan pertanyaan pada Radit.
"Kamu kapan sih, Dit... mau nikahin Aulia?" mama Sita mendaratkan bobot tubuhnya di tepian tempat tidur Radit.
"Sabar ya mah." ujar Radit dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya, mama ini jika sudah ada maunya.
Radit menutup laptopnya, dan meletakkan nya di atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
Tik.
"Gimana kalo mama aja yang atur acara kalian ya, Dit!" usul mama Sita sambil menjentikkan jarinya.
"Atur gimana maksud, mama?" tanya Radit.
"Pokonya tunggu kabar baik dari mama ya!" seru mama Sita, lalu beranjak dari duduknya.
"Udah kamu tidur ajah, ini udah malam." ucap mama Sita sambil mengacak acak rambut Radit.
"Maaah!" teriak Radit kesal, karena mama Sita mengacak acak rambutnya, "Radit bukan anak kecil lagi!" bantah Radit.
Melihat Radit yang kesal, mama Sita pun langsung mencubittt pipi Radit.
"Anak kecil mama, dikit lagi buatin mama cucu yah hahaha!" mama Sita menjawilll dagu Radit, dengan terkekeh.
"iiihsss si mama gak sabaran banget sih. Makanya, buatkan aku adik mah hehehe." ledek Radit pada mama.
"Kalo bisa, mama sudah lama buatkan kamu adik untuk teman kamu, Radit." ucap mama Sita, yang seketika tampak murung menyelimuti wajah cerianya.
__ADS_1
Radit menelan salivanya dengan sulit, saat ia menyadari sudah melakukan ke salahan, melukai hati mamanya, Radit mengelusss punggung sang mama.
"Maaf kan Radit ya ma, belum bisa membuat mama bahagia... kali ini atur mama ajah. Tapi inget, habis nikah. Aku dan Aulia tidak akan tinggal di rumah mama, kami akan hidup mandiri." Radit mengalah dan menyerahkan segala urusan pernikahan pada mamanya.
Ke esokan paginya di ruang makan kediaman papa Wiko dan mama Sita.
"Papa mau tambah lagi, lauk atau nasinya?" mama Sita menawarkan makanan pada suaminya, dengan wajah yang cerah, secerah mentari pagi saat ini.
Telapak tangan kanan Wiko terulur ke depan, mencegah saat sang istri ingin menambahkan lauk ke dalam piring Wiko.
"Tidak usah mah, ini juga masih ada." papa menolak tawaran istrinya.
"Kamu, Dit? Ada lagi yang mau kamu makan?" ucap mama dengan senangnya.
"Udah cukup mah, ini ajah." ucap Radit.
Papa yang merasa heran dengan sikap istri tercintanya, langsung angkat suara.
"Mama lagi kenapa sih, aneh banget. Mama habis menang undian ya?" tanya papa Wiko pada akhirnya.
"Emang mama kenapa, pah?" tanya mama Sita yang merasa dirinya biasa saja.
"Iya benar itu Tuan besar.... Nyonya hari ini lagi aneh, Tuan besar." kata mbok Asih yang tiba tiba muncul dengan membawa buah di atas mangkuk besar di tangannya, asisten rumah tangga di rumah orang tua Radit.
"Mama, aneh kenapa mbok?" tanya Radit penasaran.
Mbok Asih memberikan mangkuk besar yang ia bawa pada Nyonya besarnya, mamaΒ Sita.
Wiko mengerutkan keningnya, "Bersendang? Apaan tuh mbok?" tanya papa Wiko, yang pura pura tidak mengerti maksud dari mbok Asih.
"Itu loh Tuan, kaya artis yang di televisi itu, yang nyanyi sambil joget joget." mbok Asih berusaha menjelaskan maksud perkataannya pada Tuan Wiko.
"Coba mbok... kaya gimana tadi mama lagi masak?" pinta Radit.
"Radit, apa sih kamu." ucap mama Sita, yang malu jika aksinya di dapur di ketahui oleh Radit dan suaminya.
Mama Sita membatin, sebelum mbok Asih mencontohkan tingkah ku tadi di dapur saat memasak, lebih baik suruh mbok Asih pergi ke dapur aja deh.
"Mbok, udah gih sana ke dapur lagi. Buatin saya teh manis hangat." pinta mama Sita.
"Iya Nyonya." mbok Asih berjalan meninggalkan Tuannya ke arah dapur, untuk membuatkan teh manis hangat untuk Nyonya Sita.
Radit dan papa Rama saling tatap.
"Kamu tahu, Dit? Maksudnya mbok Asih? Papa masih penasaran nih Dit, tadi mama kamu ngapain aja ya di dapur sambil masak." ledek papa Wiko, yang sebenarnya sudah hafal betul dengan tingkah istrinya jika hatinya lagi merasa senang.
"Hahhaha, ya tahu lah pah. Mama gitu." ucap Radit dengan tergelak, "Udah ah pah, Radit duluan ya!" ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Radit duluan mah, pah." ucap Radit sambil berjalan ke bangku yang tadi ia duduki, setelah mencium punggung tangan kanan papa dan mamanya, lalu meraih tas punggung yang tadi ia letakkan di bangku sebelah kanannya.
Radit berjalan dengan meletakkan tas di bahu kanannya lalu berjalan ke luar.
__ADS_1
"Hati hati ya sayang!" kata mama Sita.
Radit mengendarai mobilnya untuk menjemput Aulia, Radit mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, karena suasana jalan yang masih sepi.
Ciiiiit.
Radit menginjak pedal remnya, saat ada sebuah sepeda motor yang tiba tiba berhenti di depan mobilnya.
Radit menatap tajam pada ke dua orang pria yang turun dari motor nya, setelah berhasil membuat Radit menghentikan laju mobilnya, ke dua orang yang tampak seperti preman itu, kini menghampiri pintu mobil di mana Radit berada.
Radit membatin, kemungkinan besar mereka adalah orang yang di temui Lusi! Benar benar ular, tidak bisa di buat menyerah meski apa yang sudah aku lakukan, sudah membuat keluarganya hampir bangkrut!
Brak brak.
Salah seorang di antaranya memukulll kap mobil Radit dengan keras.
"Ke luar lo! Dasarrr pecundang!" serunya dengan suara basnya.
Ceklek.
Sreek.
Salah satu di antaranya menarik kerah seragam Radit, membuat Radit sedikit tertarik ke arahnya.
"Serahin semua barang yang lo punya! Jika lo ingin selamat!" serunya dengan penuh penekanan.
Sreek.
Radit menepis tangan preman itu dari kerah seragam yang ia kenakan, "Gwe bisa bayar kalian 5 kali lipat, lebih banyak dari apa yang sudah di berikan ular itu pada kalian!" ucap Radit dengan santai nya.
Preman yang tadi menarik kerah leher Radit menatap sinis Radit, "Lo pikir, gwe percaya?"
"Terserah kalian mau percaya atau tidak, tapi jika kalian berani menyentuh ku sekali lagi! Siapkan lah mental kalian untuk masuk liang lahat!" ucap Radit dengan tatapan dinginnya.
"Sialannn lo, banyak bacottt!" pria yang berdiri di belakang temannya berusaha menyerang Radit dengan belatiii yang ada di tangannya.
"Pergi lo ke neraka!" serunya dengan berjalan cepat, dan mengarahkan belatiii yang ia pegang ke perut Radit.
Hus.
Sreek.
Trak.
Bersambung...
...πΉπΉπΉ...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo π π
Menghalu itu gak mudah say π
__ADS_1