
...🌹🌹🌹...
Seli membola, "Astaghfirullah, terus gimana sama nasib itu mamud dan suaminya?" tanya Seli, tatapan yang penuh selidik pada Lia.
"Kayanya beneran perang dunia, itu mamud udah teriak teriak ke lakinya." ujar Farel dengan menggaruk tengkuk lehernya.
"Terus lo dengan teganya ninggalin mereka gitu aja tanpa dosa? Tanpa jelasin ke mereka juga?" tanya Radit.
"Tanpa dosa gimana, si Dit... gwe udah investasi itu Dit, buat mereka." celetuk Farel.
Tak.
Danu menoyorrr kepala Farel dengan tangannya sambil berseru, "Investasi apa lo bocah?"
"Sesama bocah jangan gitu lo... gwe kan udah investasi roti bredtolk yang harusnya buat kita makan bareng bareng." sungut Farel.
"Ahahahaha dasarrr bocah, roti bredtolk lo kata investasi." Danu tergelak mendengar ocehan Farel.
"Heh ember bocor, orang kalo abis marah marah itu pasti bawaannya laper. Gak pake susah susah nyari makan, udah ada roti bredtolk dari gwe kan. Payah lo gak mikir ke situ." kilah Farel dengan pemikirannya.
"Tumben otak lo lagi bener di ajak mikir."Â ledek Danu.
Farel mengerutkan keningnya, "Kamprettt lo, maksud lo... otak gwe jarang benernya gitu?"
Bukan Danu yang menjawab pertanyaan Farrel, melainkan Seli.
"Heh dodol Farrel... kalo otak lo bener, tadi ngapain juga lo ikutin saran dari Lia? Kan lo bisa langsung tanya suster tempat Aulia di rawat!"
"Ahahaha bener itu Sel, otaknya tadi lagi koslettt, Sel." Danu tergelak kembali, membenarkan perkataan Seli.
"Koslettt di hati, Lia." timpal Arya.
"Apa sih kalian ini." gerutu Lia menahann malu, dengan mata berbinar, tersungging sedikit senyuman di bibirnya.
Lia menatap wajah Farel, ah masa sih gwe suka sama Farel! Tapi kenapa hati gwe seneng di ledekin sama dia.
"Malu malu meyong lo, Li." ledek Radit.
Kreeeek.
Pintu kamar Aulia di rawat di buka oleh Dava.
Dava berjalan masuk menghampiri Tuan Muda-nya, dengan membawa berbagai macam jenis makanan, yang tadi sempat di pesan oleh Radit.
"Permisi Tuan, ini semua pesanan anda Tuan." Dava meletakkan semua yang ia bawa di atas meja.
"Udah di bayarkan?" tanya Radit.
"Sudah Tuan, ada lagi Tuan?" tanya Dava dengan hormat.
"Bawa ini untuk mu dan juga David." Radit menyerahkan pitza dan minuman soda, serta dua paket chicken pada Dava.
"Terima kasih, Tuan." Dava pun meraih apa yang di berikan Tuan-nya, ia menundukkan kepalanya dengan hormat, sebelum meninggalkan ruang rawat.
Setelah Dava sudah benar benar menghilang dari balik pintu, Danu dan Farel lagi lagi di buat takjub dengan sahabat barunya ini.
"Dit, gwe mau nanya dong sama lo." tanya Danu.
"Tanya apa?" kata Radit.
Farel yang tidak sabar, akhirnya bertanya lebih dulu, "Dua orang yang di luar itu siapa sih?"
Peletak.
Danu menjitak kepala Farel dengan berseru kesal, "Itu kan pertanyaan yang mau gwe tanyain ke Radit, dodol."
"Ngaku ngaku bae lo, inisiatif dong kalo mau tanya tuh wek!" Farel menjulurkan lidahnya, meledek Danu.
"Sesama bocah jangan saling memuji." celetuk Arya.
"Bukan muji ka, tapi menghina." ralat Farel.
__ADS_1
"Mereka yang bakal jagain Aulia mulai sekarang." ujar Radit.
Danu menggelengkan kepalanya, "Wiiih mantep." seru Danu
Farel menunjukkan 2 jempol tangan kanan dan kirinya pada Radit, "Keren pisan, eeey."
Radit memberikan paket chicken ke arah Danu, Farel dan Arya. Sedangkan pitza di hidangkan Radit di atas meja.
Radit beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Seli dan Lia, yang sedari tadi duduk di samping ranjang Aulia di rawat.
"Ini untuk kalian." Radit menyerah kan pitza dan dua paket chicken serta minumnya.
"Thanks." ucap Lia.
"Sama sama." kata Radit.
Aulia menatap Radit dengan tanda tanya besar di hatinya, kenapa cuma bawa 2, kan orangnya ada 3.
"Aku mana?" tanya Aulia.
Radit pun beralih mendekat ke tempat Aulia berada, "Buat kamu spesial."
Aulia mengerutkan keningnya, "Mana? Lo gak bawa apa apa buat gwe, Radit!"
Cup.
"Aku gak suka di panggil lo, panggil Radit! Kamu! Ngerti!" titah Radit.
Aulia menyentuh bibirnya yang di cium Radit, "Ihsss gak gitu juga kali!"
Radit beralih ke parsel buah yang ada di atas meja kecil, yang berada di samping kanan Aulia. Radit mengambil sebuah jeruk, dari dalam parsel yang tadi di bawa oleh Seli dan juga Arya. Bahkan Radit membukakan kulit jeruk.
"Ayo buka mulut mu!" Radit mengarahkan jeruk, ke depan bibir Aulia dengan tangannya.
"Aku bisa makan sendiri!" Aulia ingin meraih jeruk dari tangan Radit, namun dengan cepat tangan Radit menghindar dan langsung mendaratkan ke dalam mulut Aulia.
"Roman romannya udah ada yang bisa terima nih, hubungan baru di antara kalian!" ledek Seli dengan memainkan alisnya naik turun.
Aulia merona malu, berkata dengan pelan, "Apa sih! Lo Sel kalo ngomong ---"
Yang lain ikut tertawa, mereka semua makan bersama dengan canda tawa, sesekali Farel di buat kesal dengan ucapan Danu.
...🌄🌄🌄...
Pagi ini di rumah sakit, jam menunjukkan pukul 9 pagi. Kali ini Aulia tidak hanya di temani oleh Radit melainkan ada mama Nami dan ada mama Sita juga.
"Sayang, setelah ke luar dari rumah sakit, nanti kamu ikut mama ke Bandung ya!" pinta mama Sita pada Aulia.
"Ko ke Bandung, mah? Kan sekolah belum libur mah." tanya Aulia.
"Kan kamu lagi masa penyembuhan dulu sayang. Jadi gak ada itu yang namanya sekolah." ujar mama Sita.
"Tapi kan aku mau sekolah, mah." kekeh Aulia yang merasa keadaan nya lebih baik.
"Emang kamu udah bener pulih sayang?" mama Nami tampak khawatir.
"Udah mah, Aulia rindu suasana sekolah, mah." Ujar Aulia.
Mama Sita membuang nafasnya dengan kasar, lalu menatap Radit dengan tajam, "Radit, di sekolah tugas kamu jagain Aulia. Awas kalo sampai anak mama kenapa kenapa lagi."
"Kali ini gak akan kecolongan lagi, mah." ucap Radit dengan yakin.
"Kalo kamu sampe lalai lagi, kamu bakal mama hukum... gak boleh ketemu Aulia!" ancammm mama Sita lagi pada Radit.
Mama Nami menelan salivanya dengan sulit, "Jangan jeng, kalo gak boleh ketemu. Gimana dengan rencana kita jeng?" tanya mama Nami.
Mama Sita tampak ragu dengan keputusannya, setelah mendengar ucapan mama Nami, iya juga ya, kalo Radit gak ketemu Aulia. Gimana mau jalanin rencana yang udah aku buat dengan mam Nami.
"Ehem hukumannya mama ganti, kamu harus menginap di rumah Aulia sampai kalian nikah." ujar mama Sita dengan tegas.
Radit menyunggingkan senyum di bibirnya, "Oke."
__ADS_1
"Kamu setujukan, sayang?" tanya mama Sita tanpa menoleh Aulia, melainkan sibuk dengan perencanaan yang di buat mama Nami, untuk acara pernikahan ke duanya nanti.
Aulia tidak menjawab pertanyaan dari mama Sita.
"Aulia tidur, mah." Radit menoleh ke arah Aulia, nampak Aulia tengah tertidur pulas.
"Pantes aja dari tadi anteng gak ada suaranya." cicit mama Nami.
Mama Sita menatap sedih Aulia, "Kasian kamu nak, jadi harus di rawat di rumah sakit."
"Harusnya kita ini udah lagi sibuk ke luar masuk toko, untuk membeli barang barang seserahan ya, jeng!"
"Yang sabar ya mam. Ini ujian untuk Aulia." mama Sita berusaha. menghibur calon besannya.
Kreeeek.
Pintu kamar rawat Aulia di buka dari luar oleh Dava.
Dava berjalan menghampiri Radit.
"Permisi Tuan... di luar ada Lusi ingin bertemu dengan Nona Aulia." ujar Dava.
Mama Sita mengerutkan keningnya, mendengar nama Lusi di sebut, nama anak itu! "Mama mau bicara dengannya, Dit!"
"Mama juga mau Dit, bicara dengan anak yang bernama Lusi." ujar mama Nami yang tidak mau kalah dari mama Sita.
"Biar Radit aja mah yang bertemu dengan, Lusi." Radit beranjak dari duduknya, berjalan ke luar.
Dava pun mengikuti langkah Radit, ke luar dari kamar rawat Aulia.
Radit menatap datar Lusi yang kini berdiri di hadapannya, "Masih punya muka juga lo!"
"Gwe dateng ke sini cuma pengen ketemu dengan Aulia, dan bukan buat bertemu dengan lo." ucap Lusi yang tidak kalah sinis.
"Gwe izinin lo ketemu dengan Aulia dengan satu syarat!"
Lusi mengerutkan keningnya, sialannn... kenapa ribet gini sih! "Syarat apa?"
"Gwe punya penawaran buat lo, lo harus janji, gak akan ngulangin ke salahan yang sama, kalo perlu tinggalian kota ini!" pinta Radit.
Lusi menatap sinis Radit, persetannn dengan janji, "Gwe gak bisa."
"Lo keberatan... lo nyentuh Aulia seujung kuku pun. Hari itu juga gwe jamin, usaha orang tua lo bangkrut. Gak ada lagi nama keluarga Prayoga." Radit menyeringai.
Lusi menunjuk Radit dengan jari telunjuk tangan kanannya, "Awas lo... berani sentuh keluarga gwe. Lo yang bakal gwe habisinnn!"
Radit menepis hari telunjuk Lusi dengan kasar, "Kita liat aja. Masih ada 1 kan usaha orang tua lo, yang masih berdiri kokoh!" ucap Radit dengan senyum yang sulit di artikan.
Lusi menajamkan pandangannya, "Jadi ini semua ulah, lo?"
"Salahin diri lo sendiri... yang udah berani nyakitin Aulia dengan segala ke bodohan lo." Radit tersenyum penuh kemenangan.
Lusi mengepalkan tangannya, menatap Radit dengan kesal, kenapa harus Aulia sih yang dapatin Radit, kenapa bukan gwe?
"Kenapa lo diem?" Radit menatap datar Lusi.
"Oke gwe setuju, gwe gak akan ganggu kalian lagi. Tapi gwe minta... kembaliin perusahaan orang tua gue seperti sedia kala!" Lusi mencoba bernego.
Dasarrr cewek licik, dia pikir... gwe bakal percaya gitu aja dengan ucapannya!
"Lo pikir, lo siapa! Berani menawar sama gwe! Sekarang lo pulang, lo pikirin baik baik penawaran gwe! Untuk perusahaan orang tua lo, lo liet cermin... bisa gak perkataan lo di percaya!" Radit membalikkan tubuhnya, kembali masuk ke dalam ruang rawat Aulia.
"Sialll, dari tadi ngomong panjang lebar. Ujung ujungnya gwe gak di bolehin masuk. Kurang ajarrr lo Radit." gerutu Lusi dengan kesal.
Bugh bugh bugh.
Lusi memukulll mukulll tangannya pada stir kemudi, kalo papa sampe tau, usahanya bangkrut karena ulah gwe, gimana ini!
Bersambung....
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊