
...🌹🌹💔💔...
Aulia mengerjapkan matanya, "Apa itu sakit?" tanya Aulia dengan polosnya.
Kevin menyeringai, "Apa jika aku katakan tidak sakit, kau akan terus berada di atas tubuh ku?"
Aulia mengerucutkan bibirnya, "Tidak lucu!" hendak bangkit dari posisinya, namun tangan kekar Kevin menahannya.
"Mau ke mana?" tanya Kevin dengan menatap genit Aulia.
Krukkk krukkk.
Wajah Aulia bersemu merah, saat cacing dalam perutnya sudah berdemo minta di beri asupan tenaga.
"Ehem ehem. Kau berhutang terima kasih pada ku Tuan!" ledek Dava, saat Aulia beranjak dari posisinya.
"Ja- jadi ini semua ulah mu, bang? Gak lucu!" gerutu Aulia menatap kesal Dava, dalam hati Aulia, bunga bunga bermekaran, apa lagi saat mendapatkan tatapan Kevin.
Grap.
Kevin menggenggammm pergelangan tangan Aulia, membawanya melangkah meninggalkan Dava.
"Tidak usah kau perdulikan bodyguard sinting!" ucap Kevin dengan santainya.
Kevin menepikan mobilnya di pinggir jalan, setelah keduanya memutuskan untuk makan siang di luar, keduanya makan di pinggir jalan, beratapkan terpal, dengan kursi kayu yang memanjang, serta meja yang berukuran besar. Tampak sudaha da beberapa orang yang duduk di dalamnya.
"Mang, baksonya 2 porsi, makan di sini ya! Yang satu gak pake mie kuning." ucap Aulia.
"Beres atuh neng." ucap mang bakso yang belum menyadari jika yang memesan adalah Aulia.
"Kamu gak pesen minumnya Aulia?" tanya Kevin, dengan mengekor Aulia yang hendak duduk di kursi kayu.
"Iya, nanti ya... kita duduk aja dulu! Kamu gak risih kan makan di sini?" Aulia memperhatikan Kevin yang terus menatap ke sekitar.
"Buat apa risih, aku biasa maka di pinggir jalan, makan sambil berjongkok di emperan toko, makan sambil berdiri juga aku pernah. Yang aku pertanyakan, kamu sering makan di tempat seperti ini?" Kevin menatap Aulia dengan intens.
"Baru kali ini makan di sini. Tapi kalo soal rasa baksonya, aku sudah yakin, ini pasti enak." terang Aulia dengan yakin.
Kevin mengerutkan keningnya, tangannya terulur mengacak pucuk kepala Aulia, "Kau seyakin itu?"
Aulia menatapnya dengan kesal, menyingkirkan tangan Kevin dari kepalanya, "Mamang yang jual itu, dulu langganan aku selama di sekolah. Dulu aku, Radit dan sahabat ku sering makan saat jam istirahat tiba." terang Aulia dengan ke dua tangannya di atas meja.
"Wow bearti ini bakso spesial ya di mata mu?"
"Silahkan di.... neng Aulia? Ini teh den Radit?" mang Dadang mengenali Aulia dan pria yang ia kenal Radit setelah meletakkan ke dua mangkuk berisi bakso di hadapan keduanya.
"Kirain mang Dadang lupa sama aku, ini bukan Radit mang... tapi Kevin." cicit Aulia mengenalkan Kevin pada mang Dadang.
__ADS_1
"Ia mang, saya Kevin... bukan Radit." ujar Kevin dengan menyunggingkan senyumnya.
"Aiihs wajah kalian teh sama pisan atuh, udah kaya pinang di belah dua. Cuma bedanya teh den Radit putih pisan, kalo aden mah rada gelap dikit atuh warna kulitnya." ucap mang Dadang.
"Pak, minuman nya minta es jeruk 2 ya!" titah Aulia.
"Siap atuh, pasti mamang bikinin... silahkan di nikmati atuh... kalo kurang mah tinggal bilang sama mamang, biar mamang buatkan lagi buat neng Aulia sama den sapa tadi ya namanya tuh?" mang Dadang nampak berfikir, untuk mengingat ingat nama Kevin.
"Kevin, mang." ucap Kevin tanpa menolah, ia melanjutkan menyantap bakso yang ada di hadapannya.
"Nah itu maksud mamang teh, den Kevin. Sok lah, biar mamang buatkan dulu minumnya." mang Dadang langsung beranjak meninggalkan ke duanya.
Sementara tatapan nakal di perlihatkan seorang pemuda yang terus saja menatap Aulia, Pria itu melihat dengan puas wajah Aulia yang duduk di hadapannya.
Nih cewek ke liatannya orang berduit, bodynya juga boleh juga lah ya! Bibirnya yang tipis, enak itu kalo di lumattt, gundukan kembar nya tampak berisi, pas tuh kalo buat di maenin, batinnya dengan tangan kanan yang seolah meremasss sesuatu.
Kevin yang menyadari hal tersebut, langsung meminta Aulia untuk cepat menghabiskan makanannya.
"Cepat lah kau habiskan makan siang mu!" ucap Kevin, dengan melirik tajam pada pemuda yang terus saja menatap genit Aulia.
Pemuda yang terus menatap genit Aulia menyeringai, saat di tatap sinis Kevin, mancingin ribut ini cowok! Bukan siapa siapanya ini cewek aja belagu! Lietin lo, bakal gwe kerjain lo!
Pria itu beranjak dari duduknya, hendak pergi tanpa berniat membayar apa yang sudah ia makan terlebih dahulu. Membuat mang Dadang yang melihatnya langsung menegurnya.
"Aden aden, mau ke mana atuh! Di bayar dulu itu bakso dan minum nya!" ucap mang Dadang dengan tangannya yang melambai pada si pemuda.
"Tar dulu, gwe ada urusan!" oceh sang pemuda.
"Gak bisa gitu atuh, jangan maen kabur aja! Sok lah di bayar dulu!" ucap mang Dadang ngotot yang kini berdiri di depan si pemuda.
Sreek.
Leher baju mang Dadang di tarik si pemuda dengan kasar.
"Banyak bacottt lo! Gak tau lo... gwe itu preman di sini! Wajar kalo gwe gak bayar! Masih untung gwe gak acak acak nih dagangan lo!" serunya dengan nada naik satu oktaf.
"Kalo gak kuat bayar, terus terang aja bro!" ucap Kevin dengan datar.
"Sialannn lo, berani ngehina gwe lo?" sungut si pemuda dengan menatap sinis Kevin. Lalu ia menghempaskan tubuh mang Dadang hingga jatuh ke lantai.
Bugh.
"Awwhhh!" rintih mang Dadang dengan memegangi pinggulnyaaa.
Kevin yang melihatnya di buat geram, tanpa ancang ancang lagi ia langsung beranjak dari duduk nya, melayangkan tendangan ke pemuda.
Bugh.
__ADS_1
Adu jotos pun tidak terhindarkan lagi, Kevin dan pemuda itu saling adu pukulll, dengan Kevin yang berhasil mendaratkan beberapa pukulannn pada tubuh dan wajah si pemuda.
Sedangkan Kevin hanya terkena tonjokannn di wajah sekali, hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segarrr.
Namun untuk kursi dan meja, hancur lebur karena menjadi sasaran ke duanya saat berkelahi. Tubuh pemuda mendarat dengan keras di meja hingga meja menjadi patah.
Bugh bagh big bugh bagh tak.
"Udah Kevin!" Aulia menahan lengan Kevin, yang hendak mendaratkan pukulannn kembali pada si pemuda yang sudah terkapar di lantai.
"Udah den Kevin, bisa mati itu anak orang!" ujar mang Dadang, "Coba teh gak usah pake kekerasan. Kalo kaya gini teh gimana atuh pelanggan saya buat duduk, kursi dan meja sudah ambruk." cicit mang Dadang menatap nanar meja dan kursi.
Aulia mengeluakan beberapa lembar uang dari dalam dompet nya, "Maaf atas kejadian ini ya, mang! Ini buat ganti rugi, kali aja ini juga bisa buat tambah modal mamang juga!" Aulia menyerahkan nya pada mang Dadang.
"Tapi ini teh kebanyakan, neng!" mang Dadang berbinar menatap uang yang ada di tangannya.
"Anggap rejeki mamang!" ujar Kevin.
Aulia juga menyerahkan beberapa lembar uang pada si pemuda, "Buat lo berobat!"
"Baik banget lo jadi orang!" ujar Kevin yang mengekor Aulia, meninggalkan tempat makan siang mereka.
Keduanya berada di dalam mobil.
"Awwwhhh sakit! Pelan pelan dong!" keluh Kevin, saat Aulia mengobati luka di sudut bibirnya yang luka.
"Tahan sedikit lagi, ini tinggal di kasih salep dikit... baru bisa cepat sembuh, kalo sampe terjadi infeksi gimana!" oceh Aulia yang fokus pada luka di sudut bibir serta memarrr di wajah Kevin.
"Kan ada lo, Nona Aulia. Dokter cinta ku! Tanpa di obati pun, dengan memandangi mu, aku akan sembuh dengan sendirinya!" ujar Kevin dengan pandangan yang sulit di artikan.
Hati Aulia seakan tersentuh, dengan gombalan yang di berikan Kevin padanya, berani gombal lagi, biar gwe kerjain lo!
Dengan gemas, Aulia menekan luka pada sudut bibir Kevin dengan katenbat yang sudah terdapat salep.
Grap.
Kevin menggenggam pergelangan tangan Aulia, menjauhkan nya dari wajahnya.
"Awwwwwhhhh wah sengaja nih anak! Sengaja kan lo?"
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1