Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Hilang kesadaran


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


"Gak usah bingung sayang, ingat kan dengan apa mau mama dan papa inginkan?" Radit mengingatkan Aulia kembali.


"Ngomong apa sih kamu, Dit!" Aulia memalingkan wajahnya dari Radit, dengan pipi merona, sekolah aja belum lulus, udah bahas anak, yang bener aja coba! Di kira buat anak itu sama aja dengan membuat adonan kue!


Radit menoleh ke arah Aulia, menyadari Aulia yang bersemu pipinya, membuatnya gemas melihat Aulia, pasti dia sedang memikirkannya! Dasar muna!


Aulia menggelengkan kepalanya, saat telinganya terus menari nari kalimat yang di ucapkan Radit padanya.


( Kita harus punya anak banyak. )


Radit memarkirkan mobilnya dengan sempurna di parkiran, ia menoleh ke arah Aulia, tangannya terulur menangkup wajah Aulia hingga mata ke duanya saling menatap.


"Apa yang kau fikirkan, sayang?" tanya Radit dengan lembut.


"Eh emmmm a- anu i- itu ti- tidak ada." ucap Aulia.


"Kata kata ku jangan kau fikirkan, aku percaya... suatu saat nanti hati mu pasti akan menyadari hanya aku yang pantas kau cintai!" gumam Radit.


"A- ayo kita turun!" ajak Aulia dengan gugup.


Sepasang mata teduh, dengan garis wajah yang tegas, nampak enggan melepas pandangannya dari Aulia.


Cup.


Radit mengecup sekilas bibir ranum nan tipis milik Aulia.


Radit langsung turun dari mobilnya, lalu berjalan ke arah Aulia dan membukakan pintu mobil untuk Aulia.


Aulia mengikuti arah pergerakan Radit, apa ini gwe lagi mimpi?


Ceklek.


Radit menggenggammm tangan Aulia, membawanya ke luar dari mobil.


"Aduh bro, nempel terus kaya perangko." sindir Farrel dengan menyenggol lengan Radit dengan sikunya.


"Berisik lo!" seru Radit.


"Berisik lo!" seru Aulia.


"Ciyeeee kompak gitu hahahaha." ledek Farel.


"Eh iya, nanti benar kan lo mau ikut masuk tim basket gwe, Dit?" tanya Farel.


"Iya."


"Kamu bisa maen basket, Dit? Sejak kapan?" tanya Aulia sambil menatap lekat mata Radit.


"Sejak dulu lah, orang yang mau belajar dengan keras, pasti bisa meraih apa yang dia inginkan. Seperti mendapatkan hati mu." ujar Radit yang berhasil membuat Aulia malu.


Mereka sampai di kelas dan duduk di tempatnya masing masing. Di dalam kelas sudah ada Lia dan Seli yang sedang asik bercanda.


Seli menatap tajam pada leher Aulia, kenapa itu sama leher Aulia? Apa di gigit semut? Tapi ko ada warnanya gitu?


"Leher lo, kenapa Aulia?" tanya Seli, dengan jari telunjuk yang menyentuh tanda ke unguan yang ada di leher Aulia.


"Eeeee i- itu a- anu eee___" Aulia menjawab dengan gelagepan sambil matanya mengkode Radit seolah minta di bantu untuk menjawabnya.


"Ini juga, ko jadi ada beberapa gitu di leher lo, Aulia! Lo salah makan apa gimana?" tanya Seli dengan penuh selidik namun bingung.


"Wah itu si perbuatan tikus berkepala hitam, hihihi." ledek Lia dengan tergelak.


Semua mata tertuju pada Seli, Lia dan Aulia.


Aulia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya "Suuut, jangan keras keras ihs ngomongnya, gwe malu tau!"


Lia memang lebih tau kalo soal begituan. Berbeda dengan Seli dan Aulia kalo mengenai itu nol besar.


Radit membuang nafasnya dengan lega, thanks Lia... tanpa sadar lo udah bantuin gwe buat jawab pertanyaan Seli.


Lia menoleh ke arah Radit, dengan sudut bibirnya yang di tarik ke atas, gwe bisa tebak nih... ini pasti perbuatan Radit, secara mereka sudah bertunangankan.


Seli menggaruk kepalanya dengan bingung, "Sejak kapan ada tikus di rumah lo, masa di rumah Aulia bisa ada tikus?"

__ADS_1


"Ya bisa lah." tukas Lia.


Teng teng teng.


Bel masuk berbunyi, mata pelajaran ekonomi di mulai. Seperti biasa bu Rita akan memberikan materi lalu memberikan soal untuk latihan. Di tengah tengah jam pelajaran, Aulia meminta izin bu Rita untuk meninggalkan kelas barang sejenak.


"Maaf bu, saya izin ke toilet." ujar Aulia sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.


Bu Rita memberikan izin untuk Aulia, "Silahkan."


"Perlu gwe anter gak?" tawar Seli.


"Gak perlu, gwe bukan anak kecil yang perlu di temenin ke toilet hehehe." kekeh Aulia, lalu beranjak dari duduknya meninggalkan kelas.


Saat Aulia berjalan meninggalkan kelas, Lusi menatap dengan sinis dengan sudut bibir yang menyeringai.


"Maaf bu, saya juga izin ke toilet." ujar Lusi.


"Iya Lusi silahkan." bu Rita pun memberi izin Lusi untuk ke toilet.


"Lo aneh gak, si? Masa iya bisa barengan gitu sama Aulia, apa jadinya kalo Lusi ketemu di toilet dengan, Aulia?" cicit Seli dengan berkata pelan pada Lia.


...🔥🔥🔥...


Di sisi lain.


Di dalam toilet sekolah putri.


Lusi yang memang sudah sangat menumpuk rasa tidak sukanya dengan Aulia, di tambah lagi tadi pagi melihat Aulia ke luar dari mobil Radit, belum lagi perlakuan Radit pada Aulia. Membuatnya tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Lusi mengayunkan langkah kakinya menuju toilet putri, dengan tangan yang mengepal, kali ini lo gak akan bisa lolos dari gwe, Aulia.


Lusi memastikan tidak ada murid lain di dalam toilet putri. Setelah di rasa aman Lusi menunggu Aulia ke luar dari salah satu bilik yang di dalamnya ada Aulia. Di depan pintu Lusi berdiri dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.


Ceklek.


"Lo, ngapain di sini?" tanya Aulia dengan keningnya yang mengkerut mendapati Lusi berdiri di tiang pintu.


Lusi menarik tangan kiri Aulia dengan keras hingga tubuh Aulia membentur dinding toilet.


Bugh.


"Aakkkkhhh." pekik Aulia ke sakitan.


"Lusi, lo kenapa si!" Aulia berusaha berdiri dengan tangannya yang menggapai dan berpegangan pada westafel yang ada di dekatnya.


Paaak paaak.


Lusi menampar pipi Aulia bergantian kanan dan kiri dengan keras.


"Akkkhhh, Lus! Apa apaan si lo!" Aulia menatap Lusi dengan nanar, tangannya memegangi pipinya yang terasa panas setelah di tampar Lusi.


"Bangun lo!" Lusi menarik lengan Aulia untuk beranjak.


Grap.


Ke dua tangan Lusi mencekik leher Aulia, ia menyeringai menatap puas Aulia yang kini ke sulitan bernafas.


Dengan nafas yang tersengal sengal, Aulia berujar, "Lu- Lus! Sa- dar... e- ling!"


Lusi menatap sinis Aulia, ia mendekatkan wajah di depan wajah Aulia, "Gwe udah bilang sama lo, jauhin Radit. Ngerti ga lo!" Lusi berkata dengan penuh penekanan.


"Gak bi- sa, Lus!" ujar Aulia dengan terbata bata.


Mendengar itu Lusi semakin di buat naik darah, hingga ia melepaskan cekikannya dengan menghempaskan tubuh Aulia ke lantai dengan keras.


Bugh.


Kening Aulia membentur sudut dinding dan mengeluarkan darahhh segarrr.


"Dengan lo seperti ini, yang ada Radit gak akan pernah bisa suka sama lo." Aulia berusaha bangkit dari posisinya, dengan tangannya yang memegangi dinding.


Lusi menoleh ke kiri dan kanan, tatapannya berhenti pada saat sepasang mata liciknya melihat sapu di pojok ruangan, ia pun langsung mengambilnya. Menatap Aulia dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Lo jangan gila Lus! Lo mau apain sapu itu, Lus!" ucap Aulia dengan wajah ke takutan, Lusi bener bener hilang akal.

__ADS_1


"Tolong! Siapa pun, tolong!" teriak Aulia dengan histeris, saat Lusi semakin melangkah maju mendekati Aulia dengan sapu yang mengudara di tangannya.


Bugh bugh bugh.


Lusi mendaratkan sapu berkali kali pada kaki dan tubuh Aulia, hingga Aulia tersungkur di atas lantai toilet putri.


"Akkkhhh, Radiiiiiiit!" siapa pun tolong gwe, Radit! Teriak Aulia, sebelum ke dua matanya terpejam dan hilang ke sadaran.


Bugh.


Lusi terduduk kelas setelah meliaht Aulia tidak sadarkan diri.


"Gwe benci sama lo Aulia, lo selalu ngerebut apa yang gwe mau." ujar Lusi.


Sementara di kelas.


"Gila, ini udah lama banget, Aulia belum juga balik dari toilet." kata Lia yang mulai gelisah.


"Dada gwe kenapa sesak ya?" ucap Radit pelan tapi masih bisa di dengar Danu.


"Ya udah langsung susulin aja. Lagi mumpung bu Rita lagi gak di kelas, tar gwe yang bilang." Danu menepuk bahu sahabatnya berusaha menenangkan.


Radit langsung berdiri dan berlari menuju toilet putri.


Lia yang melihatnya langsung ikut menyusulnya dengan menarik tangannya Seli agar ikut serta.


"Dit, perasaan gwe gak enak nih." ujar Lia sambil terus berlari.


Radit membatin, sebenernya perasaan gwe juga gak enak, dada gwe terasa sesak.


Radit, Lia dan Seli sampai di depan pintu toilet putri dengan pintu yang tertutup rapat.


Ceklek ceklek.


"Pintu di kunci, Dit." ujar Lia.


Radit memberi isyarat mundur pada Lia dan Seli.


Bugh.


Pintu toilet yang terkunci langsung terbuka lebar dengan sekali tendangan yang di lakukan Radit.


"Aaakkkhh!" Seli dan Lia teriak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Dengan sigap, Radit langsung menggendong tubuh Aulia dan membawanya ke luar dari toilet.


Radit membatin, jangan sampai terjadi apa apa pada mu Aulia.


Lia dan Seli mengikuti langkah Radit.


Beberapa murid yang melihat Radit menggendong Aulia langsung heboh.


"Aulia kenapa itu?"


"Kayanya pinsan."


Guru dan murid yang berpapasan dengan Radit pun sama terkejutnya dengan keadaan Aulia.


"Sel, li jelasin ke guru. Biar gwe sama Lia bawa Aulia ke rumah sakit." ujar Radit saat hampir sampai di parkiran.


"Aulia kenapa?" Tanya Arya yang melihat Radit di parkiran tengah menggendong Aulia.


"Biar aku jelasin, ka." ucap Seli pada Arya.


Lia membukakan pintu belakang dan duduk di dalam, Aulia pun di tidurkan di dalam dengan berbantalkan paha Lia.


Radit membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di rumah sakit. Yang ada di pikirannya hanya keselamatan Aulia. Aulia harus baik baik saja.


...❤️❤️❤️...


bersambung......


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say

__ADS_1


__ADS_2