Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Terukir di hati


__ADS_3

...💔💔💔...


"Bukan tukang foto, tapi fotografer!" Radit menyunggingkan senyumnya, melihat Aulia yang salah tingkah dalam dekapannya.


"Ihsss Radit! Jangan peluk peluk gini! Belum sah juga! Udah sana jauh jauh!" Aulia mendorong dada bidang Radit, untuk menjarak tubuh mereka.


Sang fotografer yang melihatnya hanya geleng geleng kepala melihat tingkah ke duanya, "Dasarrr anak zaman sekarang, masih sekolah aja udah ngebet kawin! Nanti abis ngebek kawin, ngebet punya anak. Orang kaya mah bebas ya!"


Hingga beberapa jam kemudian, akhirnya acara foto prewedding berakhir setelah bunyi yang berasal dari perut Aulia.


Kruk kruk kruk.


"Kamu laper, sayang?" tanya Radit dengan tatapan penuh arti.


"Siapa juga yang laper, perut ku hanya berdemo." gumam Aulia.


Radit mengacak pucuk kepala Aulia, "Kamu ganti lah pakaian mu, setelah ini kita baru akan cari makan." ujar Radit dengan lembut.


"Hemm!" Aulia melangkah menuju ruang ganti, dengan di bantu Eti yang memegangi ekor gaun pengantin yang membalut tubuh idealnya.


Radit menghampiri temannya itu, "Jangan lupa... kau kirimkan beberapa gambar yang bagus pada ku! Aku ingin menyimpannya dalam hape ku!"


"Semua hasil jepretan ku bagus semua, bos! Tidak ada yang tidak bagus hasilnya dengan sentuhannn tangan dingin ku!" ucapnya jumawa.


"Cihhh kau ini, hasil jepretan mu tidak akan bagus... jika bukan aku dan Aulia yang menjadi modelnya! Itu baru benar!" Radit mengayun kan langkah kakinya menuju ruang ganti.


Sang fotografer hanya menatapnya jengah, lalu meninggalkan lokasi yang di jadikan tempat untuk prewedding Radit dan Aulia, "Dasar bos sedeng! Tapi ada benarnya juga sih, bos ganteng, Nona juga cantik gak ketulungan, ya sudah lah... terserah mereka saja! Yang penting aku di bayar!"


Radit dan Aulia sudah berada di dalam mobil, Radit melajukan kendarannya dengan kecepatan sedang, sembari matanya fokus pada jalan.


Kruk kruk kruk.


Perut Aulia kembali berbunyi, dengan malu Aulia menundukkan kepalanya, dengan hati yang terus ngedumel, dasar bodoh, kenapa pake bunyi lagi sih? Nanti juga bakal di isi ko! Sabaran dikit napa!

__ADS_1


Radit mengulurkan satu tangannya, mengelusss kepala Aulia dengan sayang, "Maaf ya, kamu jadi kelaperan gini! Habisnya sayang kan jika kamu sudah dengan cantik mengenakan gaun pengantin, tapi kita tidak abadikan."


Aulia mendelik tajam pada Radit, "Jadi aku hanya cantik jika mengenakan gaun pengantin aja nih? Di saat seperti ini, di saat aku mengenakan pakaian rumahan, seragam sekolah, aku gak cantik di mata mu, gitu maksud kamu, hem?"


Radit membuang nafasnya dengan kasar, "Apa pun yang melekat pada tubuh mu, aku suka. Apa pun yang kau miliki, aku suka." ujar radit dengan lembut.


Aulia mencari ke jujuran di mata Radit, atas apa yang sudah pria itu katakan padanya, tapi Aulia tidak menemukan ke bohongan di ke dua mata teduh Radit, yang ada hanya ke tulusan di setiap kata yang ia ucapkan.


Aulia membuang nafasnya dengan kasar, "Kamu pasti lagi gombal, iya kan? Aku cewe ke berapa yang udah kamu kasih kata kata puitis kaya gitu?" ucap Aulia dengan sok manis.


Radit menepikan mobilnya, di depan sebuah rumah makan sederhana yang ada di sebuah ruko, "Seumur hidup ku, tidak ada wanita mana pun yang aku dekati, selain diri mu!"


Radit segera turun dari mobil, "Tidak apa kan jika kita makan di sini?" tanya Radit dengan menggandeng bahu tunangannya itu.


Aulia menatapnya dengan cinta, "Mau makan di mana pun, asal dengan mu... aku tidak masalah!" sepertinya ada benarnya mama dan papa mempercepat pernikahan ku dengan Radit!


Tidak ia pungkiri, jika selama ini. Apa yang sudah Radit lakukan padanya sudah membuat hatinya terbuka, perlahan dengan pasti.


Nama Radit kini terukir di hati Aulia. Getar cinta semakin lama ia rasakan saat bertemu pandang dengannya, saat ia bersama dengan Radit ia akan merasa nyaman. Hatinya akan resah, saat Radit jauh dari pandangannya.


"Kenalkan Rudi! Dia adalah calon istri ku." Radit memperkenalkan Aulia pada pria yang ada di hadapannya.


Aulia menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan yang menyelidik, laki laki ini memanggil Radit dengan kata bos, apa maksudnya ya? Laki laki ini juga tampak patuh dan hormat pada Radit.


"Apa bos? Calon istri? Cantik bos... apa bos dan Nona ke sini mau ---"


"Mau makan lah!" seru Radit, memotong perkataan Rudi.


Sementara Aulia mengikuti arahan Radit, dengan mendudukan dirinya di sebuah kursi, setelah Radit menarik mundur kursi itu dan mempersilahkan Aulia untuk duduk di sana. Aulia dan Radit duduk saling berhadapan.


"Bos dan Nona mau makan apa?" tanya Rudi pada ke duanya dengan menatap secara bergantian.


"Bawakan aku seperti biasa saja! Untuk Aulia, daging rendang, sayuran, serta sambal, jangan lupa bakwan udang!" ucap Radit pada Rudi.

__ADS_1


"Baik bos, akan saya siapkan." Rudi melenggang pergi, meninggalkan bos-nya.


"Apa ada yang mau kamu jelaskan pada ku, Radit?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik, ke dua siku Aulia bertumpu di atas meja, dengan wajah di topang dengan ke dua telapak tangannya.


Radit mengelusss pipi Aulia dengan tangannya, wajah Radit mendekat dengan wajah Aulia.


"Apa yang ingin kamu tahu, sayang? Katakan saja pada ku!" seru Radit.


Aulia mengerucutkan bibirnya, "Itu bukan suatu jawaban, sayang!" Aulia mengerucutkan bibirnya.


"Ini salah satu bisnis ku yang akan aku serahkan pada mu, sayang! Apa kamu suka dengan tempat ini? Bagai mana menurut mu dengan konsep yang aku usung untuk rumah makan ini?" cecar Radit, meminta pendapat dari tunangannya.


Aulia membola, "Apa? Ini salah satu usaha mu? Jadi selain ini, masih ada lagi usaha usaha mu yang lainnya?" tanya Aulia setengah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Cup.


Radit mengecup sekilas bibir Aulia.


"Tentu sayang!" ucap Radit.


"Aku pikir kamu hanya seorang pelajar biasa, pelajar yang layaknya pelajar, tapi hebat lo. Kamu pelajar tapi pengusaha juga!" Aulia tampak kagum dengan Radit.


Radit nenyilangkan ke dua tangannya di depan dada, "Sekarang, apa kau bisa bangga, akan kenjadi istri ku? Aku calon suami mu! Untuk masa depan rumah tangga kita kelak, aku sudah menyiapkan kerajaan bisnis. Setidaknya setelah kita menikah, aku tidak akan membiarkan mu meminta uang saku pada orang tua, tapi aku sudah mampu memberikan uang saku untuk mu, memenuhi ke butuhan rumah tangga kita kelak."


Aulia menganggukkan kepalanya, "Iya iya iya, kamu memang calon suami yang dapat di andalkan."


Ke duanya makan bersama di rumah makan Padang, menu yang di hidangkan juga khas masakan Padang.


Prang


Bersambung...


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2