
...💔💔💔🌹🌹...
"Kenapa kalian menyembunyikan ini dari ku, bang? Apa papa juga tau akan hal ini?" Aulia menatap David dan papa Jaya dengan tatapan yang menyelidik.
"Maaf nak, papa yang memimta David dan Dava untuk menyembunyikan ini dari mu. Papa takut jika kamu mengetahuinya, akan sulit bagi mu untuk menerima kenyataan Radit yang sudah tiada." ujar papa Jaya, dengan pandangan yang memohon, agar putrinya mau mengerti keputusannya.
"Apa selama ini kalian berhasil menemukan pelakunya? Dalang dari penyebab kecelakaan yang membuat Radit meninggal?" cecar Aulia dengan terisak, bagai mana bisa aku tidak mengetahui ini? Radit, aku pasti akan mencari tahu... siapa yang sudah memisah kan kita.
"Penyelidikan kami menemui jalan buntu, Nona. Seminggu setelah kecelakaan itu terjadi, supir yang menabrakkan kendarannya pada mobil yang di tumpangi Tuan Radit, di temukan tewas di dalam rumah nya dengan mulut berbusa." terang David.
"Bagai mana dengan CCTV di lokasi kejadian? Pasti ada CCTV yang merekam saat peristiwa itu terjadi kan?" cicit Kevin.
"Dari CCTV yang kami dapatkan, kecurigaan kami mengarah pada satu mobil yang dengan sengaja mengemudi dengan kencang dan menabrakkan mobilnya ke mobil Tuan." terang David.
"Kalian bodoh atau bagai mana sih! Kenapa selama 4 tahun, kalian tidak mendapatkan hasilnya? Cara kerja kalian bagai mana?" ucap Aulia dengan emosi.
4 tahun lamanya, bodyguard sekaligus orang tuanya menyembunyi kan fakta di balik tewasnya Radit. Aulia pergi meninggalkan ruang rawat dengan perasaan yang kecewa dan hancur.
"Biar saya susul Nona, Tuan." ucap David yang menyusul kepergian Aulia.
Mama Nami menghampiri suaminya, "Bagai mana ini pah? Aku tidak tega melihat Aulia, aku takut Aulia diam dan tidak mau bicara lagi. Aku takut Aulia akan mengurung diri, menutup diri dari dunia luar pah!"
Papa Jaya berusaha menenangkan sang istri, memberinya pelukan, tangannya yang tidak lagi muda, mengelus punggung sang istri.
"Kita pasti bisa membuat Aulia melewati masa sulitnya, mah!" ujar papa Jaya.
"Ehem, aku akan membantu kalian untuk menyelidiki kematian Radit. Karena bagai mana pun juga, orang orang yang mencelakai ku, pasti ada hubungannya dengan orang orang yang sudah membuat calon menantu anda tewas." ujar Kevin yang berusaha beranjak dari posisinya yang berbaring di atas ranjang rawat.
Papa Jaya dan mama Nami tampak bahagia mendengar pengakuan Kevin, "Terima kasih ya nak, atas niat baik mu itu." ujar mama Nami.
"Tidak usah sungkan tante, aku melakukan ini semua juga untuk melindungi nyawa ku. Aku tidak ingin di setiap gerak ku, bahaya selalu mengintai ku." ujar Kevin.
Di hari itu juga, Kevin di nyatakan boleh meninggalkan rumah sakit, mengingat keadaannya yang tidak begitu parah, Kevin bisa melakukan berobat jalan untuk memulihkan kondisinya.
Sampai di rumah orang tua Aulia.
"Semoga kamu kerasan tinggal di sini ya, nak!" ucap papa Jaya saat saat Kevin hendak melangkah masuk ke rumah besar dan megah itu.
"Apa tidak sebaiknya saya mengontrak saja, Tuan? Saya merasa tidak cocok tinggal di rumah semegah dan sebesar ini!" cicit Kevin.
"Jangan merendah seperti itu, nak. Anggap saja rumah ini adalah rumah mu. Tempat mu pulang." ucap mama Nami.
Ke tiganya memasuki rumah besar itu, sedangkan Kevin menatap ruamh itu dengan takjub.
Security yang melihat ke hadiran Kevin mengerutkan keningnya, berkali kali ia mengucek ke dua matanya.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat? Mana mungkin setan Tuan Radit bergentayangan di sore hari begini kan?" kilah pak security.
"Ayo duduk dulu, nak! Atau kamu mau langsung istirahat, biar mama antar kamu untuk ke kamar mu!" tawar mama Nami saat ke tiganya sudah berada di ruang keluarga.
"Saya langsung istirahat aja tante." ucap Kevin.
"Ayo, biar mama antar kamu ke kamar." mama Nami berjalan lebih dulu, ke salah satu kamar yang sebelumnya sudah di siapakan si mbok atas perintah mama Nami lewat sambungan teleponnya.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, nampak terpajang di dinding beberapa foto prewedding yang dulu pernah di lakukan Aulia bersama dengan Radit.
"Apa ini almarhum Radit dan Aulia, tante?" Kevin berdiri di depan sebuah figura, yang terdapat foto Aulia dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan Kevin.
"Kamu benar nak, laki laki itu adalah almarhum Radit 4 tahun silam, beberapa hari sebelum hari pernikahan mereka. Rencana yang sudah tersusun dengan rapih, harus hancur seketika." ujar mama Nami.
Mama Nami menatap punggung Kevin, aku melihat diri Radit ada pada nak Kevin. Apa mereka berdua ada hubungan yang tidak aku ketahui?
Kevin menatap sebuah figura yang ada di atas nakas, keningnya mengkerut, aku sepertinya pernah melihat ke dua orang tua ini, tapi di mana ya?
"Apa ini orang tua almarhum Radit, tante? Di mana mereka?" tanya Kevin.
Mama Nami kembali terisak, "Kamu benar nak, mereka berdua orang tua Radit. Dalam kecelakaan 4 tahun silam... bukan hanya Radit yang menjadi korban, tapi orang tua Radit yang tidak lain adalah sahabat saya, juga ikut menjadi korban. Mereka bertiga tewas di lokasi ke jadian, tanpa sempat mendapatkan perawatan."
Tok tok tok.
Kevin hanya menganggukkan kepalanya, ada apa dengan tante itu? Sejak di rumah sakit selalu berkata mama, sedangkan aku memanggilnya dengan sebutan tante. Apa sangat ingin aku memanggilnya mama? Kau sangat beruntung Radit, bisa di cintai wanita seperti Aulia.
"Ayo mbok, kita siapkan makan malam untuk tamu kita dan Aulia." ujar mama Nami yang menoleh sesaat ke dalam kamar.
Nampak Kevin masih berdiri menatap figura, saat Aulia dan Radit saling bertukar cincin, hari di mana ke duanya bertunangan.
"Nampaknya orang tua kalian tidak mempermasalahkan status kalian yang masih pelajar. Orang tua kalian nampak begitu bahagia." gumam Kevin yang masih bisa di dengar oleh mama Nami.
Mama Nami tersenyum getir, aku harap nak Kevin bisa membawa Aulia ku yang hilang, kembali pada Aulia ku yang ceria, Aulia yang sangat mama dan papa rindukan.
Makan malam sudah terhidang di atas meja, nampak papa Jaya yang sudah duduk di kursinya bersama dengan mama Nami.
"Tolong mbok, itu gelasnya satu lagi buat nak Kevin." cicit mama Nami.
"Aulia belum juga turun, mah?" tanya papa Jaya.
Kevin muncul di ruang makan, membuat si mbok terkejut dengan menjatuhkan gelas yang ada di tangannya.
Prang.
__ADS_1
"Astaghfirullah, den Ra- Radit... hi- hidup la-gi?" ucap si mbok dengan terbata bata, bahkan ia sampai terbelalak tidak percaya.
"Hati hati mbok, bagai mana jika pecahannya mengenai kaki mbok! Bahaya itu mbok!" cicit papa Jaya.
"Dia kevin, mbok. Bukan Radit." ujar mama Nami.
Kevin hendak membantu si mbok memunguti pecahan gelas, namun di larang papa Jaya.
"Biar aku bantu, mbok!" Kevin melangkah menghampiri si mbok.
"Tidak perlu nak, biar nanti si mbok suruh yang lain untuk membersihkan nya." ujar papa Jaya.
"Ti- tidak u- usah den." si mbok menatap Kevin dengan tatapan yang sulit di artikan, ya Allah gusti... apa benar ini bukan den Radit? Kenapa mukanya sama pisan sama aden Radit?
"Mbok gak apa apa? Gak ada yang luka kan?" tanya Kevin dengan melambaikan tangannya di depan wajah si mbak, Kevin tamoak khawatir dengan si mbok.
"Mama lihat Aulia dulu ya, pah!" mama Nami beranjak dari duduknya, mengayunkan langkah menaiki anak tangga.
"Apa ada di antar menu yang terhidang ini, makanan kesukaan mu nak?" tanya papa Jaya.
"Semua tampak menggugah nafsu makan om, apa lagi saya tidak pernah mencicipi makanan seenak dan selezat ini." ucap Kevin dengan polosnya.
"Benarkan begitu? Wah kalo begitu kamu harus mencoba makanan ini semuanya ya!" ujar papa Jaya dengan semangat.
"Pasti om." Kevin menyunggingkan senyumnya.
Ceklek.
Mama Nami melangkah masuk ke dalam kamar Aulia yang tidak di kunci, ia menutup jendela kamar Aulia yang masih terbuka.
"Aulia sayang, ayo kita makan malam nak! Lihat tuh di bawah sudah ada Kevin. Mama meminta nya untuk tetap tinggal di rumah kita nak."
Mama Nami menajamkan pandangan nya, saat Aulia yang berbaring dengan memunggungi nya, tidak merespon perkataan mama Nami.
Deg.
Jantung mama Nami berdebar dengan kencang, ia melangkah dengan lebar ke arah Aulia.
"Auliaaaaa!" teriak mama Nami.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say 😊