
...🏵️🏵️🏵️...
Bugh bugh bugh.
Lusi memukulll mukulll tangannya pada stir kemudi, kalo papa sampe tau, usahanya bangkrut karena ulah gwe, gimana ini!
Setelah 3 hari Aulia menjalani perawatan di rumah sakit Permata, akhirnya sore ini Aulia di perbolehkan untuk pulang, dan tetap dengan resep dokter yang harus di habiskan obatnya saat sudah di rumah nantinya.
Radit tengah memasukkan pakain dan semua milik Aulia ke dalam tas. Radit sendiri yang memberes kan semua perlengkapan, dan pakaian milik Aulia, sedang Aulia hanya di suruh duduk manis sambil menunggu Radit mengemas semuanya.
"Tunggu sebentar." Radit melihat Aulia hendak turun dari ranjang rawat.
Radit berjalan ke luar dengan membawa tas di tangan kanannya, menghampiri Dava yang masih setia menunggu di depan pintu kamar rawat Aulia.
"Ada apa, bos?" tanya Dava, saat Radit sudah berdiri di depannya.
"Ambilkan saya kursi roda." pinta Radit.
"Baik bos." Dava berlalu pergi meninggalkan Radit dan juga David.
"Ini bawa." Radit melemparrr tas yang ia bawa ke arah David.
Dengan ke dua tangannya, David berhasil menangkap tas yang di lemaparrr Radit, "Baik, bos."
Radit mengerutkan keningnya, setelah beberapa menit menunggu, Dava yang belum kunjung kembali membawa kursi roda, "Lama sekali!"
Radit masuk ke dalam ruang rawat Aulia lagi. Meninggalkan David yang hatinya sudah dag dig dug karena Dava belum juga kembali.
"Kamu sudah kembali? Apa lagi yang kita tunggu?" cecar Aulia saat melihat Radit berjalan ke arahnya.
Aulia menurunkan kaki kanannya dari ranjang rawat, Radit yang melihatnya langsung berjalan dengan lebih cepat.
Hap.
"Aahhkk." pekik Aulia, karena Radit menggendongnya lagi ala ala bridal style.
"Aku bisa jalan sendiri, turunin aku, Dit!" pinta Aulia yang masih dalam geniydongan Radit.
"Kamu lagi sakit, sayang." Radit tidak membiarkan Aulia berjalan.
"Tapikan, aku berat."
Radit berjalan melewati koridor rumah sakit menuju lift, dengan David yang berjalan di belakang mengikuti langkah kaki Radit.
Ting.
Tintu lift terbuka.
Muncul sosok Dava yang dari tadi sudah di tunggu, dengan mendorong kursi roda.
Radit masuk ke dalam lift dengan tetap menggendong Aulia, David pun ikut masuk ke dalam lift.
"Tuan, kursi rodanya?" ujar Dava.
"Pakai untuk mu!" ucap Radit datar.
Dava yang menyadari jika Tuannya itu sedang kesal, langsung diam tidak bersuara lagi.
Aulia menelan salivanya, ini Radit ceritanya lagi marah atau gimana sih! "Turunin aku Dit, biar kamu dudukin aku di kursi roda ajah."
"Ada aku yang akan menggendong, mu." Radit bersikeras.
"Dasarrr batu." gumam Aulia pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Radit.
Radit terus menggendong Aulia hingga sampai di mobil, baru lah Radit menurukan Aulia dari gendongannya.
__ADS_1
"Makasih." ucap Aulia.
"Hemm."
Radit dan Aulia duduk di belakang kursi penumpang. Sedangkan Dava yang menyetir, David duduk di samping Dava.
Dava melirikkan matanya lewat kaca spion mobil, "Kita langsung pulang atau mampir dulu, Tuan?"
Radit langsung mengajukan pertanyaan pada Aulia, "Mau makan dulu?" tanyanya dengan datar.
"Langsung pulang ajah." jawab Aulia, gimana mau mampir, udah kangen dengan kamar ku, dan suasana rumah.
"Kita langsung pulang." ujar Radit dengan tatapan mengarah pada Dava.
Mobil pun melaju membawa mereka ke rumah orang tua Aulia. Karena tidak mungkin jika Radit akan membawa Aulia, untuk tinggal bersamanya, secara belum resmi ijab kabul, baru tunangan 😊.
Di rumah orang tua Aulia.
Tanpa sepengetahuan Aulia dan Radit. Orang tua Radit dan orang tua Aulia, rupanya langsung menyiapkan kejutan untuk menyambut ke pulangan Aulia dari rumah sakit.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan, mobil yang di kemudian Dava, akhirnya kini menepi di depan halaman rumah Aulia.
Aulia hendak turun dari mobil, namun langsung di cegah oleh Radit.
Aulia menatap Radit dengan tatapan bingung, "Ada apa lagi?" gak tau apa ya, udah ke pingin banget rebahan.
Radit membukakan pintu mobil untuk Aulia.
Hap.
Radit menggendong tubuh mungil Aulia, dengan tangan Aulia yang kini melingkar di leher Radit.
Tanpa sadar, selama dalam gendongan Radit, Aulia terus menatap wajah rupawan nan tegas Radit, pria yang irit bicara, kayanya mulai saat ini, gwe harus terbiasa di gendong sama calon laki, hehehe.
Pintu utama rumah keluarga Aulia di buka oleh Dava.
Preeet, preet, preet.
Suara terompet yang di tiup oleh orang tua Radit dan juga orang tua Aulia.
Terlihat lebay, tapi ya begitu lah tingkah orang tua Radit dan Aulia, jika mereka sudah berkumpul.
Radit langsung menurunkan tubuh Aulia dari gendongannya.
"Anak mama udah sembuh." mama Nami memeluk tubuh putri tunggalnya.
"Apa sih mah, Aulia gak apa apa!" ujar Aulia.
Mama Sita berkata dengan suara yang di buat sesedih mungkin, "Udah mam, jangan di peluk terus Aulia nya. Aku juga kan mau peluk Aulia, calon mantu mama."
Papa Jaya mengarahkan mama Nami, untuk membawa Aulia duduk di ruang keluarga, "Udah mah, Aulia butuh istirahat."
Aulia duduk di sofa dengan di apittt mama Nami dan mama Sita. Sedangkan papa Jaya dan papa Wiko, geleng geleng kepala melihat tingkah istrinya yang seperti sudah terpisah lama dengan Aulia.
Radit membuang nafas dengan kasarrr, melihat tingkah konyol ke dua orang tuanya dan calon mertuanya.
Sepertinya ke putusan ku sudah paling tepat, aku dan Aulia harus tinggal berdua setelah menikah, bisa ambyarrr jika terus tinggal bersama dengan orang tua macam ini.
Beberapa hari kemudian, Radit sudah stand bay di depan rumah Aulia, menunggu pujaan hati ke luar dari rumah.
Aulia membuka pintu rumah. Ke dua mata Aulia dan Radit bertemu pandang, karena posisi Radit saat ini sedang berdiri menghadap ke arah pintu rumah Aulia.
Aulia berjalan menghampiri Radit. Radit pun langsung membukakan pintu mobilnya untuk Aulia. Mobil melaju meninggalkan rumah orang tua Aulia, menyatu dengan mobil lain memecah ke padatan jalan di pagi hari yang sibuk.
Aulia sudah mulai terbiasa dengan ke hadiran Radit di sisinya, begitu pula dengan Radit yang sejak awal melihat Aulia. Sudah langsung menyetujui keinginan orang tua mereka, untuk menjodohkan ke duanya.
__ADS_1
Jam istirahat di kantin, sambil menunggu bakso pesanan Radit, Aulia, Farel dan Lia tengah asik mengobrol. Sedangkan Danu sedang ke toilet karena ada urusan yang tidak bisa di tunda.
Seli yang sedang menemani ka Arya mengurus masalah OSIS untuk acara 17 Agustus.
Devi dan Nindi menghampiri Aulia, di saat kantin belum begitu ramai siswa.
"Aulia!" seru Devi.
Aulia mengerutkan keningnya, "Kenapa, Dev?"
"Kita minta maaf ya!" Devi langsung memeluk tubuh Aulia yang lagi duduk.
Dengan tingkah Devi yang langsung memeluk Aulia, membuat Lia, Farel dan Radit memiliki pemikiran masing masing.
Lia menatap curiga pada Devi, ada angin apaan ini, Devi meluk Aulia? Salah makan apa kemasukannn?
Radit menatap Devi dengan tatapan was pada, apa lagi di lihat dari riwayat ke duanya yang tidak saling dekat.
Farel menatap sinis Devi, gwe rasa ini bocah di suruh demitnya!
"Loh maaf untuk apa Dev?" tanya Aulia dengan polosnya.
"Maaf karena waktu itu kita gak bisa cegah Lusi. Kita juga gak nyangka Lusi bisa senekat itu, Aulia!" kini Nindi yang angkat bicara.
"Ya udah, toh sekarang juga gue udah gak apa apa kan?" ucap Aulia sambil menepuk nepuk lengan Devi, sebagai tanda baik baik saja.
"Lagi pula, lo minta maafnya telat... ini udah lewat beberapa hari dari Aulia ke luar dari rumah sakit. Gak niet banget sih! Minta maafnya!" sungut Lia dengan sinis.
"Ihs bener apa kata ayang embeb, maaf lo gak tulus!" sindir Farel.
Devi membatin, sialannn ini bocah 2... congornyaaa minta di sumpelll.
"Ehem jangan kaya gini, gak enak di lihat sama yang lain." kata Radit yang tidak nyaman melihat tingkah Devi.
Devi pun langsung melepas pelukannya dari Aulia. Berbarengan dengan ke datangan mang Dadang yang tengah membawa bakso, mie ayam dan minuman yang di pesan Radit sebelumnya.
"Permisi aden, ini pesanannya." kata mang Dadang.
Mang Dadang pun meletakkan nya di dekat Lia dan di oper kembali pada Radit, Aulia dan juga Farel.
Nindi yang merasa di cuwekin, langsung berujar dengan menunjuk bangku kosong yang ada di pojok kantin, "Kalo gitu, kita ke sana dulu ya!"
"Kalian gak mau duduk di sini makan bareng kita?" tanya Aulia.
"Emmmm, gak deh kita di sana ajah." kata Devi.
Devi dan Nindi pun langsung berjalan meninggalkan Aulia dan teman temannya.
Devi berkata dengan pelan, "Apa tadi gak berlebihan ya? Kira kira mereka percaya gak?"
"Menurut gue, cukup berlebihan sih, cukup meyakinkan. Lo tau sendiri Aulia itu orangnya gampang percaya sama orang." jawab Nindi.
Nindi dan Devi duduk di bangku pojok yang ada di kantin. Setelah duduk, Devi mengeluarkan handphonenya dan mengirim pesan pada seseorang.
"Kita udah lakuin apa yang lo minta." chat yang Devi kirim untuk seseorang.
[ "Thanks guys... lo emang besti gwe yang paling the best." ] chat dari Lusi.
"Itu doang?" tanya Devi lewat chat yang ia kirim.
Bersambung....
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say 😊