Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Seli curiga


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


Radit membuang nafasnya dengan kasar, hampir aja gwe bisa dengar apa yang bakal di ucapin Aulia.


Di tengah tengah pelajaran, Radit terus saja memperhatikan Aulia sambil terus memikirkan apa yang menjadi alasan Aulia, meminta Radit untuk membatalkan pertunangannya. Radit masih belum percaya dengan alasan yang Aulia sampaikan padanya.


Di sisi lain, Lusi semakin kesal dengan Aulia yang dengan mudahnya bisa mendapatkan perhatian dari Radit. Radit yang dengan terang terangan di depan murid lain menggendong Aulia, dan bahkan beberapa kali pula terlihat Radit dan Aulia ke sekolah bareng.


Dalam hati Lusi membulatkan tekadnya, pokonya Radit harus jadi milik gwe!


Sesekali Lia menoleh ke belakang, melihat raut wajah Aulia dan Radit secara bergantian.


Lia mengerucutkan bibirnya, gak mungkin kalo Aulia dan Radit hanya sebatas teman. Sedangkan selama ini Aulia selalu jutek di depan Radit.


"Lo kenapa, si Li!" tanya Seli yang melihat Lia beberapa kali menengok ke belakang, "Nyontek lu ya?" tebak Seli lagi dengan menunjuk jemarinya ke depan Lia.


"Apaan si lo, Sel. Otak gw tuh ya udah pinter, gak perlu nyontek juga udah pasti dapat nilai bagus." ucap Lia dengan ketus pada Seli.


"Ya abisnya lo, nengok mulu ke belakang! Mulai ngefans lo ya sama gwe hahaha!" cicit Seli dengan tergelak.


"Sssstttt!" Aulia meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di depan bibirnya, meminta Seli dan Lia untuk tidak bicara.


"Tuh denger apa kata bos, Aulia!" ledek Seli.


Bu Rita mengerutkan keningnya, menoleh ke arah Seli, "Ehem ehem Seli, kamu sudah selesai dengan soal latihan kamu?" tanya bu Rita pada Seli.


Seli membola, begitu namanya di panggil bu Rita. Ia langsung tergagap untuk menjawab pertanyaan bu Rita.


"A- anu anu bu, be- belum bu!"


"Ahahaha ngerumpi bae si lo!" ledek Lusi.


"Nah kan, ketawan... gosipin cowo ya lo!"


Murid satu kelas tertawa mendengar perkataan Seli.


Bugh bugh bugh.


"Sudah sudah, kalian jangan ribut." ucap bu Rita dengan mengetuk ngetukkan penghapus ke papan tulis.


"Kerjakan lagi soal latihan mu, dan jangan berisik Seli!" titah bu Rita.


"Iya bu." jawab Seli.


Lia terkekeh mentertawakan Seli, "Emang enak, kualat lo udah nuduh gw nyontek, hihihi."


"Rese lo... ini juga kan karena ulah lo, Lia!" Seli mengepalkan tangannya di udara, gemes melihat tingkah Lia.


"Udah jangan ribut mulu, kerjain lagi itu soalnya." ujar Aulia dengan mata tetap fokus ke soal, tanpa menoleh ke arah ke dua sahabatnya.


Biar pun di kata Lia dan Seli sering berdebat, mereka tidak akan marahan, karena dalam hubungan persahabatan antara Lia, Seli dan Aulia sudah seperti saudara yang tidak bisa terpisahkan dan mereka tidak akan mengambil hati setiap perkataan yang tidak enak, karena hubungan mereka yang sudah terjalin sejak lama, membuat mereka sangat mengenal dan memahami satu sama lain.


Di rasa sudah selesai menjawab semua soal latihannya, Aulia pun berjalan maju ke meja bu Rita untuk mengumpulkan lembar soalnya.

__ADS_1


"Ini, bu." Aulia meletakkan lembar soal yang di pegangnya, ke atas meja guru.


Bu Rita mengecek lembar jawaban Aulia, "Oke, semua soal sudah kamu jawab semua. Kamu boleh istirahat duluan Aulia."


"Iya, bu." Aulia langsung berlalu meninggalkan kelas.


Radit yang melihat Aulia sudah di perbolehkan istirahat, karena sudah selesai mengerjakan lembar soal latihannya, langsung buru buru menyelesaikan soal latihannya juga agar bisa menyusul Aulia.


"Saya juga sudah selesai, bu!" Radit menyerahkan lembar soal latihannya pada bu Rita.


"Oke, kamu juga sudah boleh istirahat Radit." ujar bu Rita.


Radit pun berjalan ke luar dari kelas, saat sudah di depan kelas, Radit langsung berlari secepat kilat menyusul Aulia.


Sedangkan Lia, Seli serta anak anak yang lainnya, masih bergulat dengan soal yang di berikan bu Rita dalam mengerjakan lembar latihannya.


Lia mengerutkan keningnya, sambil berfikir keras untuk menyelesaikan soal yang belum bisa di pecahkan olehnya, gwe rasa Radit mau nyusulin, Aulia.


Seli membatin, apa mungkin Radit sama Aulia itu pacaran ya? Tapi masa sih! Kan mereka baru aja kenal. Lagi juga Aulia kan gak mau punya pacar 1 kelas.


Aulia pun memutuskan untuk ke kantin sekolah, karena perutnya juga sudah laper dan tadi pagi Aulia juga sarapannya hanya sedikit.


Tap tap tap tap.


Suara langkah kaki Radit, yang berlari mengejar Aulia.


"Aulia, tunggu!" seru Radit saat langkahnya hampir dekat dengan Aulia.


Aulia mengerutkan keningnya, saat melihat Radit yang bernafas dengan ngos ngosan, "Lo kenapa?"


Radit menjawabnya dengan ketus, nafasnya pun tersengal sengal, "Pake tanya lagi gwe kenapa, gwe ngejer lo lah!"


Tanpa bicara panjang lebar lagi, Radit langsung menggenggammm tangan kanan Aulia, dan membawanya ke kantin.


Aulia seakan terhipnotis dengan sepasang mata indahnya Radit, ia mengikuti Radit yang terus menggenggammm tangannya, astaga mimpi apa gwe, kenapa tubuh gwe seakan mau aja nurut sama ajakannya ini!


Radit menyunggingkan senyumnya, setidaknya lo belajar buat terima gwe, Aulia!


Ke jadian tersebut, di lihat oleh beberapa siswa yang memang suasana masih jam pelajaran jadi jalan menuju kantin masih tampak sepi.


Aulia berjalan dengan menundukkan kepalanya karena saking malunya di lihat murid lain.


Radit menggeser kursi ke belakang, kursi yang biasa di duduki Aulia, "Lo datang ke kantin bukan buat berdiri aja kan? Ayo duduk!" ucap Radit dengan berbisik di telinga Aulia.


"Lo tu ngajakin ribut apa ngajakin perang sih?" Aulia mendudukkan dirinya di kursi, ini anak lagi kenapa sih, sikapnya manis, tapi kata katanya pedes!


"Mau ngajak perut lo berdamai, lo tunggu bentar! Jangan ke mana mana!" ucap Radit sebelum meninggalkan Aulia seorang diri.


Tidak berselang lama, Radit kembali pada Aulia dengan membawa serta nampan yang berisi 2 porsi mangkuk bakso, dan 2 gelas es jeruk.


"Makan siang mu sudah datang, Tuan putri!" ujar Radit yang kini meletakkan seporsi mangkuk di depan Aulia.


"Terima kasih! Sekarang kau duduk lah!" ucap Aulia, yang kini mulai menyentuh makanannya.

__ADS_1


Aulia dan Radit makan bersama, dengan Radit yang duduk bersebelahan dengan Aulia.


"Apa rasanya enak?" tanya Radit.


"Ehem, rasanya berbeda dengan yang sebelumnya!" celoteh Aulia.


Radit membatin, jelas berbeda, itu kan racikan ku!


Radit menyapu sudut bibir Aulia, yang menyisakan sisa saus dengan jempolnya.


"Ada apa?" tanya Aulia dengan memainkan alisnya naik turun.


"Tidak ada, kau lanjutkan makan mu!" ujar Radit.


Mereka berdua memakan bakso bersama. Selang beberapa menit bel istirahat berbunyi. Kantin mulai di penuhi dengan beberapa siswa yang menghabiskan waktu di kantin.


Lia menatap Aulia dan Radit dengan tatapan yang menyelidik, "Liet deh, lo gak curiga apa sama sikap Aulia dan Radit! Apa iya gak ada hubungan tapi Radit sampe segitunya ke Aulia."


"Iya juga sih, oh iya... lo perhatiin gak cincin yang Aulia pake hari ini?" Seli mengingat Aulia baru pertama kali memakai cincin.


Aulia itu gak pernah pake cincin dari kecil sampe saat ini. Makanya Seli curiga jika tiba tiba ada cincin yang melingkar di jari Aulia, apa lagi cincin itu melingkar di jari manis Aulia.


"Ehem ehem, makan berduaan aja, kita di lupain nih ceritanya!" cicit Lia saat sudah berdiri di depan Aulia.


"Uhuk uhuk." Aulia tersentak kaget hingga membuatnya tersendak.


Radit menyodorkan es jeruk pada Aulia, sambil tangan kirinya mengelus elus bahu Aulia.


"Kalian ini kenapa sih?" Seli mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Aulia, dengan menopang dagunya dengan ke dua tangannya.


"Kalian ada hubungan apa sih?" Lia mendudukkan dirinya di samping Seli.


"Gwe udah selesai, gwe duluan." Radit beranjak dari duduknya, malas menanggapi Lia dan Seli, ia berlalu pergi meninggalkan kantin tanpa berkata sepatah kata pun pada Aulia.


"Aulia!" seru Seli.


"Aulia! Lo hutang penjelasan sama kita berdua!" sungut Lia dengan ke dua tangan yang menyilang di depan dadanya.


"Hutang penjelasan apa, maksudnya?" cicit Aulia dingin.


"Aduh ini anak bener bener ketularan Radit." Lia menepuk keningnya sendiri.


"Udah lah makan dulu, laper gwe." Seli yang melihat mang Dadang datang dengan bakso dan mie ayam.


"Oke, emang lo doang yang laper! Gwe juga laper, apa lagi tadi abis perang sama soal latihan." cicit Lia.


bersambung......


...🏵️🏵️🏵️...


Yuk tinggalin jejak 😊😊


Kalo gak suka, abaikan ke haluan author 😅😅

__ADS_1


__ADS_2