Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Kevin Prasetyo


__ADS_3

...💔💔💔🌹...


"Ada apa, mah?" tanya Aulia setelah menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


[ "Kamu di mana, sayang? Mama dan papa ada di kantor mu ini. Mama ingin mengajak mu makan siang di luar." ]


"Mama dan papa aja yang makan siang bersama, aku tidak bisa mah."


Aulia menatap nanar pria yang ia akui sebagai Radit, saat mengisi formulir pasien, aku ingin melihat Radit ku lebih lama lagi mah!


[ "Kamu di mana, sayang? Katakan sama mama. Biar mama dan papa yang akan menyusul mu! Kamu tidak sedang bersama dengan pria kan?" ]


"A- apa mah? A- aku sedang di rumah sakit mah." kenapa mama bisa tau aku bersama dengan pria?


[ "Kamu sakit, sayang? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu sedang sakit? Sebentar lagi mama dan papa ke sana. Kau jangan ke mana mana sebelum mama dan papa sampai" ]


"Tapi mah!"


Aulia menatap kesal layar hapenya, saat sang ibu langsung memutus kan sambungan teleponnya secara sepihak.


Aulia beranjak dari duduknya. Ia melangkah ke arah pintu rawat.


Keningnya mengkerut saat sepasang mata indahnya tidak mendapati Dava di luar.


"Kemana ka Dava, ka?" tanya Aulia pada David dengan tatapan menyelidik, apa mungkin ka Dava yang sudah menberi tahu mama dan papa?


"Dava sedang mencoba menyelidiki, siapa pria yang ada di dalam Nona!" ujar David.


"Apa ka David berfikir jika pria itu adalah Radit? Bisa saja kan, Radit lolos dari kecelakaan maut beberapa tahun yang silam. Dan sekarang Radit kembali pada ku!" terang Aulia dengan tatapan penuh harap, terpancar harapan yang pernah hilang kini muncul kembali di mata indahnya.


"Maaf Nona, saya yakin jika itu adalah pria yang hanya memilki wajah yang serupa dengan bos. Banyak saksi yang melihat, jika kita semua sudah memakamkan jasad bos Radit dengan layak." ujar David dengan menelan salivanya dengan sulit.


Aulia kembali masuk ke ruang rawat, di lihatnya wajah pria asing yang memiliki wajah mirip dengan Radit. Aulia menatapnya dengan lekat.


Aulia mendudukkan dirinya di kursi, menumpukan ke dua tangannya pada tepian ranjang rawat, wajahnya mengadah menatap Radit palsu.


"Kamu tahu Radit, kamu begitu kejam pada ku. Kamu tinggalkan aku sendirian, tepat di hari kita akan menikah. Betapa hancurnya hati ku Radit, kamu orang pertama yang mengisi relung hati ku, tapi kamu juga orang pertama yang menghancurkan hati ku hingga tidak tersisa." Aulia menggenggam jemari pria itu, lalu mengecupnya.


Cup.


Tes.


Bulir bening menerobos tanpa henti, Aulia mulai terisak.


"Jangan pernah tinggalkan aku lagi, Radit! Tanpa mu, aku tidak memilki semangat, Radit." tanpa terasa Aulia yang merasa lelah dengan tangisnya, kini ke dua matanya terpejam.


Di bawah alam sadar Aulia yang sudah larut dalam tidurnya.


"Di mana aku?" tanya Aulia yang menatap sekitarnya hanya lah putih, "Apa ada orang di sini? Halooo, siapa pun, tolong lah! Jangan membuat ku takut!"


Tidak ada satu pun yang menjawab seruan Aulia, membuat Aulia bergidik, tempat apa ini? Kenapa semuanya tampak putih?

__ADS_1


"Aulia!"


Dari arah belakang Aulia berpijak, terdengar seseorang yang sangat ia rindukan, suara yang tidak pernah ia dengar selama 4 tahun terakhir, kini bagai mimpi. Indra pendengarannya dapat mendengar suara pria itu menyerukan namanya dengan hangat.


Aulia membalikkan tubuhnya dengan mata yang berbinar, senyum yang tersungging di bibirnya, "Radit! Ini beneran kamu Radit? Aku tidak sedang bermimpi kan? Kamu ada di hadapan ku, Radit?"


Aulia meraba wajah Radit dengan ke dua tangannya, bulir bening terus menerobos dari ke dua mata indah Aulia, mana kala Radit membenarkan ucapan Aulia. Aulia terisak dengan menyebut nama Radit.


"Radit, Radit, Radit, aku merindukan mu, jangan pernah meninggalkan aku lagi Radit! Aku membutuhkan mu Radit!" Aulia memeluk tubuh Radit dengan erat.


Radit diam tanpa bicara, hingga Aulia sendiri yang menjarak tubuhnya dengan tubuh Radit, "Kenapa kamu hanya diam, Radit? Apa kamu tidak ingin memeluk ku? Apa kamu tidak merindukan ku? Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan selama ini Radit?" cecar Aulia, menatap sendu mata indah Radit yang kini sulit di artikan.


"Aku harus pergi Aulia. Kamu harus bisa melanjutkan kembali ke hidupan mu, jalan mu, masa depan mu masih sangat lah panjang." ucap Radit dengan datar, "Bahagia lah kamu dengannya, dia akan menjaga mu sama seperti aku menjaga mu!" ucap Radit yang lantas pergi meninggalkan Aulia.


Ke dua kaki Aulia seakan lemas tak bertualang, mendengar apa yang di ucapakan Radit padanya.


Bugh.


Aulia berdiri dengan ke dua lututnya, berujar dengan di iringi isak tangisnya yang tertahan di dadanya, "Kenapa kamu sejahat itu pada ku Radit! Kenapa kamu kembali jika hanya akan meninggalkan aku sendiri? Radit!"


Aulia terduduk, melihat ke belakang namun sosok yang ia pikir masih berada di dekatnya kini lenyap, hilang kembali menyisakan dirinya sendiri.


"Radiiiiiiiiit!" teriak Aulia sekencang kencangnya.


Di alam nyata, luar ruang rawat.


"Di mana putri ku, David?" tanya mama Nami, saat ia dan suaminya sudah berada di luar ruang rawat.


Sejurus kemudian terdengar suara Aulia berteriak, "Radiiiiiit!"


David, mama Nami dan papa Jaya yang mendengar suara teriakan Aulia, langsung bergegas memasuki ruang rawat.


Brak.


"Aulia! Ada apa sa---"


Mama Nami tidak lagi bisa melanjutkan kata katanya, wanita paruh baya itu seketika tercengang dengan apa yang ia lihat.


"Nona, anda baik baik saja?" tanya David.


"Radit? Apa aku tidak salah lihat? I- itu Radit kan?" cicit papa Jaya, seperti melihat hantu, melihat pria yang ia pikir Radit tengah berbaring di berangkar, bahkan tangan pria itu tampak mengelusss punggung Aulia yang tampak bergetar.


Pria yang mirip dengan Radit, menatap bergantian papa Jaya, mama Nami, dan David dengan tatapan yang was pada.


Bugh.


Mama Nami lunglai dan langsung di tangkap oleh papa Jaya yang menyadarinya, hingga mama Nami jatuh ke dalam pelukan papa Jaya.


"Tolong panggilkan dokter, David!" titah papa Jaya.


"Baik Tuan!" David langsung ke luar dari ruang rawat.

__ADS_1


Papa Jaya menggendong dan membaringkan tubuh istrinya ke salah satu sofa yang ada di ruang rawat itu.


"Mereka semua membuat ku pusing! Siapa lagi wanita tua itu, melihat ku saja sudah seperti melihat hantu!" gerutu pria asing dengan pelan, dengan tangannya yang mencoba membangun kan Aulia dengan mengguncang bahu wanita itu.


"Hei Nona! Bangun lah! Buka mata mu! Sepertinya kau harus melihat siapa yang datang mengunjungi ku!" ujar pria asing.


Aulia menegakan duduknya, dengan berseru kembali, dengan ke dua mata yang membuka lebar, "Radiiit!" nafas Aulia tersengal sengal.


Papa Jaya melihat ke arah putrinya berada, ia melangkah menghampiri Aulia, "Ada apa lagi nak? Apa kamu berfikir jika pria ini adalah Radit?" tanya papa Jaya, dengan tatapan matanya yang menujuk pada pria yang berbaring di atas berangkar.


"Tapi dia memang Radit, pah!" ucap Aulia dengan tatapan matanya yang memohon, meminta papanya untuk percaya pada perkataannya.


"Siapa nama mu, nak?" tanya papa Jaya pada pria yang berbaring di atas berangkar.


Ceklek.


Belum pria itu menjawab pertanyaan papa Jaya, pintu di buka dari luar. Nampak seorang pria berjubah putih, memasuki ruang rawat bersama dengan seorang suster dan David.


"Anda sudah siuman, Tuan?" tanya dokter yang kini berdiri di samping ranjang rawat, ia memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu.


"Iya dok, siapa yang membawa saya ke rumah sakit dokter?" tanya pria itu.


"Nona Aulia dan ke dua bodyguard nya, apa anda tahu siapa nama anda, Tuan?" tanya dokter, setelah selesai memeriksakan keadaan pasien.


"Dokter, pria ini adalah Radit. Kenapa dokter masih bertanya padanya? Dia Radit ku dokter!" ucap Aulia dengan penuh penekanan, tatapannya memancar kan kemarahan pada sang dokter.


"Maaf Nona, kita dengarkan dulu apa yang akan pria ini katakan!" ucap sang dokter dengan santai nya.


Pria asing yang tidak lain adalah Kevin Prasetyo menatap dalam wajah Aulia, kenapa wanita itu terus memanggil ku Radit? Apa wanita itu sudah gila, atau hilang akal? Siapa sebenarnya Radit?


Sementara Aulia yang di tatap intens oleh Kevin, menelan salivanya dengan sulit, ia menganggukkan kepalanya, seakan meminta pria itu untuk membenarkan perkataanya, mengakui jika ia bernama Radit.


Batin Aulia, 'Ayo katakan pada dokter, Radit... jika kamu memang benar Radit ku.'


"Aulia! Putri ku!" racau mama Nami dalam keadaan mata yang terpejam.


Pak Jaya menghampiri istrinya, sementara dokter dan Aulia serta David. Masih menunggu Kevin untuk membuka mulutnya, mengatakan siapa namanya.


"A- aku Kevin Prasetyo. Siapa kalian? Apa kalian mengenal ku?" cicit Kevin.


Aulia menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya dengan ke dua tangannya yang memukulll mukulll dada Kevin.


"Kamu bukan Kevin, kamu Radit! Jangan pungkiri jika nama mu adalah Radit! Kenapa kamu harus membohongi ku! Kamu Radit!" ucap Aulia yang kembali terisak.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊

__ADS_1


__ADS_2