Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Masih menggantung


__ADS_3

...🌹🌹💔💔...


Grap.


Kevin menggenggam pergelangan tangan Aulia, menjauhkannya dari wajahnya.


"Awwwwwhhhh wah sengaja nih anak! Sengaja kan lo?" cicit Kevin dengan menyeringai.


"Apa sih, Vin! Makanya jangan gombal mulu!" Aulia menahan tawanya, dengan berusaha melepasakan tangannya dari genggaman Kevin.


Sreeek.


Kevin mengatur kursi mobil yang Aulia duduki, hingga sandaran kursi itu doyong ke belakang.


Bugh.


Sandaran kursi kini sejajar dengan kursi, tubuh Aulia langsung di dorong Kevin ke belakang dengan Kevin yang berada di atas tubuh Aulia. Namun ia tetap menahan dirinya untuk tidak membebani Aulia dengan bobot tubuhnya.


"Akhhh!" pekik Aulia.


"Jadi, kamu gak mau di gombalin. Terus kalo aku langsung ajak kamu nikah, apa kamu keberatan?" Kevin memainkan alisnya naik turun, tatapan matanya teduh pada kedua mata indah Aulia.


Aulia menelan salivanya dengan sulit, mata elang mu, mengingat kan aku padanya, aku tidak ingin menerima mu hanya karena kau mirip dengannya, aku tidak ingin kau menjadi pelarian ku.


"A- a- aku tidak bisa, Vin!" Aulia mendorong dada Kevin dari tubuh nya, "Jangan seperti ini! Kau belum mengenal ku!" Aulia memalingkan pandangannya dari Kevin.


Kevin menangkup wajah Aulia, membawanya hingga membuatnya saling tatap, "Jangan meragukan cinta ku Aulia, mungkin kau masih ragu akan diri ku. Masih ada cinta di hati mu untuk saudara kembar ku. Tapi apa jika aku pergi, akan baik untuk mu?"


Aulia menatap Kevin dalam, "Kau akan pergi? Untuk apa? Kau baru saja menikmati apa yang harusnya menjadi milik mu sejak lama. Sekarang kau akan melepaskan apa yang menjadi milik mu dengan begitu saja?"


Grap.


Kevin membawa Aulia ke dalam pelukannya, ia juga mengecup pucuk kepala Aulia dengan kasih, "Aku tidak akan pergi jika kau ada di sisi ku! Percaya lah pada ku Aulia, dengan seiringnya waktu. Kau akan tau betapa berartinya diri ku di hati mu! Aku janji tidak akan menghianati mu, terima lah aku untuk menjadi imam mu!"


"Beri aku waktu, Vin!"


...🌹🌹🌹...


Beberapa hari kemudian, di kediaman orang tua Aulia.

__ADS_1


"Pagi, sayangnya mama! Ada apa? Kenapa wajah mu masam begitu?" cecar mama Nami, saat melihat Aulia yang baru bergabung untuk sarapan.


"Pagi juga mah, gak ada apa apa kok!" Aulia mengecup pipi mama Nami.


"Apa kamu gak ngantor, sayang?" tanya papa Jaya.


"Morning pah! Aku berangkat nanti siang." Aulia mengecup pipi papa Jaya.


"Apa ini ada hubungannya dengan nak Kevin, sayang?" tebak mama Nami, saat melihat Aulia mendarat kan bobot tubuhnya di salah satu kursi makan.


Aulia tidak mendengar kan pertanyaan mama Nami, ia larut dalam pemikirannya


Sebenarnya itu anak pergi kemana ya? Apa iya pergi ke tempat ia di besarkan? Kenapa aku jadi tidak percaya gini? Apa mungkin juga dia sedang bermesraan dengan wanita yang ia kenal, wanita yang ia cintai! Ayo lah Aulia, buang pikiran mu dari Kevin, dia asing bagi mu!


Mama Nami dan papa Jaya saling tatap, satu sama lain saling memberi kode, setelah memperhati kan putri semata wayangnya.


Lewat tatapan papa Jaya, seolah ia bertanya pada mama Nami, 'Ada apa dengan putri mu, mah?'


Mama Nami menjawabnya dengan mengerdikkan bahu, di sertai gelengan kepala, seolah mewakili kata yang ia ucapkan, 'Mama tidak tahu pah! Mungkin sedang memikirkan Kevin!'


Papa Jaya tersenyum sendiri, sekarang aku baru mengerti... alasan nak Kevin untuk menghilang beberapa hari dari pandangan Aulia, ia ingin menguji apakah sudah ada ruang untuk dirinya di hati putri ku!


4 hari sebelumnya, di perusahaan orang tua Aulia. Kevin menemui papa Jaya tanpa sepengatahuan Aulia.


Tok tok.


"Bisa aku masuk om, ini aku Kevin." ucap Kevin setelah mengetuk pintu ruang kerja papa Jaya.


Setelah mendapat seruan masuk dari dalam, baru lah Kevin membuka pintu dan mengayunkan kakinya dengan pasti ke ruang kerja, seseorang yang sangat ingin ia temui sekaligus ingin ia mintai tolong.


Kevin melihat papa Jaya yang sedang sibuk dengan berkas yang ada di hadapannya, serta pulpen di tangan kanannya.


Papa Jaya menyunggikan senyum bahagianya, saat melihat Kevin yang melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ayo duduk nak, bagaimana dengan pekerjaan mu? Apa ada masalah? Kau bisa mengatakannya langsung pada papa." tanya papa Jaya.


"Tidak ada masalah dengan pekerjaan ku, om. Hanya saja aku butuh bantuan om." Kevin mendaratkan bobot tubuhnya di kursi yang ada di hadapan papa Jaya, dengan meja yang menjadi jarak di antara keduanya.


Papa Jaya menghentikan aktivitasnya, ia meletakkan pulpen di atas berkas yang ada di hadapannya, lalu menggesernya agak menjauh dari hadapannya.

__ADS_1


"Katakan, apa yang bisa papa lakukan untuk kamu, nak?" tanya papa Jaya dengan serius, ke dua tangannya berpangku tangan di atas meja.


Ini pasti ada hubungannya dengan Aulia, apa anak ini punya masalah dengan seseorang?


"Begini om, untuk beberapa hari ke depan aku akan meninggalkan kota ini. Ada sesuatu yang harus aku urus di sana, om. " ucap Kevin.


Papa Jaya mengerutkan keningnya, "Berapa lama kamu akan meninggalkan kota ini? Apa ada seorang wanita yang ingin kamu temui di sana?" tuduh papa Jaya dengan tatapan tajam mengarah pada Kevin.


"Memang ada seorang wanita yang akan aku temui di sana, tapi wa-----"


Jaya mengepalkan tangannya, darahnya mendidih seketika. Ia langsung memotong perkataan Kevin yang belum selesai memberikannya penjelasan.


Dengan emosi, suara yang naik satu oktaf, papa Jaya berseru, "Cukup Kevin, ternyata papa sudah salah berharap banyak pada mu. Papa pikir kamu memiliki hati dan pandangan yang sama dengan Radit pada Aulia, tapi ternyata papa salah. Pergi lah... jika kamu ingin pergi!" wajah kecewa nampak di wajah papa Jaya.


Kevin mengerutkan keningnya, "Aku rasa om salah mengartikan maksud ku, aku memang ingin menemui wanita yang sangat berarti dalam hidup ku, untuk meminta restu darinya, agar aku bisa menikahi Aulia untuk menjadi istri ku." terang Kevin dengan mata teduhnya, berharap pria yang ada di hadapannya dapat memahami maksudnya.


"Kenapa kau tidak mengajak serta Aulia, nak? Orang tua angkat mu juga harus mengenal Aulia kan, calon menantunya!" terang papa Jaya dengan tatapan menyelidik.


"Aku tidak bisa membawa Aulia, om. Karena aku juga ingin membuktikan pada Aulia, jika ia sudah menaruh hati pada ku, namun sayangnya Aulia belum menyadarinya. Karena sampai saat ini, Aulia belum menerima pinangan ku... jangan kan pinangan, untuk menjadi pacar ku saja Aulia masih menggantung ku." terang Kevin terus terang dengan wajah sedih.


"Baik lah kalo begitu, papa setuju dengan keputusan mu. Papa harap kamu tidak berubah pikiran pada Aulia. Kapan rencananya kamu akan pergi? Kamu akan mengatakannya pada Aulia kan?"


"Besok pagi aku akan berangkat. Rencananya sore nanti, saat mengantar Aulia pulang, baru aku akan mengatakannya pada Aulia, om." ujar Kevin.


"Semoga rencana mu berhasil ya nak, untuk membuktikan Aulia mengharapkan kehadiran mu di sisinya. Om yakin kamu anak baik, sama seperti Radit."


Flashback and.


Mama Nami mengerucutkan bibirnya, saat mendapati Aulia dan papa Jaya sama sama larut dalam lamunan mereka berdua.


"Pah, papah kenapa senyum senyum sendiri? Kamu juga Aulia, nasi goreng bukan buat di acak acak, tapi untuk di makan. Ayo habiskan sarapan kalian. Ayah dan anak sama saja, melamun kok gak ngajak ngajak ya!" celoteh mama Nami.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊

__ADS_1


__ADS_2