Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Mengikuti


__ADS_3

...🌹🌹💔💔...


"Pah, papah kenapa senyum senyum sendiri? Kamu juga Aulia, nasi goreng bukan buat di acak acak, tapi untuk di makan. Ayo habiskan sarapan kalian. Ayah dan anak sama saja, melamun kok gak ngajak ngajak ya!" celoteh mama Nami.


Siang hari di sebuah restoran.


Dengan duduk bersandar pada sandaran kursi, pria berusia 25 tahun dengan bewok tipis di dagunya, bertanya pada Aulia.


"Jadi, bagaimana Nona Aulia, apa kau setuju dengan pengajuan proporsi yang perusahaan saya tawarkan? Apa anda masih mau, memperpanjang kerja sama dengan perusahaan yang saya pimpin?" tanya Malik setelah Aulia menutup berkas yang ada di tangannya.


"Dari keterangan dan penjelasan di sini cukup jelas, tapi untuk keputusan akhirnya... saya harus menunggu keputusan dari direktur utama kami, pak." cicit Aulia pada rekan bisnis yang duduk di hadapannya.


Malik menegakan duduknya, berpangku tangan di atas meja, "Bukannya setahu saya Prasetyo grup di pegang oleh anda, anda kan direktur utama di sana?" tanya Malik dengan serius.


"Anda benar pak, tapi beberapa hari yang lalu... saya sudah menyerahkan jabatan itu kepada seseorang yang semestinya." terang Aulia dengan menyunggikan senyum manisnya.


"Maksud anda? Menurut kabar burung yang saya dengar, Raditia Prasetyo, ibu Sita dan pak Wiko sudah meninggal dunia bukan? Dan semua aset di serahkan pada anda." ucap Malik.


"Semua kabar burung yang anda dengar itu tidak semuanya benar, pak... tidak semua aset keluarga Prasetyo saya yang pegang. Ada sebagian aset yang saya hibahkan untuk masjid, sebagaian lagi saya gunakan untuk membesarkan rumah singgah dan dari hasil keuntungan yang di dapat perusahaan, saya serahkan untuk mendanai rumah singgah yang saya dan almarhum Radit miliki. Dan sekarang jabatan direktur utama saya serahkan kepada pak Kevin, saudara kembar dari Radit." terang Aulia.


"Anda bilang saudara kembar? Sejak kapan pak Radit memiliki saudara kembar? Bukan kah bu Sita dan pak Wiko hanya memiliki satu orang putra dan calon menantu?"


"Maaf pak, untuk lebih jelasnya nanti akan ada konferensi pers dari pihak perusahaan. Kami juga akan mengadakan pesta penyambutan direktur kami yang baru, dan akan mengundang beberapa perusahaan yang selama ini sudah bekerja sama dengan pihak kami." terang Aulia.


"Anda tidak lupa kan, untuk memasukkan nama saya ke dalam daftar tamu di acara penyambutan direktur utama yang baru?"


"Bapak tidak perlu khawatir soal itu, kita sudah menjalin kerja sama cukup lama buakn, pasti bapak akan kami undang." ujar Aulia.


"Baik lah kalo begitu, saya tunggu kabar baik dari anda Nona." Malik mengulurkan tangannya pada Aulia dengan tersenyum palsu.


Aulia membalas uluran tangan Malik, dengan senyum yang tulus.

__ADS_1


"Mau saya antar ke perusahaan anda kembali?" tawar Malik, saat keduanya sudah berdiri di depan pintu restoran.


"Tidak perlu pak, saya sudah ada supir yang menemani." Aulia menunjuk jari telunjuk kanannya, pada David yang berdiri di depan mobil, "Saya duluan, pak!" cicit Aulia yang melangkah pergi.


Malik tampak memperhatikan Aulia yang masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak masam, lalu sedetik kemudian ia menyeringai.


"Kita mau ke mana Nona?" tanya David yang berada di belakang kemudi.


"Antar aku ke makan Radit, aku ingin menemuinya." terang Aulia.


"Anda yakin Nona? Cuaca hari ini tampaknya kurang bagus Nona, lihat itu awannya mendung." cicit David.


"Bilang aja kalo bang David itu takut akan petir dan hujan. Aku bisa sendiri jika bang David tidak mau mengantar ku ke sana." Aulia menyampirkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Akan saya antar Nona." jika sudah ada maunya, Nona Aulia sulit di bantah.


Mobil melaju meninggalkan pelataran parkir restoran, dengan tujuan pemakaman keluarga yang berada di puncak.


"Apa meeting kali ini berjalan dengan lancar Nona?" tanya David.


"Tidak Nona, tapi sebaiknya Nona menjaga jarak dengan pak Malik. Saya melihat ada gelagat aneh dari tatapannya." ujar David.


"Jangan berfikir buruk bang jadi orang tuh. Perusahaan Prasetyo kan sudah lama menjalin kerja sama dengan pihaknya, mana mungkin ada niat buruk tersembunyi di sana." kilah Aulia.


"Tapi Nona ---"


"Udah bang, fokus aja sama jalan!" cmbantwh Aulia yang memotong perkataan David.


Sementara di mobil lain, mobil yang sedari tadi membuntuti mobil Aulia sejak ke luar dari parkiran restoran.


"Apa kamu yakin, sayang? Jika pria itu hanya supirnya? Bukan bodyguardnya?" tanya wanita yang duduk di samping kemudi, pada pria yang di panggilnya sayang.

__ADS_1


"Apa kau tidak mempercayai ku, sayang? Aulia sendiri yang bilang pada ku, jika itu supirnya." terang Malik dengan melirik sekilas wajah Sani, wanita yang beberapa hari belakangan ini menjalin hubungan dengan dirinya.


"Coba saja kau beri tahu pada tadi, pasti akan aku kerjain itu mobilnya, biar wanita sialannn itu ikut bersama dengan mu naik mobil ini, sayang!" Sani menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.


"Bisa kau beri tahu ku, alasan kenapa kau sangat membenci wanita itu? Selama aku menjalin kerja sama dengan perusahaan yang ia pimpin, tidak ada yang aneh dan salah dengan sikapnya." tetang Malik.


Sani membuang nafasnya dengan kasar, lalu menggelayut manja pada lengan Malik yang sedang mengemudi, jelas aku ingin menghancurkan siapa saja yang membuat aku terpisah dengan Radit. Siapa pun orangnya, harus aku lenyapkan. Termasuk orang tua Radit, dan Radit sendiri yang sudah menolak cinta ku, dan sekarang wanita sialannn itu tidak boleh merasa bahagia, karena dirinya pula aku jadi DPO saat ini.


"Kau jangan tertipu dengan wajah polosnya sayang! Wanita itu berbahaya, jika ia sudah mengincar seorang pria kaya, maka tidak mungkin pria itu lepas darinya. Seperti yang terjadi pada Radit. Semua aset kekayaan jatuh ke tangannya semua kan! Tepat di hari pernikahan mereka." Sani meraba dada bidang Malik dengan jemarinya.


Malik membuang nafasnya dengan kasar, jika Aulia seperti yang di katakan Sani. Untuk apa ia yang sudah susah payah mendapatkan posisi direktur utama, lalu di serahkan begitu saja pada orang lain? Orang yang seharusnya memegang jabatan itu, saudara kembar Radit. Atau hanya Sani saja yang mencari alasan?


Sani mendongakkan wajahnya menatap sepasang mata tajam Malik, "Ada apa lagi? Apa yang di katakan wanita sialannn itu pada mu, sayang?"


"Jujur aku mulai ragu dengan perkataan mu, sayang. Aulia berkata sebaliknya pada ku. Justru ia belum lama ini menyerahkan posisi direktur utama pada saudara kembar almarhum Radit. Jadi sekarang perusahaan Prasetyo bukan lagi di bawah kuasanya."


"Apa kamu bilang? Saudara kembar?" Sani tampak syok dengan apa yang ia dengar.


"Iya saudara kembar, ngomong ngomong sayang. Untuk apa kita mengikuti Aulia? Apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Malik, tanpa tau tujuan Sani. Ia di minta Sani untuk mengikuti Aulia.


Sani menatap mobil Aulia, "Kau cukup mengikutinya saja, sayang. Selebihnya biar aku yang fikirkan!" Sani menyeringai, dengan tatapan yang sulit di artikan.


Malik mengerutkan keningnya, saat melihat papan petunjuk jalan yang memperlihatkan tanda, memasuki puncak lewat jalur jalan bebas hambatan.


"Ini kan jalur puncak sayang, mau apa Aulia ke puncak?" tanya Malik dengan tanda tanya di hatinya.


"Itu lah yang aku bilang tadi sayang, kamu jangan tertipu dengan wajah polosnya, dia itu sudah pasti ingin bermain dengan pria yang di akuinya supir." Sani tersenyum licik.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2