
...🌷🌷🌷...
Di siang hari yang terik Lia, Seli dan Aulia. Seperti biasa berjalan bersama untuk menuju gerbang sekolah, sambil di iringi dengan canda tawa.
"Ehem ehem Aulia, cincin lo bagus deh!" tanya Seli yang tidak bisa lagi membendung perasaan curiganya.
"Eh emmmm, i- iya biasa aja sih ini mah." ujar Aulia dengan tergagap.
"Minggir lo, lelet pada!" Lusi berjalan menerobos antara Lia dan Aulia, membuat Lia dan Aulia hampir terjatuh karena kurang keseimbangan.
"Heh, jalan lebar noh... ngapain lo jalan sini!" sungut Lia dengan perasaan dongkol di hatinya.
Untung aja Aulia sedang di gandeng tangannya sama Seli, jadi ia tidak jatuh.
"Suka suka gwe!" sungut Lusi dengan menoleh ke belakang, sedangkan ia tetap melangkah ke depan tanpa memperdulikan jalannya.
"Dasarrr lo uler keket!" seru Seli dengan suara yang naik 2 oktaf, ayo nyusruk lo! Gwe bakal ketawain lo!
"Lo yang uler keket!" oceh Lusi dengan membalikkan pandangannya ke depan.
Bugh.
Lusi nyusruk ke tanaman yang rindang, tanaman yang sengaja di tanam pihak sekolah. Rindangnya tanaman membuat tubuh Lusi jatuh di atasnya.
"Akkkkhhh kamprettt, sialannn, sejak kapan sih ada tanaman di sini!" sungut Lusi dengan kesal, beranjak dari posisinya, mengibas ngibaskan tangannya pada seragam bagian depan tubuhnya, ia juga menghentak hentakkan ke dua kakinya.
Seli yang melihatnya tertawa puas, "Ahahhahaha itu namanya karma kilat cuy!"
"Ahahaha gwe setuju sama, lo!" Lia ikut tergelak sambil tetap melangkah melewati Lusi.
Aulia hendak melangkah ke arah Lusi untuk membantunya, "Ihs kalian, kasian itu!"
Namun Seli menarik lengan Aulia, menghentikan Aulia untuk membantu Lusi.
"Kita gak perlu bantuin dia, Aulia sayang!" cicit Lia yang setuju dengan Seli.
Lusi mengerutkan keningnya, mengikuti Aulia, Seli dan Lia yang berlalu di depannya, "Heh, lo pada... kurang asem! Harusnya lo bantuin gwe, gak liet temen lagi susah apa lo!" cicit Lusi dengan kesal.
"Ngapain bantuin lo! Emang kita temen lo apa ahahaha!" Lia tergelak kembali, dengan melambaikan tangan tanpa menoleh atau menghentikan langkah kakinya.
"Bener banget lo!" cicit Seli.
Seli dan Lia bertos ria, sementara Aulia geleng geleng kepala melihat tingkah ke dua sahabatnya.
"Seli!" seru Arya, ia melangkah menghampiri ke tiga gadis itu.
"Kaka manggil aku, ada apa ka?" tanya Seli dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu mau langsung ke resto kan? Bareng sama kaka aja, kaka juga mau sekalian ke resto." cicit Arya.
"Iya sih mau ke resto, tapi kan biasanya aku bareng Aulia, ka." cicit Seli.
__ADS_1
"Hari ini gwe gak di anter jemput, Seli!" ujar Aulia.
"Lah terus kamu pulang sama siapa? Bareng sekalian, mau?" tawar Arya.
Dari arah belakang Aulia, yang tidak begitu jauh, Radit menjawab ajakan Arya untuk Aulia.
"Gak perlu, Aulia bareng sama gwe, ka!" seru Radit dengan dingin.
Lia, Seli dan Arya mengerutkan keningnya, mereka sama sama saling pandang, mencari jawaban atas ucapan Radit.
Dengan wajah merona, serta tergagap, Aulia berkata, "I- iya gwe pulang bareng Radit. Gwe duluan ya."
"Kita duluan, ya!" ucap Radit yang melangkah meninggalkan Seli, Lia dan Arya.
Grap.
Radit menggenggammm tangan Aulia.
"Radit lepas ih, gak enak pasti di lietin sama yang lain!" cicit Aulia, berusaha melepaskan genggamannn tangan Radit.
"Mending gwe genggam apa gwe gendong?" tanya Radit dengan memberikan 2 pilihan pada Aulia.
Aulia mengerucutkan bibirnya, gak ada pilihan yang enak ini mah!
Radit tersenyum puas, melihat Aulia yang diam, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Dengan Radit yang membukakan pintu mobil untuk Aulia.
Seli, Lia dan Arya masih menatap ke duanya, saat mobil yang di kemudian Radit. Melewati ke tiganya.
"Gwe semakin yakin, itu anak ada hubungan!" cicit Lia.
"Ya udah, mending kita langsung jalan aja. Besok baru kalian tanya sama Aulia." usul Arya.
Seli menyetujui ucapan Arya, ikut bersama dengannya menuju restoran, sedangkan Lia pulang dengan di jemput supir keluarganya.
...🌷🌷🌷...
Ke esokan harinya di jam pulang sekolah. Radit dan Farel sudah berada di dalam mobil, dengan Farel yang duduk di kursi belakang.
Aulia membuka pintu depan mobil Radit, sambil berkata pada Lia, "Lo duduk di belakang ya, Lia!"
"Beres lah kalo gitu... lo berdua gak ada nietan buat nyulik gwe kan?" ledek Lia saat hendak membuka pintu mobil.
"Gila aja, mau ngapain gwe nyulik lo? Makannya banyak, yang ada rugi gwe!" ledek Aulia.
Lia di buat kaget karena yang ada di dalam mobil bukan hanya mereka bertiga. Di dalam mobil kursi penumpang belakang sudah ada Farel. Jadi lah mereka berempat di dalam mobil.
Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Cantik, kenapa ga duduk di belakang aja, si! Ngapa juga harus Lia yang duduk di belakang!" cicit Farel.
"Heh tengik, sapa juga yang mau duduk dekat lo. Sana lo jauh jauh hus hus!" Lia mengibaskan tangannya seakan sedang mengusir anak ayam.
__ADS_1
"Hih galak amat si lo, Lia!" ejek Farel.
"Radit, sebenarnya kita mau kemana si? Lo bener bakal jelasin ke kita kan, hubungan lo berdua! Lo udah janji lo!" cecar Lia.
"Dikit lagi juga kita sampe! Makanya kita perlu bicara serius. Butuh tempat yang tepat juga buat jelasin ke kalian." Radit.
Radit menepikan mobil birunya di depan Cafe Coffee. Mereka berempat ke luar dari mobil, setelah Radit memarkirkan kendaraan beroda empatnya.
Radit berjalan sambil terus menggenggam tangan Aulia. Radit memilih meja paling belakang untuk mereka duduki.
Mereka langsung duduk, Radit duduk di sebelah Aulia sedangkan Farel duduk di sebelah Lia, mereka duduk berhadap hadapan.
Setelah Radit selesai memesankan minuman dan cemilan, baru lah Lia memulai pembicaraan.
"Jadi kalian beber pacaran kan? Sejak kapan? Ko gwe gak tau! Kenapa pas Radit baru masuk sekolah, lo kaya gak kenal gitu sama, Radit!" Lia mencecar Aulia dan Radit, dengan berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya.
Aulia dan Radit menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan perkataan Lia.
"Kalo bukan pacaran apa dong?" tanya Farel.
Radit memperlihatkan genggaman tangannya pada Lia dan juga Farel.
"Kalian nikah?" tebak Lia.
Farel mengerutkan keningnya, "Apaan itu cincin?" tanya Farel.
"Baru mau." ucap Aulia.
Farel membola, "Apa? Jadi kalian sekarang ada hubungan ---"
"Tunangan!" Radit memotong ucapan Farel.
Setelah mendengar ucapan Radit, Farel langsung beranjak dari duduknya, dan memeluk Radit dari belakang sambil menangis.
"Hiks hiks hiks lo tega banget si bro... neng Aulia kan udah jadi incaran gwe dari masa masa gwe MOS, ampe sekarang neng Aulia nolak gwe mulu buat jadi pacarnya!" ucap Farel dengan keluh kesahnya.
Semua mata yang ada di dalam cafe, menatap ke arah meja mereka dengan tatapan aneh dan tanda tanya. Apa lagi tatapan aneh mereka mengacu pada Farel dan Radit.
"Apa apaan si, lo! Malu di lihat sama yang lain." Radit mendorong tubuh Farel yang masih memeluknya.
Farel langsung melepaskan pelukannya dari Radit, dan kembali duduk di kursinya dengan menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Gwe ga nyangka Radit, gwe yang udah 2 tahun terus terusan ngejer Aulia tapi di tolak terus, malahan jadinya sama temen gwe sendiri." ucap Farel di sela tangisnya.
"Bearti Aulia belom jodoh, lo!" ucap Radit.
...❤️❤️❤️...
bersambung......
Makasih udah mampir, jangan lupa like komen, rate 5 yo kalo suka.
__ADS_1
Kalo ga suka ya abaikan aja.
Menghalu itu gak mudah saya 😅