Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Persyaratan


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Apa yang di percepat Dit?" tanya Aulia dengan polosnya.


Bukan Radit yang menjawab pertanyaan Aulia, melainkan mama Nami dengan wajah sumringah, "Rencana itu loh sayang... nikahan kalian!"


Aulia mengerutkan keningnya, "Eh ko jadi gini sih! Bukannya nunggu kita sampe lulus SMA ya, mah?" pikir Aulia.


"Ah mama gak setuju kalo itu... ke lamaan." cicit mama Nami.


Berbeda dengan Aulia, Radit justru mengiyakan dengan mengajukan persyaratan.


"Atur mama aja, tapi setelah menikah." Radit menatap mata bulat nan indah Aulia dengan lekat, "Radit punya persyaratan!"


Aulia bertanya pada Radit dengan pergerakan kepalanya, tanpa mengeluarkan suaranya, apa yang kamu lakukan? Syarat apa yang ingin kamu ajukan, Radit?


Radit hanya menyeringai melihat reaksi Aulia.


"Nah kan, Radit aja tidak ke beratan, memang syarat yang kamu ajukan itu apa, Radit?" mana Nami menatap penuh tanya Radit.


Papa Wiko mengerutkan keningnya, menatap putranya dengan curiga, jangan sampai bocah nakal ini mengajukan syarat konyol, syarat yang tidak masuk akal!


Mama Sita menatap putranya dengan pikiran yang menerawang, anak ini... beraninya memberikan syarat.


Radit membuang nafasnya dengan kasar, "Radit dan Aulia tinggal di rumah sendiri."


"Gak bisa sayang, kalo udah nikah kalian tinggal di rumah mama dan papa." protes mama Nami.


Protes juga di perlihatkan oleh mama Sita, menolak keras keinginan Radit, "Gak bisa mam, mereka berdua harus tinggal di rumah saya."


Mama Nami dan mama Sita saling meributkan tempat tinggal, untuk Aulia dan Radit jika ke duanya sudah menikah nanti.


Sedangkan papa Jaya dan papa Wiko, hanya geleng kepala melihat istri istri mereka saling meributkan tempat tinggal, untuk anak mereka nantinya setelah menikah.


"Mah udah dong jangan debat lagi." gerutu Aulia yang pusing melihat ke duanya berdebat.


"Ke putusan Radit sudah dil mah, jika mama tidak mau. Kita undur rencana pernikahan sampai Radit dan Aulia lulus sekolah." ucap Radit dengan tegas, sambil berdiri dan bertolak pinggang.


Mendengar perkataan Radit, mama Nami dan mama Sita berfikir sejenak dan dengan kompak berkata.


Mama Sita memutar bola matanya dengan malas, anak ini, sudah berani mengancam rupanya yah. Tapi kalo gak di turutin, lama punya cucunya dong. Ngalah dulu deh demi calon cucu.


"Iya mama setuju." ujar mama Nami.


"Oke kalo begitu!" cicit mama Sita.


Radit dan Aulia tersenyum melihat kekompakan ke dua mamanya.


...💞💞💞...


Di sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung, di dalam kelas.


"Ada yang kurang ya kelas gak ada Aulia." ujar Seli dengan memainkan pulpennya, yang ada di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Bener banget." ucap Lia yang sependapat dengan Seli.


"Oh iya, dari kemarin tuh gwe mau tanya, Li. Tapi kemaren gak jadi nanya karena lupa." celetuk Seli yang ingat sesuatu hal.


"Mau tanya apa?" Lia menatap Seli dengan penuh tanya.


"Bener kalo Aulia itu udah pacaran sama, Radit?" tanya Seli dengan tatapan penuh selidik.


"Bukan pacar tapi tunangan." Lia meralat ucapan Seli.


Seli membola, terkejut mendengar apa yang di ucapkan Lia, "Apa? Tunangan?"


"Ada apa Seli?" tanya bu Rini,, yang saat ini tengah duduk di bangku guru sambil tangannya memeriksa hasil latihan muridnya.


"Emm gak ada apa apa, bu." bantah Seli.


"Lanjutkan tugas kamu, Sel." ucap bu Rini.


"Iya, bu." ujar Seli.


Lia mencubittt gemasss lengan Seli.

__ADS_1


"Awwhhh sakit ege!" sungut Seli, memegangi lengannya yang di cubit Lia.


"Makanya kalo ngomong jangan pake toa." ucap Lia.


"Lo si, toa di oper ke gwe. Gwe kan tuh yang kena semprot." sungut Seli dengan kesal.


Akhirnya Seli berhenti bertanya pada Lia, dan memilih kembali fokus menyalin materi yang sedang di tulis di papan tulis oleh sekretaris kelas Lulu.


"Lia cantik, lo mau jenguk Aulia gak... tar pulang sekolah?" tanya Farel.


"Ngapain lo, pake nanya nanya gwe?" Lia memutar bola matanya dengan malas.


"Eet ya, cantik cantik si jutek bener." gerutu Farel dengan sesekali melirik Lia.


"Bodo amat... masalah gitu buat gwe!" celetuk Lia dengan sinis.


"Masalah lah." ledek Farel.


"Masalahnya apa sama lo?" tanya Lia.


"Masalahnya gwe bisa jatuh karena lo" Ucap Farel.


"Lo jatuh ya tinggal jatuh, ribet amat." celetuk Lia.


"Jatuh ke hati lo... Lia cantik." gumam Farel dengan suara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Lia.


"Ogah amat." sungut Lia sambil bergidik geli.


Bu Rini menoleh ke arah Lia, ia mengayunkan kakinya ke arah Lia, "Lia, ada apa ribut ribut?"


"Ini bu, Farel patah hati sama Aulia. Masa dia bilang jatuh hati ke saya. Kan gak banget, bu." Lia malah tanpa sadar, mengadukan omongan Farel pada bu Rini.


Anak anak yang tadinya fokus menyalin materi, jadi tertawa mendengar perkataan Lia.


"Hahahahah."


Bu Rini yang mendengar penuturan dari Lia, di buat geleng geleng kepala, anak ini... berkata jujur tidak pada tempatnya. Udah tau lagi jam pelajaran.


"Gak apa lah Lia... kalo kamu jadian sama Farel, dari pada Farel patah hati lagi." ledek bu Rini yang kali ini setuju dengan Farel.


"Enak aja ini ibu kalo ngomong!" protes Farel.


"Ya di perjuangkan dong bu. Masa nyerah gitu aja bu." cicit Farel.


Puk puk puk.


Danu menepuk nepuk bahu Farel, "Bener itu bro... semanget kejer Lia, bro."


"Apaan si lo, Danu." Lia mengerucutkan bibirnya, memutar bola matanya dengan malas.


Farel menatap Lia dengan mata berbinar, astaga kenapa gwe jadi gini ya, kalo ngeliet Lia marah itu kayanya gemesin banget! Astaga... kenapa juga gwe baru nyadar. Hahahah mata gwe ngerem selama ini, terlalu fokus sama Aulia, ampe ora ngeliet Lia.


"Aduh makin cantik aja dah ayang Lia kalo lagi cemberut." ledek Farel gemesss.


Lia mengerdikkan bahunya, "Iiiiiih... apa si lo, gak jelas lo."


Bu Rini menatap kursi Aulia yang kini kosong tidak berpenghuni, "Kalian... apa ada yang sudah tau ke adaan Aulia sekarang?"


"Lia sama Seli, pasti tau bu!" ujar Lulu sambil tetap fokus menyalin materi di papan tulis.


Bu Rini menatap ke duanya dengan bergantian, "Gimana ke adaan Aulia sekarang Lia, Seli?" tanya bu Rini.


"Sudah di ruang rawat, bu." jawab Seli.


"Karena ke jadian kemarin Aulia jadi gegar otak ringan, bu." terang Lia.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Terus sekarang kondisinya gimana, Lia?" tanya bu Rini, terhenyak saat mendengar kondisi Aulia.


Beberapa teman Aulia yang lain, buka suara, ikut mengomentari kondisi Aulia setelah mendengarnya dari Lia dan Seli.


"Ya Allah, sampe segitunya luka Aulia."


"Jahat bangat ya, si Lusi." ujar Devi.


"Iya jahat banget, temen lo tuh Dev." celetuk Nindi.

__ADS_1


"Temen lo juga, oneng." cicit Devi.


"Temen kita berdua juga si. Tapi kita jangan jahat kaya Lusi ya, Dev." cicit Nindi lagi.


"Iya Nin... amittt amittt kalo gwe jahat kaya, Lusi." ucap Devi.


"Gak nyangka gwe, Lusi bisa segitunya sama Aulia." gumam Nindi.


"Kita doain aja ya anak anak, biar Aulia bisa cepat pulih dan bisa berkumpul bersama lagi dengan kita si sekolah." ujar bu Rini.


Ucapan bu Rini di amini oleh muridnya, "Aaamiiin, bu."


Waktu terus berputar, jam pelajaran pun berganti sesuai jadwal. Tanpa terasa waktu pulang sekolah pun tiba.


Teng teng teng.


Bel sekolah berbunyi, sebagai tanda jam pelajaran telah usai.


"Lo jadi ikut gak Sel, ke rumah sakit?" tanya Lia pada Seli, sambil terus berjalan ke luar dari dalam kelas.


"Duh gwe gak enak... izin gak masuk kerja mulu sama ka Arya." Seli menelan salivanya dengan sulit.


"Yaaaah, gak asik gwe kalo gak ada lo, Sel." ucap Lia.


Seli membuang nafasnya dengan kasar, berujar dengan tidak bersemangat, "Habis mau gimana lagi Li. Gwe kan kerja juga buat biaya sekolah dan ke hidupan gwe sendiri."


Lia mengelusss punggung Seli, mengerti akan posisi sahabatnya, "Ya deh... yang semanget dong. Jangan sedih lagi ah."


"Sel!" ujar Arya dari belakang Seli.


Seli dan Lia pun menoleh ke arah belakang. Ke arah suara yang berseru memanggil nama Seli, suara yang sudah sangat familiar di telinga ke duanya.


Seli mengerutkan keningnya, "Ka Arya... ada apa ya ka?" tanya Seli.


"Kalian mau jenguk Aulia kan?" tebak Arya.


Lia menatap Seli sejenak, lalu menyeringai, dan menatap Arya dengan tatapan sedih, "Seli sih pingin ka. Tapi kan Seli harus kerja."


Arya menatap Seli dengan penuh selidik, ia juga tidak segan menyentuh dagu Seli, hingga membuat Seli menatap sepasang mata elang Arya, "Bener begitu, Sel?"


"I- iya ka." ucap Seli dengan gugup, astaga ka Arya, kenapa jadi gini sih! Wah ada yang gak beres nih sama hati gwe, jantung gwe juga gak beres, perasaan dari tadi gwe gak lari, tapi kenapa jantung gwe cepet banget berdebarnya!


Lia menatap Seli dan Arya bergantian, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, aduh, kayanya gwe jadi nyamuk nih.


Ke dua mata Farel berbinar, saat melihat Lia yang ada di depannya, "Eh ayang cantik, nunggu babang Farel ya?"


"Apa, si lo." gerutu Lia.


"Lia udah di jemput?" tanya Arya yang entah sejak kapan, tangan kirinya sudah menggenggam jemari kanan Seli.


"Belum tau, si ka." ucap Lia.


"Mau bareng kaka aja... sekalian kita ke sana jenguk Aulia!" Arya menawarkan pada Lia.


Farel mengerutkan keningnya saat melihat Arya yang menggenggam jemari Seli, wiiih masa gwe kalah sama ka Arya... yang pede kate ama Seli. Gwe harus bisa nih dapetin Lia, Aulia kaga dapet, Lia bae lah, sama sama Lia kan nama mereka berdua tuh! Hahaha.


"Ga usah ka, Lia biar bareng gwe aja ka!" ucap Farel sebelum Lia menjawab pertanyaan Arya.


Danu berjalan melewati ke empatnya dengan bergumam, "Pepettt terus." ledek Danu yang sudah bisa menebak akal bulusss Farel.


"Ihs rese banget si!" sungut Lia, menatap kesal Farel.


Farel memberi kode pada Lia, untuk melihat ke arah tatapan matanya mengarah, tatapannya mengarah pada jemari Arya yang bertaut dengan jemari Seli.


Akhirnya Lia pergi ke rumah sakit bersama dengan Farel, menggunakan motor sport yang di kendarai Farel. Seli pergi dengan Arya ke rumah sakit, dengan mobil putih milik Arya. Danu pergi sendiri ke rumah sakit. Mereka bertemu di lobby rumah sakit, dan akan menuju ruang rawat Aulia bersama sama.


Beberapa menit kemudian, di lobby rumah sakit Permata.


"Ka, kita duluan aja deh ke tempat Aulia di rawat." ajak Seli pada Arya setelah beberapa saat menunggu Lia dan Farel di lobby rumah sakit.


bersambung....


...🌹🌹🌹...


bersambung......

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2