Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Faktor kesengajaan


__ADS_3

...💔💔🌹🌹🌹...


"Kamu bukan Kevin, kamu Radit! Jangan pungkiri jika nama mu adalah Radit! Kenapa kamu harus membohongi ku! Kamu Radit!" ucap Aulia yang kembali terisak.


Kevin tampak bingung dengan apa yang terjadi, ia mencengkram tangan Aulia, membuat Aulia menatapnya.


"Kenapa jika aku ini Kevin Prasetyo? Apa ada masalah dengan mu, Nona?" tanya Kevin dengan kening mengkerut.


Mama Nami menghampiri putrinya, membawanya dalam dekapannya, "Sabar sayang! Pria itu bukan Radit, kamu harus bisa terima kenyataan nak! Radit sudah lama meninggal kan kita."


Aulia menangis sejadi jadinya dalam dekapan sang ibu, hatinya kembali terluka melihat pria yang sama dengan Radit kini ada bersamanya, hati kecilnya belum bisa menerima ke pergian Radit, meski sudah jalan 4 tahun setelah kematian Radit.


Mama Nami mendudukkan Aulia di sofa, tangannya terulur mengeluss rambut sang anak yang kini mendekapnya erat, punggung Aulia masih bergetar, menandakan ia masih terisak, masih larut dalam ke sedihannya.


Aulia membatin, kenapa Radit, kenapa kamu harus mengganti nama mu? Ke mana kamu selama ini menghilang? Apa kamu tidak menginginkan pernikahan itu, makanya kamu memilih pergi, berdalih kecelakaan? Salah apa aku pada mu Radit!


Mama Nami menahan tangisnya, dengan sesekali menggigit bibir bawahnya, mencoba memberikan penjelasan pada Aulia.


"Anak mama kuat, anak mama memiliki hati yang setegar batu karang, kamu sudah melewati 4 tahun sayang, kamu pasti bisa melewati ini semua sayang!"


Sementara papa Jaya dan David, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Aulia. Bagai mana hubungan yang terjalin antara Radit dan Aulia, hingga hari na'as yang harusnya bahagia itu tidak bisa lagi di pungkiri.


Kevin juga menjelaskan pada David, kenapa ia bisa berlari ke tengah jalan, hingga tubuhnya menabrak mobil yang saat itu tengah di kemudikan David.


"Jadi kamu di kejar beberapa orang? Dan orang orang itu juga mengira bahwa kamu adalah Radit?" tanya papa Jaya dengan membelalak mata.


"Iya pak, awalnya saya mengira orang orang itu sedang mengejar orang lain, namun saya salah, saat seorang pria yang berlari lebih dulu melayangkan pukulan di wajah saya. Baru saya sadar, jika mereka sedang berusaha mengejar saya dan menghabisi saya." terang Kevin.


Flashback.


Supir antar bus kota, menurunkan Kevin di salah satu jalan. Tidak sampai pada halte, karena jika Kevin turun di halte, ia akan kembali memutar dengan rute yang lebih jauh. Ia pun harus menaiki angkutan umum lagi.


"Terima kasih, bang!" ucap Kevin pada kernek bus.


"Sama sama bang, semoga berhasil menemukan alamat yang lo tuju bang!" ucap sang kernek, ia langsung menaiki kembali bus kota, dan sang sopur melajukan kembali busnya, mengantarkan setiap penumpang pada tujuannya.


Dengan tas ransel yang tersampir di bahu kanannya, Kevin melihat sekali lagi alamat yang tertera pada secarik kertas yang ia genggam.

__ADS_1


"Harusnya alamatnya ada di dekat sini! Di mana ya!" gumam Kevin.


Kevin menoleh dengan menyunggingkan senyum, pada saat tatapannya mengarah pada beberapa orang yang tengah berkumpul, tidak jauh dari dirinya berada.


Kevin mengerutkan keningnya, saat indra pendengarannya menangkap pembicaraan yang tengah di debat kan oleh beberapa orang itu, dengan tatapan tajam mengarah ke arahnya.


"Itu kan Radit?"


"Radit? Radit Prasetyo?"


"Bukan kah kita sudah menghabisinya!


"Bisa kacau kalo bos sampe melihat orang itu berkeliaran."


"Bukan kacau lagi, bisa saja bos akan menghabisi nyawa kita!"


"Tunggu apa lagi, cepat sikat!"


Kevin mengerutkan keningnya, "Siapa yang mau mereka sikat? Siapa itu Raditia Prasetyo? Apa hanya kebetulan saja ya, nama kami sama sama ada Prasetyo." gumam Kevin.


Bukannya menjauh, Kevin yang tidak menaruh curiga, tetap mengayunkan langkah ke arah mereka, Kevin yang sedang mencari alamat temannya untuk mengadu nasib di kota besar. Tanpa menyadari ada bahaya yang tengah mengintai di depan mata nya.


Seorang pria berlari ke arah Kevin, dengan berseru ,"Gwe orang pertama yang bakal nyikat itu orang bang!" tatapannya memburu pada Kevin.


Bugh.


"Mati lo!"


Tanpa bisa menghindar, Kevin mendapat pukulan di pipi, membuatnya terhuyung ke depan, sedetik kemudian merasa jiwanya terancam, ia hendak berlari.


Sreek.


"Mao lari ke mana lo hehehe!" pria yang melayangkan pukulan, menarik tas Kevin. Hingga tas itu terlepas dari bahu Kevin.


Kevin melihat ke arah orang orang yang semakin dekat berlari ke arahnya, tanpa pikir panjang, Kevin langsung berlari.


Gak ada pilihan, lebih baik gwe menghindar dulu. Sialannn... siapa lagi itu orang orang! Baru juga gwe tiba di kota besar, nyawa gwe udah terancam gini!

__ADS_1


Bugh.


"Awhhh!"


Sang ke tua memukul kepala anak buahnya.


"Dasar bodoh, kenapa lo lepas gitu aja! Cepet kejar!" umpat pria yang di duga ke tua dari orang orang yang mengejar Kevin.


Kevin yang berniat berlari menyebrangi jalan, terus berusaha menghindari kejaran orang orang yang tidak ia kenal, malah tertabrak sebuah mobil dan berakhir ia di rumah sakit.


Flashback and.


David menganggukkan kepalanya, pantas saja... mana ada orang waras yang akan berani menyebrang jalan, di saat mobil tengah melintas.


"Apa kamu tidak mengenal orang orang itu nak?" tanya papa Jaya.


Kevin menggelengkan kepalanya, "Saya baru juga tiba di kota ini, pak. Saya berniat untuk mengunjungi teman saya yang sudah lebih dulu datang merantau ke kota ini." ujar Kevin apa adanya.


Kevin menoleh ke arah Aulia, ia menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, tidak ku sangka, kisah cinta wanita itu berakhir tragis sekali, cinta pertama yang berakhir duka, dengan tewasnya calon mempelai pria. Radit, dalam racaunya saja, wanita itu masih menyebut nama Radit, pasti wanita itu sangat mencintai tunangannya.


Kevin kembali fokus pada David dan pak Jaya, "Apa kalian sudah menyelidiki, kasus tewasnya Radit yang terlibat kecelakaan itu bener tanpa sengaja? Atau jangan jangan ada yang terlibat di dalamnya!" ujar Kevin.


"Anda benar Tuan, awalnya saya dan Dava percaya begitu saja jika ini adalah kecelakaan lalu lintas. Namun setelah saya dan Dava melakukan investigasi ulang. Kami menemukan kejanggalan, Tuan. Bukti bukti di lokasi kejadian, mengarah pada faktor kesengajaan." terang David.


Aulia yang masih bisa mendengar perbincangan Kevin, David dan papa Jaya, langsung menghapus jejak air matanya di pipi, dan beranjak dari duduknya. Dengan tangan mengepal.


Aulia membatin, jadi selama ini Radit tewas bukan karena kecelakaan? Tapi karena sengaja ada yang menghabisi nyawanya?


"Ada apa nak? Apa kamu butuh sesuatu sayang?" tanya mama Nami lembut, dengan mengadah kan wajahnya, melihat Aulia yang terus menatap ke arah David, Kevin dan papa Jaya.


"Kenapa kalian menyembunyikan ini dari ku, bang? Apa papa juga tau akan hal ini?" Aulia menatap David dan papa Jaya dengan tatapan yang menyelidik.


Bersambung...


...🌹🌹🌹...


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅

__ADS_1


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2