
...💔💔💔🌹...
Deg.
Jantung mama Nami berdebar dengan kencang, ia melangkah dengan lebar ke arah Aulia.
"Auliaaaaa!" teriak mama Nami.
Papa Jaya, Kevin dan si mbok yang ada di lantai bawah langsung menoleh ke arah atas, kamar Aulia berada, begitu mendengar suara teriakan mama Nami.
"Papaaaa cepat ke sini pah! Aulia pah!" seru mama Nami dengan suara yang terisak.
Kevin mengerutkan keningnya, "Ada yang gak beres, om?"
"Ayo, nak. Kita lihat, jangan sampai Aulia berbuat nekad!" papa Jaya, di susul dengan Kevin dan si mbok ikut naik ke lantai atas. Ke tiganya tampak panik, dengan pemikiran masing masing.
Aulia di larikan ke rumah sakit terdekat, dengan Kevin yang mengemudi mobil dengan lihai.
"Telpon ambulans pah, mama gak mau Aulia sampai kenapa napa! Cepat pah!" seru mama Nami dengan terisak, saat melihat suaminya sudah berdiri di depan pintu Aulia.
Pria paruh baya itu terperangah mendapati keadaan putrinya, yang sudah tidak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan busa.
"I- iya biar papa telpon ambulans." ucap papa Jaya dengan terbata bata.
Kevin langsung masuk ke kamar Aulia, melihat keadaan wanita itu, astaga apa yang wanita ini laku kan? Tidak sayang pada nyawa nya apa?
"Gak perlu telpon ambulans om, lebih baik kita langsung bawa Aulia ke rumah sakit sekarang aja. Biar aku yang bawa mobil. Akan butuh waktu untuk kita menuggu ambulans tiba di sini!" kevin membawa Aulia ke dalam gendongannya, tanpa menunggu persetujuan dari ke dua orang tua Aulia.
"Mbok, jaga rumah ya!" titah mama Nami yang mengikuti langkah Kevin yang berjalan cepat menuruni anak tangga.
Papa Jaya juga ikut mengekor di belakang Kevin, meski langkahnya tertinggal.
"Nona, kenapa Nyonya?" tanya pak supir.
"Gak tau, ini juga mau di bawa ke rumah sakit." Mama Nami langsung duduk di kursi belakang, Kevin membaringkan tubuh Aulia dengan kepala Aulia yang berada di pangkuan mama Nami.
"Kamu tunggu di rumah, biar nak Kevin yang bawa mobil!" titah papa Jaya pada supir keluarga.
"Baik Tuan." ucap sang supir dengan patuh.
Security langsung membukakan pagar pintu rumah, saat melihat Tuannya masuk ke dalam mobil.
"Ada apa dengan Nona ya?" tanya security pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hati hati Tuan! Semoga Nona tidak apa apa!" ucap sang supir meski suaranya tidak lagi terdengar sang majikan.
"Nona, kenapa mbok?" tanya pak supir yang sudah kama bekerja untuk keluarga Aulia.
"Nona hilang kendali, Nona mau mengakhiri hidup, entah apa lagi yang menimpa Nona, mental Nona benar benar di uji. Dulu ke hilangan calon suaminya, sekarang orang yang mirip dengan calon suaminya malah ada di rumah ini. Entah bagai mana Tuhan membuat hati Nona kuat dan tabah menjalani hidupnya." gumam si mbok menatap nanar mobil yang melesat membawa Nona Muda-nya.
Si mbok langsung masuk ke dalam rumah, pak security langsung menghampiri pak supir yang mendudukan dirinya di kursi teras.
"Apa gwe gak salah lihat ya, itu Tuan Radit bisa idup lagi!" ujar pak security, ia mendudukkan dirinya di kursi lain yang ada di teras.
"Itu bukan Tuan Radit, tapi nak Kevin. Iya nak Kevin, Tuan tadi manggil anak itu begitu." celetuk pak supir.
"Tapi beneran loh, itu si Kevin muka nya udah kaya foto copy Tuan Radit. Sama banget kan?" celoteh pak security.
"Iya bener, sigepnya juga sama kaya Tuan Radit. Mendahulu kan kepentingan Nona, gwe cuma bisa berharap gak terjadi apa apa sama Nona. Kesian bener nasib Tuan ama Nyonya, malah anak atu atunya itu." tanpa sadar, bulir bening menerobos dari mata pak supir.
Pak security tersenyum melihat temannya, ia mengulurkan tangannya menguruttt punggung pak supir.
"Kita sama sama berdo'a ya, biar keluarga ini selalu di beri ke bahagiaan yang melimpah, biar Nona Aulia bisa menemukan pengganti Tuan Radit. Biar ini rumah ada lagi pelangi yang mewarnai hari hari penghuninya!"
Sementara di tempat lain.
Papa Jaya langsung meminta pada pihak kepala rumah sakit, untuk menyediakan ruang untuk Aulia. Menjelaskan kondisi Aulia lewat telpon. Mengingat sekarang rumah sakit itu menjadi atas nama Aulia.
Kevin mendudukan dirinya di kursi stainless yang ada di luar ruang rawat, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Mengemudi dengan lihai, mendahului kendaraan lain yang ada di depannya. Fokusnya hanya satu, membawa Aulia ke rumah sakit agar dengan cepat dapat di tangani dokter.
Gilaaa, ini gwe apa bukan sih? Kenapa saat melihat Nona Aulia gak sadar, rasanya hati gwe sakit ya, ada rasa takut ke hilangan gitu, apa mungkin gwe suka sama Nona Aulia? Ah gak mungkin lah, mungkin cuma kasian, apa bisa juga rasa gwe buat bales budi. Iya, mungkin ini hati gwe ini cukup tau diri buat bales budi ama itu Nona.
Kevin beranjak dari duduknya, dan langsung menghampiri papa Jaya, saat melihat pria paruh baya itu sudah kembali dari ruang dokter yang menangani Aulia.
"Apa kata dokter, om? Nona Aulia tidak apa apa kan?" tanya Kevin dengan wajah cemas yang tidak bisa lagi di pungkiri.
Namun dalam hatinya, pria yang berusia 21 tahun itu merasa heran dengan sikapnya sendiri, kenapa lagi sama gwe ini? Tidak biasanya gwe peduli pada orang lain, apa lagi orang itu belum lama gwe kenal, ah mungkin karena Nona itu juga pernah menolong gwe, membawa gwe ke rumah sakit, ia mungkin hanya itu. Gak mungkin lah ini cinta, mana ada cinta kaya gini, ahahaha, dasar bego. Gwe aja gak tau apa itu cinta.
Kevin menepis perasaannya sendiri terhadap Aulia.
Papa Jaya menatap Kevin dengan pandangan yang sulit di artikan, kalo bukan karena anak ini, mungkin aku sudah ke hilangan Aulia, tapi karena dia lah Aulia jadi bisa di selamatkan dengan membawanya segera ke rumah sakit.
"Terima kasih ya nak, kalo bukan karena kamu. Saat ini om sudah... tidak tau lagi harus berkata apa. Karena kamu, putri om masih bisa di selamatkan." ujar papa Jaya.
"Jangan bilang begitu om, ini semua ke hendak yang kuasa. Masih memberikan kesempatan untuk Nona bisa bertahan. Ke sempatan untuk Nona menjadi manusia yang lebih bisa menyayangi nyawanya."
"Berapa usia mu, nak?" tanya papa Jaya.
__ADS_1
Kening kevin mengkerut, mendengar pertanyaan papa Jaya, "21 tahun om." jawab Kevin dengan tatapan tanda tanya.
"Panggil saja Aulia, putri ku seumuran dengan mu!" ucap papa Jaya yang langsung membuka pintu ruang rawat, "Ayo, kamu juga harus ikut masuk ke dalam!" titah papa Jaya pada Kevin.
"Eh, emmm i- iya om." dengan perasaan yang tidak karuan, Kevin mengayunkan langkah kakinya, memasuki ruang rawat Aulia.
Tidak berselang lama, David datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan untuk Tuannya.
"Sebaiknya Tuan besar, Nyonya dan kamu makan malam dulu!" ucap David pada papa Jaya, mama Nami dan Kevin.
"Biar nak Kevin dan papa aja yang makan malam, mama gak laper. Mama mau tunggu sampai Aulia membuka matanya." kekeh mama Nami dengan tatapan nanar pada Aulia.
Cepat sadar sayang, jangan membuat mama khawatir, hanya kamu satu satunya putri mama.
"Tante harus makan, kalo Nona Aulia sadar. Melihat tante yang belum makan, pasti Nona Aulia akan merasa sangat sedih." ujar Kevin mencoba membujuk mama Nami.
"Benar apa yang di katakan nak Kevin, mah. Kita makan dulu. Ada David yang menemani Aulia. Kita juga makan di sini kan, tidak meninggalkan Aulia." ujar papa Jaya.
Ke tiganya makan bersama di sofa yang ada di ruang rawat.
David menatap nanar Aulia, yang masih terpejam di atas ranjang rawat, jangan lemah Nona. Sekarang anda tidak akan sendiri lagi. Entah kenapa aku melihat sifat Tuan Radit ada pada Kevin. Sosok yang akan melindungi Nona dengan jiwa dan raganya. Aku harap usaha Dava untuk mencari titik terang jati diri Kevin, membuahkan hasil yang memuas kan.
Dreeet dreeet.
Hape David yang ada di dalam saku bergetar.
...Chat dari Dava, "Lo pasti gak akan pernah menyangka... apa yang gwe dapet setelah menyelidiki Kevin. Pria yang berwajah mirip dengan Tuan Radit."...
"Apa yang lo dapet? Cepat katakan, jangan buat gwe penasaran!" chat yang di kirim David untuk Dava.
...Chat dari Dava, "Gwe harus ketemu sama Nona dulu. Nona pasti akan sangat senang mendengar kabar ini."...
"Nona di larikan ke rumah sakit, setelah mencoba untuk mengakhiri hidup." chat dari David.
Dava tampak tidak percaya dengan apa yang ia baca dari chat David, "Serius lo? Gwe ke sana sekarang."
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1