
...💔💔🌹🌹🌹...
Aulia menatap wajah Kevin dengan tatapan menyelidik, "Siapa kamu sebenarnya? Ada hubungan apa kamu dengan Radit? Apa kamu salah satu orang yang merenggut Radit dari ku?" tuduh Aulia yang menepis tangan Kevin dari pipinya.
"Apa jika aku yang mengatakan, Nona akan percaya dengan semua kata kata ku?" tanya Kevin dengan tatapan menyelidik.
"Gak usah berbelit belit, Kevin! Katakan pada ku! Kamu siapa? Jangan biarkan aku tahu hal ini dari orang lain, jika kamu sendiri bisa mengatakannya dan sudah tau yang sebenarnya!" Aulia menurunkan satu kakinya dari atas ranjang rawat.
Kevin menatap tajam apa yang akan di lakukan Aulia, "Kamu mau ke mana?"
"Pipisss, aku kebelet. Kenapa? Mau ikut?" cicit Aulia dengan ketus.
Hap.
Kevin menggendong tubuh Aulia dengan sekali tarikan.
"Kyahh! Kevin, apa yang kamu lakukan?" tanya Aulia dengan menatap tajam Kevin, bibirnya mengerucut.
"Mau menculik mu, Nona judes!" jawab asal Kevin dengan jutek, "Lebih baik Nona pegang itu kantong infusnya." ujar Kevin lagi.
"Ihs apa si lo, Kevin... turunin gwe gak lo! Gwe teriak nih!" ucap Aulia dengan suara yang naik satu oktaf, namun tangannya tetap meraih kantong cairan infus.
Kevin melangkah membawa Aulia ke arah kamar mandi.
Deg.
Jantung Aulia berdetak tidak karuan.
Aulia menatap wajah Kevin, astaga Kevin... lo kenapa seperti ini ke gwe, kenapa kalian sama seperti ini. Sikap lo semakin menunjukkan kalian itu sama, apa kalian kembar?
"Teriak aja kalo Nona mau!" Kevin menurunkan Aulia dari gendongan nya.
"Jangan ngintip, lo!" cicit Aulia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Blam.
Pintu di tutup dengan kasar oleh Aulia. Membuat Kevin yang memunggungi pintu terperanjak kaget.
"Astaghfirullah, bisa pelan gak si! Dasar lampur!" gerutu Kevin.
Aulia menatap ke sekitarnya, "Ini di taruh ke sana, tapi ke jauhan. Terus gimana aku bisa pipisss kalo kaya gini?"
Aulia ingin menyantelkan kantong cairan infus pada pintu, namun menyulitkan dirinya untuk duduk di closed.
Kevin mengetuk pintu kamar mandi, lalu berseru.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Lo butuh bantuan gak, Nona Aulia!"
Ceklek.
Aulia berdiri di belakang pintu, menatap Kevin dengan nanar.
Kevin mengerutkan keningnya, "Kenapa lo? Udah pipisss nya?"
Aulia menggelengkan kepalanya, "Tolongin gwe dong, pegang ini!" Aulia mengarahkan kantong cairan infus pada Kevin.
"Gwe masuk dong?" ujar Kevin dengan mengambil alih kantong cairan infus dari tangan Aulia, satu tangannya menunjuk dirinya sendiri.
"Masuk lah!" Aulia menundukkan wajahnya dengan bersemu, tangannya menutupi bagian inti bawahnya, "Gwe kebelettt Kevin!"
"Ihs ya udah iya!" jawab Kevin dengan terpaksa, tidak ada pilihan lain.
"Jangan ngintip lo! Jangan nengok ke belakang!" gertak Aulia yang kini berusaha melorotkan celana nya.
"Bawel banget lo! Ogah lagian juga, ngeliet punya lo... belum halal buat gwe!" celetuk Kevin.
Dengan perasaan was was, Aulia akhirnya bisa buang air kecil, "Tadi lo bilang apa? Gwe belum halal buat lo? Lo kata gwe ini istri lo kali, bisa jadi halal di mata lo!"
"Astaga Nona Aulia, di mana mana kalo halal ya udah jadi suami istri lah." ucap Kevin dengan santai.
Ceklek.
Kevin membuka pintu kamar mandi.
"Aku di sini mah!" seru Aulia di saat yang berbarengan.
Hap.
Kevin kembali menggendong Aulia menuju ranjang rawatnya, seoalh Aulia sudah terbiasa dengan gendongan Kevin. Aulia menatap wajah ke dua orang tuanya dengan tatapan bingung.
"Aulia! Kalian ngapain di dalam sana?" tanya papa Jaya dengan membola.
"Kalian hanya berdua?" mama Nami tampak menerah pipinya, namun dalam hati ia cekikikan, ahahahha akhirnya putri ku bisa membuka hati nya untuk pria lain.
"Gak seperti itu pah, mah. Kevin cuma bantuin aku pegangin kantong cairan infus aku tadi. Kita gak ngapa ngapain ko! Serius aku tuh!" terang Aulia.
Kevin membaringkan kembali Aulia di atas ranjang rawat. Kevin mencium punggung tangan kanan mama Nami dan papa Jaya secara bergantian. Sikap yang di tunjuk kan Kevin, tidak luput dari pandangan Aulia. Membuat Aulia menatap ke tiganya dengan tatapan menyelidik.
"Om dan tante kapan datang?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Jangan panggil om dan tante lagi dong!" protes mama Nami.
"Maaf om, tante. Aku sudah terbiasa memanggil kalian dengan kata itu." kilah Kevin.
"Sebenarnya ada apa sih? Jangan bilang ada lagi hal yang kalian tutupi dari ku! Sudah cukup kalian menyembunyikan ke benaran, jika Radit tewas karena sengaja ada yang mencelakainya!" ucap Aulia dengan tatapan menuntut papa Jaya, mama Nami dan Kevin untuk menjelaskan nya.
Ceklek.
"Maaf kami datang terlambat." ujar Dava yang melangkah masuk ke dalam ruang rawat Aulia dengan David bersamanya.
"Kalo pengen jelas, Nona bisa tanyakan langsung pada Tuan Dava. Karena saya tau juga dari Tuan Dava." ucap Kevin dengan jujur.
"Katakan yang sebenarnya, bang! Jangan ada yang terlewat, jangan ada yang kalian tutupi dari ku!" cicit Aulia dengan datar.
Kevin berdiri di dekat ranjang rawat Aulia, sedangkaan papa Jaya dan mama Nami duduk di sebuah sofa, Dava dan David berdiri di ranjang ujung, sisi jaku Aulia.
"Begini Nona, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari ini, dan berdasarkan hasil tes DNA pada Tuan Kevin dan orang tua almarhum Tuan Radit. Hasil membuktikan mereka memiliki hubungan 99% keluarga." terang Dava.
David mengeluarkan beberapa bukti yang menunjukkan, jika Kevin benar putra kandung dari mama Sita dan papa Wiko.
Aulia menatap bukti bukti yang di bawa David dengan lekat, lalu bergantian dengan menatap Kevin dengan bukti yang ada di tangan nya, jadi Radit dan Kevin, kembar?
Setelah satu minggu berada di rumah sakit, mama Sita dan putra kembarnya di perbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Namun di dalam perjalanan menuju rumah, mobil yang di tumpangi satu keluarga itu mengalami kecelakaan. Salah satu bayi kembar mama Sita dan papa Wiko di nyatakan hilang tanpa jejak.
Karena setelah mengalami kecelakaan, baik papa Wiko dan mama Sita sama sama tidak sadarkan diri.
Siapa sangka jika awalnya Kevin yang berniat untuk mencari teman nya, dan memulai hidup barunya di perantauan. Malah membawanya untuk mengetahui jati dirinya lewat Dava.
"Jadi, tidak masalah kan jika aku ingin menghalalkan mu, Nona Aulia?" tanya Kevin.
Aulia membola, "A- apa? Ja- jangan gila kamu Kevin! A- aku ini calon tunangan saudara kembar mu!"
"Gak apa sayang, mama setuju ko kalo kalian menikah. Mama yakin Kevin akan memperlakukan kamu dengan baik, sama seperti Radit yang memperlakukan kamu dengan baik!" ujar mama Nami.
"Dan satu hal lagi Nona, untuk dalang di balik kecelakaan yang di alami Tuan Radit, saya sudah menemukan titik terangnya." ujar Dava.
"Siapa dalangnya, bang Dava?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik.
Kevin menatap Dava dengan tanda tanya di hatinya, "Apa dalangnya masih orang dekat, bang? Atau rival dalam usaha Radit?"
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊