Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Radit terpana


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️...


"Aaaaaa!" teriakan mama Nami menggema di depan pintu kamar Aulia.


Radit menoleh ke arah asal suara, keningnya mengkerut saat melihat mama Nami ternyata melihatnya.


Radit menjauhkan tubuhnya dari Aulia, mama Nami pasti sudah salah paham pada ku!


Dengan gugup Aulia beranjak dari tidurnya, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, aiiihs mama pasti mikir yang gak enggak nih.


"Ma- maaf mah, i- ini gak seperti apa yang mama liet barusan!" ucap Radit dengan gugup, mengayunkan langkah kakinya menghampiri mama Nami.


Dengan pandangan yang sulit di artikan, mama Nami melirikkan matanya menatap Aulia dan Radit secara bergantian, dasar bodoh Nami, apa yang barusan kamu lakukan! Harusnya kamu tidak perlu histeris seperti tadi, bearti rencana ku dan jeng Sita sudah maju satu langkah kan. Dengan kata lain, itu sudah ada kemajuan dalam hubungan mereka berdua.


Aulia menatap Radit dengan heran, garis kerut nampak di keningnya, orang yang dingin seperti Radit, bisa gugup juga di hadapan mama ku? Luar biasa aneh.


Di luar dugaan Radit dan Aulia, yang akan berfikir jika mama Nami akan memarahi Radit habis habisan.


Mama Nami melayangkan tangan kanannya ke udara, dan mendaratkannya berkali kali, alias menepuk napuk bahu Radit dengan lembut, dengan berujar, "Aaah gak apa apa ko sayang. Mama malah seneng ngeliat kalian bisa akur seperti itu!" ledek mamah Nami.


Aulia ternganga di buatnya, apa apaan mama ini! Bukannya marah, malah bilang apa? Malah seneng ngelietnya? Astaga, dunia macam apa ini!


Radit mengerutkan keningnya, tuh kan bener pasti mikir yang aneh aneh, "Tapi mah, tadi itu Radit ---"


Mama melirik sekilas wajah Aulia, dengan menyeringai, "Aduh sayang, sepertinya mama datang di waktu yang salah, mama ke bawah lagi deh nonton acara favorit mama, kalian lanjut aja ya!" Mama Nami melengos meninggalkan kamar putri satu satunya itu dengan senang.


Setelah beberapa langkah dari kamar Aulia, mama Nami langsung menghubungi mama Sita, atas ke putusannya yang benar dengan acara pertunangan anak mereka berdua. Pastinya mama Nami jadi punya bahan gosip, setelah melihat ke jadian tadi saat Radit mencium bibir Aulia. 😅😅😅 mama rempong.


"Halo jeng, gosip panas ini jeng!" ucap mama Nami, saat sambungan teleponnya sudah tersambung dengan mama Sita.


[ "Gosip apa mam!" ] ucap mama Sita dari sebrang sana.


"Tadi saya itu lo... ngeliet Radit sama Aulia lagi berciuman jeng!" ujar mama Nami dengan antusiasnya.


[ "Serius mam?" ] cicit mama Sita, seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Serius lah jeng, tapi sayang banget... saya itu lupa buat mengabadikan momen ciuman mereka itu." mama Nami nampak kecewa dengan ke bodohannya tadi, yang lupa mengabadikan momen ke duanya.


[ "Aduh mam, jangan lebay deh. Radit anak saya masih di sana kan?" ]


"Ada si jeng. Saya suruh buat makan malam bersama nanti jeng, yaaah hitung hitung biar Aulia itu belajar melayani calon suaminya. Hihihi." mama Nami tergelak, membayangkan Aulia melayani Radit untuk makan malam.


Di kamar Aulia.


Bugh.


Aulia melemparkan boneka beruang besar, yang ada di ranjangnya ke arah punggung Radit.


"Auuuhhh." pekik Radit.

__ADS_1


Radit mengerutkan keningnya, mengambil boneka beruang besar yang tadi di lempar Aulia, dan meletakkannya kembali ke atas ranjang Aulia.


Bugh.


Aulia memukulll lengan Radit dengan tangannya, "Ini semua itu karena lo tau gak!"


"Berisik lo!" Radit berlalu ke luar dari kamar Aulia, tidak lupa menutup pintu kamar Aulia.


"Iiiiiiiiiiih dasar cowok aneh bin ajaib, nyebelin, nyeselin, ngomong apa kek gitu... ini malah diam aja." gerutu Aulia.


Aulia yang merasa badannya lengkettt dan gerah, memilih untuk mandi agar terlihat segar. Baru setelah itu ia akan turun ke bawah untuk makan malam.


Dengan air hangat dan wangi aroma terapi, yang membuat Aulia nyaman berlama lama merendam diri di dalam bethup.


Apa lagi sambil mengingat tatapan Radit saat mencium bibirnya tadi.


...🌑🌑🌑...


Radit menghampiri mama Nami yang sedang nonton televisi, "Mah, Radit pamit pulang dulu ya!"


"Loh ko pulang si?" tanya mama Nami.


Dari arah lain, papa Jaya berseru, "Radit, temenin papa dulu sini."


"Emmm tapi, pah." Radit hendak menolak ajakan papa Jaya.


"I- iya sudah kalo gitu." Radit mengikuti langkah papa Jaya, duduk di sofa dengan papan catur di atas meja.


"Papa dengar dari papa mu Rama, kamu jago sekali main catur, bahkan papa mu saja tidak pernah menang melawan mu. Apa benar itu Radit? cecar papa Jaya, yang lebih dulu duduk di sofa empuk nan mewah.


"Papa Rama hanya melebih lebihkan saja pah!" Radit merendah, sambil tangannya sibuk menata pion pion caturnya.


"Kalo gitu... kita lihat sekarang ya. Kamu pasti tidak bisa melawan papa. Kali ini kamu pasti kalah Radit, hahaha." Papa Jaya tergelak sendiri dengan perkataannya.


Papa Jaya yang memang sebelumnya tidak di beri tahu oleh papa Rama, tentang Radit yang pernah menjadi juara bertahan dalam lomba catur, jadi merasa yakin kalo dirinya bisa mengalahkan Radit.


"Oke." Radit menyetujui saja perkataan papa Jaya.


Radit menyeringai melihat senyum merekah di sudut bibir papa Jaya, mana mungkin papa Jaya bisa menang melawan ku. Kita lihat saja pah.


Secara orang yang sedang di tantang papa Jaya main catur itu, pernah ikut Kejuaraan Catur Dunia dan termasuk juara bertahan tahun lalu.


Jadi lah ruang keluarga itu menjadi saksi bisu, papa Jaya melawan Radit dalam bermain catur. Hingga beberapa kali permainan, papa Jaya masih belum bisa mengalahkan permainan catur Radit.


Di sela sela permainan catur yang sengit antara papa Jaya dan Radit. Beberapa kali Radit melihat ke arah tangga berharap Aulia akan turun, dan menghampirinya untuk memberinya semangat dan dukungan untuk dirinya.


Beberapa kali itu pula Radit menelan pil pahit, Aulia pujaan hatinya tidak kunjung ke luar dan turun dari kamarnya.


Mama Nami menghampiri ke duanya yang masih asik bermain catur.

__ADS_1


"Udah pah, nanti lagi aja mainnya, sekarang kita makan malam dulu ya." ujar mama Nami, saat sudah berdiri di dekat ke duanya.


"Ayo Radit kita makan malam dulu." ajak papa Jaya, yang menyetujui saran istri tercintanya mama Nami.


Bermain catur dengan Radit, membuat papa Jaya menguras habis pikirannya untuk bisa mengalahkan Radit, hingga tidak terasa waktu makan malam tiba.


Berbarengan dengan cacing yang ada di dalam perut papa Jaya berdemo ria, minta di masukkan makanan yang enak dan lezat.


Radit mengikuti langkah papa Jaya dan mama Nami yang berjalan di depannya, sambil tangan mama Nami yang terus memeluk erat lengan kokoh suaminya.


Radit yang melihat kemesraan mama Nami dan papa Jaya, jadi teringat dengan dua sosok paruh baya yang kelakuannya ternyata sama persis.


Radit membatin, kelakuan mama Nami dan papa Jaya, ternyata tidak jauh berbeda dengan papa Rama dan mama Sita di rumah. Semoga aku tidak seperti mereka, benar benar bucin, budak cinta.


...


Tok tok tok.


"Non, waktunya makan malam, Nona." ujar bi Ida sambil mengetuk pintu kamar Nona mudanya, Aulia.


"Iya biii... bentar lagi saya turun." sahut Aulia dari dalam kamarnya.


Aulia ke luar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh polosnya, serta handuk yang menutupi rambut basahnya.


Aulia mengambil dress berwarna pink muda tanpa lengan, dengan panjang selutut serta becorak bunga tulip besar di bagian bawahnya.


Tep tep tep


Suara langkah kaki dari seseorang yang menuruni anak tangga, membuat Radit yakin itu langkah kaki Aulia.


Radit terpana ketika melihat Aulia berjalan sambil tersenyum, dengan rambut panjangnya yang sedikit basahhh membuat kesan seksiii di mata Radit.


"Ehem ehem." papa Jaya berdehem, membuat Radit kembali melihat ke arah papa Jaya.


Mama Nami yang melihat Radit salah tingkah hanya bisa tersenyum kemenangan, karena rencananya berhasil membuat Radit terpana pada Aulia.


Mama Nami sudah bisa menebak, jika Aulia akan turun untuk makan malam dengan dress tanpa lengan, dengan panjang selutut serta rambut yang sedikit basah yang memang sengaja tidak di keringkan oleh Aulia.


Itu adalah ke biasaan Aulia, jika seharian beraktivitas di luar dan pulang di sore hampir menjelang malam, pasti Aulia akan memilih memakai dress tanpa lengan dengan panjang selutut.


"Loh kamu? Kirain aku udah pulang!" cicit Aulia, yang baru menyadari kalo di meja makan ternyata ada Radit.


...❤️❤️❤️...


bersambung......


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅


Menghalu itu gak mudah say 😅

__ADS_1


__ADS_2