
...🌹💔💔💔...
Aulia kembali memasuki mobil setelah mata kuliah usai di kampus. Menuju kantor bersama dengan David dan Dava.
Bugh.
Ciiit.
Laju mobil yang di kemudikan David langsung berhenti. Setelah ada seorang pria yang tiba tiba muncul dan berlari ke tengah jalan. Mobil yang di kemudian David mengerem mendadak namun tetap saja bagian depan mobil, menubruk pria asing itu.
"Awhhh!" pekik Aulia saat keningnya membentur bagian belakang mobil yang di duduki Dava.
"Apa Nona tidak apa apa?” tanya David dengan menoleh ke belakang, menatap Nonanya dengan khawatir.
"Gak apa apa, emang ada apa sih? Bunyi apa lagi itu tadi?" cicit Aulia dengan mengelusss keningnya.
"Biar saya lihat dulu, Nona!" ujar Dava.
Aulia menganggukkan kepalanya. Sementara David menyusul Dava yang sudah ke luar dari mobil.
Ceklek.
Dava membuka pintu mobil dan meminta izin pada Tuannya, "Maaf Nona, rupanya mobil kita menabrak seorang pria, dan pria itu terluka parah. Apa bisa kita membawanya ke rumah sakir, Nona?" tanya Dava.
"Ya udah kita bawa aja, tunggu apa lagi? Sana bawa orangnya masuk!" seru Aulia, yang melihat Dava malah diam terpaku.
"Tapi Nona saya rasa Nona akan syok, setelah melihat pria yang akan kita bawa ke rumah sakit!" raut wajah cemas, tidak bisa lagi Dava sembunyikan dari Nona mudanya.
Aulia mengerutkan keningnya, "Gak usah banyak bicara, ka Dava! Aku bisa telat ini! Udah cepet bawa masuk ke mobil orang itu!" sungut Aulia datar, dengan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Dava menutup pintu mobil dan bergegas membantu David untuk menggotong tubuh pria asing itu ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku yakin, Nona akan sangat syok... begitu melihat pria ini!" seru Dava.
"Jangankan Nona, aku saja syok. Kita sama saja melihat bos Radit pada wajahnya." ucap David.
Aulia membantu membukakan pintu mobil bagian belakang sisi kanan, agar memudahkan sang bodyguard memasukkan tubuh pria yang katanya terluka memasuki mobil.
Aulia membola begitu melihat wajah pria yang terlukan di wajah, dengan darah segar menghiasi wajah tampannya, namun masih bisa ia kenali rupanya, wajah yang sangat ia rindukan, wajah yang tidak mungkin bisa lagi ia sentuh. Tapi saat ini pria itu ada di hadapannya, "Ra- Radit?"
Dava membantu membaringkan kepala pria yang rupanya mirip dengan Radit ke dalam mobil. Aulia langsung memangku kepala pria itu di pahanya.
Mobil melaju kembali dengan tujuan yang berbelok, yang awalnya akan ke kantor, namun kini mobil melaju ke rumah sakit.
Dengan panik, Aulia meminta David untuk lebih cepat lagi dalam mengemudi, "Cepat sedikit, ka David!"
"Ini saya sudah cepat Nona, mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang, jadi jalan agak macet." kilah David dengan sesekali melirik kaca spion mobil.
Dava memperhatikan gerak gerik Aulia lewat kaca spion, aku rasa Nona akan memiliki warna kembali dalam hidupnya.
Sepasang mata indah Aulia mengembun, menatap wajah pria yang bagai pinang di belah dua dengan Radit, tangannya terulur mengelusss, menyapu sisa darah yang terdapat di wajah pria itu.
Apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini, kenapa wajahnya penuh luka? Kenapa pria ini memilki wajah yang sama dengan Radit? Apa mungkin mereka kembar? Tapi pada siapa aku bertanya, sedang kan mama Sita dan papa Wiko saja sudah meninggal.
"Ka Dava, apa mungkin pria ini adalah Radit?" tanya Aulia dengan tatapan penuh harap pada Dava, ia juga begantian menatap David.
"Kalo itu saya tidak tahu Nona." terang Dava.
"Apa tidak sebaiknya, Nona bertanya pada pengacara keluarga pak Wiko dan bu Sita. Mungkin mereka tau sesuatu yang tidak kami ketahui." ujar David dengan menoleh ke arah Dava.
"Apa tidak masalah jika aku bertanya pada pengacara?" cicit Aulia.
Sampai di rumah sakit, pria yang berwajah bak pinang di belah dua dengan Radit, langsung mendapatkan tindakan medis. Ia langsung mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Hingga beberapa menit berlalu. Aulia enggan beranjak dari duduknya, ia terus menatap dan memperhatikan pria yang masih belum sadarkan diri.
Dava dan David berdiri di depan ruang rawat. Ke duanya tidak berani mengusik Aulia, di dalam ruang rawat yang dengan setia terus menemani pria yang belum di ketahui siapa namanya, pria itu tidak membawa identitas diri.
"Apa tidak masalah jika kita membiarkan Nona bersama dengan pria itu di dalam? Aku khawatir jika pria itu sadar, apa yang akan ia lakukan pada Nona!" ujar Dava.
"Kita berharap saja tidak akan ada hal buruk lagi yang akan menimpa Nona. Sudah cukup 4 tahun baginya ke hilangan gairah untuk hidup, kau tahu sendiri kan. Nona bagaikan boneka bernyawa selama ini, ia benar benar berubah setelah ke pergian bos Radit." terang David panjang lebar.
"Seperti aku harus menyelidiki pria itu, bagai mana pun kita sudah lalai dalam menjaga nyawa bos. Aku tidak ingin kita lalai untuk yang ke dua kalinya dalam menjaga Nona!" ujar Dava.
"Kau mau mencari tahu ke mana soal pria itu? Pria yang wajahnya mirip dengan bos?" tanya David.
"Tempat pertama kita sebelum membawanya ke rumah sakit ini lah! Akan ku cari tahu sampai ke pelosok pun, aku jabanin... demi mencari tahu siapa pria itu!" ucap Dava dengan tangan mengepal.
"Jangan ke banyakan mikir, sudah sana jalan! Cari sedetail mungkin, informasi pria asing itu! Biar pun wajahnya sama dengan wajah bos, kita juga harus tahu apa pria itu baik atau sebaliknya!" gerutu David.
"Ini juga aku akan cari tahu! Kau saja yang menahan ku dengan ocehan mu!" gerutu Dava dengan meninggalkan David.
Dreeet dreeet dreeet.
Hape Aulia yang ada di dalam tasnya berdering.
"Ada apa, mah?" tanya Aulia setelah menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1