
...🌹🌹💔💔...
"Itu lah yang aku bilang tadi sayang, kamu jangan tertipu dengan wajah polosnya, dia itu sudah pasti ingin bermain dengan pria yang di akuinya supir." Sani tersenyum licik.
Malik hanya diam tanpa berniat untuk menanggapinya lagi, apa mungkin Nona Aulia bisa berbuat sejahat dan selicik itu?
Hingga beberapa jam perjalanan yang di tempuh, akhirnya mobil yang membawa Aulia berhenti di sebuah pertokoan yang menjual berbagai bunga.
Aulia masuk ke dalam salah satu toko bunga tersebut seorang diri.
Sani menyeringai, "Sayang, bisa kau bantu aku?" Sani menatap Malik dengan penuh harap.
"Bantu apa lagi, sayang?"
"Kau turun lah, alihkan pandangan si supir. Sementara itu aku akan membuat kejutan pada Aulia." cicit Sani dengan rencana liciknya untuk membuat Aulia celaka.
"Supir itu pasti akan mengenali ku, sayang." tolak Malik.
Sani mengambil sesuatu dari kursi belakang mobil, "Kau lepas lah jas dan kemeja mu, sayang!"
Malik menurut saja dengan apa yang di katakan Sani. Pria itu benar benar tergila gila dengan belayan serta mulut manis Sani. Hingga tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan buruk.
Malik ke luar dari mobil dengan mengenakan kaos lengan panjang, masker mulut, menutupi sepasang mata tajamnya dengan kaca mata hitam besar, serta topi yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kau harus ajak supir itu bicara, buat aku memiliki waktu untuk melakukan lebih pada mobil itu!" cicit Sani sebelum Malik meninggalkan mobilnya dan menghampiri supir Aulia.
Bugh.
Dengan sengaja Malik berjalan dengan cepat, dan menyenggol lengan supir Aulia, seolah dirinya tergesa gesa dan tidak memperhatikan jalan.
Senggolan itu menyebabkan David yang sedang berdiri jadi condong ke depan, hampir terjatuh, namun ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, hingga hanya menyebabkan dirinya condong.
Pluk.
"Jalan pakai mata, bang!" tegur David dengan ketus, pada seseorang yang ia pikir tidak sengaja menyenggol lengannya.
"Itu salah mu sendiri bung, aku tidak melihat ada diri mu." ucap Malik dengan terus berjalan tanpa berniat untuk berhenti.
"Dasar pria aneh. Sudah salah, bukannya minta maaf. Nyelonong aja, gak ada pikiran itu orang!" gerutu David dengan kesal, namun tatapannya langsung membola, saat melihat dompet tergeletak tidak jauh dari dirinya berdiri.
"Hai bang, ini pasti milik mu!" David berseru, dengan tangan kanannya yang memegang dompet pria itu ia angkat ke atas.
Ternyata pria yang David panggil, sudah berjalan cukup jauh darinya berpijak.
"Ah sialll, mana mungkin pria itu mendengar ku! Ku harap Nona masih lama." gerutu David, yang langsung mengejar pria itu untuk menyerahkan dompetnya.
Sani langsung bergerak, menjalankan rencananya. Ia mengempeskan ban belakang mobil Aulia.
__ADS_1
"Kita lihat dengan ini Aulia, apa lo masih bisa selamat, atau ikut menyusul Radit ke neraka!" seringai licik di perlihatkan Sani, ia langsung kembali ke dalam mobil, melajukan mobil Malik.
"Bang David ngapain dari sana?" Aulia bertanya pada dirinya sendiri, saat melihat David yang berjalan ke arahnya dari arah depan.
"Maaf Nona, sudah membuat anda menunggu lama!" Davin membuka kan pintu mobil untuk Aulia.
"Bang David habis ngapain?" tanya Aulia saat melihat David yang sudah berada di belakang setir kemudi.
"Oh itu, tadi saya hanya mengembalikan dompet seorang pria, Nona." jelas David, kenapa mobilnya jadi gak enak gini ya di bawanya!
Mobil yang di kemudian David tampak menunjukkan masalahnya, membuat David menepikan mobilnya ke bahu jalan.
"Mobilnya kenapa bang?" tanya Aulia.
"Biar saya cek dulu Nona!" David ke luar dari mobil.
David melihat ban belakang mobil yang kempes, "Sialll kenapa ini bisa terjadi! Mana aku tidak bawa ban serep!" David menendang angin.
Kedua mata tajamnya menjelajah, mencari keberadaan bengkel, berharap ia bisa menemukannya sejauh matanya memandang.
Aulia turun dari mobil, menghampiri David, "Ada apa, bang? Apa ada masalah?" tanya Aulia yang kini berdiri di depan David.
"Salah satu ban belakang kempes, Nona." ujar David.
"Ya udah, biar aku naik ojek aja, bang. Dari sini tempatnya juga udah gak jauh kan. Nanti kalo mobil udah beres, langsung ke sana aja ya!" cicit Aulia yang langsung mengeluarkan buket bunga yang sempat ia beli tadi.
Aulia mengerutkan keningnya, "Tidak akan terjadi apa apa,bang!" tangan Aulia melambai pada kang ojek yang mangkal tidak jauh dari mereka berada.
"Hati hati Nona!" dengan berat hati, David membiarkan Aulia melanjutkan perjalanan menuju villa, yang terdapat makan keluarga Prasetyo dengan menggunakan ojek.
...☘️☘️☘️...
Sementara di tempat lain.
"Kamu mau kemana, nak? Kenapa kamu kemasi pakaian mu?" tanya wanita paruh baya, yang berdiri di ambang pintu, saat melihat putra angkatnya kini sedang mengemasi pakaiannya.
"Entah kenapa perasaan ku gelisah bu, aku ingin kembali dan bertemu dengan Aulia." ujar Kevin, menatap sekilas wajah sang ibu, Naimah.
Naimah mengayunkan langkah kakinya, mendaratkan bobot tubuhnya pada tepian ranjang, sedangkan tatapannya fokus pada sang putra.
"Perjaka ibu, tau deh yang lagi kasmaran. Jadi gak bisa jauh nih ceritanya dari ayang embeb?" ledek sang ibu, dengan mata berbinar, aku senang akhirnya kau bisa menemukan keluarga asli mu meski mereka sudah tiada, setidaknya kamu tau asal usul mu nak.
"Ah ibu, ada ada aja nih. Jangan ngeledekin dong bu. Apa sebaiknya ibu ikut aku aja ke Jakarta sekarang? Biar nanti bisa ibu dan orang Aulia bicarakan untuk rencana baik ku itu... kan kata ibu harus di segerakan, niat baik jangan di tunda!" ucap Kevin mengulang apa yang sudah di katakan sang ibu sebelumnya.
"Baik lah, ibu akan ikut bersama dengan mu. Kapan kau ingin kembali ke Jakarta, nak?" tanyanya sang ibu.
"Sekarang bu, aku tidak bisa mengulur waktu lagi. Aku ingin sekarang juga kita berangkat ke Jakarta." terang Kevin dengan semangat terpancar di ke dua matanya.
__ADS_1
Sementara hati Kevin sendiri sudah di penuhi dengan nama Aulia, wajah Aulia selalu terbayang di pandangannya.
"Iya sudah, ibu kemasi barang ibu dulu yang akan ibu bawa." sang ibu beranjak dari duduknya.
Grap.
Kevin menggenggam pergelangan tangan sang ibu angkat.
"Terima kasih ya, bu! Karena selama ini ibu sudah mencurahkan kasih sayang mu dengan tulus pada ku, hingga sampai saat ini... ibu selalu mendukung ku. Ibu juga sudah mau memberikan restu untuk mu menikahi Aulia." terang Kevin, dengan mata teduhnya.
"Udah gak usah drama, ibu belum berkemas ini. Katanya mau ketemu calon bini!" ledek Naimah.
"Iya iya."
Kevin dan Naimah langsung menuju Jakarta, dengan menggunakan mobil yang di kemudian Kevin sendiri.
Dreeet dreeet.
Kevin mengerutkan keningnya, saat melihat kontak yang menghubunginya.
...Calling...
...Om Jaya...
"Ada apa, nak? Siapa yang menelpon mu? Kenapa tidak kau jawab?" cecar Naimah.
"Ini juga mau Kevin jawab mu, cuma bingung aja... gak biasanya om Jaya telpon di jam segini." terang Kevin.
"Kamu ini, sok sibuk. Emang kalo orang mau telpon kamu, harus lihat jam dulu gitu? Anak aneh!" gerutu Naimah dengan menggelengkan kepalanya.
"Iya om, ada yang bisa Kevin bantu om?" tanya Kevin setelah menjawab sambungan telponnya.
Suara papa Jaya yang panik, langsung terdengar dari sebrang sana.
[ "Kevin, tolong nak. Tolong om, tolong temukan Aulia! Aulia menghilang di puncak!" ]
Ciiiiiit.
Kevin menginjak pedal rem, begitu telinganya mendengar Aulia menghilang di puncak.
"A- apa om! Aulia menghilang di puncak? Gimana bisa? Aulia selalu bersama dengan bang David kan?"
Bersambung...
...🌹🌹🌹...
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
__ADS_1
Menghalu itu gak mudah say 😊