
...🏵️🏵️🏵️...
"Pergi lo ke neraka!" serunya dengan berjalan cepat, dan mengarahkan belatiii yang ia pegang ke perut Radit.
Hus.
Sreek.
Trak.
Radit berhasil menghindar dari serangannya, tangan Radit langsung bergerak menangkisss dan menghentakkan pergelangan tangan pria yang menyerangknya dengan pukulan jemari Radit. Belatiii yang di pegang preman langsung jatuh ke aspal.
Bugh.
Radit menendang tulang kaki si preman, yang mana membuatnya langsung berlutut dengan kakinya yang mendarat di aspal.
"Aku sudah memperingatkan kalian berdua sebelumnya! Jangan pikir aku main main dengan kalian!" Radit menepuk nepukkan ke dua tangannya.
"Cuma segitu kemampuan lo?" sungut preman yang satunya.
Radit mengambil sikap kuda kuda, menatap waspada pada ke dua preman yang akan menyerangnya secara bersamaan.
Bugh bugh bugh bagh bigh tak.
"Akkkhhhh ampun!"
"Awhhhh sakit woy! Lepas!"
Radit berhasil membuat ke duanya tersungkur di bawah aspal, dengan beberapa pukulan bersarang di wajah mereka.
Kreek.
Radit mematahkan satu tangan pria yang tadi menyerangknya dengan belatiii.
"Akkkhhhh tidak, tangan ku!" teriaknya saat merasakan tangannya terkulai.
"Kalian bekerja untuk Lusi kan! Berapa wanita itu membayar kalian?" tuduh Radit, dengan menekan kakinya pada jemari pria yang kini meringis le sakitan.
"I- iya, wanita itu menyuruh ka- kami untuk membuat perhitungan sama lo!" ujar preman.
Radit mengeluarkan dompetnya dari saku celananya abunya, mengeluarakn beberapa lembar uang ratusan ribu, "Gunakan untuk kalian ke dokter! Gwe gak mau liet muka kalian lagi!" ucap Radit yang berlalu setelah menyerahkan uangnya pada preman itu.
Radit melanjutkan kembali perjalanannya yang terhambat, menuju rumah Aulia, Radit memacu kendaraannya dengan cepat.
Selama menuju rumah Aulia yang sudah hampir sampai, Radit meluangkan waktunya sejenak untuk menghubungi orang kepercayaan nya.
Radit menghubungi Dava, untuk menanyakan usaha yang di tanggung jawabkan olehnya.
__ADS_1
Radit mempercayakan resto yang ia dirikan sendiri, dengan modal yang ia dapat dari hasil uang saku yang ia tabung, dan dari gaji yang ia dapat dari membantu papa Wiko mengurus usaha milik keluarga.
"Gimana di sana, Dava? Apa ada kendala?" tanya Radit, saat sambungan teleponnya tersambung.
[ "Tidak ada kendala bos, di sini aman dan berjalan dengan lancar." ] suara Dava dari sambungan telponnya.
"Kerja bagus."
[ "Terima kasih, bos." ]
"Kau urus usaha ku itu, jika perlu kau kembangkan menjadi beberapa cabang!"
[ "Siap, bos... jika pengunjung tetap ramai, tidak akan menjadi hal yang sulit bos. ]
"Ya sudah, lanjut kerja lagi sana." titah Radit.
[ "Maaf, bos. Resto kan jam segini belum buka." ] sanggah Dava.
"Atur kau saja lah." karena malu, Radit pun langsung memutus sambungan teleponnya pada Dava.
Radit menggelengkan kepalanya, merutuki kebodohannya, "Bagai mana aku bisa lupa, jika resto yang di Bandung buka siang. Payah kau Radit, pasti Dava sedang mentertawakan ke bodohan mu itu." gerutu Radit.
Radit memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di rumah Aulia. Tampak Aulia yang duduk di kursi teras rumah, sedang mengerucut kan bibirnya ke arah Radit.
"Ini orang niet jemput gak sih! Udah jam berapa coba!" gerutu Aulia saat melihat Radit yang berjalan ke arahnya.
"Kirain lupa buat jemput gwe?" sungut Aulia.
"Iya, maaf ya! Tadi ada kendala di jalan." ujar Radit datar.
Aulia menyipitkan matanya, menatap tajam pada pergelangan tangan kanan Radit, "Itu darah bukan sih?" apa mungkin tadi Radit berkelahi, tapi dengan siapa?
Radit mengikuti arah tatapan Aulia pada pergelangan tangannya, "Hanya luka kecil! Ayo kita berangkat! Aku pamit dulu sama mama dan papa."
Dari dalam rumah, nampak papa Jaya dan mama Nami yang berjalan ke arah luar.
"Kamu baru sampai Radit?" tanya mama Nami.
Radit mencium punggung tangan mama Nami dan papa Jaya secara bergantian, "Iya mah, Radit izin mau langsung ...."
"Tunggu bentar!" pamit Aulia yang langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Eh ada apa dengan anak itu? Tadi aja nanyain kamu terus, sekarang malah masuk ke dalam gitu aja!" gerutu mama Nami yang melihat tingkah Aulia.
"Ada apa, Radit?" tanya papa Jaya melihat raut wajah Radit yang sulit di artikan.
"Gak ada apa apa ko pah!" Radit menyembunyikan pergelangan tangan kanannya ke balik punggungnya.
__ADS_1
Tap tap tap tap.
"Berikan tangan kanan mu!" pinta Aulia dengan mengadahkan tangan kirinya di depan Radit.
"Ada apa sayang? Kalian bukannya harus berangkat sekolah sekarang! Kalian bisa telat lo!" cicit mama Nami dengan mengelusss kepala Aulia.
"Iya mah, tinggu bentar...ayo berikan tangan kanan mu, Radit! Kamu mendengar ku kan!" cicit Aulia yang tidak ingin di bantah siapa pun.
Radit mengulurkan tangan kanannya, nampak luka sayatannn di pergelangan tangan kanannya yang menyisakan darah segar dari sana.
Mama Nami mengerutkan keningnya, "Kamu terluka Radit? Kita harus ke rumah sakit, sayang! Bagai mana jika lukanya infeksi!"
Aulia membalut luka pada pergelangan tangan Radit yang luka, dengan kain kassa dan plaster, "Laen kali tuh hati hati!" gerutu Aulia.
"Eh apa ini, apa kamu sedang menghawatirkan Radit, sayang?" ledek mama Nami.
"Apa sih, mah!" Aulia langsung mencium punggung tangan kanan mama Nami dan papa Jaya, "Aulia berangkat! Udah mau telat nih!" Aulia berlalu meninggalkan Radit yang masih terpaku di buatnya.
"Nak Radit! Apa kamu masih tetap ingin tinggal di sini?" tanya papa Jaya, lalu tersenyum pada Radit.
"Radit berangkat mah, pah!"
Di jalan menuju sekolah, Aulia tidak membiarkan Radit lolos begitu saja, setelah membuatnya menunggu, di tambah dengan rasa khawatir saat melihat pergelangan tangan kanan Radit yang menyisakan luka.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang tetjadi maksud ku! Kenapa tangan mu bisa terluka?" cecar Aulia dengan, berusaha menepis rasa gugupnya.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatir kan, Aulia! Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja kan?" Radit menyunggingkan senyum tipisnya di sudut bibirnya.
"Aku serius Radit, kamu berkelahi dengan siapa?" tebak Aulia.
Radit membuang nafasnya dengan kasar, "Hanya preman, orang yang di bayar Lusi untuk memberikan peringatan pada ku!"
Aulia langsung menoleh ke arah Radit, menatap wajah Radit dengan lekat, "Lusi melakukan itu pada mu? Untuk apa Radit? Bukan kah masalah dengan Lusi udah selesai?"
"Kamu tenang saja, Lusi tidak akan melakukan apa apa... dalam waktu dekat ini, aku akan membuatnya menjauh dari ke hidupan kita." terang Radit dengan penuh tekat.
Radit membatin, aku akan membuat mu menyesalinya Lusi! Lihat apa yang bisa aku lakukan pada keluarga mu!
"Apa yang akan kamu lakukan padanya, Radit?" tanya Aulia dengan tatapan menyelidik.
Bersambung...
🌹🌹🌹
Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo 😅😅
Menghalu itu gak mudah say 😊
__ADS_1