Pandangan Pertama

Pandangan Pertama
Gegar otak ringan


__ADS_3

...🏡️🏡️🏡️...


Kreeeeek.


Nampak doktor Lukman yang masuk ke dalam ruang perawatan Aulia, di ikuti seorang suster yang berjalan di belakangnya.


"Dokter, putri saya dok... tolong di periksa keadaannya, dok!" ujar mama Nami, saking senangnya melihat Aulia yang sudah sadar.


Dokter Lukman pun berjalan ke sisi kanan ranjang Aulia, untuk memeriksakan kondisi Aulia.


Mama Nami langsung berdiri dan mundur beberapa langkah, agar dokter Lukman bisa memeriksakan kondisi Aulia.


Dokter Lukman memasang stetoskop miliknya, dan langsung mengarahkan pada tubuh Aulia. Setelah itu tidak lupa dokter Lukman menyuruh suster untuk mencatat kondisi Aulia saat ini.


Melihat dokter sudah selesai dengan aktivitasnya, Radit pun langsung bertanya pada dokter Lukman.


"Bagai mana keadaan Aulia, dok?" raut wajah cemas Radit nampak terlihat.


"Dari hasil rongsen, benturan yang terjadi menyebabkan gegar otak ringan pada Nona Aulia." ujar dokter Lukman.


"Apa, dok? Gegar otak ringan?" mama Nami nampak terkejut, dengan keterangan dari dokter.


"Iya Nyonya, itu terjadi karena adanya benturan di kepala Nona Aulia, yang menyebabkan otak bergerak secara cepat ke belakang dan depan akibat efek pantulan pada tulang tengkorak. Hal ini menyebabkan terjadinya ke rusakan pada sel otak." dokter Lukman memberi penjelasan.


"Sampai berapa lama saya di rawat, dok?" tanya Aulia.


Dokter Lukman yang mendengar pernyataan Aulia, langsung di buat tersenyum.


"Kita lihat perkembangan Nona ke depannya ya! Untuk sekarang ini, lebih baik Nona banyak istirahat, jangan memikirkan hal yang berat." seru dokter Lukman.


Aulia menganggukkan kepalanya.


"Karena tidak ada lagi yang saya lakukan, saya undur diri Tuan, Nyonya, Tuan Radit." dokter Lukman membungkuk hormat pada Radit, sebelum ia meninggalkan ruang rawat bersama dengan suster.


Mama Nami duduk kembali di bangku yang ada di sebelah kanan Aulia, jemarinya kembali menggenggam tangan kanan Aulia. Dengan pandangan yang sedih, cepat lah pulih putri mama! Kalo perlu, biar lah mama saja yang menggantikan mu, ini pasti rasanya sakit!


"Aulia pasti cepet sembuh, mah." Aulia tersenyum dengan menatap lekat mata mama Nami, yang terlihat bengkak karena terus menangis.


"Sudah mah, Aulia sudah tidak apa apa!" papa Jaya mengelusss punggung istrinya itu.


Radit yang masih setia duduk di tepian ranjang, enggan melepaskan genggaman tangan kiri Aulia.


"Maaf tante, om. Seli pamit pulang ya. Besok Seli sama Lia balik lagi ko buat jengukin Aulia." Seli meraih dan mencium punggung tangan kanan mama Nami dan papa Jaya bergantian.


"Hati hati ya nak... terima kasih sudah mau menemani, Aulia." ujar mama Nami dengan tulus.


"Itu udah kewajiban kita ko, tan." terang Lia.


"Kalian pulang naik apa?" tanya Radit.


"Biar mereka pulang bareng gwe." ujar Arya.


"Aulia, kita pulang ya, jaga ke sehatan, cepet sembuh." Seli cium pipi kanan dan pipi kiri Aulia.


"Makasih ya, guys." ucap Aulia dengan suara yang pelan.


Radit mengantar Lia, Seli dan Arya sampai depan pintu rawat Aulia. Saat di depan pintu mereka berempat sempat membicarakan soal Lusi.

__ADS_1


"Gimana Dit, kalo nanti Lusi malah membuat masalah lagi sama, Aulia? Kita juga kan gak tau Lusi jenguk Aulianya itu kapan." ujar Seli yang khawatir dengan kondisi sahabatnya.


"Emang harus apa itu anak jenguk, Aulia?" sungut Lia dengan kesal.


"Harus dong, Aulia masuk rumah sakit itu juga kan karena, Lusi." jawab Arya.


"Masalah keamanan untuk Aulia, nanti biar gwe yang pikiran. Sebelumnya terima kasih ya, guys." Radit menyudahi ke khawatiran Seli dan Lia.


"Kaya sama siapa aja, lo." ujar Lia.


Seli, Lia dan Arya pun meninggal ruang rawat Aulia.


Tinggal lah mama Nami, papa Jaya, Radit yang masih setia menemani Aulia.


"Kamu gak pulang, Dit? Biar mama sama papa yang jaga Aulia di sini!" seru mama Nami.


"Gak mah, mama aja sama papa yang pulang. Mama sama papa lebih butuh istirahat dari pada Radit." ujar Radit.


"Tapi Dit, --- "


"Kasian papa Jaya mah, udah sibuk dan lelah di kantor, sekarang harus nemenin Aulia lagi di rumah sakit." ucap Radit yang memotong perkataan mama Nami.


"Radit bener mah, mama sama papa pulang aja ya. Mama istirahat di rumah, kasihan papa juga mah, papa udah cape,Β  jangan sampai sakit mah, pah!" ucap Aulia manja dengan suaranya yang lemah.


Mama Nami melihat ke arah papa Jaya, seakan meminta persetujuan dari suaminya. Setelah papa Jaya menganggukkan kepalanya, baru lah mama Nami mengambil ke putusan.


"Ya udah, mama sama papa pulang dulu ya, sayang." Mama Nami mencium pipi kanan dan kiri Aulia, tangannya mengelusss pipi kanan Aulia sambil berkata. "Cepet sembuh ya sayang!"


"Pasti, mah." jawab Aulia.


"Papa titip Aulia ya, Dit! Kabari papa apa pun yang terjadi pada, Aulia." papa Jaya mewanti wanti Radit.


Mama Nami menoleh ke arah Aulia, sebelum ia mengayunkan langkah untuk meninggalkan ruang rawat. Radit mengantar mama Nami dan papa Jaya sampai depan pintu ruang rawat Aulia.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Radit, yang kini mendudukan dirinya di tepian ranjang rawat Aulia.


"Kepala ku sakit, badan ku juga sakit saat aku bergerak, walau hanya gerakan kecil." ucap Aulia dengan manja pada Radit.


Radit mencondongkan tubuhnya, mendekat pada Aulia, ia mendekatkan wajahnya pula ke wajah Aulia, dengan tangan kiri di gunakan untuk menumpu pada kasur.


Muah muah.


Radit mencium pipi kanan dan kiri Aulia yang nampak memerah, bekas tamparan yang di lakukan Lusi.


Muuah.


Radit mencium singkat bibir Aulia.


"Apa masih sakit?" Radit.


"Apa sih, kamu." Aulia memalingkan wajahnya, tampak bersemu malu.


Radit menyunggingkan senyum, melihat tingkah Aulia yang pemalu.


"Dit." seru Aulia.


"Hmm." jawab Radit dengan deheman.

__ADS_1


"Bagai mana dengan, Lusi?" tanya Aulia.


"Di skorsing 1 bulan, tidak boleh mengikuti pelajaran, di berikan tugas dari bu Rita selama menjalani hukuman dan di wajibkan untuk meminta maaf pada mu." ujar Radit terus terang.


Aulia memberanikan diri untuk menatap wajah Radit, "Kamu tidak menghukumnya kan?" tanya Aulia dengan penuh selidik.


"Tanpa kamu berkata, pasti akan aku hukum dia, Aulia. Dia akan merasakan sakit yang lebih dari apa yang kamu rasakan saat ini sayang!" ucap Radit dengan penuh tekatt, nampak dari sorot matanya yang penuh amarah.


Grap.


Aulia menggenggammm tangan Radit.


"Jangan lakukan itu, Dit. Ini juga karena salah ku. Hiks hiks hiks." ucap Aulia yang tanpa permisi, bulir bening menerobos dari ke dua pelupuk matanya.


Radit yang melihat Aulia menangis, langsung naik ke atas ranjang tempat Aulia di rawat, karena ukuran ranjang Aulia memang sengaja besar.


Radit mendudukkan badannya di ranjang, dengan menyandarkan badannya pada kepala ranjang.


Aulia memeluk ke dua paha Radit dan menangis sejadi jadinya, dengan belaian lembut dari tangan Radit di punggung Aulia. Seolah memberi kenyamanan tersendiri untuk Aulia, hingga tidak berapa lama terdengan dengkuran halus milik Aulia.


Radit menyunggingkan senyumnya, lalu ia mengambil ponselnya yang ada di saku seragam sekolahnya. Mencari nomor kontak dan menelponnya.


[ "Iya halo, bos." ] seru David, orang yang di hubungi Radit.


"Datang ke rumah sakit Permata, ruang rawat VVIP bersama dengan Dava. Setelah sampai, kalian berjaga di depan pintu rawat tunangan ku." titah Radit dengan tegas pada David.


[ "Baik bos." ]


Radit menatap pakaian yang saat ini melekat pada tubuhnya, "Tunggu dulu, sebelum kalian ke sini, belikan aku pakaian." titah Radit lagi.


[ "Pakaian untuk siapa bos?" ] tanya David.


"Ya buat gwe lah... udah cepet jangan lama!" Radit langsung mengakhiri sambungan telponnya.


...πŸŒ„πŸŒ„πŸŒ„...


Pagi hari di rumah sakit Permata, tempat Aulia menjalani perawatan. Terlihat ke sibukan di lorong jalan, suster yang ke luar masuk kamar pasien, orang orang yang berlalu lalang, ada juga yang tengah duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat.


Berbeda dengan lantai di mana Aulia di rawat, Aulia di pindahkan ke lantai 5. Dengan fasilitas yang lebih berbeda, 1 tempat tidur yang di gunakan Aulia, 1 tempat tidur untuk penunggu, 1 sofa bed, ruang keluarga, overbed table, bedsite cabinet, AC, LCD TV, kamar mandi dalam dengan air panas dan dingin,Β lemari pendingin, water dispenser, meja kursi.


Lantai 5 saat ini hanya ruang rawat Aulia yang ada pasiennya. Sedangkan ruangan lain sengaja di kosongkan.


Radit tidak lagi menganggap enteng Lusi sebelah mata, mengingat Radit sudah ke colongan dengan tingkah yang di perbuat Lusi pada Aulia, hingga membuat Aulia harus di larikan ke rumah sakit, belum lagi gegar otak ringan yang di derita Aulia, hasil dari perbuatan Lusi kemarin di sekolah.


Jika di sekolah yang umumnya banyak siswa, Lusi bisa berbuat seperti itu. Bagai mana dengan rumah sakit, jika Aulia sedang berada di ruang perawatan seorang diri.


Jadi lah apa yang Radit perbuat untuk Aulia sekarang ini. Dengan 2 orang berbadan besar, yang berjaga di depan ruang rawat Aulia.


Aulia yang baru saja bangun dari tidurnya, dan tidak mendapati Radit di sisinya pun langsung memanggil manggil nama Radit.


"Radit, Radit, Radit kamu di mana?" seru Aulia dengan menyusuri kamar rawatnya, nampak berbeda dari yang sebelumnya, aku di mana lagi ini?


Kreeeeek.


...🌹🌹🌹...


bersambung......

__ADS_1


Terima kasih udah menyempatkan buat mampir. Jangan lupa like dan komen. Abaikan jika gak suka yo πŸ˜…πŸ˜…


Menghalu itu gak mudah say 😊


__ADS_2