Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
10. Bertemu monster


__ADS_3

Setelah rombongan akademi Melati biru selesai menyantap hidangan, mereka masuk kedalam kamar masing masing untuk beristirahat.


Ma'ruf yang satu kamar dengan pemuda berjubah hitam langsung melompat ke arah kasur penginapan dengan posisi badan di miringkan.


Hanya butuh waktu singkat bagi Ma'ruf untuk memejamkan matanya dan mulai masuk ke dalam dunia mimpi.


Pemuda itu menyusul Ma'ruf yang terlelap lebih dahulu, ia tidur dengan posisi badan di miringkan menghadap Ma'ruf.


Sebelum tidur ia sempat mengingat masa masa perjuangan bersama sahabat karibnya satu ini.


"Maafkan aku, harusnya aku sadar dan meminta maaf kepadamu. Setelah kejadian itu berlalu, kau selalu mencoba menghiburku dengan sekuat tenaga.


Bahkan kau selalu meyediakan semua keperluan hidupku selama ini, namun bodohnya aku yang berpura pura buta atas semua kebaikanmu" Ucap pemuda itu dengan lirih sembari menatap wajah Ma'ruf yang telah tertidur pulas.


"Coba ucapkan sekali lagi, aku tidak dengar" jawab Ma'ruf sembari membuka salah satu matanya.


Sontak pmuda berjubah hitam yang telah memejamkan matanya itu kini terkejut saat membuka matanya dan melihat Ma'ruf yang sedang tertawa kecil.


Ia merasa sangat malu atas kata kata yang baru saja ia ucapkan, wajahnya memerah dan dia sangat malu sampai berharap untuk hidup di dalam sumur selama lamanya agar tidak bertemu dengan Ma'ruf yang sedang menertawai ucapannya.


"Aaaaaaa" teriak pemuda itu sebelum melompat ke arah badan Ma'ruf dan menutup wajah Ma'ruf dengan bantal miliknya.


"Apwa ywang kwau lakukwan? Apwa swalahku" ucap Ma'ruf dengan bantal menutupi wajahnya.


********


Pagi menjelang,mentari mulai perlahan menampakan sinarnya bersama kehangatan yang ia bawa.


Rombongan murid akademi Melati biru dan bangsawan itu pun melanjutkan perjalanan,


Zidan dan pemuda berjubah hitam memimpin perjalanan sembari menyisir hutan untuk berjaga jaga akan adanya kemunculan para bandit atau monster.


Setelah berlari cukup jauh menggunakan teknik langkah bayangan, Zidan mendengar teriakan seorang wanita dari arah belakangnya.


Sontak teriakan itu membuat Zidan dan pemuda berjubah hitam berhenti sejenak.


"Apa kau mendengarnya?" Tanya Zidan kepada pemuda berjubah hitam.


"Iya,aku mendengarnya" jawab pemuda tersebut.


"Bagaimana jika kita kembali, melihat rombongan untuk memastikan keselamatan mereka?".


"Ide bagus" jawab pemuda itu dengan singkat.


Keduanya mulai bergegas kembali menuju rombongan mereka untuk memastikan apakah teriakan itu berasal dari rombongan mereka atau bukan.


Sedangkan para rombongan yang sedang menjaga kereta kencana sang bangsawan terlihat mengepung sebuah monster berlumpur berwarna coklat kehijaunan dengan beberapa tanaman menghiasi tubuh monster itu.


Terlihat Suci terjatuh di atas tanah dengan posisi duduk,wajahnya pucat melihat kuda api yang ia tunggangi menyemburkan darah akibat serangan dari monster lumpur sebelum menjadikan kuda api itu sarapan.


Para rombongan mulai mengepung sang monster yang sedang asik meniknati sarapannya, mereka bersembilan dalam posisi siaga untuk menyerang.


Ma'ruf yang melihat kejadian itu langsung lompat mengeluarkan tombak miliknya yang berwarna hitam dan menancapkannya tepat di dada sang monster lumpur.

__ADS_1


Ketika Ma'ruf mendarat di atas tanah, ia kembali menyerang dengan menyemburkan air dari tangan kirinya sampai mengenai tombak yang sebelumnya ia tancapkan.


Ia mengangkat tangan kanannya dan mulai bergumam,terlihat mana berwarna ungu mulai menylimuti tubuhnya.


Langit mulai gelap dan sambaran petir terlihat menyambar tepat ketubuh Ma'ruf dan menghasilkan air yang sebelumnya ia semburkan di aliri listrik.


Monster itu mengerang namun tampaknya masih baik baik saja, Mata monster yang besar dan berwarna putih itu kini melotot ke arah Ma'ruf dan mulai memanjangkan badannya seperti lumpur untuk menyerang.


Suci yang melihat kejadian itu langsung berinisiatif membuat perisai dari es untuk menghalau serangan sang monster dan melindungi Ma'ruf.


Monster itu menabrak es pelindung milik Suci hingga membuatnya kehilangan kesadaran beberapa saat.


Dimas yang melihat kejadian itu tak menyia nyiakan kesempatan, ia mengeluarkan katana berwarna putih dan melompat ke arah punggung monster untuk menancapkan katana miliknya dengan kedua tangan.


Monster itu kembali mengerang ketika mendapat serangan dari Dimas, ketika kesadaran si monster telah pulih ia memutar kepalanya ke arah belakang seperti burung hantu.


Monster yang awalnya menghadap ke arah Ma'ruf kini berbalik menatap Dimas yang menusuk punggungnya meskipun setelah ia memutar tubuh lumpurnya yang Dimas serang menjadi dadanya.


Melihat sang monster mengarahkan kedua tinjunya ketubuh mungil Dimas,Dimas berupaya melompat untuk menghindari serangan sang monster namun naas kakinya terjebak di tubuh monster itu sehingga membuatnya mau tidak mau harus menahan serangan monster lumpur itu.


"Sekarang, bekukan kedua tangan monster ini" teriak Dimas dengan sedikit mengerang setelah kedua tangannya beradu tinju dengan sang monster lumpur.


Mendengar teriakan Dimas,tanpa pikir panjang Suci langsung memborgol tangan Monster lumpur dan lengan Dimas yang sedang beradu tinju dengan es miliknya.


Melihat ekspresi monster yang kebingunan, Dimas tertawa sebelum mengumpat monster lumpur itu.


"Apa yang kau pikirkan monster jelek? Coba pukul aku lagi jika kau berani hahaha. Suci, serang monster ini menggunakan es milikmu lagi!". Teriak Dimas sembari mencoba melepaskan lengannya dari es dan tangan milik monster lumpur.


Suci kembali membuat beberapa bongkahan es melayang di sekitarnya dan menemabakannya tepat kearah monster lumpur.


Monster itu memunculkan 4 tangan lain untuk menangkap es yang suci tembakan kearahnya.


"O Ow" ucap Dimas dengan wajah panik.


"K-Kau kau boleh menyerangku, asal jangan wajah tampanku" teriak Dimas ketakutan.


Monster itu tertawa dan menghanjar Dimas dengan kedua tinjunya, sedangkan tangan kiri sang monster menangkap kepingan es milik Suci yang terbang kearahnya.


Monster itu tertawa,menggunakan es milik Suci untuk bercermin dan merapikan rambut lumpurnya.


"Sialan monster narsis satu ini" ucap Ma'ruf dengan geram, namun ia sadar elemen listrik dan air miliknya tidak berguna melawan monster lumpur hingga membuatnya hanya diam dan mengumpat.


4 prajurit yang mengitari monster itu membuat formasi untuk menyegel sang monster, terlihat mana berwarna kebiruan memenuhi lingkaran segel di mana monster berada.


"Nona,cepat gunakan elemen es mu untuk membekukan monster ini!" teriak salah satu prajurit.


"Tapi,tapi manaku tidak akan cukup untuk membekukan monster sebesar itu" jawab Suci dengan sedikit bingung.


"Lakukan saja perintahnya Nona, segel formasi 4 mata angin adalah segel pembantu. Kami mengumpulkan mana murni dari sekitar, meskipun kami bukan penyihir elemen es namun ketika elemen es milikmu masuk kedalam formasi ini maka akan membuat mana murni bereaksi dan ikut menjadi es!". Teriak prajurit yang lain.


"Jika monster itu beku, lalu bagaimana dengan tubub Dimas yang sedang menempel dengan monster itu". Jawab Suci dengan sedikit khawatir melihat kondisi Dimas yang sudah tidak sadarkan diri karena telah menerima pukulan besar dari sang monster lumpur.


"Lakukan perintah prajurit itu" sahut Made di barengi dengan mengeluarkan 1 bilah Sabit besar yang tajam.

__ADS_1


Karena di desak oleh orang orang di sekitarnya Suci mau tak mau harus mengumpulkan semua energi dan menyerang monster narsis yang sedang bercermin itu menggunakan bongkahan es.


Saat es masuk kedalam formasi 4 arah mata angin, monster itu seketika membeku bersama Dimas menjadi gundukan es yang besar.


Tak mau Dimas semakin menderita, Made langsung maju dengan langkah angin miliknya dan menebas tubuh monster itu menjadi hancur berkeping keping.


*Melihat tubuh Dimas yang masih membeku layaknya patung es, Dian langsung melompat keudara.


"Katon! Gokyaku non jutsu!" teriak Dian sebelum menyemburkan api berwarna merah kearah Dimas yang sedang membeku dan tergeletak di tanah*


(Maaf gan, salah server. Adegan di cut sama produser dan harus melakukan adegan ulang).


Dian melompat keudara dan menyatukan kedua tangannya sperti orang hendak bertepuk tangan.


"Teknik pertama, semburan phoenix gurun!"


Teriak Dian sembari menyemburkan api kearah Dimas hingga membuat tubuh Dimas yang membeku kembali normal.


Suci yang telah menggunakan semua mana dan staminanya langsung jatuh pingsan dan membuat anggota penjaga para bangsawan panik.


"Tenang saja, biarkan Suci dan Dimas beristirahat sejenak. Mereka hanya butuh waktu untuk memulihkan mana dan stamina" Ucap Ma'ruf yang melihat kondisi Dimas dan Suci.


"Iya, mau tidak mau kita harus menunda perjalanan ini sejenak sampai mereka berdua pulih" jawab salah satu Prajurit sang bangsawan.


Ketika rombongan itu sedang beristirahat dan mengeluarkan bekal, tiba tiba puluhan perampok memakai pakaian biru tua dan topeng hitam mengepung rombongan mereka yang sedang beristirahat.


4 prajurit langsung bersiap menjaga kereta kencana milik sang bangsawan meskipun wajah mereka terlihat pucit melihat puluhan perampok itu.


Ma'ruf dan teman temannya hanya duduk diam dan mengawasi para perampok yang mulai mendekat, mereka bertiga menjaga kedua temannya sedang tidak sadar kan diri.


Salah satu perampok maju, ia mengenakan topeng berwarna emas. Dari bedanya warna topeng yang ia kenakan sepertinya ia adalah pemimpin kelompok perampok ini.


"Jika kalian ingin mati dengan mudah, cepat serahkan barang barang berharga milik kalian! Haha ha ha". Teriak perampok bertopeng emas memberi peringatan dengan tertawa.


Sang kusir yang mengendarai kereta kencana itu terlihat ketakutan dan mengetuk pintu kereta kencana.


"Tuan, Tuan kita sedang di kepung oleh para perampok". Teriak sang kusir mempertingati seseorang yang sedang berada di dalam kereta kencana.


"Siapa! Siapa yang berani beraninya mengganggu ketenanganku!" Teriak orang tua dengan perut buncit, wajah penuh lemak memakai jubah berwarna emas dan di temani oleh 2 gadis berpakaian sexy berwarna merah.


"Aaah,tuan. Aku takut" ucap salah satu gadis sexy, menggoda tuan buncit dengan centil.


"Tenanglah sayangku, jangan takut mereka hanya kumpulan semut. Perampok tidak tahu diri seperti kalian apa tidak mengenalku? Aku adalah gubernur provinsi ini! Jika kalian berani menggangguku maka aku pastikan kelak kalian akan mati mengenaskan bersama keluarga kalian!" Ancam pria buncit berjubah emas dengan bangga.


"Hahaha, apa yang di lakukan ini?" teriak salah satu perampok.


"Hei berlemak, apa kau pikir kami takut dengan pejabat sepertimu? Berani beraninya kau mengancam kami!" Balas perampok yang lain.


"Apa kalian tuli? Aku adalah jang sang gubernur provinsi ini dan Tetua clan phoenix emas! Jika kalian menggangguku maka keluargaku akan mencari kalian satu persatu dan membalaskan dendamku!" Sahut pria buncit dengan sedikit ketakutan.


"Cukup! Hentikan omong kosong kalian, kami perampok dari clan violet senja tidak pernah takut merampok siapapun! Cepat bunuh mereka dan rampas hartanya!". Perintah sang perampok sembari menunjuk ke arah kereta kencana itu.


Mendengar ucapan ketuanya, para perampok langsung berlari menyerang 4 prajurit yang sedang mempertahankan kereta milik bangsawan.

__ADS_1


Pertarungan pun terjadi, namun hanya butuh beberapa saat saja bagi para perampok untuk menghabisi 4 prajurit sang bangsawan.


__ADS_2