Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
6. Sang iblis manis


__ADS_3

Ketika kegelapan malam mulai menyapa, bintang yang mulanya malu untuk menunjukan sinarnya kini mulai terlihat satu.


Zidan yang sendirian di asrama memutuskan untuk keluar berjalan jalan, setelah berjalan cukup lama sekitar 15 menit dia melihat sebuah kedai yang lumayan cukup ramai. Tanpa pikir panjang dia pun memasuki kedai tersebut untuk beristirahat sejenak.


Setelah masuk Zidan melihat Ma'ruf yang duduk di pojok kedai berhadapan dengan seseorang, suasana tempat duduk yang di pilih Ma'ruf tidak terlalu buruk pikir Zidan karena jauh dari keramaian dan cukup tenang.


"Loh,Ruf. Kamu di sini?".


Zidan bertanya sembari menarik salah satu kursi dan mulai duduk di samping seorang pemuda yang belum ia kenali.


Tampilan pemuda itu cukup aneh, ia memakai sarung hitam polos, memakai songkok(kopyah/peci) hitam namun sedikit di buka hingga poninya keluar dan menutupi mata kanannya.


Selain itu rambutnya yang panjang di sisi kiri ia posisikan kebelakang di atas daun telinganya hingga tindik hitam bundar polos yang menghiasi telinga kirinya pun terlihat.


Di bagian belakang pemuda itu menguncir rambutnya yang tidak terlalu panjang, dia memakai kaos hitam polos lengan panjang namun ia menariknya sampai di bawah kedua siku lengannya.


Membuat tatto di tangan kanannya terlihat jelas, selain itu ada sebuah kalung hitam polos yang memiliki bandul sebuah peluru senjata api menghiasi lehernya yang sangat putih.


Harus Zidan akui bahwa pemuda itu lebih tampan darinya, bulu mata yang panjang, mata berwarna coklat cerah, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang mungil mungkin akan membuat orang berfikir dia seorang wanita jika bukan karena songkok yang ia kenakan.


"Kamu Zhi,aku pikir kau terlalu lelah sampai sampai bisa tertidur dengan pulas setelah mandi".


Ma'ruf terlihat sedikit terkejut namun tetap fokus pada camilan yang ada di hadapannya.


"Wahaha mungkin tadi saya agak sedikit lelah, tapi sekarang energi saya sepertinya sudah kembali".


Pemuda yang duduk di samping Zidan masih terlihat menunduk dan fokus dengan smartphone yang ia genggam, sesekali ia menyruput segelas kopi di hadapannya atau menghisap rokok yang berada di jari jarinya.


"Zhi, aku baru saja mendengar sebuah rumor yang mengatakan bahwa sebenarnya kau ini anak tetua clan bulan sabit merah dan menurut rumor yang beredar beberapa hari yang lalu kau masih dalam tahap pasir tingkat 1.


Jika tidak keberatan, tolong ceritakan bagaimana caramu bisa sampai masuk dalam tahap batu tingkat 5 dalam sehari semalam?". Tanya Ma'ruf dengan sedikit keheranan.


"Ah baiklah, jika kamu ingin mendengar maka akan aku ceritakan secara detail tapi maaf cerita hidupku sebenarnya membosankan haha".


Jawab Zidan dengan santai sebelum melanjutkan cerita tentang apa yang ia hadapi di malam sebelum masuk dalam pendaftaran murid baru.


Setelah Zidan selesai bercerita, Ma'ruf yang terlihat kagum dengan menyentuh dagunya kini menganggukan kepalanya secara perlahan.


Namun pria yang berada di samping Zidan, kini tersenyum dan mulai tertawa hingga membuat Zidan dan Ma'ruf keheranan.


"Anu,jika boleh tau. Kenapa anda tertawa setelah mendengar cerita saya?".


Zidan bertanya dengan wajah keheranan.


Pemuda itu memandang Zidan sejenak, lalu menarik nafas dan mulai berbicara.


"Siapa namamu? Zidan ya? Aku tertawa karena memikirkan saat kau menangis sambil menghina Tuhan.


Apa kau tau Tuhan berada di mana?".


Zidan hanya mengeluarkan jari telunjuknya lalu menunjuk kelangit,di mana kegelapan malam yang menakutkan kini terlihat indah karena di hiasi gemerlapnya cahaya cahaya bintang.

__ADS_1


"apa maksudmu menunjuk ke atas? apa yang kau maksud Tuhan itu berada di atas? Di langit? Atau di surga?" pemuda itu kembali bertanya.


"Ya di atas sana".


Jawab Zidan dengan singkat.


"Lalu bagaimana menurutmu tentang kalimat (Tuhan lebih dekat darimu bahkan lebih dekat dari urat lehermu sendiri)?".


"Mungkin itu hanya ungkapan Tuhan agar terlihat dekat dengan hambanya" jawab Zidan dengan santai.


"Kau memang sungguh lucu,kau berani menghina Tuhan tapi kau tak mengenalnya?".


"Apa maksud ucapanmu aku tidak mengenal Tuhan?". Kini Zidan mulai sedikit terpancing amarahnya.


"Apa kau pernah melihat cahaya matahari yang masuk melewati sebuah kaca?".


"pernah,lantas apa hubungannya?" jawab Zidan dengan sedikit heran.


"Biar kutanya dirimu, ketika sebuah cahaya masuk kedalam kaca dan menembusnya. Apakah bisa kita berkata kaca itu sebuah cahaya? Atau kaca dan cahaya itu bersatu?".


Zidan berfikir sejenak sebelum menjawab, dia mulai memikirkan tentang cahaya matahari yang masuk melalui kaca dan menembusnya.


"Tentu tidak,cahaya itu hanya menembusnya". Jawab Zidan dengan percaya diri.


"Jika cahaya menembus sebuah kaca, bukankah cahaya matahari itu berada di dalam kaca itu juga?". Tanya si pemuda misterius dengan sedikit tersenyum.


"iya,lantas kenapa? Apa hubungannya aku tidak mengenal Tuhan dengan cahaya dan sebuah kaca?".


Namun kau tidak bisa berkata bahwa kau ini Tuhan karena Dzat Tuhan tidak tercampur dengan tubuhmu layaknya cahaya yang berada di dalam sebuah kaca.


Aku tertawa karena baru kali ini aku mendengar Tuhan di hina oleh seseorang yang tidak mengenalinya, itu menggelikan bagi telingaku".


Pemuda yang duduk di samping Zidan tertawa dengan puas.


Zidan mulai berfikir dan menyadari kesalahannya, betapa bodoh dirinya yang berani menyalahkan Tuhan yang bahkan belum di kenalinya.


Dia hanya diam sampai pemuda itu melontarkan pertanyaan kedua.


"apa kau pernah dengar bahwa Tuhan itu Dzat yang Maha tunggal dan berdiri sendiri tanpa di beranakan atau beranak?".


"Ya, aku pernah mendengar itu dan percaya bahwa Tuhan tidak beranak dan di beranakan". Jawab Zidan dengan sedikit lesu.


"Kau percaya begitu saja? Bukankah segala sesuatu di dunia ini diciptakan dan ada penciptanya? Menurutmu apa mungkin Tuhan tiba tiba ada? Bahkan kekosonganpun ada penciptanya lalu bagaimana mungkin ada sesuatu tanpa pembuatnya layaknya Tuhan?".


"Anu aku tidak tahu tapi aku yakin Tuhan itu tidak beranak dan di beranakan, aku yakin dialah satu satunya yang hadir sebelum semuanya".


Tapi di dalam hati, Zidan mulai memikirkan tentang bagaimana cara Tuhan hadir tanpa ada penciptanya dan bagaimana mungkin Tuhan tiba tiba ada bukankah semua sesuatu yang di ciptakan pasti ada penciptanya pikir Zidan.


"Aku akui keyakinanmu sungguh luar biasa tapi jangan jadi orang bodoh yang hanya yakin terhadap sesuatu tapi tidak tahu dengan apa yang ia yakini. Apa kau tahu angka 1?".


Pemuda itu kembali bertanya sembari menunjukan jari telunjuknya kearah Zidan.

__ADS_1


"Tentu aku tahu,semua orang juga tahu angka 1". Jawab Zidan dengan sedikit kesal karena di beri pertanyaan yang bodoh.


"Begitupun Tuhan, Tuhan yang maha Tunggal ia hadir dan berdiri sendiri seperti angka 1. Ia yang maha awal dan maha akhir, angka 1 dapat menciptakan angka lainnya seperti penjumlahan satu(1) ditambah(+) satu(1) sama dengan(\=) dua(2) namun angka sebelum angka 1 yaitu angka nol(0) atau kosong tidak dapat menciptakan angka satu(1) meskipun ribuan angka nol di satukan ia tetap tidak akan menjadi angka satu(1). Di dunia ini ada beberapa kalimat atau dzat yang tidak bisa kita mengerti karena keterbatasan bahasa manusia yang terlalu sedikit layaknya Cinta.


Semua orang mengerti dan pernah mengalami rasanya jatuh Cinta namun tidak ada 1 pun manusia yang bisa mengatakan apa itu arti Cinta dengan pasti karena keterbatasan bahasa kita sebagai makhluk. Tuhan,Cinta, kehampaan dan masih banyak lagi sesuatu di dunia ini yang tidak dapat kita uraikan namun jelas itu ada.


Kelak,jika kau ingin menyalahkan Tuhan karena takdir yang kau terima lebih baik kau mengenal siapa itu Tuhan terlebih dahulu namun aku yakin kau tidak akan pernah mengenal siapa itu Tuhan sebelum kau mengenali dirimu sendiri".


Ucap pemuda itu sambil berdiri meninggalkan Zidan dan Ma'ruf yang masih mematung karena penjelasan pemuda itu.


"Ternyata selama ini aku masih jauh dari kata mengenalNya meskipun aku selalu berdoa dan memohon kepadaNya".


Ma'ruf yang melihat Zidan seperti begitu menyesal dan kehilangan semangat, menepuk bahu Zidan sebelum berbicara.


"Tenang kawan, kau tidak sendirian".


Setelah malam mulai memasuki waktu klimaksnya, Zidan dan Ma'ruf pulang ke asrama mereka dan tidur.


Saat mendengar suara Adzan Zidan langsung bangun dan meraih air wudlu, setelah beribadah ia duduk di atap asramanya untuk menikmati pemandangan malam sebelum di gantikan siang.


"Ah, Tuhan. Maafkan hamba yang berfikiran buruk tentangmu, kali ini kau memukulku begitu telak hingga aku sangat merasa bersalah padamu."


Ucap Zidan dengan nada lirih sembari memandang langit yang masih gelap di hiasi cahaya bulan.


Sebelum Zidan melanjutkan bergumam, ada suara yang mebalas ucapannya dari salah satu pohon yang berdiri di kanan asramanya.


Sontak Zidan terkejut karena ia berfikir ia sendirian dan tidak merasakan kehadiran siapapun selain dirinya, tapi ternyata pemuda yang ia temui di kedai semalam sedang asik duduk di atas pohon sembari memandang cakrawala yang luas.


"Tenanglah kawan, Tuhan tidak akan marah hanya karena kau berfikir seperti itu tentangnya. Karena selama ini Tuhan sedang berpuasa" balas pemuda itu.


Zidan mulai tersenyum dan kembali memandang langit yang indah.


"Kau sudah mengenal dan tau namaku, jika aku boleh tau. Siapa namamu?".


"Kau bisa memanggilku iblis manis" jawab pemuda itu sebelum melompat dan meninggalkan Zidan.


'Iblis manis ya? Haha,julukan yang lumayan indah' fikir Zidan sebelum menggelengkan kepalanya.


Di tahun 6230 Masehi ini, agama sudah mulai kehilangan pamor meskipun mayoritas masyarakat kekaisaran Nuswantara mempercayai adanya keberadaan Tuhan.


Hal yang paling membuat agama seperti di lupakan adalah karena perkembangan sihir yang terlalu pesat, para ilmuan yang menciptakan senjata modern seperti bom atom,nuklir dan bom hidrogen mampu di hadang oleh seorang penyihir pengendali angin atau air.


Jika sebuah bom yang sangat mematikan saja mampu dengan mudah di hadang oleh para penyihir apalagi sebuah peluru.


Mau tidak mau negara dan kekaisaran di dunia ini berlomba lomba menciptakan penyihir maupun pesilat yang sangat berbakat dan perlahan melupakan semua teknologi perang yang sebelumnya di anggap maju.


Itu lah awal mula kematian teknologi modern, sebelum di gantikan dengan teknologi sihir.


Karena Nuswantara kini bukan lagi sebuah negri demokrasi yang biasa mengadakan pemilu setiap 5 tahun sekali, politik yang biasanya membawa unsur agama pun akhrinya menghilang karena seorang Kaisar di pilih langsung berdasarkan keturunan dan kemampuannya.


Apabila seorang Pangeran ingin menjadi Kaisar maka dia harus siap berebut dengan para saudaranya sendiri, satu satunya cara agar bisa di lantik adalah dengan mencari dukungan sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Dan karena di zaman ini sihir adalah kekuatan mutlak yang melebihi nuklir dll, maka wajar apabila para Pangeran merangkul para penyihir yang berasal dari clan,sekte,keluarga maupun akademi untuk mendapatkan dukungan.


__ADS_2