Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
42. Pembantaian.


__ADS_3

Mentari yang memancarkan sinar terang bersama kehangatan mulai terlihat hadir menghiasi langit biru.


Zidan bersama Iblis manis dan Ma'ruf telah siap memulai perjalanan menuju wilayah clan Phoenix emas dan balai lelang kismis.


Hanya dengan satu tarikan nafas ketiganya memulai perjalanan dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti oleh orang awam.


Zidan masuk kedalam dunia bayangan dan lompat dari bayangan pohon satu ke bayangan pohon lainnya,


Sedangkan Iblis manis membuat tubuhnya menjadi serpihan kelopak bunga mawar berwarna hitam yang di tiup oleh angin dengan begitu kencang.


Ma'ruf membelah tubuhnya menjadi ratusan kelelawar dan mulai terbang mengikuti Iblis manis yang telah menjadi ribuan kelopak bunga mawar yang berwarna hitam.


Perjalanan yang seharusnya di tempuh selama beberapa hari bisa menjadi begitu singkat bagi orang yang mempelajari sihir.


Teriknya matahari di siang hari membuat Zidan berhenti sejenak dan meminta Iblis manis dan Ma'ruf ikut berhenti.


Kelelahan yang Zidan rasakan sangatlah wajar karena teknik langkah bayangan sangat menguras stamina dan mana.


Ketiganya akhirnya memutuskan berhenti sejenak di salah satu desa untuk mencari rumah makan.


"Wah, desa ini sepertinya tidak asing".


"Kau benar Zhi, ini adalah salah satu desa di perbatasan hutan Menggala sebelum memasuki kota".


Sejenak ketiganya berfikir, mencari rumah makan untuk menghilangkan penat dan menghilangkan lelah.


Akan tetapi bau darah yang sangat menyengat memasuki hidung ketiganya ketika mereka semakin dekat dengan desa tersebut.


"I-ini, ini bau darah! Bi,Zhi ayo cepat kita memasuki desa itu!".


Raut wajah Iblis manis tampak pucat dan cemas, Iblis manis berfikir telah terjadi sesuatu di desa tersebut.


Tebakan Iblis manis tidak 100% salah mengingat letak desa tersebut berada di dalam hutan dan biasa di gunakan menginap oleh para pedagang maupun perampok.


Konflik antar pedagang dan para perampok adalah hal yang wajar di berbagai desa yang terletak di dekat hutan, namun aroma darah yang begitu menyengat tidak mungkin di hasilkan dari kematian satu atau dua perampok maupun pedagang.


Wajah Iblis manis semakin pucat setelah melihat puluhan mayat menghiasi jalanan desa itu, darah dan burung pemakan bangkai berada di mana mana.


"A-a apa apaan ini?".


Iblis manis bertanya dengan heran.


Ma'ruf yang melihat keterkejutan Iblis manis mulai membuka mulutnya dengan perlahan.


"Darah segar ini, seharusnya kejadian ini baru saja terjadi".


Di antara ketiganya, hanya Zidan yang masih bisa bersikap dengan tenang melihat kondisi itu meskipun ketiganya sama sama pernah membantai ratusan orang.


"Dari pada kalian hanya melamun dan berdiam diri di sini, lebih baik kita telusuri dahulu desa ini.


Siapa tahu masih ada korban yang selamat dan membutuhkan pertolongan".


Ucapan Zidan yang begitu logis membuat Iblis manis kembali bisa berfikir dengan tenang dan menguasai dirinya dari keterkejutan.


"Benar ucapanmu Zhi, lebih baik kita bergegas".


Dengan perlahan dan tenang, ketiganya menyisir setiap lokasi desa tersebut sampai menemukan beberapa orang pemuda dan pemudi yang berlindung di bawah meja yang berada di salah satu rumah makan.


"Hmmm, syukurlah masih ada yang selamat".


Para pemuda dan pemudi yang melihat Iblis manis mendekat bersama Zidan dan Ma'ruf mulai berteriak dengan sangat kencang dan histeris.


"To-tolong jangan bunuh kami tuan, kami akan memberikan apapun yang kalian inginkan tapi tolong jangan ambil nyawaku".


"Tenanglah tenang, kami bertiga kemari datang untuk menolong kalian".

__ADS_1


Iblis manis menjelaskan maksud kedatangannya dengan tersenyum ramah agar pemuda pemudi yang masih dalam kondisi syok bisa sedikit tenang meskipun itu mustahil.


"Ti-tidak mungkin, semua orang luar yang datang kemari adalah para anggota sekte beruang salju.


Kalian pasti datang untuk membalaskan dendam! Cepat pergi biarkan kami hidup".


Masih dengan tersenyum ramah, Iblis manis menarik tangan salah satu pemuda yang berlindung di bawah meja.


"Kau tidak perlu takut, kami bukan anggota sekte beruang putih.


Kalian bisa keluar dari bawah meja itu, aku akan menjamin keselamatan kalian".


"Ke-kenapa kami harus menuruti perkataanmu, bisa saja kau membunuh kami setelah kami keluar".


Zidan yang awalnya tampak tenang kini terlihat sedikit marah melihat tingkah laku pemuda dan pemudi yang ingin Iblis manis bujuk dengan ramah.


Meskipun awalnya pemuda pemudi itu menolak, akhirnya mereka mulai tenang karena bujuk rayu Iblis manis yang sangat lembut.


Satu persatu pemuda dan pemudi yang bersembunyi di bawah meja bermunculan dengan wajah sedikit tenang.


"Baiklah, lebih baik kalian menenangkan diri terlebih dahulu.


Setelah itu kalian bisa menceritakan perihal musibah apa yang menimpa desa ini".


Air minum beserta makanan yang Iblis manis,Zidan dan Ma'ruf jadikan bekal mulai mereka berikan kepada para pemuda pemudi tersebut.


Hanya beberapa orang saja yang mau memakan makanan pemberian tersebut, beberapa bahkan ada yang memuntahkan bekal bawaan Iblis manis karena mengingat pembantaian yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.


Seorang gadis yang masih menangis tersedu sedu membuat Zidan tertarik untuk menenangkannya.


"Hei,diamlah. Para anggota sekte yang telah membantai warga desa ini telah pergi.


Kau sekarang bisa tenang dan tidak perlu khawatir karena kami ada di sini".


"Apa yang kalian ketahui tentang kami! Kalian hanya datang setelah pembantain terjadi dan memberikan beberapa makanan serta minuman lalu berlagak layaknya penyelamat".


"Hei bodoh, kau pikir kami ini penegak hukum yang akan datang setelah kau beri informasi?


Kami ini hanya pengelana yang kebetulan lewat, seharusnya kalian bersyukur karena kami datang dan memberikan makanan serta minuman kepada kalian!".


"Apa kau pikir makanan dan minuman itu membantu kami!".


Teriakan gadis itu membuat semua orang di dalam ruangan menjadi terdiam dan meliriknya.


Dengan tangan yang terus menerus menjambak rambutnya sendiri, gadis itu menangis dengan histeris sebelum kembali meluapkan emosinya kepada Zidan.


"Lebih baik kalian pergi sekarang! Semua orang luar sama saja, kalian hanya ******** yang dengan mudah membunuh orang lain.


Kalian memperkosa gadis gadis di desa ini dan membunuh beberapa dari mereka layaknya binatang! Lalu dengan tidak tahu malu kalian kemari seakan akan kalian adalah penyelamat!".


Yang Zidan rasakan saat ini adalah amarahnya begitu meluap luap, hanya saja dia sedikit memaklumi keadaan para pemuda pemudi yang tertimpa musibah itu.


"Kalian semua membunuh orang tua bahkan keluarga kami dengan tertawa!


Jika kalian ingin membunuh kami semua silahkan lakukan! Aku tidak takut, aku sudah terlanjur berputus asa.


Semua kerabat dan keluarga ku telah kalian renggut, lebih baik aku mati sekarang! Ayo bunuh aku".


Cacian yang keluar dari mulut pemudi itu sangat menggambarkan bahwa dia begitu depresi dan belum pernah melihat pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri sebelumnya.


Semua orang memandangi wajah Zidan yang kini terlihat datar tanpa ekspresi.


Dengan perlahan Zidan mendekati gadis yang masih menjambak jambak rambutnya sendiri itu.


Apa yang Zidan lakukan setelah begitu dekat dengan gadis itu membuat semua orang yang berada di ruangan menelan ludah.

__ADS_1


Bukannya memberi semangat atau menenangkan sang gadis, Zidan justru mencekik leher gadis tersebut dengan kuat sampai gadis tersebut terangkat dari lantai.


"Argh ahhhh, a apa yang kau ahh lakukan".


Dengan suara yang lirih Zidan menjawab pertanyaan sang gadis yang kini mencoba melepaskan diri dari tangan nya.


"Aku hanya membantumu, bukankah sebelumnya kau sangat ingin mati?


Aku akan mengabulkan permohonanmu, biarkan aku membuatmu mati secara perlahan lahan".


Salah seorang pemuda yang melihat apa yang di lakukan oleh Zidan, mulai berteriak dan memohon ampunan kepada Zidan.


"Tu-tuan tolong maafkan dia, biarkan dia dan kami hidup tuan.


Tolong tuan berbesar hati dan memaafkan kesalahannya".


"Apa yang kau ucapkan? Aku hanya membantunya, bukankah seharusnya kalian berterima kasih kepadaku?".


Sang gadis kembali meronta dan mencoba melepaskan tangan Zidan yang mencekik lehernya dengan sangat kuat.


"Le-lepaskan aku arghhh, aku aku tidak ingin mati argggghhh"


Pria itu sampai bersujud di hadapan Zidan dan kembali meminta agar Zidan melepaskan tangannya yang masih mencekik leher sang gadis dengan sangat kencang.


"Kau pikir aku tokoh utama di dalam komik atau novel yang suka menolong, baik hati, dan tidak sombong?".


Iblis manis yang melihat tingkah laku Zidan mulai melompat tepat di hadapan Zidan kemudian menampar wajah Zidan dengan sangat keras.


"Plaaaak!".


Suara tamparan Iblis manis membuat seisi ruangan kebingungan.


"Apa yang kau lakukan Zhi! Bukankah kau yang memberi saran agar kita menyusuri desa ini untuk mencari korban selamat dan membantunya.


Tapi lihat apa yang kau lakukan! Bahkan kau tega menyakiti seorang gadis!".


Kemarahan Iblis manis yang meluap luap membuat Zidan sedikit melunak.


"Aku hanya membantunya agar dia lebih menghargai kehidupannya, banyak orang di dunia ini yang ingin tetap hidup namun Tuhan tidak mengijinkannya.


Sebagai manusia yang masih di beri kehidupan, seharusnya dia bersyukur atas kehidupannya".


Mata Iblis manis memerah karena menahan emosi agar air matanya tidak berlinang.


"Aku tahu maksudmu! Tapi bukan begini caranya, aku benci caramu dalam menyelesaikan masalah.


Gadis ini mengalami trauma sampai depresi, seharusnya kau tahu itu dan biarkan dia melampiaskan segala amarahnya!".


Melihat Iblis manis memarahi dirinya sebelum menenangkan sang gadis yang terlihat begitu ketakutan, Zidan merasa muak dan memutuskan keluar dari ruangan tersebut dengan mendengus kesal.


"Ciiih, padahal aku hanya membantunya".


Puluhan mayat yang masih di aliri darah segar membuat Zidan merasa sedikit mual, namun Zidan malah mendekati mayat mayat yang kehilangan beberapa anggota tubuhnya.


Dengan ekspresi menahan mual, Zidan memandangi beberapa mayat yang isi perutnya terurai keluar.


"Aku harus menahan rasa mualku, aku harus terbiasa dengan bau darah dan pemandangan semacam ini.


Karena mau tidak mau, suatu saat aku pasti akan mengalami pertempuran di atas tumpukan mayat.


Sebagai seorang asassin aku harus terbiasa".


Hanya dalam beberapa hitungan menit, Zidan sudah merasa baikan dan tidak mual.


Dengan wajah yang datar tanpa memiliki ekspresi, Zidan kembali melihat beberapa mayat yang mati dengan cara mengenaskan seperti beberapa mayat yang kepalanya hancur hingga otak mereka terlihat keluar atau beberapa mayat yang kehilangan anggota tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2