
Nanda kecil yang telah membantai clannya sendiri membuat geger kekaisaran Nuswantara, semua teman teman yang tinggal di pesantren menjauhinya karena takut.
Banyak juga dari para murid pesantren yang mengejeknya dengan memberi julukan Iblis kecil atau Iblis manis.
Bertahun tahun Nanda tinggal di pesantren namun ia tidak memiliki seorang teman karena mereka semua takut,jijik bahkan waspada ketika bertemu dengan dirinya.
Selain belajar ilmu agama, Nanda biasanya membantu penjaga perpustakan di pesantren untuk merapikan buku atau kitab kitab yang di kembalikan oleh para santri.
Pada saat Nanda merapikan sebuah buku, dia tidak sengaja melihat sebuah buku kecil berwarna pink.
"Eh,buku apa ini? Seingatku novel tidak berada di tempat ini, bukankah ini tempat mata pelajaran untuk murid kelas 3?".
Nanda yang semakin penasaran mulai memungut buku itu yang berada di sela sela buku lain.
"Mitha fauzziah? I-ini bukan buku pejaran milik kelas 3, melainkan diary milik seorang santri perempuan".
Melihat buku yang ia genggam bukanlah milik pesantren atau miliknya, Nanda merasa ingin mencari pemiliknya dan mengembalikan buku itu namun dia mengurungkan niatnya karena ia sadar.
Semua orang yang ia temui jika tidak lari ketakutan maka akan mencemoohnya, Jika dia mengembalikan buku yang ia genggam maka bisa jadi pemiliknya akan membakar buku itu jika melihat yang mengembalikan buku itu adalah seorang Iblis.
"Ah,aku tak bisa mengembalikan buku ini. Kalau begitu bagaimana caranya agar buku ini kembali ke pemiliknya?".
Dalam keadaan bingung, akhirnya Nanda memotong kertas panjang dan menyelipkannya ke dalam buku kecil itu.
Kertas panjang yang Nanda buat itu mempunyai tulisan yang berbunyi(Bagi siapapun yang menemukan buku ini,tolong kembalikan kepada pemiliknya).
Setelah menyelipkan kertas panjang ke dalam buku kecil itu Nanda mencoba berjalan agak jauh untuk memeriksa apakah kertas panjang yang ia buat bisa terlihat dari jarak jauh.
Setelah memastikan kertas panjang itu bisa di lihat oleh siapapun yang memasuki ruangan perpustakaan, Nanda kembali menuju asramanya untuk beristirahat.
Setelah semalaman Nanda beristirahat,ke esokan harinya dia kembali ke perpustakaan untuk mengecek apakah buku itu sudah di temukan oleh pemiliknya atau belum.
Melihat kertas panjang yang ia buat masih melekat di buku itu Nanda merasa tidak perlu untuk mengeceknya karena sudah pasti pemiliknya belum menemukan buku itu.
Rasa penasaran ingin membaca rahasia milik seseorang membuat Nanda tidak tahan dan akhirnya kembali membuka buku kecil berwarna pink tersebut.
Alangkah terkejutnya Nanda ketika membuka halaman terakhir, di halaman tersebut ada sebuah pesan yang bertuliskan.
"Terima kasih telah membantuku menemukan buku ini, tapi buku ini sudah hilang selama berbulan bulan.
Sekarang aku sudah tidak memerlukannya, jika kau mau kau boleh memiliki buku ini".
Setelah membaca pesan dari buku itu, Nanda melepaskan kertas panjang yang sebelumnya ia lekatkan kehalaman buku tersebut dan mengeluarkan sebuah pena dari dalam kantung bajunya.
Setelah mengeluarkan pena dari dalam sakunya,Nanda bergumam sebentar untuk memikirkan balasan seperti apa yang akan ia tulis.
Ketika Nanda sudah menemukan jawabannya, tak butuh waktu lama.
Nanda pun mulai membuat pena yang berada di antara jari jemarinya untuk menari dan menggoreskan tinta berwarna hitam keatas hamparan kertas yang berwarna seputih salju itu.
"Maaf, bukannya saya menolak. Hanya saja saya merasa kurang pantas menerima barang pribadi milik seseorang seperti ini".
__ADS_1
Setelah membalas Nanda kembali pulang ke asramanya,entah kenapa hatinya berdegup kencang.
Mungkin karena ini kali pertama bagi Nanda berkomunikasi dengan seseorang yang seumuran dengan dirinya meskipun hanya lewat sebuah buku.
Hari hari mulai terlewati,tahunpun mulai berganti.
Setiap hari Nanda dan Mitha berkomunikasi lewat buku yang ia selipkan di salah satu tumpukan buku mata pelajaran di perpustakaan.
Mereka berdua berteman lewat sebuah buku, bahkan mereka sering mengganti buku karena kertas yang memuat tulisan mereka sudah penuh terisi dengan curhatan mereka berdua seperti tentang moment apa yang mereka berdua alami hari ini dll.
Mereka berdua hanya bisa berkomunikasi lewat buku karena jika mereka bertemu maka itu akan melanggar salah satu peraturan di pesantren, karena seorang lelaki dan perempuan yang bukan mukhrim atau tidak memiliki hubungan darah tidak di perbolehkan untuk menemui satu sama lain.
Nanda juga belum berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya karena jika ia mengungkapkan jati dirinya, Nanda takut Mitha akan membencinya dan berhenti membalas surat yang selalu ia tulis selama bertahun tahun.
Setelah menginjak usia 13 tahun, Nanda di nyatakan lulus dari pesantren dan baru pada saat itu lah ia berani mengungkapkan jati dirinya kepada Mitha sebelum pergi untuk meninggalkan pesantren.
Setelah lulus dari pesantren, Pria tua berjenggot putih yang tak lain adalah pemilik atau kiyai di pesantren Miftahul ulum itu menyarankan agar Nanda melanjutkan pendidikan di akademi melati biru untuk mengontrol kekuatannya jika suatu saat lepas kendali.
Tanpa pikir panjang keesokan harinya Nanda berangkat ke akademi melati biru, tapi ia tak lupa untuk berpamitan dengan teman satu satunya itu yang bernama Mitha Fauzziah meskipun hanya berpamitan lewat sebuah surat.
Setelah membuka halaman perhalaman buku kecil berwarna pink itu,Nanda terlihat mengeluarkan keringat dingin.
Karena kemarin ia sudah mengungkapkan jati dirinya dan berpamitan akan melanjutkan pendidikan di akademi melati biru.
Seperti terkena sebuah ledakan dari bom, hati Nanda meledak ketika mengetahui bahwa Mitha sudah mengetahui identitasnya sedari awal dan yang lebih membuat Nanda kegirangan sampai melompat lompat adalah ketika pesan yang di tulis Mitha juga berisikan 1 lembar foto seorang perempuan memakai niqab atau cadar berwarna hitam sedangkan hijab dan gaun panjang yang perempuan itu kenakan berwarna ungu tua.
"Aku sudah tahu siapa sebenarnya dirimu dari penjaga perpustakaan, kau tak perlu khawatir.
Aku tetap bersedia menjadi temanmu.
Ketika jauh dariku aku berharap kau tidak mendekati perempuan lain, aku memberikan 1 lembar fotoku kepadamu agar ketika aku sampai di akademi melati biru kelak kau akan mudah mencariku.
-Mitha Fauzziah
12-01-4986".
Setelah menerima dan membalas surat dari Mitha, Nanda remaja melangkahkan kakinya menuju akademi melati biru.
Sesampainya di akademi melati biru untuk mengikuti tes penerimaan akademi tersebut, semua orang yang mengetahui siapa Nanda sebenarnya mulai menjauh dan membicarakan keburukannya dari belakang.
Nanda yang saat itu baru sampai di akademi melati biru hanya bisa diam dan menerima, dia berjalan perlahan menuju ruang pendaftaran murid seorang diri dengan menunduk.
Sedangkan Ma'ruf yang berusia 15 tahun saat itu baru turun dari kereta kencana.
"Tuan muda silahkan berjalan di belakang kami untuk mendaftar".
Prajurit yang melindungi Ma'ruf untuk mendaftar kala itu berjumlah 80 orang.
Melihat setiap orang yang berbisik bisik dan menjauh ketika melihat Nanda, Ma'ruf mulai penasaran.
" Paman,siapa anak kecil itu? Kenapa setiap dia melewati sebuah rombongan maka rombongan itu akan menjauhinya?".
__ADS_1
Ketua prajurit yang mendengar pertanyaan Ma'ruf mulai sedikit khawatir, karena jika tuan muda mereka mendekati anak itu lalu terluka bisa bisa ayah Ma'ruf memotong leher mereka.
"Anu tuan muda,menurut hamba.
Tuan muda tidak perlu berurusan dengan anak kecil itu,meskipun dia masih muda tetapi sangat berbahaya jika berada di dekatnya".
Ma'ruf yang mendengar jawaban tidak memuaskan dari pengawalnya menjadi semakin penasaran.
"Apa yang kau katakan? Tolong katakan dengan jelas paman atau aku akan melapor ke ayah bahwa kalian tidak menjagaku dengan baik".
Mendengar ancaman dari Ma'ruf, para pengawal pun ketakutan dan membujuk ketua mereka untuk menceritakan siapa sebenarnya bocah yang di jauhi oleh semua orang itu.
"Maafkan kelancangan hamba Tuan muda, sebenarnya anak kecil itu adalah orang yang mempunyai julukan Iblis manis.
Dia sangat berbahaya dan mengerikan karena telah membantai ribuan anggota clannya sendiri ketika masih berusia 5 tahun".
Mendengar jawaban dari pengawalnya, Ma'ruf terdiam memikirkan perasaan Iblis manis yang menanggung beban berat seorang diri sejak berusia muda.
"Hmmm,menarik. Kalau begitu aku akan menemaninya".
Para pengawal terkejut mendengar ucapan Tuan muda mereka yang bukannya takut malah semakin ingin mendekati Iblis manis.
"Te-tetapi Tuan muda, anak itu sangat berbahaya. Jika tuan muda terluka karenanya, lalu bagaimana cara kami menjelaskannya kepada Tuan besar?".
Ma'ruf memaklumi kekhawatiran para pengawalnya,namun ia juga mengerti bagaimana rasanya menanggung beban seorang diri sejak kecil karena Ma'ruf juga seseorang yang memiliki roh Iblis di dalam tubuhnya.
"Paman penjaga sekalian tidak perlu khawatir, jika aku terluka aku akan menjelaskan dan menerima resikonya seorang diri tanpa melibatkan kalian".
"Tetap saja Tuan muda,anak itu terlalu berbahaya! Anda bisa terluka parah jika berteman dengan dia".
"Apa paman lupa? Aku juga seorang Iblis. Setelah kematian Ibu, semua orang di kota mengusir kami dan berkata bahwa aku dan ayah adalah seorang pembawa sial.
Akhirnya ayahpun menjual rumah kami dengan harga yang begitu murah lalu memutuskan membawaku untuk tinggal di atas gunung, setelah tinggal di sana beberapa bulan ayah menemukan harta karun yaitu puluhan ribu pohon besi.
Setelah ayah menjual pohon itu secara terang terangan kami berdua pun bisa menjadi salah satu pengusaha yang di segani, ketika seorang vampir yang kala itu aku kira manusia dan aku menolongnya tanpa sadar ia masuk ke dalam tubuhku hingga suatu waktu saat para perampok datang untuk membunuh ayah.
Aku berhasil membunuh ratusan perampok dengan kekuatan vampir seorang diri, paman jangan lupa ketika aku mengamuk yang bisa menekan kesadaranku agar pulih dan tidak di kuasai vampir hanyalah darah dari binatang iblis.
Jika dia memang seorang Iblis sepertiku maka sangat baik bagiku untuk berteman dengannya, jika suatu saat aku ingin menggunakan kekuatan vampir mungkin aku hanya perlu beberapa tetes darahnya agar bisa tetap sadar dan tidak kehilangan kendali atas tubuhku".
Para pengawal yang mendengar cerita Ma'ruf hanya diam, kadang mereka lupa bahwa Ma'ruf juga memiliki roh Iblis dari bangsa vampir yang Ma'ruf dapatkan ketika dia menolong seseorang yang sedang terluka di hutan belakang rumahnya namun yang Ma'ruf tolong ternyata seorang Iblis dari bangsa vampir yang sedang terluka parah karena di buru ketika pertempuran antar kerajaan sedang berlangsung.
Lalu vampir yang Ma'ruf tolong pun menyerahkan rohnya kedalam jiwa Ma'ruf.
"Te-tetap saja Tuan Mu"
Ketika ketua pengawal belum sempat menyelesaikan kata katanya, Ma'ruf membentak mereka dengan nada tinggi.
"Apa kalian lupa! Aku ini tuan kalian, anak dari pebisnis terbesar di wilayah Sumatra ini! Kalian menjadi pengawal ku untuk menuruti semua permintaanku,bukan sebaliknya.
Cepat bawakan anak kecil itu kemari!".
__ADS_1
Para pengawal yang mendengar Tuan muda mereka marah pun mau tak mau segera berlarian kearah Nanda yang tak lain adalah Iblis manis,untuk membawanya kehadapan Tuan muda mereka.
*Kalok bisa setiap episode dapet 20 like ke atas, saya bakal crazy up buat hadiah Tahun baru. Kalok bisa, kalok gabisa/gamau ya gapapa*