
Setelah selesai berkemas, Zidan melangkah keluar asrama di temani Iblis manis dan Ma'ruf.
Mereka bertiga hendak menuju kantor kepala sekolah untuk mengambil hadiah keberhasilan misi.
Di dalam kantor kepala sekolah terlihat beberapa murid yang berusia sekitar 25 tahunan berlutut di depan kepala sekolah.
Tanpa basa basi Ma'ruf bertanya kepada kepala sekolah.
"Kepala sekolah Yan, mana hadiah kami?".
Melihat Ma'ruf yang baru saja datang dan langsung meminta imbalan tanpa rasa malu, para murid senior dan beberapa junior yang baru saja datang dan berlutut mulai terpancing amarahnya melihat tingkah laku Ma'ruf.
"Oey anak muda, mana sopan santunmu? Kau datang tanpa memberi hormat maupun berlutut dan langsung meminta imbalan? Tebal sekali wajahmu".
Melihat salah satu seniornya yang sedang berlutut mencemoohnya, Ma'ruf hanya acuh tak acuh.
"Aku tak berbicara denganmu,diamlah!".
"Anak ini! Seperti nya senior ini perlu memberimu beberapa pelajaran agar kau tahu sopan santun!".
"Sudah,sudah kalian berdua diamlah. Ini 3 pil penambah stamina sesuai janjiku, terimalah dan temui penjaga Gudang senjata agar kalian bisa memilih senjata baru".
"Ya ya ya". Ma'ruf menjawab dengan santai sebelum meninggalkan ruangan kilik kepala sekolah.
Para murid sangat yang melihat kejadian itu sangat terkejut karena pil penambah stamina adalah salah satu pil langka yang memiliki harga tinggi,belum lagi ketiganya akan memasuki gudang senjata akademi dengan tingkah yang sombong seperti itu tentu saja beberapa murid senior memendam rasa iri dan benci.
Ketiganya keluar dari ruangan kepala sekolah di ikuti oleh beberapa murid senior, salah satu senior yang memiliki alis bercabang di ujungnya menahan langkah Ma'ruf dengan menarik pundaknya.
"Adik junior, kakak senior ini belum memberi mu pelajaran agar kau mengetahui sopan santun. Kenapa kau begitu terburu buru".
Wajah Ma'ruf yang biasanya terlihat ceria kini menjadi tanpa ekspresi dengan nada suara dingin dia memberi peringatan.
"Lepaskan tanganmu, atau".
Mendengar ancaman dari Ma'ruf para senior pun tertawa karena jumlah mereka 4 kali lipat dari rombongan Ma'ruf, belum lagi tahap sihir mereka lebih tinggi.
"Atau apa? Ha! Seharusnya itu kata kataku bodoh!".
Senior yang memiliki alis bercabang tanpa pikir panjang langsung melayangkan goloknya ke arah leher Ma'ruf, dengan spontan Ma'ruf menangkap golok tajam itu dengan gigi giginya sebelum menekannya hingga hancur.
Sedangkan Iblis manis dengan spontan langsung mengeluarkan sabitnya dan mengarahkannya keleher senior itu, sedangkan Zidan hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi dan memandang kelompok para senior dengan dingin.
"Enyahlah".
Hanya dengan 1 ucapan, para senior itu langsung membubarkan diri.
Sedangkan senior yang memiliki alis bercabang hanya diam ketakutan dengan celana yang perlahan mulai basah.
*********
Setelah menemui kepala sekolah, salah satu guru yang menjaga gudang pusaka milik akademi menuntun mereka memasuki gudang tersebut.
Gudang itu sangat panjang seperti lorong, setiap dinding memiliki senjata yang berada di dalam bingkai kaca.
Ketiganya berpencar dan mencari senjata yang cocok untuk gaya bertarung mereka.
Zidan yang kebingungan hanya diam di tempat dan melihat lihat,sebelum sebuah suara muncul di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Hahaha anak muda! Kenapa hanya diam? Apa yang kau tunggu".
Mendengar suara muncul secara tiba tiba dan menggema di dalam kepalanya, Zidan terkejut namun ketika ia mengingat suara itu adalah suara Pangeran Iblis.
Zidan kembali mendapatkan ketenangannya.
"Diamlah,aku sedang berfikir".
"Hahaha aku pikir kau tidak memiliki fikiran, lalu bagaimana caramu bisa berfikir?".
"Diamlah! Jangan sok akrab denganku".
"Hmmm,sangat sombong bagus bagus! Tapi apa kau lupa aku ini Pangeran Iblis! Bocah sepertimu berani beraninya membentaku!".
"Apa aku terlihat perduli?".
"Bocah sialan! Aku bangun dari tidur berniat ingin membantumu tetapi nampaknya sifatmu membuat mood ku menjadi jelek".
"O".
"Berani beraninya kau! Sudahlah, seperti nya kau tidak butuh bantuanku aku akan kembali tidur".
"Kau ingin membantuku tentang perihal apa?".
"Hahaha itu pertanyaan yang aku tunggu bocah! Sebenarnya ada sesuatu di dalam gudang ini yang membangunkan aku dari tidurku".
Menilai kata kata Pangeran Iblis yang penuh basa basi, Zidan memasang wajah tanpa ekspresi seakan akan tidak terkejut atau tertarik dengan sesuatu yang membangunkan Pangeran Iblis.
"Lalu apa dan di mana letak sesuatu yang membangunkan mu itu?".
"Hahaha, aku bisa menunjukan jalannya dan kau bisa melihat sendiri benda itu nanti".
Pangeran Iblis hanya bisa menuruti kata kata Zidan, karena jika Zidan menolak membantunya mewujudkan kembali tubuhnya atau mati sebelum tubuhnya bisa terbentuk kembali maka dia akan ikut mati dan tidak bisa bangkit kembali.
"Baiklah,aku akan mengatakannya. Sebenarnya aku merasakan kehadiran senjataku di dalam gudang ini".
"Senjatamu? Senjata milikmu maksudmu?".
"Iya,kau cukup lurus lalu belok kanan. Di dinding sebelah kiri ada katana berwarna hitam di selimuti cahaya ungu itu adalah senjata yang aku gunakan ketika sebelum mati".
"Hanya katana,apa hebatnya katanamu? Di sini juga banyak katana".
"Terserah kau saja, aku sudah memberi tahumu. Aku akan tidur kembali".
Sebenarnya mendengar suara Pangeran Iblis menjadi lesu membuat Zidan sedikit berbahagia, karena dendam dan kekesalan Zidan terhadap Pangeran Iblis belumlah sirna sepenuhnya.
Setelah berjalan cukup jauh, Zidan akhirnya menemukan Katana yang di maksud oleh Pangeran Iblis.
Warna sarungnya hitam kelam di hiasi dengan ukiran bunga tulip yang terbuat dari emas, katana nya juga berwarna hitam hanya saja memiliki aura yang menakutkan dan di hiasi oleh cahaya berwarna ungu.
Melihat senjata sebagus itu, Zidan tak mau buang buang waktu.
Zidan meletakan pedang itu di pinggang kirinya dan berjalan menuju pintu untuk menunggu Iblis manis dan Ma'ruf yang sedang sibuk memilih senjata.
"Cepat sekali Zhi, apa kau sudah menemukan senjata yang cocok denganmu".
Mendengar pertanyaan Ma'ruf, wajah Zidan terlihat tanpa ekspresi sebelum mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, setelah ini apa yang akan kalian lakukan?".
Iblis manis yang sedari awal diam kini mulai membuka mulutnya.
"Aku akan kembali ke dalam wilayah clan mawar hitam dan clan Phoenix emas untuk memeriksa sesuatu".
"Baiklah,aku bisa memahami maksud dan tujuanmu. Zhi! Apa yang akan kau lakukan setelah ini?".
Zidan yang bersandar di pintu masuk gudang senjata dengan tangan di silangkan di dada, menjawab dengan acuh tak acuh.
"Aku akan pulang,untuk menghadiri acara tahunan clan ku".
"Baiklah, sepertinya kita akan berpisah di sini! Aku juga akan kembali menuju kediaman keluargaku untuk meminta uang dan beberapa pil".
Setelah berbincang bincang ketiganya memutuskan untuk berpisah dan pergi untuk mengatasi urusan mereka masing masing.
Setelah menjelaskan tujuannya, Ma'ruf berubah menjadi ratudan kelelawar berwarna merah dan terbang menuju langit.
Di susul oleh Iblis manis yang hancur menjadi ribuan kepingan kelopak bunga mawar berwarna hitam dan mulai bergerak dengan cepat seperti di tiup oleh angin.
Sedangkan Zidan,tubuhnya tiba tiba menjadi hitam seperti bayangan setelah itu tubuhnya mulai luntur kedalam tanah layaknya tinta pena.
Menggunakan langkah bayangan untuk pergi memanglah sangat cepat dan efisien, hanya saja masuk kedalam alam bayangan juga menguras mana dan tenaga karena di dalam alam bayangan kita akan merasakan tekanan layakanya berjalan di dalam air.
Perbedaannya adalah lewat alam bayangan
Kau dapat pergi kebayangan manapun sesuka hatimu hanya dengan beberapa langkah saja, contohnya Zidan yang sedang kembali kerumahnya sendiri.
Dia cukup mencari bayangan gedung milik clannya dan muncul lewat bayangan itu.
Sesampainya di gerbang wilayah clannya, Zidan masuk melalui gerbang depan.
Ada sekitar 4 penjaga yang menjaga pintu masuk wilayah clannya, para penjaga itu memberi hormat kepada Zidan.
"Selamat datang Tuan muda pengecut hehe".
Zidan yang mendengar para penjaga meledeknya hanya menganggapi dengan acuh tak acuh dan melangkahkan kakinya menuju wilayah clan dengan cepat.
Para penjaga yang meledek Zidan termasuk hal yang wajar, beberapa penjaga bahkan berani meminta uang dan beberapa pil yang di berikan oleh Tetua Zen kepada Zidan.
Zidan sudah melaporkan masalah itu kepada ayahnya berkali kali, namun ayahnya tidak pernah menanggapinya dengan serius karena saat itu Zidan masih berusia muda.
Pemerasan dan pemalakan yang di lakukan oleh para penjaga sudah menjadi sarapan Zidan setiap hari, namun karena mengadu pun Ayahnya tidak akan percaya maka hasilnya Zidan hanya bisa menerima nasib.
Sebenarnya adik perempuan Zidan yang bernama Suci juga sering melaporkan kejadian pemalakan yang di lakukan oleh para penjaga,namun lagi lagi tetua Zen hanya menganggap ucapan kedua anaknya hanyalah omong kosong dan berfikir bahwa pil yang dia bagikan kepada kedua anak nya terlalu sedikit sehingga keduanya sering kali berbohong agar di berikan pil tambahan.
Tentu saja pikiran seperti itu bukanlah pemikiran tetua Zen sendiri, melainkan sangkalan dari para penjaga untuk mengindari masalah.
Dengan enteng mereka membela diri dan beralasan bagaimana mungkin mereka tega memalak anak kecil atau mungkin pil yang di konsumsi Tuan muda dan Nona terlalu sedikit sehingga keduanya berbohong agar tetua memberikan pil tambahan.
Mau tak mau Zidan yang sebelumnya tidak bisa mengolah sihir dengan baik hanya diam dan menerima, namun kali ini berbeda.
Tuan muda yang pengecut dan selalu di anggap sebagai sampah itu kini telah berubah, bahkan kekuatannya melebihi ratusan pemuda pemudi yang seumuran dengannya.
Setelah berjalan beberapa saat melewati para anggota clan yang menatapnya dengan tatapan jijik dan mendengar beberapa makian, Zidan akhirnya sampai di tempat yang dia sebut rumah.
Setelah mengetuk pintu, dengan spontan para pelayan membukakan pintu dan menyambutnya.
__ADS_1
Selain tetua Zen dan Suci, para pelayan yang mengurus kediaman rumah nya juga orang orang yang baik.
Alasan para pelayan baik kepada Zidan tentunya karena mereka melihat Zidan berlatih dengan giat setiap hari meskipun orang orang selalu menghina dan berkata bahwa meskipun Zidan berlatih 1000 tahun pun itu tidak akan ada gunanya karena dia memang di lahirkan dan di takdirkan untuk menjadi seorang sampah.