Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
17. Manisnya balas dendam (II)


__ADS_3

Suasana terlihat begitu mencekam,jeritan para prajurit menghiasi medan peperangan bersama tangisan setiap anggota clan Phoenix emas,kobaran api di setiap kediaman, mayat yang bermandikan darah serta hujan yang mulai perlahan turun seakan membungkam ketragisan peperangan malam ini agar tidak di ketahui oleh pihak luar.


Tetes demi tetes air hujan yang turun menciptakan genangan air berwarna merah bercampur darah dari ratusan mayat anggota clan Phoenix emas.


Setiap orang yang masih bertahan hidup kini hanya menangis mengingat setiap kejadian yang membuat mereka berputus asa karena terkena teknik aura milik Iblis manis.


Zidan yang kini menyentuh tanah dengan kaki berlutut dan 1 tangan menopang tubuhnya agar tidak terjatuh ketanah pun mulai ikut mengalirkan air mata.


Zidan mengingat masa lalunya ketika ia selalu menjadi bahan bully dan ejekan teman teman sekelasnya di dalam sekolah, bahkan para guru yang seharusnya melindungi murid pun turut serta membully dirinya dengan pandangan sinis dan tidak senang.


Kenangan itu membuatnya teringat kembali ketika ia hanyalah seorang anak yang membebani keluarga dan clan bulan sabit merah.


"A-apakah aku pantas untuk hidup? Apa alasanku untuk tetap hidup sampai hari ini? Kenapa aku lahir dengan kondisi mengenaskan seperti ini dan menjadi orang yang tidak berguna".


Ingatan tentang para tetangga yang selalu berbisik bisik ketika melihat Zidan lewat di hadapan mereka mulai muncul kembali, sikap para prajurit penjaga clan bulan sabit merah yang kasar terhadapnya juga mulai terlihat dengan jelas.


Rasa malu,takut,marah, serta kepedihan yang membuatnya berputus asa semakin mendalam dan kuat.


Sedangkan Ma'ruf yang terjatuh dari tombak miliknya hanya tertidur sembari memandangi langit, meskipun ia sudah merasakan teknik terlarang milik Iblis manis berkali kali namun tetap saja ia tidak sanggup bertahan.


Sedangkan Tetua clan Phoenix emas hanya berlutut menghadap Iblis manis, dengan tangisan dan suara yang terbata bata ia mulai mengucapkan beberapa kalimat permohonan.


"A-aku, aku menyesali ucapan dan perbuatanku.


Tolong tuan muda Iblis manis memaafkan kebodohan hamba, tolong cukup bunuh hamba dan lepaskan anggota keluarga hamba".


Ma'ruf yang mendengar ucapan tetua clan itu terlihat marah, emosinya tersulut ketika mengingat kejadian yang menimpa dirinya saat masih berusia 5 tahun.


Clan Phoenix emas membunuh ibu nya tepat di hadapan Ma'ruf kecil,kala itu orang tua Ma'ruf hanyalah seorang penjual makanan cepat saji.


Karena biaya untuk membeli kebutuhan sehari hari dan bahan pokok untuk berjualan yang kian mahal di akibatkan perang berkepanjangan yang tidak kunjung usai,


orang tua Ma'ruf tidak sanggup membayar tarif pajak yang saat itu sangat tinggi.


Gubernur yang sebelumnya ia bunuh terkenal dengan ketamakannya karena suka menarik pajak dengan harga yang tinggi kepada masyarakat tanpa pandang bulu.


Jika masyarakat tidak mampu maka istri atau anak mereka akan di rebut secara paksa untuk di jadikan sandera sampai keluarga mereka sanggup menebus atau di istri mereka akan di jual untuk jadikan pelacur.


Wajah Ibu Ma'ruf yang terkenal cantik membuat para penagih pajak yang kala itu berasal dari Clan Phoenix emas pun merebut ibu nya secara paksa.

__ADS_1


Namun karena Ibu nya tidak mau mematuhi perintah pemungut pajak dan melukai salah satu anak buah clan Phoenix emas, akhirnya clan Phoenix emas datang untuk membalaskan dendam dan memenggal kepala ibu nya di hadapan Ma'ruf kecil dan ribuan rakyat kekaisaran Nuswantara untuk memberi peringatan kepada masyarakat agar tidak lagi melawan utusan pemerintah.


Ma'ruf kecil yang kala itu masih berusia 5 tahun hanya sanggup menangis di dalam dekapan Ayahnya yang terkulai lemas, dendam dan amarah yang Ma'ruf rasakan membuatnya tak henti henti berlatih dengan giat semenjak usia belia agar kelak jika dia sudah dewasa dan menjadi kuat maka ia akan membalaskan dendamnya kepada seluruh anggota clan Phoenix emas tanpa terkecuali.


"Apakah keluargamu mengampuni nyawa ibu ku saat dia menangis dan memohon ampunan sampai bersujud kepada kalian!"


Teriak Ma'ruf menatap wajah Tetua clan phoenix emas dengan amarah yang meluap luap.


"Hamba mengerti kesalahan hamba yang lalai dalam mengatur anggota hamba tuan muda, namun hamba memohon dengan sangat agar kesatria topeng purnama dan kesatria Iblis manis berbaik hati untuk mengampuni nyawa keluarga hamba.


Jika tuan muda tidak berkenan maka cukuplah biarkan hidup keturunan kami yang masih kecil dan tidak berdosa".


Tetua clan phoenix emas menangis memohon ampunan agar Iblis manis dan teman temannya tidak membasmi seluruh anggota keluarganya, meskipun ia tahu itu mustahil namun ia tetap memohon ampun dengan bersujud.


"Jangan dengarkan ocehan dari **** tua itu Ang! Kita harus mencabut rumput sampai akar akarnya agar tidak ada lagi manusia kejam dan tidak berguna seperti mereka di dunia ini!".


Ma'ruf yang telah di butakan oleh dendam hanya ingin menuntut kematian ibu nya yang di sebabkan oleh clan Phoenix emas, karena latihan berat yang ia lakukan sedari kecil hanya untuk membumi hanguskan seluruh anggota clan Phoenix emas.


Sebelum Iblis manis sempat bertindak, 3 orang pendekar terbang kearahnya dan melindungi Tetua clan Phoenix emas yang sedang berlutut dengan ketakutan.


"Maaf,kami terlambat menyadari insiden ini Tuan".


Tetua clan Phoenix emas yang menyadari kedatangan ketiga kesatria itu mulai berdiri dan terlihat sangat kegirangan.


Kesombongannya yang mulanya padam karena rasa takut kini mulai kembali membuatnya percaya diri dan angkuh.


" Haha ha,benar ucapanmu anak kecil. Kita memang harus mencabut rumput sampai keakar akarnya agar kelak tikus tikus kecil seperti kalian tidak membuat masalah lagi".


Ma'ruf yang sudah marah kini emosinya semakin memuncak mendengar ucapan Tetua clan Phoenix emas yang sebelumnya memohon ampunan seperti tikus di hadapan harimau, kini kembali angkuh seakan akan Tuhan berpihak kepadanya.


"Tua bangka! Apa kau pikir dengan kedatangan 3 orang akan membuat hasil peperangan malam ini berubah? Sekalipun kau membawa seribu orang seperti mereka bertiga maka akan aku sapu bersih dalam sekejap!".


Salah satu kesatria membawa botol anggur mendengar ucapan Ma'ruf mulai tertawa terbahak bahak.


" Huahahaha haha, semut kecil dari pada menjadi seorang penyihir lebih baik kau menjadi pelawak. Aku sangat yakin dengan bakat omong kosongmu itu bisa membuatmu terkenal dalam sekejap".


Sedangkan tetua clan yang mendengar ucapan Ma'ruf pun ikut tertawa tanpa henti.


"Bocah bodoh apa kau tidak tahu siapa mereka bertiga ini? Mereka adalah kesatria 3 roda yang terkenal di provinsi ini,bahkan mereka bertiga sudah sampai masuk dalam tahap hampa! Aku membayar mereka untuk melindungi clan Phoenix emas miliku, belum lagi kau tahu saat aku berbicara dengan panjang lebar tadi itu hanya mengulur waktu untuk mereka bertiga agar segera sampai hahaha ha".

__ADS_1


Ma'ruf yang sebelumnya marah dengan meledak ledak kini mulai terdiam mendengar bala bantuan sudah masuk kedalam tahap penyihir hampa,perbedaan kekuatan setiap tingkat sudah begitu jauh apalagi sampai berbeda tahap.


Iblis manis yang melihat Tetua itu tertawa dengan terbahak bahak mulai sedikit geram, ia berjalan secara perlahan menuju kearah Zidan yang sedang berlutut di atas tanah dengan raut wajah keputus asaan.


Setelah mendekati Zidan ia mulai mengeluarkan sebilah sabit yang memiliki hulu(gagang) panjang berwarna hitam seperti milik malaikat kematian, terlihat dengan jelas bahwa sabit panjang itu bukanlah senjata sembarangan karena setiap Zidan bergerak bintang bintang yang menghiasi sabit itu pun seperti ikut berpindah posisi.


Iblis manis menggores jari telunjuknya dan meneteskan darah tepat kearah Masker milik Zidan.


Keajaiban pun terjadi ketika darah Iblis manis menyentuh masker yang Zidan kenakan, Gigi gigi yang awalnya hanya sebuah gambar dan hiasan kini muncul kepermukaan masker itu.


Masker itu kini terlihat hidup dan menempel di wajah Zidan, mata Zidan yang awalnya berwarna coklat terang kini berubah menjadi merah semerah darah.


Zidan mulai berdiri secara perlahan dengan satu tangan menutupi mata kirinya, suara tawa yang Zidan keluarkan sangat memekikan telinga dan terdengar mengerikan.


"Hahaha ha, huahahaha ha. Akhirnya aku kini merasakan nikmatnya memiliki tubuh sendiri".


Zidan yang sebelumnya terlihat ketakutan dan berputus asa kini mulai tertawa tidak jelas seperti orang yang sedang kesurupan.


"Jangan senang dahulu wahai Pangeran kegelapan, aku membangunkanmu untuk meminta bantuanmu".


Iblis manis menjelaskan niat dan maksud kenapa ia membangunkan Iblis yang bersemayam di dalam tubuh Zidan.


Pangeran Iblis yang mendengar suara Iblis manispun mulai menengok kearah Iblis manis dan memperhatikan kata kata yang Iblis manis ucapkan.


"Hahaha, Nona manis tidak perlu sungkan. Aku Pangeran Iblis akan dengan senang hati membantu Nona, lalu apa yang nona butuhkan?".


Iblis manis yang mendengar ucapan Pangeran Iblis menyetujui permintaanya tanpa rasa keberatan sedikitpun mulai tersenyum.


"Tolong, bunuh semua anggota clan Phoenix emas tanpa terkecuali. Jangan biarkan satu pun dari mereka selamat meskipun itu hanya seorang anak kecil atau perempuan, sedangkan 4 orang yang berdiri di sana biar aku hadapi bersama Ma'ruf".


Iblis manis memberikan perintah seraya menunjuk Tetua Clan Phoenix emas bersama ketiga kesatria nya agar Pangeran Iblis tidak menyentuh mereka berempat.


Sedangkan pangeran Iblis yang mendengar permintaan Iblis manis pun mulai kembali tertawa dan mengeluarkan dua bilah pedang berwarna biru dan merah.


Pedang biru yang berada di tangan kiri Pangeran Iblis terlihat memiliki uap dingin dan memancarkan warna biru putih dengan terang sedangkan pedang yang berada di genggaman tangan kirinya mengeluarkan uap panas serta lahar yang menetes ketanah sampai membuat genangan air di bawahnya bergemuruh dan pedang itu juga berpendar dengan terang namun cahayanya berwarna merah kekuningan.


"Entah kenapa kau selalu baik padaku Nona manis, kau membangunkanku dan memberikanku tugas untuk makan besar tentu saja aku harus berterima kasih. Belum lagi kau selalu menjaga tubuh anak ini agar tidak terancam bahaya, aku sangat tenang dan berterima kasih padamu. Kalau begitu, sekarang waktunya makan besar! Hiyaaa".


Teriak Zidan yang kesadarannya kini di ambil alih oleh roh yang selama ini bersemayam di dalam tubuhnya dan mempunyai julukan "Pangeran Iblis".

__ADS_1


__ADS_2