Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
39. Cinta dan Rindu.


__ADS_3

Dada Wulan yang begitu besar dan seakan akan lembut jika di remas membuat Zidan mulai kehilangan kewarasan ketika melihatnya.


Nafas yang Zidan keluarkan mulai terasa berat dan suhu badannya naik,sedangkan Wulan yang tertawa kecil mendekati wajah Zidan dengan perlahan.


"Tuan muda, anda tidak perlu malu malu.


Bukankah kita ini calon sepasang suami istri".


Meskipun Zidan menelan ludah beberapa kali, tapi kelihatannya Zidan mampu menekan keinginannya untuk menyentuh tubuh Wulan.


"Di-diamlah!".


Dengan perlahan tapi pasti, Wulan mendekatkan bibirnya tepat ke arah bibir Zidan dengan mata terpejam.


Entah mengapa yang muncul di bayangan otak Zidan kini adalah Iblis manis, bayangan tentang ciuman pertama yang mereka lakukan muncul begitu saja di dalam ingatan Zidan.


Ingatan sekilas itu membuat Zidan tidak lagi memiliki nafsu untuk menyentuh tubuh Wulan.


Zidan menutup bibir Wulan yang semakin mendekat dengan telapak tangannya, wajah Zidan yang semula memerah kini kembali menjadi wajah yang datar tanpa ekspresi.


"Pergilah, apa kau tidak malu dengan apa yang kau lakukan? Sebagai seorang wanita seharusnya kau bisa menjaga kehormatanmu.


Tapi lihat apa yang kau lakukan, bukan hanya ingin melakukan dengan orang yang pertama kali kau temui.


Kau bahkan berani memaksa terlebih dahulu, pergilah! Tingkah lakumu yang murahan membuat ku merasa jijik".


Wulan yang semula memejamkan mata dan bersiap melakukan ciuman pertama dengan Zidan menjadi sangat terkejut.


Ekspresi jijik,marah namun terlihat mengasihani orang yang di tatapnya terlihat jelas di wajah Zidan.


"Tu-tuan muda, a aku tidak bermaks-".


"Diam! Cepatlah pergi dari hadapanku!".


Aura yang sangat mengintimidasi dan menakutkan mulai mengelilingi tubuh Zidan, Wulan yang baru pertama kali terkena aura milik Zidan pun mundur beberapa langkah dengan air mata yang terus mengalir di sertai keringat dingin.


Tentu saja aura yang Zidan pancarkan membuat Wulan mau tak mau harus pergi menjauginya dan kembali berkumpul dengan anggota keluarganya yang lain.


Malam itu pesta begitu meriah, anggota clan bulan sabit merah yang telah bekerja dengan keras menyiapkan acara pertunangan dadakan Tuan muda mereka terlihat tertidur pulas di lantai ruang tamu.


Sedangkan anggota clan daun gugur sudah menarik diri dan kembali kedalam wilayah kediaman mereka.


Di tengah perjalanan tetua Ming terlihat keheranan melihat kondisi putrinya yang berkeringat dingin dan terus menerus menangis.


"Putri ku, kenapa kau menangis dan terlihat sangat ketakutan? Apakah kau berhasil menggoda Tuan muda Zidan.


Apakah dia melakukan hal yang tidak tidak terhadapmu? Jika iya maka benar firasatku! Anak tetua Zen menolak hanya karena ingin di hormati!


Dia sama saja dengan Tuan muda binatang clan lain! Kita harus membatalkan pertunangan ini secepatnya".


Dengan malu malu Wulan mulai memberanikan diri untuk membuka mulut.


"Ti-tidak Ayah, Tuan muda tidak menyentuhku sama sekali meskipun aku telah menggodanya.


Hanya saja".


"Mana mungkin dia tidak menyentuhmu Nak? Pakian mu yang berantakan saja sudah bisa menunjukan bahwa dia telah melakukan sesuatu layaknya binatang terhadapmu".


Derris yang sedari tadi melamun mulai tidak bisa menahan diri untuk ikut berbincang dan memberikan pendapat.


"Ayah, dengarkanlah dahulu penjelasan Wulan. Aku yakin aku tidak salah memilihkan Tuan muda Zidan sebagai pasangannya".


"Jika dia tidak melakukan apapun, maka cepat katakan apa maksudmu dari kalimat hanya saja! Kau tidak perlu khawatir nak! Apabila Tuan muda brengsek itu berani menyentuh mu, aku akan kembali ke kediaman clan bulan sabit merah dan memenggal kepalanya!".


"Ti-tidak Ayah,jangan.


Tuan muda Zidan bukan hanya tidak menyentuh ku, bahkan dia berkata aku wanita murahan dan memandangiku dengan tatapan jijik.


Tidak hanya itu, bahkan dia menggunakan semacam aura yang sangat menakutkan agar aku menjauhinya dan terpaksa kembali bergabung dengan kalian.


Rasa takut yang aku rasakan saat itu masih terasa hingga saat ini".

__ADS_1


Mulut tetua Ming terbuka sangat lebar mendengar penjelasan putrinya, apabila ada seorang gadis cantik yang menggoda seorang pria dan pria itu menolaknya maka hanya ada 2 kemungkinan.


Kemungkinan pertama pria itu sudah memiliki istri atau pasangan yang sangat dia cintai.


Kedua,pria itu memiliki kelainan seksual.


Itu lah yang kini tetua Ming tangkap setelah mendengar penjelasan putrinya.


"A-apa telingaku rusak?".


"Haha ha, tidak Ayah.


Kondisi telingamu baik baik saja, bagaimana Ayah? Sepertinya calon menantu yang aku pilihkan sangat sesuai dengan kriteriamu".


Tetua Ming yang sebelumnya sangat terkejut dan terlihat tidak percaya mulai bisa mengendalikan emosinya.


"Benar hmmm, selama ini Ayah menyuruh mu agar menggoda setiap Tuan muda yang melamarmu.


Jika mereka termakan godaanmu maka Ayah akan memberi mereka pelajaran dan menolak lamaran mereka.


Semua itu Ayah lakukan agar kau bisa mendapatkan seorang pria sejati yang benar benar mencintaimu, meskipun dia di goda oleh wanita yang lebih cantik darimu dia akan tetap setia.


Hari ini sepertinya aku menemukan calon suami yang sangat cocok untukmu putriku, bagaimana menurutmu jika kau menikah dengan Tuan muda Zidan.


Apakah kau setuju?".


Pertanyaan tetua Ming membuat Wulan sedikit terkejut, karena selama ini tetua Ming sangat menentang hubungan yang Wulan jalin dengan seorang pria meskipun Wulan menyukai pria tesebut.


Namun kali ini, ceritanya sedikit berbeda.


"Ba-baik Ayah, aku sangat setuju.


Sebenarnya penolakan dan sifat dingin yang Tuan muda Zidan tunjukan telah berhasil membuat ku jatuh hati padanya".


Gumam Wulan dengan sedikit malu malu karena baru kali ini dia berkata jujur di depan Ayahnya.


"Haha ha ha, baiklah putri ku.


Hmmm, sepertinya persepsi buruk ku mengenai anak tetua Zen salah besar".


Suasana di kediaman clan daun gugur yang begitu ramai setelah rombongan yang menghadiri pesta pertunangan putri mereka tiba, berbanding terbalik dengan suasana tenang di dalam wilayah clan bulan sabit merah.


Zidan yang sedari tadi mencoba berlatih teknik pedang buah kematian mulai kehilangan konsentrasi dan gagal berkali kali.


"Kenapa dari tadi aku tidak bisa berkonsentrasi?


Kenapa wajah Iblis manis selalu muncul di dalam ingatanku! Sial".


Meskipun tengah bingung dan tidak mengerti alasan wajah Iblis manis selalu muncul di ingatannya dan membuat konsentrasi nya berantakan.


Zidan masih tetap berlatih dengan gerakan yang terlihat tidak bertenaga dan kacau.


"Kenapa rasanya aku ingin sekali bertemu dengan Iblis manis? Apa yang salah denganku".


Karena merasa tidak bisa berkonsentrasi dan terus terbayang wajah Iblis manis.


Zidan pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk beristirahat.


"Baiklah,besok aku akan kembali ke akademi dan menemuinya".


Pagi yang cerah di sambut dengan riang oleh beberapa ekor burung yang berkicau dengan anggun, suasana kediaman clan bulan sabit merah mulai terlihat ramai.


Banyak anggota dari kediaman keluarga cabang clan bulan sabit merah lain yang memutuskan untuk mengabdi dan bergabung di bawah pimpinan tetua Zen setelah bisnis pil melonjak dengan cukup pesat.


Dengan wajah yang sedikit kebingungan karena melihat banyaknya anggota baru yang berlalu lalang di kediamannya, Zidan mulai bertanya kepada tetua Zen.


"Ayah, kenapa banyak sekali anggota baru?".


"Hoho, ini semua berkatmu nak.


Ayah pun sedikit terkejut karena banyak dari keluarga cabang yang membubarkan diri dan memutuskan mengabdi kepada keluarga kita".

__ADS_1


"Pantas saja semua orang terlihat sangat sibuk hari ini, oh iya Ayah.


Sebenarnya tujuanku datang kemari adalah untuk berpamitan denganmu".


"Kenapa tiba tiba sekali? Bukankah kau sebelumnya berkata ingin tetap tinggal di rumah dan akan kembali ke akademi sehari sebelum turnament?".


"Sebenarnya aku juga berfikir seperti itu sebelumnya Ayah, tapi entah kenapa aku sangat ingin menemui seseorang dan bayangan wajah orang itu terus menghantui fikiranku.


Sampai sampai aku tidak bisa fokus dalam berlatih maupun berkonsentrasi".


Mendengar Zidan mengucapkan masalah yang dia hadapi dengan mimik wajah kebingungan membuat tetua Zen tertawa terbahak bahak.


"Nak, sepertinya aku salah menilaimu.


Aku pikir kau mempunyai kelainan karena menolak lamaran gadis tercantik dari clan daun gugur.


Ternyata aku salah dan sepertinya kau telah terkena penyakit mala rindu".


Ekspresi Zidan yang kebingungan menjadi sangat polos ketika kedua alisnya berkerut dan menyatu.


"Mala rindu? Penyakit apa itu Ayah, aku bahkan belum pernah mendengarnya.


Apakah itu berbahaya?".


"Hoho ho tentu saja penyakit itu sangat berbahaya bahkan beberapa orang menjadi gila karena tidak bisa menahan rasa rindu nya.


Sangat wajar apabila kau belum pernah mendengar penyakit itu karena selama ini kau selalu diam di dalam rumah".


Penyakit mala rindu yang semula Zidan anggap sepele dan acuh tak acuh kini membuat Zidan sedikit ketakutan setelah mendengar bahwa seseorang bisa menjadi gila jika terkena penyakit tersebut.


"A-ayah, bagaimana cara menyembuhkan penyakit itu? Aku masih muda Ayah, aku tidak ingin gila.


Jalanku masih panjang".


"Kau tidak perlu sepanik itu, cara yang paling ampuh untuk mengobati penyakit mala rindu adalah bertemu dengan orang yang kau rindukan hoho".


Jawaban tetua Zen yang sangat simpel itu malah membuat Zidan semakin kebingungan, mana mungkin penyakit yang sangat mengerikan bahkan bisa membuat orang kehilangan kewarasan bisa di sembuhkan hanya dengan bertemu.


"Kalau begitu, aku cukup kembali ke akademi dan bertemu dengannya?".


Dengan pandangan sayup seperti sedang mengingat sesuatu, sesekali tetua Zen menghisap asap sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Untuk saat ini kau cukup menemuinya,


Lain kali kau harus bisa menemukan dirinya di setiap hembusan nafasmu.


Karena kita makhluk hidup yang suatu saat pasti akan bertemu dengan ajal dan kematian.


Ingatlah ini anak ku, Rindu bukanlah tentang seberapa jauh jarak dan lama nya waktu yang memisahkan.


Melainkan, seberapa besar keinginan untuk bersama".


Meskipun tidak terlalu mengerti maksud dari ucapan Ayahnya, Zidan tetap mengingat kalimat yang Ayah nya ucapkan dan berusaha agar tidak melupakannya.


"Baiklah Ayah, kalau begitu aku akan kembali ke akademi.


Tolong Ayah jangan terlalu keras dalam bekerja maupun berfikir dan jagalah kesehatanmu Ayah.


Assalamu 'alaikum".


Ucap Zidan dengan mengecup kedua tangan Ayahnya sebelum menghilang masuk ke dalam dunia bayangan.


"Wa 'alaikumus sallam nak".


***********


Saya cuman mau ngucapin terima kasih buat yang udah ngelike dan ngevote, sebenernya beberapa hari yang lalu saya sempet berfikir buat gak nglanjutin novel ini karena sepi peminatnya.


Malah ada beberapa orang goblok yang masih aja ngelike sama ngevote mana ngevote nya pakek coin lagi, saya kan jadi gak tega dan akhirnya yah saya bakal ngelanjutin novel ini selama masih ada yang mau baca.


Kamsahamida buat kalian yang udah mau ngelike maupun coment, terutama buat mereka yang udah bersedia ngevote novel ini karena kalianlah novel ini masih lanjut sampai sekarang. ^^

__ADS_1


__ADS_2