
Gerbang SMA Melati Biru mulai terlihat agak sepi di bandingkan hari kemarin meskipun tetap sedikit ramai oleh para orang tua dan calon murid murid baru.
Zidan hanya bersama adik perempuannya mendaftar masuk akademi Melati Biru, namun seperti biasa orang orang di sekitarnya memandangi dirinya dengan tatapan jijik bahkan beberapa mencemoohnya tanpa rasa bersalah.
"Bukankah itu anak ketua clan bulan sabit merah? Dengar dengar dia adalah anak cacat yang hanya masuk tahap pasir tingkat 1,meskipun usianya kini telah menginjak 17 tahun".
" iya itu memang dia, meskipun wajahnya tampan namun sangat di sayangkan bahwa dia hanyalah anak yang tidak berguna!".
"Menurutmu kenapa dia datang kemari? Bukankah syarat utama untuk masuk dalam akademi Melati biru harus masuk tahap bumi tingkat 8 sebelum berusia 20 tahun?".
" Ya,itu memang benar. Menurutku dia kemari hanya untuk mengantar adiknya si jenius putri es".
Meskipun banyak orang yang melirik dirinya dengan tatapan tajam sembari mencibir.
Zidan tampaknya tenang tenang saja,wajahnya yang tampak tidak berekspresi serta mata sayupnya terlihat begitu menggambarkan sikap dewasa.
Setelah sampai pada gedung pendaftaran, ruangan itu di penuhi oleh murid murid baru yang sedang bertanding.
Beberapa guru pun terlihat begitu sibuk,sampai seorang pria tua dengan rambut putih menghampiri Zidan.
"Ughuk ughuk, anak muda kemarilah".
" iya tuan" sahut Zidan sambil menarik lengan adiknya untuk mendekati orang tua itu.
"Apa kau sudah mendapatkan plakat dan kartu calon siswa?". Tanya orang tua itu dengan tenang.
" iya tuan,aku dan adik ku sudah mendapatkan kartu calon siswa dan bersiap untuk mengikuti tes penerimaan murid baru" ucap Zidan dengan wajah tanpa ekspresi.
Semua orang yang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Zidan mulai tertawa terbahak bahak sampai 1 ruangan penerimaan murid baru di penuhi dengan gelak tawa.
"Bukankah itu anak Tetua clan bulan sabit merah yang terkenal karena bakat sampahnya? Wkwkwk" ucap seorang siswa berambut merah darah sembari memegang perutnya karena tertawa hingga perutnya terasa sakit.
"Sampah sepertimu berharap bisa masuk dan menjadi siswa Melati Biru? Bahkan di dalam mimpiku yang terliarpun aku tidak sanggup membayangkannya". Sahut siswa lain.
"DIAM!!" Bentak orang tua berambut putih itu,wajahnya terlihat merah padam.
"Anak muda, aku adalah kepala sekolah SMA Melati Biru. Namaku adalah Tyan,orang biasa memanggilku kepala sekolah Yan atau Tetua Yan." ucap orang tua berambut putih itu dengan tersenyum.
Semua orang yang mendengar ucapan orang tua itu hanya diam tertegun,karena mereka tau kepala sekolah SMA Melati Biru yang di juluki sang Elang pengembara tidak pernah muncul di sekolah kecuali hari hari tertentu jika ada masalah yang sangat berat.
Belum lagi, rumor yang beredar mengatakan bahwa sang Elang pengembara telah membunuh banyak pasukan kerajaan lain seorang diri dan tempramennya yang mudah emosi membuat siapapun begidik ketakutan ketika mendengar namanya.
"Maafkan saya kepala sekolah, saya tidak mengenali orang sehebat anda dan bertindak kurang pantas" sahut Zidan tetap dengan wajah dingin.
"Baiklah,masuk ke dalam arena pertarungan nomor 3. Bagi siapapun yang ingin menjadi lawannya silahkan maju". Ucap kepala sekolah itu dengan keras.
" Maaf,kepala sekolah. bukankah syarat agar di terima sebagai murid SMA Melati Biru adalah masuk ke tahap bumi tingkat 8?".
Balas Zidan dengan sedikit keheranan.
"Itu hanya salah satu syaratnya anak muda, syarat lainnya adalah para calon murid harus bertarung satu sama lain.
Kelas di bagi menjadi beberapa tingkatan yaitu A,B,C,D,E, dan F. Bagi mereka yang tidak pernah menang dalam bertanding maka gugur dan bisa pulang.
Bagi mereka yang menang sekali maka bisa masuk dalam kelas F.
Bagi yang bisa menang sebanyak 6 kali akan di tempatkan di kelas A".
__ADS_1
" Tapi,kepala sekolah. Bisakah saya masuk tanpa harus bertarung?". Sahut Zidan.
"Apakah kau tidak dengar yang baru saja aku katakan bocah kecil! Jika ingin di terima maka harus bertanding.
Jika kau takut lebih baik pulang dan kembali meminum ASI ibumu!".
Teriak orang tua itu dengan wajah mengancam dan aura yang menakutkan mulai mengelilingi tubuhnya.
"Bukan begitu kepala sekolah, saya hanya takut akan ada korban. Ilmu yang saya pelajari adalah ilmu untuk membunuh bukan ilmu untuk bertanding maupun untuk berbangga diri dan beradu kekuatan".
Sahut Zidan dengan wajah tanpa ekspresi dengan tatapan mata yang sangat tajam meskipun sayup.
"Lancang sekali kau sampah! Apa kau tidak sadar diri? Dirimu hanyalah anak cacat yang berada dalam tahap pasir tingkat satu! Kemarilah pecundang! Akan kupatahkan kedua tangan dan kakimu agar lidahmu tidak sesombong itu lagi!".
Teriak pemuda berambut merah sambil melompat ke arena nomor 3 sembari menunjuk nunjuk Zidan.
"Bukankah itu si Leo? Dengar dengar dia sudah masuk tahap batu tingkat satu dalam umur 18 tahun?". Ucap salah satu murid.
"Iya benar,dia adalah seorang jenius. Bahkan dia sudah menang 5 kali dan semua murid yang dia lawan mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya".
"Aku jamin anak Tetua clan bulan sabit merah pasti akan mati,kasihan sekali dia".
"Iya meskipun dia anak yang cacat dalam bakat seni sihir,namun menurutku dia lumayan tampan".
"Sayang sekali dia tidak tahu posisi dan cara mengolah kata katanya dengan baik".
Para murid mulai saling berbisik tentang kemalangan yang akan di hadapi Zidan karena harus berurusan dengan murid berbakat yang sangat mengerikan seperti Leo.
"Kenapa hanya diam pecundang? Apa kau ketakutan sampai tidak bisa bergerak? Tenang saja,setelah kau menjadi lumpuh aku akan menggantikanmu untuk menemani adikmu yang sexy dan cantik itu di sekolah" gertak Leo dengan lidah menjilat bibirnya dan menatap Suci yang berdiri di belakang Zidan.
Mendengar adiknya di lecehkan di hadapannya, Zidan yang mulanya terlihat acuh tak acuh melompat ke arena dengan wajah tanpa ekspresi namun tatapannya terlihat jelas bahwa dia ingin membunuh siapapun yang berada di hadapannya.
"Baik kepala sekolah, untuk para calon murid yang akan berduel di perbolehkan memakai sihir dan senjata.
Untuk menentukan pemenang,
Murid harus menjatuhkan lawan hingga keluar arena. Bisa juga dengan membuat lawan tidak bisa bergerak atau mengakui kekalahan maka dia akan di anggap sebagai pemenang.
Dalam duel satu lawan satu, akan di beri penghalang agar pihak luar tidak bisa ikut campur". Ucap wasit dengan melambaikan tangan ke atas sebelum melompat kezona aman dam mulai membuat penghalang.
"Wasit, apakah benar tidak akan ada yang mengganggu duel kami?" ucap Leo dengan seringai di wajahnya.
"Ya benar,tidak akan ada yang bisa menghentikan pertandingan sampai pemenangnya bisa di tentukan". Balas sang wasit.
"Apa kau dengar anak cacat? Jika kau berlutut dan mencium sepatuku maka aku mungkin akan mengampunimu dan hanya mematahkan beberapa jarimu".
Gertak leo dengan wajah meremehkan.
"Jangan banyak bicara,cepat mulai". Jawab Zidan dengan eskpresi dingin.
Mendengar ucapan yang di lontarkan Zidan, emosi Leo memuncak. Dia mengumpulkan semua mana yang berada di sekitar tubuhnya untuk membuat sebuah api menylimuti tinjunya.
Hanya dalam beberapa lompatan dia sudah berada di hadapan Zidan dengan tinju kanannya yang di balut oleh api merah.
Zidan yang awalnya berdiri tegak kini menarik kaki kirinya kebelakang membuat tubuhnya condong ke depan dan bertumpu kepada kaki kanannya.
Dia memejamkan matanya sambil mengucapkan kalimat " Jurus buah kematian,langkah pertama" dengan wajah tanpa eskpresi.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar kalimat dan apa yang di lakukan Zidan tertawa terbahak bahak sambil menunjuk nunjuk Zidan.
"Wkwkwk apakah anak itu terlalu takut menghadapi tinju api milik Leo hingga menutup matanya dan tidak mengindar?".
" Hahah hahaha, si cacat ini memakai jurus tingkat bawah buah kematian pffft.
Lelucon macam apa ini,jurus yang bahkan para petani pun tidak akan mempelajarinya karena terlalu lemah dan gerakannya terlalu mudah di baca dia gunakan dalam arena wkwkkwwk".
Setelah pukulan hampir mengenai dada Zidan, Zidan kembali ke posisi awal berdiri tegak.
Lalu membuka matanya.
Orang orang yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa terbahak bahak,namun tiba tiba Leo yang sedang terbang mengarahkan tinjunya ke Zidan jatuh kelantai dan kepalanya terputus hingga terlempar keluar arena.
Semua tawa yang awalnya mengisi seluruh arena kini hening dalam diam, mereka terkejut dan takut.
Bahkan beberapa siswa mulai memuntahkan isi perutnya melihat adegan mengerikan itu,semua siswa terpatung di iringi rasa takut yang menylimuti dirinya.
Mereka semua bingung,pikiran mereka kacau melihat kejadian di depan mereka.
Zidan yang menurut mereka hanya menarik kaki kirinya dalam posisi menyerang lalu menyentuh pedangnya dan langsung kembali ke posisi awal bagaimana mungkin bisa membunuh leo yang sedang berada di udara.
Semua orang yang melihat sangat yakin bahwa Zidan hanya menyentuh gagang pedangnya dan tidak mengeluarkannya sama sekali namun bagaimana bisa memenggal kepala seseorang?
Pikiran semua orang menjadi kacau bahkan kepala sekolah hanya diam tertegun memikirkan ucapan muridnya tentang kekuatannya hanya di gunakan untuk membunuh bukan untuk pamer, dia mulai menyesalinya lalu menunduk sampai suatu teriakan membuatnya sadar.
"Kyaaaa" teriak Suci sambil jatuh ketanah karena melihat adegan yang mengerikan.
Satu persatu teriakan mulai memenuhi keheningan gedung penerimaan siswa.
Zidan hanya tetap berdiri di panggung menunggu lawan selanjutnya.
Jutaan orang tidak menyadari,kecuali Zidan.
Bahwa dia menggunakan jurus mata terkutuk untuk menghentikan waktu beberapa saat lalu menggunakan langkah kegelapan untuk masuk kedalam bayangan milik Leo dan mengakhirinya dengan jurus buah kematian.
Ketika Zidan menggunakan jurus mata terkutuk, semua berhenti selama 30 detik bahkan bayangannya sendiri pun berhenti.
Semua yang semula di penuhi warna cerah,ketika dia menggunakan jurus mata terkutuk menjadi hanya beberapa warna yaitu Hitam,abu abu dan putih.
Efek samping dari mengkombinasikan 3 jurus sekaligus dalam waktu bersamaan adalah penggunaan mananya terlalu banyak dan itu membuat tubuhnya lemas dan menjadi pucat.
"Pemenangnya adalah calon siswa bernama Zidan, dari pihak kiri". Teriak sang wasit dengan terbata bata.
" Bagi murid yang memenangkan pertandingan sebelumnya silahkan maju". Lanjut kepala sekolah Yan.
Namun para murid kini hanya diam menggigil ketakutan melihat Zidan yang terlihat santai setelah membunuh.
"Baiklah,jika para pemenang sebelumnya tidak ada yang berani maju maka poin mereka akan di berikan kepada Zidan dan secara otomatis dia akan masuk ke dalam kelas A". Teriak kepala sekolah.
"Untuk para pemenang pertandingan silahkan melewati pintu selatan untuk mengecek tahap tingkatan sihirnya, bagi yang belum sampai pada tahap bumi tingkat 8 boleh pulang". Sahut guru lain yang menyaksikan pertandingan itu.
Zidan melangkah turun dari arena,dia mendekati adiknya yang masih ketakutan.
Dengan lembut dia menyentuh rambut adiknya lalu berkata " Uchi,tenang. Semua udah baik baik aja. Sekarang giliran Uchi naik. Azhi tungguin terus kita nanti masuk ke pemeriksaan tingkat sihir bareng".
Zidan yang berkata dengan suara lembut dan wajah yang di hiasi senyuman membuat adiknya mulai berdiri perlahan dan mulai memasuki arena.
__ADS_1
Semua orang yang tau bahwa Suci adalah adik dari Zidan merinding dan ketakutan karena Zidan menatap setiap orang yang akan melangkah melawan adiknya menjadi mengurungkan niatnya dan begitulah Suci bisa masuk ke kelas B tanpa harus bertarung.
Suci mulai berjalan bersama Zidan menuju ruangan yang di sebut "Ruangan pemeriksaan mana" untuk melihat tahap sihir seseorang.