Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
9. Bertaruh menggunakan nyawa.


__ADS_3

setelah pelajaran usai tepat jam 3 sore, Zidan pergi ke gedung milik para penyihir untuk mencari adiknya.


Sedangkan iblis manis langsung menuju ruangan club keputus asaan.


"Ang, Zidan kemana?" Ma'ruf bertanya kepada pemuda yang di juluki iblis manis,namun pemuda itu hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab dan langsung menuju tempat duduknya.


Melihat tingkah laku pemuda itu Ma'ruf yang biasanya ceria dan penuh gelak tawa mulai terlihat geram, tanpa pikir panjang Ma'ruf mendekati pemuda itu dan langsung merampas smartphonenya.


Pemuda itu terkejut namun tetap terlihat tenang, ia mulai mengarahkan pandangannya secara perlahan menuju Ma'ruf hingga kedua mata mereka saling bertemu dan beradu pandangan.


Cuaca yang awalnya cerah kini mulai terlihat mendung dan mulai gerimis, pemuda itu menatap wajah Ma'ruf dengan tatapan kosong dan sayup.


Aura pembunuh mulai menylimuti tubuhnya, mana berwarna hitam dan putih keperakan keluar dari sela sela jubah yang ia kenakan.


Dimas,Dian dan Made yang melihat kejadian itu mulai saling memandang satu sama lain.


Tak hanya itu, perasaan intimidasi yang sangat menakutkan membuat mereka bertiga saling berpelukan dan menjauh dari meja menuju pintu seperti hendak kabur.


Seakan tak mau kalah,Ma'ruf yang biasanya terlihat ceria di penuhi tawa kini terlihat serius.


Ia ikut mengeluarkan hawa pembunuh dan mana berwarna biru ungu mulai menyelimuti sekujur tubuhnya sebelum ia kembali bertanya.


"Oey Ang, kita berteman sudah bertahun tahun. Kejadian itu pun sudah lewat beberapa tahun yang lalu, tapi kenapa kau tetap menganggapku seolah olah tidak ada!"


Teriak Ma'ruf dengan mata melotot.


"Lalu,apa maumu?" jawab pemuda itu dengan dingin, suaranya yang lembut namun tanpa ekspresi membuatnya seolah olah tidak mempunyai masalah satu pun di dalam hidupnya.


Kedua orang yang hendak bertarung itu terlihat begitu santai, sedangkan ketiga orang yang berdiri di dekat pintu saling berpelukan mulai terjatuh satu persatu karena tertekan oleh aura yang di pancarkan Ma'ruf dan pemuda berkerah tinggi dan memakai kacamata.


"Jika kau merasa jantan, mari kita selesaikan menggunakan cara lama". Bentak Ma'ruf dengan nada tinggi.


" Oh? Apa untungnya bagiku?" jawab pemuda itu dengan tenang.


"Jika aku menang, kau akan menjadi pelayan pribadiku dan harus menuruti semua perkataanku!". Tantang Ma'ruf dengan wajah percaya diri.


" Jika kau kalah?".


"Aku akan keluar dari akademi Melati biru ini dan tidak akan mengikuti atau mengganggumu lagi".


"Kalau begitu,ini sia sia bagiku".


"Lantas apa yang kau inginkan?".


"Kau cukup bunuh diri dan menggantung kepalamu di depan pintu masuk SMA ini selama satu minggu" sahut pemuda itu dengan dingin.


"Baiklah,jika memang itu maumu. Aku tidak keberatan". Jawab Ma'ruf dengan sedikit rasa bersalah.


Ma'ruf mulai mengangkat tangannya dengan tinggi, sedangkan salah satu kakinya berada di atas meja.


Tangan kanan Ma'ruf yang menggenggam terlihat mengeluarkan beberapa kilatan cahaya petir.


Sedangkan pemuda itu menarik pergelangan tangan kanannya hingga sejajar dengan bahu miliknya, mana putih keperakan dan hitam menylimuti setiap bagian tubuhnya dengan tebal.


Sedangkan Dimas,Dian dan Made yang melihat kejadian itu kini bertambah panik dan mulai berkeringat.


Ke tiganya berpelukan dan bersender pada pintu masuk club, ketiganya terlihat pucat seakan akan mereka akan meledak namun karena tekanan dari aura milik Ma'ruf dan pemuda berkerah tinggi membuat mereka bertiga tidak sanggup berbicara apalagi melarikan diri.


Suara sambaran petir terdengar keras,kilatan cahaya putih dan ungu bertabrakan.


Hanya dalam waktu kurang dari 3 detik, Ma'ruf berhasil mengalahkan pemuda itu.


Ma'ruf tertawa dengan keras,ia merasa sangat bahagia dan beruntung karena mengeluarkan batu.


Jika saja ia lebih memilih mengeluarkan kertas,mungkin kepalanya akan terpisah dari lehernya dan menjadi bahan tontonan ribuan orang.


Pemuda yang dingin itu hanya memandangi jari jarinya, ia seakan akan tidak percaya karena telah salah karena memilih gunting.


Sedangkan 3 orang yang duduk bersandar pada pintu hanya sanggup melotot melihat kejadian yang baru saja mereka saksikan, mereka merasa sangat bodoh dan tidak percaya karena telah takut terhadap 2 orang yang sedang bermain batu gunting kertas untuk taruhan.


"Ha ha ha, Ang apa kau mulai menyesali keputusanmu karena telah menerima tantanganku? Jika iya maka itu sudah terlambat huahaha ha" Ucap Ma'ruf dengan bangga sembari tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sebagai pelayanmu?". Tanya pemuda itu dengan wajah menunduk di hiasi tatapan sayup.


"Tugas pertama yang akan aku berikan kepadamu mungkin akan terasa berat bagimu". Jawab Ma'ruf dengan ekspresi terlihat sedih.


" Apa itu?" sahut si Pemuda sembari mendongakan kepalanya kearah Ma'ruf hingga mata keduanya kembali saling berpandangan.


"Tugas pertamamu adalah, Tersenyumlah".


"Tersenyum?".


" Iya tersenyumlah, kita sudah bersahabat selama bertahun tahun. Namun,semenjak kejadian yang memilukan itu kau tidak pernah tersenyum lagi hingga sekarang kecuali beberapa waktu dan itu pun hanya ketika kau membahas tentang Tuhan".


"Aku,aku lupa caranya tersenyum. Setiap mengingat wajah Mitha, sangat berat bagi bibirku untuk tersenyum?".


" Ang,jika harus jujur aku pun merasa bersalah dan menyesal sampai hari ini.


Namun kau tahu, menyesalpun tidak akan membuat Mitha kembali.


Andainya mulai dari sekarang kau berkenan menganggapku ada, aku akan berjanji untuk mengembalikan senyum manis di bibirmu".


"Janji?" Tanya pemuda itu dengan penuh harap sembari memandangi wajah Ma'ruf yang terlihat sedih.


"Kau bisa percaya janjiku, jika aku mengingkarinya. Tolong potong lidahku". Jawab Ma'ruf dengan penuh percaya diri.


"Assalamu 'alaikum,sugeng sonten? Selamat sore,Ohayo, Bounjour,halo halo? Ada orang?". Teriak Zidan sambil mengetuk pintu club.


" Wa 'alaikumus sallam" jawab Ma'ruf, Dimas dan pemuda berjubah dengan serentak.


"Sore juga silahkan masuk" jawab Made sembari membuka pintu club.


"Bang Zidan, Siang bang" sapa Dian dengan ramah dan sopan.


"Tumben, hari ini suasananya sedikit bersahabat" Ucap Zidan dengan wajah sedikit mengejek.


"Haha,gimana Zhi? Adikmu yang bernama Suci setuju untuk bergabung atau tidak?". Tanya Ma'ruf dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.


"Oh iya, perkenalkan ini adik saya yang bernama Suci" jawab Zidan sembari menarik pergelangan tangan adiknya yang masih berada di luar ruangan club.


"Salam kenal semuanya" Sapa Suci dengan menunduk dan anggun.


"iiih, Azhi!". Sontak jawaban Suci yang manja di barengi dengan menginjak kaki kakaknya membuat seluruh ruangan di penuhi dengan gelak tawa.


**********


Setelah Adzan mulai berkumandang.


Zidan,Suci,Ma'ruf,Dimas dan pemuda yang berkerah tinggi meninggalkan ruangan club untuk melaksanakan ibadah.


Dian christiani yang beragama Katolik pun berinisiatif menyiapkan perbekalan untuk menjalani misi, seakan tak mau kalah Made yang merupakan umat Hindu turut mempersiapkan kebutuhan perjalanan.


Setelah selesai menjalankan ibadah, semua anggota club keputus asaan pun mulai berkumpul dan memasuki pintu hijau yang tak lain adalah portal milik SMA melati biru untuk menemui pejabat yang akan mereka kawal dalam misi kali ini.


Setelah keluar dari gerbang luar sekolah SMA melati biru, Zidan dan kawan kawannya di sambut oleh beberapa prajurit berjubah kuning dengan memakai topi dan lempengan besi di dada mereka.


Terlihat sebuah kereta kencana zaman kuno yang berwarna emas di tarik oleh 2 ekor kuda api.


Pada zaman ini, hanya orang kaya atau keluarga bangsawanlah yang sanggup membeli kereta kencana zaman kuno dan memelihara kuda api.


Mobil dan motor di nilai tidak aman di zaman ini hingga hanya rakyat jelata lah yang memakai kedua jenis kendaraan tersebut untuk berpergian.


Kereta kencana selain memiliki ketahanan yang begitu kuat, kedua kuda api yang menariknya juga salah satu monster yang dapat melindungi pemiliknya.


Kuda api memiliki warna hitam pekat, mata mereka mengeluarkan api yang tak kunjung padam.


Nafas yang keluar dari hidung dan mulut mereka juga adalah api, tak hanya itu Kuda api juga salah satu jenis monster yang kuat.


Jika harus bertanding satu lawan satu, maka seseorang harus sudah masuk ke dalam tahap batu untuk bisa mengalahkannya.


4 prajurit yang menemani bangsawan gendut itu juga menaiki Kuda api, hanya saja kuda yang mereka naiki mengeluarkan api berwarna biru yang menandakan posisi mereka sebagai prajurit yang siap bertempur.


Masih ada 6 kuda yang tersisa untuk di naiki kelompok Zidan, hanya saja Zidan dan pemuda berjubah yang merupakan murid jurusan asassin lebih memilih untuk menggunakan teknik bela diri mereka untuk menempuh perjalanan.

__ADS_1


Mereka berdua pergi terlebih dahulu, agar ketika ada bahaya di depan keduanya bisa langsung kembali dan memperingati para rombongan.


Suci yang merupakan murid jurusan penyihir pun turut menunggangi Kuda bersama Dian,Dimas,Made dan Ma'ruf yang merupakan murid jurusan Kesatria.


Mereka berlima menaiki Kuda api memimpin rombongan, sedangkan 4 parajurit perang yang di bawa oleh sang bangsawan berada di belakang kereta untuk mengawasi siapapun yang berjalan di belakang mereka.


Setelah berjalan cukup jauh rombongan mereka sampai pada sebuah gerbang kota, terlihat Zidan dan Pemuda berkerah tinggi menunggu mereka di sebuah gerbang kota yang di jaga 4 prajurit.


Tak terasa hari sudah mulai gelap,setelah sang bangsawan memberikan tanda pengenal dan perintah dari sang kaisar untuk menuju kota menggala para penjaga pun mempersilahkan mereka memasuki kota.


Karena mereka sudah mulai lelah dan berjalan di malam hari sangat tinggi resikonya, rombongan memutuskan untuk mencari penginapan untuk beristirahat.


Kota Harapan adalah kota yang cukup ramai karena letaknya berada di ujung Hutan kota menggala yang luas.


Para bandit,pemburu monster, maupun para pedagang akan menginap di kota ini sebelum melanjutkan masuk kedalam hutan.


Setelah memilih penginapan, anggota club keputus asaan pun turun kelantai bawah penginapan untuk menikmati menu hidangan penginapan tersebut.


Pemuda berkerah tinggi hingga menutupi hidungnya berjalan terlebih dahulu menuju pojok ruangan yang terlihat sepi.


Tempat yang pemuda itu pilih lumayan nyaman, ada 1 meja panjang berada di tengah sedangkan alas yang mereka duduki hanyalah alas yang terbuat dari tikar bambu(lesehan).


Pemuda itu duduk bersila dan menyenderkan tubuhnya ketembok penginapan, sebelum mengeluarkan smartphone miliknya.


Namun,belum sempat ia menikmati suasana malam yang nyaman di tempat makan penginapan tersebut.


Ma'ruf datang dan menarik kedua kaki pemuda tersebut sampai lurus lalu menyuruhnya duduk dalam posisi seperti tahiyat akhir, pemuda itu hanya diam dan menuruti ucapan Ma'ruf karena perjanjian mereka sebelum pertandingan suit tadi sore.


Ma'ruf dengan santai meletakan kepalanya di paha pemuda berkerah tinggi itu lalu mengeluarkan sebuah smartphone untuk bermain game online.


Zidan yang melihat pemuda berkerah tinggi itu menuruti semua ucapan Ma'ruf agak merasa sedikit cemburu, karena selama ini dia bersusah payah mencoba akrab dengan pemuda itu namun selalu di abaikan.


"Oh,shiit. Saya yang berjuang dia yang menang" ungkap Zidan dengan lirih sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


Masakan yang di pesan oleh Suci kini datang, pelayan membawa satu persatu makanan dan meletakannya di atas meja.


Aroma sate,rawon,bakso dan capcai memenuhi ruangan tersebut.


Harumnya yang gurih dan pedasnya yang menusuk hidung membuat siapapun yang mencium aromanya meneteskan air liur.


Pemuda yang berkerah tinggi itu menarik satu tusuk sate dan hendak memasukannya kedalam mulut.


Jari jari tangan kirinya menurunkan kerahnya yang tinggi secara perlahan, Zidan yang sangat penasaran dengan wajah pemuda itu pun diam memperhatikan.


Sepertinya tak hanya Zidan, semua anggota club keputus asaan selain Ma'ruf yang sibuk bermain smartphone menghentikan aktifitas mereka dan memperhatikan tangan pemuda itu yang perlahan lahan menarik kerahnya kearah bawah.


Belum sempat pemuda itu menurunkan kerah jaketnya yang tinggi, Ma'ruf yang asik bermain game dengan posisi tiduran menarik tangan kanan pemuda itu yang sedang membawa satu tusuk sate.


Ma'ruf menarik lengan pemuda itu dan memasukan sate kedalam mulutnya, sontak para anggota club keputus asaan merasa geram dengan tindakan Ma'ruf.


"**** ini,semoga di jalan nanti bertemu monster yang akan membuatnya mandul sampai 7 turunan" ungkap Zidan dengan mengepalkan tangan kanannya.


"I know that feeling brow" sahut Dian sembari tersenyum menepuk nepuk punggung Zidan.


Made dan Suci yang melihat tingkah laku rekan rekannya hanya bisa tertawa.


"Kok di ambil?" Tanya pemuda berkerah sembari memandangi wajah Ma'ruf yang sedang menyandarkan kepala di pahanya.


"Hehe,Maaf. Saya laper". Jawab Ma'ruf seakan tak bersalah.


" Yaudah makan dulu gih, siniin handphone nya". Cletuk pemuda itu sembari menyambar smartphone milik Ma'ruf yang sedang bermain game online.


"Eh eh, jangan di ambil aduh. Saya lagi push rank". Teriak Ma'ruf dengan wajah memelas.


"Bodo amat,duduk makan dulu. Baru aku balikin".


" Yaelah" jawab Ma'ruf dengan lesu.


Mau tak mau kini ia yang harus menuruti ucapan pemuda itu dan mulai duduk untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja.


Pemuda itu kembali mengambil beberapa tusuk sate dan nasi untuk mengisi perut, sebelum mulai melahap makanannya pemuda itu memejamkan mata dan berdoa.

__ADS_1


Kini Zidan dan kawan kawan mulai bersemangat karena sebentar lagi mereka akan melihat wajah asli milik pemuda yang di beri julukan iblis manis, Namun ketika pemuda itu membuka mata hidangan yang sebelum nya akan ia santap habis dalam sekejap.


Semua yang melihat kejadian itu langsung terkulai lemas dan tak percaya, mereka sangat penasaran dengan wajah pemuda yang menjadi ketua club mereka.


__ADS_2