Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
28. Tuan muda pengecut.


__ADS_3

4 orang pelayan perempuan yang mengenakan gamis berwarna putih menghampiri Zidan dan menyambutnya.


"Tuan muda,silahkan ikuti kami. Tuan besar sudah menunggu kedatangan anda".


Mendengar pelayan mengatakan bahwa ayahnya sudah menunggu kedatangannya, Zidan hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi dan mengikuti para pelayan.


Setelah berjalan beberapa saat, Zidan sampai di ruang keluarga di mana Ayahnya sudah menunggu di temani oleh secangkir kopi.


"Ayah,anakmu ini telah kembali".


Zidan memberi salam dengan menunduk sebelum mengecup tangan Ayahnya.


"Haha duduklah anak ku, bagaimana pelatihanmu di akademi melati biru?".


"Alhamdulillah berjalan lancar Ayah".


Melihat ekspresi Zidan yang dingin dan tenang, Tetua Zen pun ikut senang.


Bisa di lihat dari tingkah laku beliau yang dengan santainya menyruput segelas kopi dan mengelus janggutnya.


"Aku sangat tidak menyangka kau bisa melewati tahap pasir, maafkan Ayah yang pernah meragukanmu nak. Jika Ayah boleh tau,sekarang kau sudah menjadi seorang penyihir tahap apa nak?".


Pertanyaan Tetua Zen tentunya bukan hanya sekedar basa basi, jika kultivasi Zidan sebagai seorang penyihir bisa tinggi seperti minimal tahap batu di usia muda.


Maka itu akan membuat Tetua Zen bangga dan tentunya ketua Rico yang tak lain adalah pendiri clan bulan sabit merah akan meliriknya,meskipun mereka berasal dari keluarga cabang.


"Anakmu ini masih baru memasuki tahap batu tingkat 1 Ayah".


Sebenarnya Zidan sudah memasuki tahap batu tingkat 9 dan sebentar lagi dia akan menerobos tahap selanjutnya, namun dia memilih menutupi itu semua karena dia tahu banyak anggota clan bulan sabit merah yang membenci dirinya terlebih anggota keluarga utama.


"Apa kau serius nak? Mampu menerobos tahap batu di usia 17 tahun itu hanya bisa di lakukan oleh orang orang berbakat.


Ayah sangat bangga kepadamu hahaha, Ayah yakin ketua clan pasti akan melirikmu dan memasukanmu kedalam salah satu anggota keluarga utama!".


Kegembiraan yang di tunjukan oleh Tetua Zen,membuat Zidan tersenyum dalam diam.


"Lalu di mana Suci Ayah? Biasanya dia selalu menyambut kedatanganku".


"Hahaha,entahlah. Sesampainya di rumah adikmu terlihat begitu marah,mungkin dia mempunyai masalah. Kalau begitu carilah dia dan tenangkan hatinya".


(Di ruang pelatihan pribadi milik Suci).


Terlihat seorang perempuan yang memakai gaun berwarna biru dan putih memukul sebatang pohon berkali kali dengan tinjunya.


"Kakak bodoh! Bisa bisanya dia bermain wanita ketika aku mengkhawatirkannya. Hyaaaat!".


Sebatang pohon yang sebelumnya berdiri dengan kokoh kini menjadi layu dan membeku setelah Suci memukul pohon itu dengan keras.


"Kenapa aku harus suka dengan si mesum itu! Terlebih dia juga adalah kakak ku sendiri, kenapa harus dia yang suka bermain dengan wanita! Hyaaaaat".


Pohon yang sebelumnya membeku dan berdiri dengan gagah,kini tumbang setelah Suci melayangkan satu tendangan dengan memutar tubuhnya.


Sedangkan Zidan yang mendengar suara pohon jatuh dengan sangat keras,mulai bergegas menghampiri ruang latihan pribadi milik Suci.


"Uchi,apa yang kau lakukan?".


Setelah melampiaskan amarahnya, Suci mulai sedikit tenang dan hendak mandi karena seluruh tubuhnya telah di basahi oleh keringat.


Akan tetapi kehadiran Zidan yang tiba tiba membuatnya kembali naik pitam.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!".


Suci melangkah keluar ruangan melewati Zidan begitu saja tanpa memandangnya.


Menerima perlakuan Suci, Zidan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Entahlah,perempuan memang sulit di mengerti".


Melihat kamar miliknya yang masih sama dan terjaga dengan bersih, Zidan mulai tersenyum dan menikmati pemandangan yang membuatnya bernostalgia ini.


"Ternyata sudah cukup lama ya,hmmm".


Setelah bernostalgia beberapa saat, Zidan membersihkan diri sebelum bersama sama anggota keluarganya untuk menghadiri acara tahunan clan bulan sabit merah.


Semua anggota luar clan bulan sabit merah bersama sama menuju wilayah kediaman keluarga utama, gamis dan baju batik yang memiliki warna merah terang di hiasi corak dedaunan berwarna kuning dan bulan sabit berwarna emas yang terletak di area punggung membuat pemakainya terlihat gagah dan cantik.


Wilayah kediaman keluarga utama memiliki sebuah gedung yang sangat besar berwarna merah dan memiliki lambang clan bulan sabit merah di atasnya.


Tetua lain yang melihat tetua Zen berjalan dengan seorang pemuda, mulai terlihat mengerutkan alis dan bertanya tanya.


"Hoho,tetua Zen. Sudah lama sekali aku tidak melihatmu".


Sapa seorang tetua lain yang menghampiri tetua Zen bersama keluarganya.


"Salam tetua Wan,bagaimana kabarmu?".


"Hoho,adik ku kau tidak perlu sungkan. Sepertinya aku baru melihat pemuda ini, siapa dia?".


"Oh,dia adalah anak pertamaku yang bernama Zidan".


Tetua Zen menjawab dengan wajah sedikit kecut, karena tetua Wan adalah seseorang yang membuatnya di usir dari wilayah kediaman keluarga utama dan berakhir menjadi keluarga luar serta ikut terlibat di dalam kematian istrinya namun tetua Zen tidak bisa melakukan apa apa karena kurang nya bukti dan tentu saja tetua Wan di dukung oleh beberapa anggota keluarga utama.


Saat menghina tetua Zen dan Zidan, wajah tetua Wan terlihat sumringah dengan ekspresi tanpa rasa bersalah.


Mendengar anaknya di hina tetua Zen begitu murka, dia sudah memendam rasa sakitnya setelah kematian istrinya dan tidak ingin membalas dendam agar tidak ada yang mencelakai Zidan dan Suci.


Akan tetapi ucapan tetua Wan membuatnya tidak bisa tinggal diam, jika tetua Wan hanya menghinanya maka tetua Zen akan dengan senang hati menerima.


Namun kali ini yang di hina adalah Zidan, tetua Zen sangat marah karena Zidan tidak pernah mau mengikuti acara tahunan clan setelah mendapatkan perlakuan bully di usia 8 tahun saat menghadiri acara clan.


Dan hari ini Zidan memutuskan untuk hadir namun perlakuan yang di terimanya tetap sama, itu jelas membuat tetua Zen merasa bersalah sebagai seorang Ayah.


"Tutup mulutmu Wanto! Aku sudah bersabar selama bertahun tahun terhadap sikapmu, namun kali in-".


"Cukup Ayah, redakan amarahmu".


Mendengar ucapan Zidan,tetua Zen yang hampir meledak mulai kembali bisa mengendalikan emosinya.


Mana berwarna biru di sertai angin kencang yang sangat dingin mulai menyusut.


Zidan dengan santai menatap wajah tetua Wan sebelum membuka mulut.


"Tetua Wan, jika saya sampah maka beranikah tetua bertarung dengan saya?".


Kata kata yang keluar dari mulut Zidan tentu saja membuat orang orang keheranan.


Beberapa orang mulai berdiskusi dan ada beberapa yang menganggap Zidan gila, karena kultivasi mereka berada di tingkatan yang jauh berbeda.


"Anak tetua Zen sepertinya sudah kehilangan akal".

__ADS_1


"Entahlah,mungkin saja dia memiliki kartu As tetapi aku juga sangat ragu dia bisa menang melawan tetua Wan.


Namun di satu sisi aku juga merasa kagum dengan anak muda itu".


Beberapa tetua clan bulan sabit merah yang berasal dari kelurga luar,utama maupun dalam mulai berkumpul mengerumuni tetua Wan dan Zidan yang sedang berhadap hadapan.


Zidan tahu,jika dia bertarung dengan tetua Wan maka jelas Zidan akan dengan mudah di kalahkan.


Akan tetapi sebagai seorang salah satu tetua, tetua Wan tidak mungkin akan menurunkan harga dirinya dengan melawan anak kecil di depan anggota keluarga nya karena itu bisa merusak citra keluarga dalam.


"Hmmm,nyalimu ternyata lumayan besar bocah".


Ungkap tetua Wan dengan nada kesal.


"Tetua! Anda tidak perlu berbasa basi, silahkan jawab pertanyaan saya.


Berani atau tidak?".


Salah seorang pemuda yang berdiri di samping tetua Wan mulai maju dengan wajah penuh amarah.


"Sampah sepertimu tidak pantas melawan Ayahku! Jika kau berani maka lawan aku di sparing tahunan clan nanti!".


Pemuda itu memiliki alis tebal, dia menunjuk nunjuk Zidan dan berbicara dengan penuh amarah.


"Denganmu? Berani atau tidak? Haha.


Apa kau sedang bercanda? Bertarung dengan Ayahmu yang penakut saja aku berani, kenapa aku tidak berani melawan dirimu?".


"K-kau! Aku ak-".


"Cukup! Mari kita pergi, anak muda aku memuji keberanianmu tapi kau telah salah memilih musuh!".


Tetua Wan merasa sudah banyak kehilangan wajah di depan khalayak ramai, baru kali ini ada seseorang yang berani menentangnya.


Terlebih orang yang menantangnya adalah salah satu anggota keluarga luar dan masih seorang bocah.


Sedangkan tetua Zen merasa sangat terkejut, karena yang ia tahu selama ini putranya adalah seorang tuan muda yang penakut hingga hanya bisa diam di dalam rumah untuk berlatih agar tidak mendapatkan masalah dan gangguan atau perlakuan bully.


Bukan hanya kultivasi Zidan yang membuat tetua Zen terkejut dan bangga, lagi lagi anaknya memberikannya kejutan dengan melindungi wajahnya dan menginjak injak wajah keluarga utama di depan khalayak ramai.


Tetua Zen tertawa dengan sangat girang dan bahagia melihat kelakuan Zidan, mata keduanya saling beradu pandang dan mengangguk tanda menyetujui untuk lanjut berjalan menuju ruang utama pertemuan clan.


Suci yang masih marah dengan kakaknya sedari tadi memasang wajah ketus, tapi perlakuan Zidan yang pemberani barusan membuatnya tidak bisa berkata kata dan semakin jatuh cinta terhadap kakaknya.


Beberapa keluarga luar lain yang melihat keberanian Zidan juga mulai mendekati tetua Zen untuk berjalan bersama sama dan berbincang bincang sembari sesekali memuji keberanian Zidan.


Berbeda dengan keluarga luar yang merasa bangga, anggota keluarga utama yang melihat Zidan justru terlihat geram dan seakan akan ingin menerkam Zidan.


Zidan yang dulu terkenal dengan bakat sampahnya membuat orang orang berasumsi bahwa clan bulan sabit merah adalah clan yang lemah dan tentu saja itu membuat semua anggota clan bulan sabit merah merasa malu.


Belum lagi keluarga utama yang mengurus semua masalah clan, dengan Zidan menghina salah satu anggota keluarga utama di muka umum tentu saja membuat kebencian para anggota keluarga utama semakin bertambah.


Hanya saja mereka saat ini tidak bisa berbuat apa apa terhadap Zidan, dan tentunya mereka semua berharap agar anak tetua Wan dapat memberi pelajaran yang keras kepada Zidan supaya Zidan ingat akan posisinya hanyalah anggota keluarga luar.


*******


Nungguin update ya? Sorry ya wkwkwk.


Saya sengaja nunggu like mencapai 1k baru saya lanjut update, makanya jangan pelit like dong pffft 😗

__ADS_1


__ADS_2