
Ma'ruf dan Iblis manis keluar di ikuti oleh para pemuda & pemudi yang sudah terlihat sedikit tenang.
Hanya saja mereka kembali berteriak dan ketakutan ketika melihat puluhan mayat yang menghiasi jalanan desa tersebut.
"Bi, cepat bawakan beberapa kereta kuda.
Kita tidak mungkin meninggalkan mereka di sini".
"Baiklah Ang, aku akan pergi dengan Zidan untuk mencari kereta kuda".
Setelah membalas ucapan Iblis manis, Ma'ruf menghampiri Zidan yang masih termenung di atas tumpukan mayat.
"Zhi, ikutlah denganku".
"Kemana? Aku sedang berlatih sekarang".
Alis Ma'ruf bersatu ketika Zidan mengatakan, berdiri di atas tumpukan mayat adalah berlatih.
"Haiss, ini perintah Iblis manis.
Kita harus membawa beberapa kereta kuda untuk mengungsikan para korban selamat itu".
"Baiklah jika ini permintaannya, ayo pergi".
Mendengar Iblis manis yang memberikan perintah, membuat Zidan tidak bisa menolak karena Zidan sendiri sudah mengetahui kemampuan Iblis manis.
Keduanya berjalan bersama sama menuju beberapa penginapan dan menemukan 2 kereta yang masing masing kereta kuda itu di tarik oleh 3 ekor kuda.
"Ruf,bagaimana menurutmu? Kereta kereta ini berukuran sedang namun sanggup menampung sampai 8 orang.
Apa kita akan membawanya".
"Baiklah, kita bawa kedua kereta kuda ini".
Iblis manis dan para rombongan korban selamat dari bencana di desa yang menunggu kedatangan Ma'ruf dan Zidan mulai melihat kereta kuda berjalan mendekati mereka.
"Karena kereta kudanya sudah sampai, mari kita pergi ke wilayah clan phoenix emas sekarang".
Perkataan Iblis manis yang begitu bersemangat membuat para korban bertanya tanya, karena semua orang sudah mengetahui bahwa clan Phoenix emas telah musnah.
Para korban yang selamat dan bersiap mengungsi mulai berfikir bahwa Iblis manis belum mengetahui kejadian hancurnya clan Phoenix emas, tapi mereka juga tidak berani memberi tahu atau bertanya karena takut dengan Zidan.
Para pengungsi mulai menaiki kereta kuda satu persatu, Zidan yang masih berdiri di samping kereta kuda menghentikan beberapa pemuda yang hendak naik.
"Hei, berhenti! Siapa yang sudah terbiasa membawa kereta kuda?".
Para pemuda yang terhenti itu saling memandang satu sama lain sebelum mengangkat tangannya.
"Aku Tuan, aku terbiasa membawa kereta kuda".
"Aku juga Tuan, almarhum Ayahku seorang pedagang dan aku juga terbiasa membawa kereta kuda".
Ekspresi Zidan yang sebelumnya datar dan dingin kini sedikit cerah, mendengar banyaknya pemuda yang bisa mengendarai kereta kuda.
"Baiklah, bagi kalian yang bisa mengendarai kereta kuda silahkan bergantian membawanya.
Aku akan tidur".
Zidan melompat ke dalam kereta kuda yang di isi oleh beberapa wanita serta Iblis manis dan Ma'ruf.
Dari dalam kereta Iblis manis berteriak dengan kencang untuk memberi tahu para kusir.
"Untuk kereta yang aku naiki tetaplah berada di belakang kereta kuda satunya, dan untuk kereta kuda yang tidak aku naiki tetaplah berjalan dengan cepat tapi usahakan tidak terlalu jauh dari kami".
"Baik Tuan".
Para kusir yang mengendalikan kedua kereta kuda menjawab teriakan Iblis manis dengan serempak.
__ADS_1
Zidan sangat terkejut dan agak marah melihat Ma'ruf yang sudah memejamkan mata dan bersantai di pangkuan Iblis manis.
'Apa apaan bocah ini, semakin hari semakin seenaknya saja sialan!'.
"Hei,bukankah perjalanan ini untuk membuat ku lebih kuat agar bisa membantumu di dalam turnament?".
Iblis manis memasang ekspresi kebingungan mendengar pernyataan Zidan.
"Iya,lalu kenapa?".
"Berarti itu bukan permintaanku karena perjalanan ini untuk membantumu di turnament kelak, dalam artian aku belum meminta sesuatu kepadamu kan?".
Iblis manis berfikir sejenak sebelum menganggukan kepala,sebagai tanda menyetujui ucapan Zidan.
"Baiklah kalau begitu, permintaanku adalah aku ingin tidur di pangkuanmu selama menempuh perjalanan ini".
Tanpa perlu persutujuan, Zidan menarik kaki Iblis manis yang masih dalam posisi seperti tahiyat akhir ke arah kanan dan merubah posisi kaki Iblis manis ke arah kiri.
Ma'ruf yang sedang memejamkan mata menikmati pangkuan Iblis manis mulai membuka mata ketika paha Iblis manis tidak lagi menyangga kepalanya.
"Hei hei, apa apaan kau! Aku yang lebih dulu tidur di pangkuannya".
"Maka dari itu, sekarang giliranku!".
"Tidak bisa begitu, kau sudah pernah tidur di pangkuannya ketika kita berada di rumah ketua Rico!".
"Hei hei hei, kau juga sudah pernah tidur di pangkuannya ketika kita masih di dalam perjalanan mengantar gubenur sialan itu".
Pandangan mata Zidan dan Ma'ruf yang asik berdebat mulai bertemu, keduanya saling memberi argumen dan memasang wajah yang dipenuhi kebencian.
"Baiklah baiklah,tidak perlu berebut.
Aku akan duduk bersila agar kalian berdua bisa berbagi".
Usulan Iblis manis membuat Zidan dan Ma'ruf tidak lagi berdebat karena mereka kini bisa tidur di pangkuan Iblis manis tanpa mengganggu satu sama lain.
Sedangkan 5 orang gadis yang duduk di dalam 1 kereta bersama Iblis manis,Zidan dan Ma'ruf.
Yang berada di dalam otak para gadis itu adalah Zidan dan Ma'ruf sama sama tidak normal karena berebut pangkuan di paha seorang laki laki.
Tebakan para gadis itu tidaklah salah mengingat Iblis manis dulunya adalah seorang pria yang berpindah tubuh karena tubuh aslinya yang seorang pria hancur.
Namun, pakaian Iblis manis yang memiliki kerah tinggi sampai menutupi sebagian wajahnya membuat para gadis itu tidak bisa melihat bahwa kini tubuh Iblis manis adalah tubuh seorang wanita.
Jalanan di dalam hutan tidak terlalu bagus karena beberapa jalan masih di penuhi oleh genangan air dan lumpur yang di tinggalkan oleh hujan.
Meskipun terkadang mereka melambat untuk menghindari terbaliknya kereta kuda, mereka tetap bisa menempuh perjalanan dengan lumayan cepat.
Para rombongan yang bersama Zidan memasuki wilayah clan Phoenix emas ketika hari sudah mulai gelap.
Beberapa pengawal yang melihat 2 kereta kuda akan melintas dan memasuki wilayah mereka mulai menghentikan laju kuda tersebut.
"Tolong berhenti sejenak! Sebutkan siapa namamu,dari mana asal kalian dan kemari untuk tujuan apa".
Para kusir saling berpandangan ketika di beri pertanyaan beruntun oleh para penjaga.
Iblis manis yang menyadari kereta telah berhenti beberapa lama mulai tersadar bahwa mereka telah sampai dan mulai mengenakan topengnya yang di hiasi oleh ukiran mawar berwarna hitam.
"Biarkan kami lewat".
Iblis manis keluar menemui para penjaga yang masih menghadang kereta mereka.
"Apa hak mu? Memberi perintah kepada kami! Kami di tugaskan oleh para tetua untuk menjaga pintu masuk wilayah ini".
"Kalau begitu cepatlah panggil tetua kalian kemari untuk datang menemuiku".
"Siapa kau berani memberi perintah agar tetua kami datang menemui mu!".
__ADS_1
"Maaf tuan tuan penjaga, aku tidak memberi perintah.
Bukankah kalian yang tidak memperbolehkan kami masuk dan menemui tetua kalian?
Kalau begitu biarkan tetua kalian yang menemui kami".
"Baiklah kalau begitu, Yon pergi dan panggil para tetua".
Salah seorang penjaga pergi menemui para tetua, meninggalkan kelima temannya yang masih sibuk memeriksa kereta kuda yang membawa Iblis manis.
Di dalam ruangan yang di penuhi oleh para tetua yang sedang berdiskusi, seorang pengawal masuk dengan terburu buru.
"Mohon maaf para tetua, di luar ada 2 kereta kuda yang di pimpin oleh seorang pria bertopeng, yang topengnya memiliki ukiran mawar berwarna hitam memaksa untuk masuk.
Tapi para tetua tidak perlu khawatir, kami sudah menghentikan mereka semua!".
Penjaga itu berkata dengan lantang dan bangga karena telah menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik.
Para tetua yang masih menikmati anggur dan kopinya mulai menyemburkan minuman mereka yang telah memasuki mulut.
"To-topeng yang memiliki ukiran mawar berwarna hitam?".
"Iya tetua, rekan rekan penjaga telah menghentikan kereta mereka di luar.
Tetua tidak perlu khawatir, selama tetua tidak memberi izin maka mereka tidak akan mampu memasuki wilayah kita!".
"Topeng berukiran bunga mawar berwarna hitam! Tidak salah lagi itu pasti dia".
Salah seorang tetua mengingatkan dengan wajah ketakutan.
Para tetua yang berada di dalam ruangan mulai berkeringat dingin karena takut apabila perilaku penjaga nya membuat Iblis manis tersinggung.
"Bodoh, para tetua lebih baik kita segera menuju pintu masuk dan menyambutnya".
Para tetua pun mulai berdiri dari tempat duduk mereka satu persatu dan mengikuti jenderal Ari untuk menyambut kedatangan Iblis manis, di ikuti oleh penjaga pintu masuk yang masih kebingungan melihat ekspresi para tetua yang terlihat panik dan berjalan dengan sangat cepat.
Tetua Ari yang sampai terlebih dahulu di pintu masuk langsung memberi salam dan hormat kepada Iblis manis.
"Tuan muda Iblis manis, hamba menyambut kedatangan Tuan muda.
Maafkan hamba yang terlambat menyambutmu".
Melihat Jenderal Ari yang merupakan tetua tertinggi mereka bersikap begitu sopan dan menyebut nama Iblis manis, para penjaga pun terkejut setengah mati.
Meskipun mereka anggota baru, mereka semua tahu bahwa para tetua bisa hidup dengan enak dan bisa merekrut banyak anggota baru itu semua karena ketua mereka yang memiliki julukan Iblis manis.
Tidak hanya para penjaga, para anggota rombongan yang 1 kereta dengan Iblis manis juga tidak kalah terkejut karena mereka semua tahu bahwa Iblis manis lah yang meratakan wilayah clan Phoenix emas dan merebut wilayah clan itu bersama kedua rekannya.
"Ka-kalau dia Iblis manis, be-berarti anda berdua adalah...".
"Ya, kau benar. Aku adalah orang yang kalian juluki sebagai kesatria topeng purnama".
Ma'ruf menjawab sembari mengenakan topengnya yang sebelumnya dia simpan ke dalam cincin semesta.
Di ikuti oleh Zidan yang juga mengenakan masker hitam miliknya yang mempunyai ukiran gigi gigi tajam.
"Ah maafkan kami sekali lagi Tuan muda, kami tidak tahu bahwa kunjungan anda sekalian kemari bersama Pangeran kegelapan".
"Jenderal Ar, anda tidak perlu sesungkan itu kepada kami.
Aku sudah menganggapmu sebagai keluarga ku sendiri".
Jawaban Iblis manis yang begitu lembut membuat para tetua bisa bernafas dengan lega.
"Baiklah Tuan muda, mari silahkan masuk".
"Dengan senang hati jenderal, oh iya.
__ADS_1
Tolong beri orang orang yang aku bawa ini sebuah pekerjaan serta pakaian dan makanan yang layak".
"Sendiko dawuh Tuan muda, Penjaga! Cepat bawa orang orang itu menuju balai penginapan kita dan layani mereka dengan baik!".