
Para tetua clan Phoenix emas mulai berkumpul membawa pasukan dari setiap cabang keluarganya, terlihat orang tua yang memiliki perut buncit kumis panjang dan melengkung memakai pakaian berwarna hijau keemasan mendekati Zidan,Ma'ruf dan Iblis manis.
Orang tua itu berjalan dengan tangan di belakang memimpin rombongan clan Phoenix emas yang beranggotakan sekitar 2 ribu orang.
Zidan yang melihat bahaya mendekat mulai terbang secara perlahan dan bersiap siap mengeluarkan teknik api miliknya.
"Hmmm, sudah kuduga. Kau lah penyebab keributan ini Iblis sialan".
Teriak sang orang tua dengan ketus.
Ma'ruf yang mendengar ucapan orang tua itu mulai tertawa terbahak bahak dari balik topeng purnama miliknya.
"Seharusnya kau bahagia orang tua bodoh, bertahun tahun kalian mencari kami berdua namun tidak kunjung bisa menemukan kami.
Sekarang kami berdua berdiri di hadapanmu di dalam wilayahmu, seharusnya kau senang dan menyambut kedatangan kami bukan?".
Ma'ruf mulai melontarkan ejekan demi ejekan yang selama ini telah ia pendam di hati kecilnya.
Sedangkan orang tua yang tak lain adalah Tetua clan phoenix emas terlihat geram mendengar pemuda yang masih berusia 20 tahunan itu berani mengejeknya di hadapan ribuan anggota keluarganya.
"Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan bocah sialan, entah otak kalian yang sudah rusak atau memang sudah berputus asa untuk membalaskan dendam. Beraninya kalian datang kemari hanya dengan 3 orang anggota! Apa kalian tidak tahu perbedaan kekuatan kita? Sekuat apapun kalian tidak akan bisa mengalahkan aku yang kini seorang kesatria tahap berlian tingkat 2 belum lagi dua ribu pasukan milik clan Phoenix emas akan menyapu kalian dengan bersih secara instan ".
Mana murni berwarna kuning mulai menylimuti tubuh orang tua itu di ikuti 2 ribu anggota clan nya yang melakukan hal yang sama dengannya.
Zidan yang mendengar orang tua itu berkata bahwa ia sudah berada dalam tahap berlian mulai terkejut, bagaimana mungkin Zidan bisa melawan seorang kesatria tahap berlian sedangkan ia masih berada di dalam tahap batu tingkat 6? Ayahnya saja yang seorang Tetua clan bulan sabit merah hanya berada dalam tahap mutiara.
Zidan mulai terlihat tidak percaya diri dan takut, namun kedua temannya masih berdiri dengan tenang di bawah terangnya sinar rembulan.
Ma'ruf yang tertawa terbahak bahak kini mulai terdiam, dia mengeluarkan tombak petir miliknya namun kali ini tombak yang ia keluarkan berbeda karena memiliki warna merah cerah di hiasi debgan dua selendang yang mengitari ujung tombak tersebut.
"Jika belum di coba, dari mana kita akan tahu siapa pemenang sebenarnya?".
Setelah mengucapkan beberapa kalimat Ma'ruf terbang kearah Tetua clan Phoenix emas dengan mengarahkan tombaknya ketubuh tetua gendut itu.
Sedangkan tetua clan Phoenix emas yang melihat tindakan Ma'ruf mulai geram dan mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar dua ribu pasukannya maju menghadapi Ma'ruf.
Suara dentuman dan energi listrik terlihat begitu jelas ketika tombak milik Ma'ruf beradu dengan ratusan pedang milik anggota clan Phoenix emas.
Tanpa rasa takut sedikitpun Ma'ruf mengayunkan tombaknya dan membunuh setiap anggota clan phoenix emas dengan cara menusukan tombak kearah leher dan jantung pasukan Phoenix emas.
Hanya butuh beberapa saat saja bagi Ma'ruf untuk menghabisi ratusan pasukan clan Phoenix emas, tidak seperti sebelumnya saat Ma'ruf menghadapi perampok di perjalanan ia menyembunyikan identitas dan kekuatan aslinya.
Kini Ma'ruf mengerahkan semua kekuatan yang ia miliki tanpa keraguan sedikitpun, bahkan ia tertawa ketika puluhan anggota clan Phoenix emas melompat kearahnya.
__ADS_1
Ma'ruf mengeluarkan ombak besar dari dalam tubuhnya, membuat musuh musuhnya yang sedang melompat dan terbang kearahnya terpaksa mundur karena tekanan gelombang air yang membuat pasukan itu terpental dan basah.
Ketika melihat kesempatan, Ma'ruf menancapkan tombak petirnya yang berwarna merah kedalam tanah lalu berdiri di atas tombaknya dengan satu kaki.
Ma'ruf mengangkat tangannya kearah langit, petir berwarna Biru,merah dan ungu mulai menyelimuti tubuhnya.
"Teknik terlarang, Petir penghakiman!" Ma'ruf berteriak dengan kencang.
Puluhan petir menyambar dari langit dan menghantam semua anggota clan Phoenix emas dengan acak, terlebih mereka yang sudah terkena teknik ombak milik Ma'ruf sebelumnya seketika langsung menjadi abu ketika petir berkekuatan dahsyat itu menyambar mereka.
Tetua clan yang melihat anak buahnya di habisi dengan mudah oleh Ma'ruf kini terlihat sangat marah, Dia mengeluarkan batu besar yang di balut api dari dalam tanah.
Batu itu melayang terbang menuju Ma'ruf yang sedang berdiri di atas tombaknya, Zidan yang telah melihat Ma'ruf dapat menghabisi ratusan anggota clan Phoenix emas dengan kekuatannya sendiri mulai termotivasi dan tidak ingin kalah dari rivalnya ini.
Rasa ragu dan ketakutan yang sebelumnya menyelimuti hati Zidan kini berubah menjadi semangat yang membara dan berdebar debar.
Ketika batu berapi milik tetua clan Phoenix emas akan menghantam Ma'ruf yang sedang fokus mengendalikan petir, Zidan menggunakan teknik mata terkutuk untuk menghentikan waktu selama 30 detik dan menggunakan teknik rintihan Mikail untuk menghancurkan batu berapi itu dan menghabisi beberapa anggota clan Phoenix emas.
Ketika waktu mulai kembali berjalan normal, semua mata kini memandang Zidan dengan rasa takut yang amat sangat.
Karena mereka telah mendengar bahwa kesatria muda telah membunuh salah satu tetua cabang mereka menggunakan teknik rintihan Mikail.
Para anggota terlihat terkejut melihat Zidan bisa terbang dengan begitu mudah, bagaimana mungkin bocah semuda itu bisa terbang dengan bebas.
Namun untuk mencapai tahap mutiara itu sangatlah susah, selain butuh latihan dan kerja keras yang memakan banyak waktu.
Seseorang juga harus memiliki bakat dan pemahaman yang mumpuni untuk menembus tahap mutiara.
Ketua clan Phoenix emas terlihat terkejut dan kebingungan melihat kejadian tersebut.
Bagaimana bisa anak muda yang masih terlihat berusia 18 tahun dapat menembus tahap mutiara, sedangkan dia ketua sekte yang di panggil jenius sejak muda hanya berada dalam tahap batu tingkat 1 ketika masih berusia 18 tahun.
"Cepat bunuh bocah yang terbang itu!" Teriak ketua clan Phoenix emas memberikan perintah kepada pasukannya.
"Pa-Pangeran kegelapan juga ada di sini!" teriak salah satu anggota clan Phoenix emas dengan wajah pucat dan rasa takut.
Siapapun yang menyaksikan teknik rintihan Mikail pasti akan merasa ketakutan, suara rintihan yang di timbulkan dari gesekan udara yang cepat dengan cahaya membuat teknik itu dapat menghancurkan bangunan yang berdiri dengan kokoh sekalipun.
Puluhan tubuh terpotong dan terbelah ketika teknik milik Zidan mengenai pasukan clan Phoenix emas.
Zidan yang memakai topeng atau masker berwarna hitam di hiasi dengan gigi gigi yang runcing berwarna putih terang membuatnya terlihat sangat menyeramkan, di tambah sepasang sayap berwarna kuning merah yang terbuat dari api berkobar di punggungnya.
Para tetua clan dari keluarga utama dan cabang mulai berkumpul dan membentuk formasi seperti burung Phoenix, ketika para tetua menggunakan formasi itu terlihat mana berwarna kuning keemasan mulai berkumpul mengitari formasi itu dan membentuk sebuah burung Phoenix besar.
__ADS_1
Suara pekikan burung itu dapat menghancurkan telinga siapapun yang mendengarnya, batu batu runcing di hiasi api mulai mengitari burung Phoenix emas itu.
Para tetua memfokuskan sasaran tepat kepada Zidan yang sedang terbang di atas langit.
Iblis manis yang sedari tadi hanya diam memperhatikan suasana peperangan terlihat menghadapkan wajahnya keatas menuju bulan yang bersinar dengan terang,
Mana berwarna hitam dan putih mulai menyelimuti tubuhnya.
Jaket yang memiliki kerah tinggi yang awalnya ia pakai mulai terkelupas sedikit demi sedikit seperti sebuah kulit, membuat potongan jaket itu terbang di sekitarnya sebelum menghilang.
Rambut Iblis manis yang sebelumnya panjang bergelombang kini mulai memendek, terlihat pakaian yang Iblis manis kenakan kini menjadi sebuah kaos berwarna hitam polos dan berlengan panjang.
Namun Iblis manis menarik kedua lengan kaos hitam panjang tersebut sampai kesiku, membuat Tatto yang berada di tangan kanannya terlihat begitu jelas.
Tak hanya itu, Iblis manis mulai melempar kacamata yang ia kenakan dan membuka songkok hitam yang awalnya rapih menutupi rambutnya menjadi sedikit terbuka hingga rambutnya keluar menutupi area mata dan telinga bagian kanan wajahnya.
Kalung berwarna gelap memiliki bandul peluru berwarna keperakan terlihat menggantung cantik menghiasi dadanya yang bidang, tindik berwarna hitam polos pun tak kalah cantik.
Tindik tersebut terlihat begitu cocok berada di daun telinga kirinya.
Wajahnya yang dulu terlihat begitu cantik dan jelita di hiasi dengan bulu mata yang panjang dan bibir mungil berwarna merah, kini berubah menjadi tampan dan gagah.
Iblis manis hanya memejamkan mata dan menarik nafas panjang, sebelum ia mulai membuka matanya yang terlihat sayup dengan tatapan kosong mengarah keribuan mayat anggota pasukan clan Phoenix emas yang terbaring di atas tanah di lumuri dengan darah.
Bisa terlihat kepedihan yang begitu mendalam terpancar dari sorot matanya, bibirnya hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika Iblis manis mulai mengedipkan kedua matanya, aura berwarna hitam yang sebelumnya menyelimuti dirinya bersama aura berwarna putih keperakan kini menyebar sampai 1 kilometer jauhnya.
Semua makhluk hidup yang berada dalam jangkauan aura milik Iblis manis mulai jatuh satu persatu dan berlutut di atas tanah, tanpa terkecuali Zidan yang sedang terbang dan Ma'ruf yang berdiri di atas tombaknya pun ikut jatuh berlutut di atas tanah.
Semua orang menangis bersamaan ketika aura itu melewati mereka, semua orang kini memiliki tatapan kosong bahkan beberapa menjerit seperti sedang kesurupan.
Bayangan yang paling menyakitkan milik seseorang yang menyebabkan mereka berputus asa mulai membayangi setiap pikiran makhluk yang berada dalam jangkauan aura milik Iblis manis.
Beberapa teriakan dari anggota clan Phoenix emas terdengar dengan jelas.
"Anak ku, maafkan ayah yang tidak bisa menjagamu dengan baik".
Teriak pria paruh baya sembari menagis tersedu sedu.
"Aku memang lelaki yang tidak berguna, aku pantas untuk mati".
Teriak salah satu pemuda lain.
__ADS_1