Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
30. Pembuktian.


__ADS_3

Tetua Wan yang melihat anaknya di kalahkan dengan memalukan oleh Zidan, mulai tidak bisa menahan amarah.


Angin kencang yang sangat dingin di sertai butiran es mulai berterbangan di lantai 2.


"Aku akan membunuhmu! ********!".


Ketika tetua Wan hendak melompat menuju arena pertarungan antar remaja clan, para tetua lain menghentikan tindakannya.


"Jika kau ingin membunuhku, langkahi dulu mayatku Wanto!".


Teriakan tetua Zen memicu tetua keluarga cabang yang lain mulai berdiri dan siap membantunya jika harus bertarung dengan keluarga utama.


"Ayah,tenanglah! Biar aku yang membalaskan kekalahan Rio".


Pemuda yang memiliki rambut panjang dan berdiri di antara anggota keluarga utama mulai melangkah maju menuju area sparing.


Wasit yang melihat pemuda itu hendak masuk ke dalam arena langsung menghentikannya.


"Kau harus menunggu sampai pertandingan ini selesai, baru kau bisa bertanding".


Sedangkan tetua Wan yang sebelumnya marah hingga lupa diri kini mulai bisa sedikit tenang setelah melihat anak tertuanya maju untuk memberi pelajaran Zidan.


"Ridho! Beri pelajaran yang berat kepada anak Zen, patahkan lengan dan kakinya supaya dia tidak bisa lagi menjadi seorang penyihir!".


Para tetua keluarga cabang atau luar termasuk tetua Zen yang melihat tetua Wan mulai tenang dan mengurungkan niatnya untuk ikut campur ke dalam sparing antar remaja, akhirnya mulai kembali duduk.


"Baiklah Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu".


Para penonton yang melihat Ridho hendak menantang Zidan untuk membalaskan kekalahan adiknya pun mulai saling berdiskusi.


"Ba-bagaimana bisa ini di perbolehkan? Bukankah usia Ridho sudah 22 tahun dan telah memasuki tahap batu tingkat 5, kenapa para panitia membiarkan anak tetua Zen yang masih berusia 17 tahun dan baru saja melewati tahap batu melawannya?".


"Diamlah, itu urusan mereka. Kita tidak perlu ikut campur atau kita akan terkena imbasnya".


Zidan yang masih berdiri di atas arena dengan kaki yang tetap menginjak wajah Rio pun melihat ke arah pemuda yang berada di bawah arena.


"Cepat lepaskan adik ku! Biarkan aku masuk dan melawanmu".


Teriakan Ridho seharusnya membuat Zidan merasa takut, namun yang terjadi malah sebaliknya.


Zidan menatap kelangit dengan tangan menutupi sebelah wajahnya sebelum tertawa terbahak bahak.


"Hahaha hahaha haha! Apa hakmu menyuruhku?".


Wajah Ridho yang semula tenang kini mulai terlihat sedikit geram dengan alis yang ter tekuk.


"Bukannya adik ku sudah kalah? Biarkan dia turun dan lawanlah aku! Atau kau takut melawanku pecundang?".


"Takut? pecundang? Lelucon macam apa yang kalian katakan! Bukankah wasit berkata bahwa pertandingan akan selesai apabila salah satu pihak ada yang keluar arena,mengakui kekalahan atau menyerah dan pingsan?


Aku melihat adikmu belum keluar dari arena, dia juga tidak mengakui kekalahannya dan belum pingsan bisa di lihat dari tangannya yang terus menerus menarik kakiku".


Melihat kebengisan Zidan, semua anggota keluarga utama seakan tidak bisa menahan diri dari amarah dan mulai mengepalkan tinjunya.

__ADS_1


"Brengsek! Apa kau buta? Bagaimana mungkin adik ku bisa mengucapkan kalimat menyerah jika sepatumu tetap berada di dalam mulutnya?".


"Oh iya tah? Kalau begitu akan aku lepaskan, aku juga ingin mendengar apa dia ingin menyerah atau tidak".


Perlahan namun pasti, Zidan mengangkat kakinya.


Rio yang tergeletak di atas arena kini mulai bernafas dengan sedikit lega.


Akan tetapi wajahnya sangat ketakutan saat melihat tatapan Zidan.


"A-aku menyer-".


"Buuuk!".


Sepatu Zidan kembali masuk ke dalam mulut Rio.


"Sepertinya adikmu tidak ingin menyerah haha".


"Brengsek! Bagaimana dia bisa mengakui kekalahannya jika kau terus memasukan sepatumu kedalam mulutnya dasar ********!".


"Hei, kenapa kau malah menyalahkan ku? Jika tidak percaya mari kita dengarkan, apa yang dia katakan".


Zidan kembali mengangkat sepatunya dari dalam mulut Rio agar Rio bisa mengakui kekalahannya, namun ketika Rio belum menyelesaikan ucapannya.


Zidan kembali memasukan sepatunya kedalam mulut Rio, adegan itu Zidan lakukan secara terus menerus sampai wajah Rio di penuhi bercak darah dan memar.


"Priiiit! Kenapa kau menyerang wajahnya menggunakan kakimu? Apa kau lupa peraturannya?".


"Ah wasit, maafkan aku. Aku tidak sengaja haha".


Darah mengucur dengan deras,semua orang yang melihat kejadian itu terlihat ketakutan bahkan beberapa ada yang sampai muntah dan kencing di celana.


Dari ribuan anggota yang menghadiri acara tahunan clan dan melihat momen itu, sepertinya hanya Zidan yang tersenyum dan menikmati momen kematian Rio.


"Hahaha huahahahahaaa".


Tawa dan senyum Zidan ketika membunuh seseorang membuat semua yang melihatnya menjadi begidik merinding, bagaimana bisa remaja berusia 17 tahun sepertinya bertindak layaknya Iblis yang tidak punya hati nurani.


"Persetan dengan peraturan,aku akan membunuhmu!".


Setelah meneteskan darahnya di atas buku yang berada di salah satu pintu masuk arena, gerbang arena mulai terbuka dan penghalang pun perlahan menghilang.


Ridho masuk dengan wajah yang sangat merah dan di penuhi amarah, tepat setelah ia masuk ke dalam arena penghalang yang sangat tipis namun kuat mulai kembali menyelimuti arena tersebut.


"Aku akan membunuhmu! Aku tidak perduli peraturan lagi, aku harus membunuhmu malam ini!".


Ancaman yang di lontarkan oleh Ridho hanya Zidan tanggapi dengan santai dan acuh tak acuh.


"Jika kau bisa,aku tidak akan keberatan".


Dengan cepat Ridho melompat ke udara dan membentuk ratusan pedang yang terbuat dari es melayang di udara, Ridho berdiri di atas salah satu pedang yang berwarna biru dan melayang itu.


"Per-pertandingan macam apa ini? Apakah benar ini hanya sparing tahunan clan".

__ADS_1


Wanita yang membawa kipas dan sedari awal meremehkan Zidan, kini mulai meneguk ludah ketika melihat kekejaman yang di tunjukan oleh Zidan.


Begitupun dengan keluarga utama yang lain, meskipun mereka kuat namun membuat orang seperti Zidan menjadi musuh sepertinya bukan ide yang bagus.


"Meskipun dia bisa mengalahkan remaja paling berbakat di angkatannya, mengalahkan Ridho yang sudah memasuki tahap batu tingkat 5 adalah kemustahilan".


"Benar sekali, berbeda 1 tingkatan saja perbandingan kekuatan penyihir sudah seperti langit dan bumi! Sepertinya anak tetua Zen tidak akan bisa melihat langit malam lagi".


Beberapa orang ada yang merasa takut melihat kebengisan Zidan, namun beberapa ada yang iba karena Zidan akan di libas dengan mudah oleh Ridho tetapi beberapa ada juga yang memuji serta takjub akan keberanian yang di tunjukan oleh Zidan.


"Teknik pamungkas! Pedang es penyapu arwah!".


Teknik yang di gunakan oleh Ridho untuk melawan Zidan membuat para tetua melongo, teknik pedang es penyapu arwah adalah teknik tingkat perak dan merupakan salah satu teknik warisan turun temurun clan bulan sabit merah.


Perbedaan kekuatan teknik pedang es penyapu arwah terletak pada jumlah pedang es yang dapat di kendalikan oleh pengguna teknik tersebut.


Untuk pengguna pemula mereka hanya bisa mengendalikan 1-10 pedang saja, untuk tingkat menengah mereka dapat mengendalikan 11-100 pedang secara bersamaan, untuk tingkat atas mereka dapat mengendalikan 101-1000 pedang secara bersamaan sedangkan tingkatan paling atas dari teknik pedang es penyapu arwah adalah tingkat senior.


Para anggota clan bulan sabit merah yang sudah menguasai teknik pedang es penyapu arwah hingga tingkat senior hanya ada beberapa saja atau bisa di katakan jumlahnya bisa di hitung.


Teknik yang awalnya hanya tingkat perak, namun jika bisa di kuasai hingga tingkat senior maka teknik itu akan menjadi teknik tingkat emas yang memiliki jangkauan area luas dan dapat menyapu atau membunuh ribuan orang hanya dalam sekejap.


Melihat teknik mematikan yang di gunakan oleh Ridho, kini giliran tetua Zen yang khawatir dengan keselamatan putranya dan mulai berdiri.


"Haha,sekarang anakmu akan merasakan apa yang anak ku rasakan Zen!".


"Brengsek kau Wanto! Bagaimana mungkin seorang tetua dari keluarga utama sepertimu tanpa rasa malu membiarkan seorang remaja yang baru saja melewati tahap batu melawan penyihir tahap batu tingkat 5!".


"Duduk dan tutup mulutmu Zen! Lebih baik kau nikmati detik detik sebelum putramu kehilangan nyawa".


"Ka-kau dasar tua bang-".


Belum sempat tetua Zen menyelesaikan ucapannya, Zidan sudah melompat ke udara dan mulai mengucapkan beberapa kalimat.


"Teknik tingkat emas, tangisan Mikail!".


Seluruh arena kini di penuhi dengan suara tangisan dan rintihan yang berasal dari teknik milik Zidan, semua orang sangat ketakutan ketika mendengar suara tangis dan rintihan teknik tangisan Mikail.


Bahkan tetua Zen dan tetua Wan yang masih berdebat pun dengan sigap menutup kedua telinga mereka.


Ratusan pedang yang melayang dengan cepat menuju ke arah Zidan mulai terbelah ketika berbenturan dengan angin tajam yang berasal dari teknik tangisan Mikail milik Zidan.


"Bruaaak".


Ridho yang sebelum nya berdiri di atas pedang es miliknya yang melayang,langsung terjatuh ke arena ketika teknik milik Zidan menghantam ratusan pedang milik nya.


"Si-sialan! Dasar pengecut! Berani beraninya kau menipu kami, ba-bagaimana mungkin seseorang yang masih tahap batu tingkat 1 bisa menggunakan teknik tingkat emas.


Harusnya kau malu karena memalsukan tingkatan sihirmu".


"Hmmm malu? Apa aku pernah berkata kepada kalian bahwa aku masih tahap batu tingkat 1? Bukankah kalian sendiri yang menebak nebak dan berasumsi seperti itu?".


Para anggota clan bulan sabit merah kembali di kejutkan oleh kemampuan Zidan, bukan hanya kekuatannya yang begitu mengerikan namun ribuan mana berwarna merah sebesar pantat kunang kunang yang bersinar mulai perlahan keluar dari tubuh Zidan.

__ADS_1


Mana seharusnya berwarna biru cerah dan berasal dari luar tubuh seseorang,kemudian masuk ke dalam tubuh seseorang itu sebelum kembali di matrialisasikan menjadi sebuah elemen.


Sedangkan mana berwarna merah yang keluar dari tubuh Zidan adalah mana lautan qi milik seseorang yang telah ia bunuh, dan mana lautan qi yang menyelimuti tubuh Zidan tidak hanya satu melainkan ribuan layaknya bintang yang menghiasi langit malam


__ADS_2