Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
35. Perang dagang.


__ADS_3

Dengan wajah sedikit khawatir, Tetua Zen memandangi tubuh anaknya dari atas sampai bawah.


"Ta-tapi nak, kau semalam menjalani pertarungan yang begitu berat.


Lebih baik kau istirahat terlebih dahulu dan membicarakan masalah yang kau maksud setelah kau bangun dari tidurmu nanti".


Mau tak mau Zidan memasang wajah serius menanggapi pernyataan tetua Zen.


"Ayah, aku sudah mendapatkan perawatan semalam. Kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku, sekarang prioritasku adalah masalah apa yang membuat Ayah sampai telat mengirimkan uang bulanan untuk Suci?".


Mendengar pertanyaan Zidan, Tetua Zen sedikit terkejut sebelum kembali tersenyum dengan masam.


"Aku tidak menyangka kau menanyakan hal itu Nak".


"Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya Ayah, namun akhir akhir ini sikap Suci sedikit aneh. Mungkin dia marah karena Ayah telat mengirimkan uang bulanan untuknya".


"Ayah juga tidak ingin terlambat dalam mengirimkan uang bulanan untuk kalian berdua, hanya saja akhir akhir ini bisnis keluarga kita sedikit menurun".


Alis Zidan berkerut dan menjadi satu saat tetua Zen mengatakan bisnis keluarga nya menurun, karena selama ini Zidan hanya tahu bahwa Ayahnya membuka sebuah toko pil dan toko itu sangatlah ramai.


"Sepi? Apa maksudmu Ayah, apakah masyarakat sudah tidak membutuhkan pil pil sihir itu lagi?".


Sebelum kembali berbicara, tetua Zen mengelus jenggotnya dan menghela nafas panjang.


"Haaaah, bukan seperti itu nak.


Peminat pil semakin banyak namun penjual pil di daerah utara ini bukan hanya kita seorang, ada beberapa toko pil lain di daerah utara ini".


"Bukankah Ayah menyewa 3 alkemis untuk membuat pil pil itu? Setahuku pil pil keluarga kita lah yang paling mendominan di kalangan masyarakat utara ini".


"Dulu memang iya, sebelum clan daun gugur menyewa para alkemis master yang bisa menciptakan sebuah pil dengan efek samping hanya 15 persen.


Sedangkan 3 alkemis yang Ayah sewa dari pakuan ratu hanya bisa membuat pil dengan efek samping 20 persen.


Mereka juga menjual pil sihir dengan harga murah meskipun pil mereka lebih tinggi dari kita, itu lah yang membuat para masyarakat beralih menjadi pelanggan clan daun gugur".


Zidan hanya berdecak kesal, sebelum memejamkan mata untuk beberapa saat.


"Hei,hei bangun. Apa kau bisa mendengarku Iblis pemalas?".


Sebuah suara kini terdengar dengan lantang berngiang di kepala Zidan.


"Iblis pemalas pemalas, apa kau tidak tahu sopan santun!".


"Maaf hehe, saat ini aku butuh bantuanmu".


"Tumben sekali kau meminta bantuanku, apa yang membuatmu sampai berfikir aku bisa membantumu?".


"Tentu saja karena kau adalah Pangeran Iblis terhebat! Toh aku juga hanya akan bertanya bagaimana caranya membuat obat".


"Haaah baiklah, kalau begitu mari kita buat.


Aku ingin bisa segera tidur kembali".


"Bukan sekarang tapi nanti, aku membangunkanmu hanya untuk memastikan apakah kau mengetahui tentang obat obatan atau tidak".


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, meskipun usiaku hanya ratusan tahun.


Namun ingatan pendahulu semua Pangeran Iblis dari generasi ke generasi aku memilikinya".


"Mantap! Kalau begitu, kau bisa tidur lagi.

__ADS_1


Aku akan membangunkanmu nanti".


Tetua Zen hanya diam dengan wajah cemas ketika melihat Zidan memejamkan mata di atas kursi seperti sedang tidur karena kelelahan.


"Zhi! Apa kau baik baik saja Nak? Jika kau mengantuk, lebih baik kita bicarakan masalah ini setelah kau beristirahat".


Zidan kembali membuka mata dengan perlahan dan menatap wajah Ayahnya dengan senyuman.


"Ayah, kau tidak perlu panik begitu.


Aku hanya memikirkan beberapa cara untuk mengatasi masalah ini, dan sekarang aku sudah menemukan solusinya".


Dengan ekspresi terkejut, tetua Zen mencoba mengendalikan dirinya.


"Be-benarkah Nak? Apakah benar kau sudah menemukan solusinya? Cepat beritahu Ayahmu ini bagaimana caranya".


Membalas pertanyaan tetua Zen dengan senyuman, sebelum kembali berdiri.


Itu lah yang tengah di lakukan Zidan.


"Ayah, beristirahatlah. Biar kan aku yang menyelesaikan masalah keluarga kita kali ini.


Aku akan berangkat menuju toko obat keluarga kita dan membawa beberapa orang prajurit".


"Baiklah jika kau memaksa, seperti nya kau sudah cukup dewasa dan bisa mengambil jalanmu sendiri. Maafkan Ayahmu ini karena selalu menganggapmu seperti anak kecil".


"Ayah tidak perlu sungkan, sedewasa apapun seseorang. Dia akan menjadi anak kecil di hadapan orang tuanya, kalau begitu aku berangkat Ayah. Assalamu 'alaikum".


"Wa alaikumus sallam, hati hati Nak hmm".


Tetua Zen hanya bisa memandang punggung Zidan yang semakin menjauh, anaknya yang dulu selalu di cap sebagai produk gagal ternyata malah memiliki bakat yang luar biasa.


Rasa gelisah menyelimuti hati tetua Zen, saat mengingat alasan di balik kematian istrinya.


Dia takut, anaknya akan mengalami hal yang serupa dengan istrinya.


Para penjaga yang melihat kedatangan Zidan mulai berdiri dengan tegap dan menundukan wajah.


"Aku ingin membawa 19 prajurit menuju toko pil obat keluarga kita, cepat bawakan dan segera ikuti aku.


Aku akan berjalan terlebih dahulu".


"Ba-baik Tuan muda!".


Para penjaga menjawab dengan serentak, meskipun mereka tidak tahu apa yang ingin Zidan lakukan dengan membawa 19 prajurit.


Akan tetapi kemampuan yang sebelumnya Zidan tunjukan membuat para prajurit jera dan menaruh hormat kepadanya.


Zidan berjalan dengan santai, matanya sayup seakan akan menyimpan begitu banyak beban di pundaknya.


Belasan prajurit menghampiri Zidan dengan berlari, meskipun beberapa masih ada yang menertawakan Zidan karena setau mereka Zidan hanyalah Tuan muda teridiot di provinsi ini.


"Kalian semua, cepat berpencar menuju ke 15 cabang toko obat keluarga kita dan ambil semua obat obatan di toko itu! Kemudian bawa semua obat obatan itu menuju toko obat utama dalam 10 menit, jika kalian tidak bisa membawanya ...".


Zidan tidak melanjutkan ucapannya, melainkan menatap mata para prajurit satu persatu dengan tatapan yang di penuhi amarah.


Para prajurit pun segera berangkat meskipun beberapa dari mereka masih ada yang merasa heran dengan sikap yang Zidan tunjukan.


"Lel, kenapa kita mematahui ucapan si Tuan muda idiot itu?".


"Entahlah, hanya saja firasatku mengatakan bahwa lebih baik menuruti nya dari pada melawan".

__ADS_1


"Aku juga berfikir seperti itu, yang membuatku heran adalah kenapa semua prajurit menjadi begitu patuh padanya?".


"Bisa jadi karena sikap percaya diri yang Tuan muda tunjukan, selama ini ketika kita memerasnya untuk menyerahkan uang bulanan dia tidak pernah sekalipun berani memandang wajah kita.


Akan tetapi, tatapan matanya tadi sangat menakutkan dan penuh wibawa meskipun aku menatap matanya hanya beberapa detik saja.


Sungguh itu membuatku merasa sedikit takut padanya".


Di dalam perjalanan, semua prajurit hampir tidak mempercayai diri mereka sendiri yang mematuhi perintah Zidan dan takut untuk bertanya kenapa mereka harus mengambil semua obat dari cabang toko obat.


Dua orang penjaga menyambut kedatangan Zidan yang di temani 4 pengawal, pengawal yang menemani Zidan adalah para prajurit yang menjaga pintu kediaman keluarga cabang clan Bulan sabit merah.


Para penjaga itu dengan rela menemani Zidan karena mereka sudah merasakan sendiri kekuatan yang Zidan tunjukan.


Sedangkan belasan prajurit lain yang menuju toko obat cabang, hanya lah prajurit dalam yang di siapkan khusus untuk berperang.


"Owh, Tuan muda pecundang ini seperti-".


Salah satu prajurit yang menjaga pintu masuk toko obat dengan santai menghina Zidan.


Namun, sebuah tamparan keras dari salah satu prajurit yang mengikuti Zidan membuatnya tidak sadarkan diri hingga belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Tutup mulutmu prajurit rendahan! Berani beraninya kau menghina Tuan muda Zidan di hadapan kami para pengawalnya".


Melihat tingkah laku prajurit yang mengawalnya dengan suka rela begitu marah saat dirinya di hina, Zidan tersenyum dan merasa bahwa hinaan yang sebelumnya dia terima adalah hal yang pantas dan wajar karena dia adalah anak salah satu tetua clan namun dia terlalu lemah untuk di jadikan panutan saat itu.


Para alkemis yang di sewa oleh tetua Zen mulai keluar satu persatu dari toko obat setelah mendengar teriakan keras di luar pintu masuk toko mereka.


"A-apa yang terjadi? Siapa yang berani membuat salah satu penjaga toko obat clan bulan sabit merah pingsan!".


Prajurit yang melihat tingkah sombong sang alkemis pun menjawab dengan lantang dan penuh percaya diri.


"Aku yang menamparnya, biarkan prajurit itu belajar sopan santun. Agar kelak bisa menaruh hormat terhadap Tuan muda!".


Sang alkemis yang memiliki postur tubuh tinggi dan berdiri di depan pintu mulai menatap wajah Zidan dengan serius sebelum terkekeh.


"Aku kira tuan muda mana, ternyata hanya seorang samp-".


"Plaaak!".


Kini giliran prajurit yang berdiri di sisi kiri Zidan yang menampar alkemis itu tanpa rasa takut, sebelum kembali berdiri dengan tenang di sisi Zidan.


Sebenarnya alkemis adalah pekerjaan yang terhitung mulia dan di anggap tinggi kedudukannya, karena mereka membuat pil yang dapat meningkatkan kultivasi sihir seseorang.


Serta membuat obat obatan yang sangat berkhasiat, sampai para masyarakat pun bisa di bilang 99% dari keseluruhannya dapat di katakan sehat tanpa penyakit sedikit pun.


Akan tetapi tamparan para penjaga sebenarnya untuk kebaikan alkemis itu sendiri, para penjaga tahu bahwa Zidan bukanlah Tuan muda yang idiot seperti dulu.


"Berani beraninya seorang prajurit rendahan sepetimu menamparku! Apa kau tidak takut aku melaporkan tindakanmu kepada tetua Zen agar kau di keluarkan dari clan!".


"Kenapa aku harus takut hanya kepada seorang alkemis! Kalian hanya bisa membuat obat tanpa bisa bertarung, jika aku ingin membunuh kalian mak-".


"Cukup! Aku datang kemari bukan untuk membuat kegaduhan atau masalah, pengawal tolong obati penjaga toko yang pingsan itu dan tunggu lah aku di luar.


Untuk para alkemis, mari kita masuk dan membicarakan beberapa hal yang dapat mengatasi krisis pelanggan toko obat kita ini".


Ucapan Zidan membuat para pengawalnya menunduk dan mengobati salah satu penjaga toko yang pingsan setelah menerima tamparan dari mereka.


Sedangkan para alkemis hanya diam tak percaya melihat tingkah laku Zidan yang begitu percaya diri.


Benarkah Zidan adalah tuan muda pengecut seperti rumor yang beredar.

__ADS_1


__ADS_2