
Pertarungan antar kesatria
Setelah para perampok berhasil menghabisi para prajurit sang bangsawan.
Mereka mulai menarik dan melempar sang bangsawan hingga tersungkur di atas tanah bersama 2 gadi sexy dan kusir keretanya.
Sedangkan perampok yang lain mendekati Ma'ruf dan kedua temannya yang sedang menjaga Suci dan Dimas yang belum sadarkan diri.
"Hei gendut, cepat serahkan barang berhargamu!" teriak perampok bertopeng emas dengan nada tinggi.
"Aku,A-aku tidak memiliki barang berharga apapun" jawab pria buncit dengan wajah memelas.
"Apa kau pikir aku bodoh? Kau baru saja mengaku bahwa kau adalah seorang gubernur! Seorang gubernur keluar dari istana yang nyaman miliknya pasti membawa sesuatu yang berharga". Bentak sang perampok.
"Ba-Baiklah, tapi tolong ampuni nyawaku, aku akan memberikan semua barang barang berharga miliku".
"Aku akan berbelas kasih dan mengampuni nyawamu jika kau berikan wanita wanita itu padaku hahaha".
"Aku tidak sudi mengikuti perampok sepertimu!" teriak salah satu wanita sexy yang menggunakan gaun merah.
"Diam wanita jalang! Cepat turuti perkataan pendekar ini" bentak pria buncit dengan mata melotot ke arah dua wanita sexy yang berada di dekatnya.
"Ta-tapi tuan" jawab gadis sexy.
"Tidak ada tapi tapian, kau sudah mendengarnya bukan? gendut itu telah memberikan kalian untuk ku, jadi mulai sekarang aku lah tuan kalian!" Bentak perampok topeng emas dengan geram.
"Tetua, bagaimana dengan gadis muda yang sedang pingsan di sana?" Tanya perampok lain sembari mendekati ketuanya.
"Hahaha,sepertinya hari ini aku sangat hoki. Bawa kemari gadis muda itu!" perintah tetua perampok.
"Baik tetua" jawab beberapa perampok sembari menghampiri Ma'ruf dan kawan kawannya yang sedang menjaga Suci dan Dimas yang sedang tidak sadarkan diri.
"Mau apa kalian? Jangan mendekat!" ancam Ma'ruf sebelum mengeluarkan tombak panjang miliknya.
"Tentu saja kami mau membawa gadis muda itu untuk melayani kami hahaha".
"Jika kalian berani menyentuhnya sejengkal saja, aku pastikan kalian tidak akan bisa melihat mentari lagi" Sahut Dian dengan gagah dan sopan.
"Hahaha haha, apa yang bisa di lakukan anak anak kecil seperti kalian hah?" ejek salah satu perampok dengan tertawa.
Karena merasa sudah tidak bisa mengambil jalan aman, Ma'ruf berlari mengayunkan tombak nya hingga menusuk leher beberapa perampok.
Sedangkan Made dan Dian menebas semua perampok yang mendekat ke arah Suci.
Dengan petir yang menylimuti tubuh serta air yang membuat para perampok susah berjalan, Ma'ruf dengan lihai memainkan tombaknya menorobos masuk di tengah tengah puluhan perampok.
Ma'ruf dengan gagah menayunkan tombaknya hingga memenggal kepala puluhan perampok, gerakannya sangat lincah dan mematikan.
Tetua perampok yang melihat Ma'ruf menghabisi anggotanya satu persatu mulai geram, ia mengeluarkan sebuah golok berwarna emas dan melompat menyerang ke arah Ma'ruf.
Ma'ruf yang melihat bahaya mulai mendekat dengan spontan salto ke belakang untuk menghindar, dia mulai membuat bola pelindung dari air untuk menahan serangan perampok bertopeng emas.
Melihat Ma'ruf memilih bertahan, sang perampok bertopeng emas mulai tertawa.
Dia mengangkat goloknya kearah langit dan tanah di sekitarnya mulai tergoncang dengan hebat.
Puluhan batu raksasa melayang di udara, ketika perampok itu menurunkan goloknya ke arah Ma'ruf.
Puluhan batu terbang yang berada di sekitarnya langsung maju menghantam pelindung air milik Ma'ruf.
__ADS_1
Ma'ruf hanya bisa bertahan, ia sangat kesulitan mempertahankan tameng air yang berbentuk bola miliknya.
Mana dan staminya mulai terkuras ketika satu persatu batu besar itu menghantam bola pelindungnya.
Made yang sedang menjaga Suci dan Dimas yang tidak sadarkan diri, dari para perampok lainnya mulai menyadari kondisi Ma'ruf yang tertekan.
Tak ambil pusing ia langsung mengelurkan teknik terhebat miliknya.
Ketika Made mengerahkan sabit miliknya menuju tetua para perampok, angin yang kuat dan besar menerjang puluhan perampok hingga berterbangan.
Tetua perampok yang menyadari serangan milik Made menuju kearahnya, mulai membentuk dinding dinding batu besar yang muncul dari tanah.
Sedangkan Dian hanya menggunakan katana miliknya untuk menebas satu persatu perampok yang mendekat kearah Suci dan Dimas.
Dian yang melihat Made mulai kehabisan stamina pun melompat kearah Made untuk melindunginya, meskipun ia sendiri terlihat mulai kelelahan.
Ma'ruf yang menyadari tetua para perampok sedang tidak memperhatikannya langsung menerobos maju kearah perampok bertopeng emas dengan mengarahkan tombak yang ia genggam.
Namun, karena stamina yang ia miliki sudah terkuras habis.
Kecepatan milik Ma'ruf terlihat begitu lamban, para perampok lain yang melihat Ma'ruf mengarahkan tombaknya ke tubuh tetua mereka langsung melompat dan menyerang Ma'ruf dengan tinjuan,tendangan dan tusukan.
Hingga akhirnya Ma'ruf pun terhuyung huyung kebelakang sembari menahan darah yang keluar dari dalam dadanya karena terkena beberapa tusukan pedang, mau tak mau karena telah kehilangan banyak mana,stamina dan darah Ma'ruf pun harus jatuh ketanah dan mulai mengerang kesakitan.
Meskipun mereka bertiga sudah berusaha dengan keras namun stamina dan mana milik Ma'ruf, Made,dan Dian akhirnya terkuras habis hingga membuat mereka bertiga tidak sanggup lagi untuk melanjutkan pertarungan.
Melihat kondisi Ma'ruf, Made dan Dian.
Para perampok langsung menuju kearah Suci untuk membawanya.
"Hahaha ha,anak muda andainya kalian tidak melawan. Aku sebagai perampok yang baik hati,tampan,suka menolong dan tidak sombong mungkin akan mengampuni nyawa kalian bertiga hahaha ha"
"Lebih baik mati! Dari pada di ampuni oleh orang sepengecut dirimu! Ughuk ughuk" jawab Ma'ruf dengan terbata bata.
Beberapa perampok yang mendengar perintah tetua mereka langsung menuju kearah Suci untuk membawanya, namun saat para perampok itu ingin menyentuh tubuh Suci tiba tiba saja mereka kehilangan tangan dan kepalanya.
Sesosok pria muda berambut belah tengah dan memakai bandana berwarna putih berdiri di hadapan Suci, pria muda itu tak lain adalah Zidan yang sedang marah melihat kondisi adiknya.
"Siapa yang berani melukai adik ku?" Zidan bertanya dengan dingin.
Zidan memalingkan tubuhnya dan menatap para perampok dengan tatapan haus darah.
"Owh,ada anak nakal lain yang perlu di beri pelajaran juga rupanya?" ejek sang Tetua perampok.
"Siapa yang berani menyentuh adik ku? Jika kalian tetap tidak ingin menjawab, maka jangan salahkan aku kalau sebentar lagi kepala kalian akan berpisah dari tempat seharusnya ia berada" ancam Zidan sembari memposisikan pedangnya dalm posisi siap menyerang.
"Dasar bocah tidak tahu diri! Apa yang bisa kau lakukan seorang diri bocah tengik! Beraninya kau mengancam kami!".
" aku sudah berbaik hati memberi kalian peringatan, aku akan menghitung sampai 3.
Jika kalian tetap saja diam, maka jangan menyesali keputusan kalian".
"Dasar bocah tengik! Kalian cepat bunuh bocah itu dan bawakan aku kepalanya!" Teriak perampok bertopeng emas.
"Tiga!!!" teriak Zidan dengan lantang.
ia mengangkat pedangnya keatas hingga mengeluarkan listrik berwarna ungu menylimuti pedangnya.
Langit yang semula cerah kini berubah mendung dan gerimis mulai membasahi tempat pertarungan itu, ketika petir menyambar pedang milik Zidan.
Zidan mulai melompat keatas dan menebas udara di sekitarnya.
"Rintihan Mikail!" teriak Zidan.
__ADS_1
Tebasan pedang Zidan menghasilkan angin yang sangat tipis dan mampu memotong apa pun yang berada di hadapannya, suara dari gesekan air hujan dan tebasan di udara membuat rintihan yang begitu menyayat telinga dan sangat menakutkan.
Teknik itu di beri nama rintihan Mikail karena di dalam salah satu agama menyebutkan bahwa Mikail adalah satu satunya Malaikat yang tidak pernah tersenyum.
Selain membagikan rezeki, Mikail juga di beri tugas oleh Tuhan untuk memintakan ampunan bagi umat manusia.
Saat Mikail memohon ampunan untuk umat manusia maka suara rintihan dan tangisannya akan membuat siapapun yang mendengarnya mati ketakutan, setiap air mata yang Mikail teteskan akan berubah menjadi malaikat dan menyerupai dirinya untuk menyebut nama nama Tuhan yang agung.
Hanya dalam sekejap puluhan perampok itu kehilangan nyawa, air hujan yang menggenangi bumi kini berwarna kan merah dan udara di sekitarnya berbau amis.
Tetua para perampok itu sangat kaget melihat anak buahnya di habisi dalam sekejap oleh seorang anak kecil.
"Sialan anak ini bukan bocah sembarangan,semua bawahanku bukan tandingannya!" Ucap ketua perampok di dalam hati.
Tetua perampok mulai memposisikan golok emasnya dalam posisi siap menyerang.
Namun niatnya terhenti ketika ia melihat seorang pemuda lain berjalan menampakan dirinya dari balik sebatang pohon, Sang gubernur yang awalnya merasa senang karena para perampok telah di habisi kini wajahnya pucat pasi dan ketakutan sampai mengompol ketika melihat pemuda berjubah hitam itu.
Selama ini sang gubernur hanya berada di dalam kereta hingga tidak menyadari siapa yang mengawalnya.
"I-iblis manis" teriak sang gubernur sembari mundur secara perlahan ketika melihat pemuda berjubah hitam itu.
"Apa? Dia iblis manis?" teriak tetua perampok dengan terkejut.
Semua orang di kekaisaran Nuswantara pasti mengenal siapa iblis manis, dia adalah legenda muda yang menghabisi 600 ribu pasukan pemberontak seorang diri lalu menghilang selama 3 tahun dan kini muncul dia kembali secara tiba tiba.
Tetua perampok yang merasa posisinya tidak menguntungkan menghampiri Gubernur buncit yang sedang ketakutan dan mengarahkan golok emasnya ke leher gubernur itu.
"Ji-jika kalian berani mendekat, maka nyawa gubernur ini akan aku habisi dalam sekejap!" ancam sang perampok.
"Tolong jangan bunuh aku tuan, kau telah berkata akan mengampuni nyawaku jika aku memberikan semua barang berharga miliku" Teriak Gubernur buncit dengan ketakutan.
"Diam! Gubernuh bodoh" balas Tetua perampok.
"Apa kau pikir aku perduli?" jawab pemuda yang di juluki iblis manis itu.
"A-apa? Bukankah kalian mendapat tugas untuk melindungi gubernur sampah ini?" teriak sang perampok dengan wajah ketakutan.
"Ma'ruf" ucap iblis manis sembari menatap wajah Ma'ruf yang sedang duduk di tanah untuk memulihkan diri.
Mendengar ucapan dari iblis manis, Ma'ruf tersenyum dan mengeluarkan tombak petir miliknya.
Tanpa pikir panjang Ma'ruf melemparkan tombak miliknya kearah gubernur sampai menusuk jantung gubernur dan perampok yang sedang menyanderanya.
"A-apa yang kalian lakukan!" teriak Zidan dengan kebingungan melihat tindakan kedua temannya.
Bukannya menjawab, Ma'ruf mendatangi kedua wanita sexy milik gubernur dan menusuk kedua leher perempuan tersebut dengan tombak miliknya hingga keduanya mati dalam sekejap.
Setelah itu Ma'ruf menghampiri orang tua yang tak lain adalah kusir sang gubernur yang bertugas mengendalikan kereta kencana.
"Apa yang di lakukan gubernur sampai harus meninggalkan istananya?" tanya Ma'ruf kepada sang kusir.
"Pendekar muda mohon tenang, sebenarnya sang kaisar memberi tugas kepada gubernur untuk mengambil harta warisan milik clan jingga".
"Owh, apa harta kuno yang kau maksud itu?".
"Menurut apa yang hamba dengar, harta kuno milik clan Jingga yang terkenal adalah rumput keabadian berusia 300 tahun".
" Ja-Jangan jangan kalian ingin merampas harta kuno itu!" Teriak Zidan sembari menunjuk ke arah Ma'ruf.
"Apa kau pikir kami ini perampok?" Balas Ma'ruf dengan dingin.
"La- lalu apa yang akan kita lakukan? Kau telah membunuh Gubernur".
__ADS_1
"Kau tidak perlu tahu, sekarang mari masukan teman teman kita yang pingsan kedalam kereta dan lanjutkan perjalanan".