Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
29. Pembalasan.


__ADS_3

Suasana di ruangan yang di gunakan untuk pertemuan tahunan clan terasa sedikit berbeda, para keluarga luar atau cabang seperti di intimidasi oleh keluarga utama melalui pandangan mereka yang seakan akan melihat sesuatu kotor dan menjijikan.


Tetua Zen di temani oleh beberapa tetua lain mulai berjalan menuju lantai dua untuk duduk bersama tetua lain.


Sedangkan bagi para anggota, mereka duduk di sekitar luar arena sparing tahunan clan.


Beberapa pemuda sudah ada yang memasuki arena clan, sebelum mereka masuk ke dalam lingkaran sparing.


Mereka akan menandatangani perjanjian sparing yaitu dengan cara meneteskan darah mereka di atas buku perjanjian, agar para peserta tidak akan menyalahkan para tetua clan jika terjadi kecelakaan di dalam arena seperti patah tulang bahkan meninggal dunia,karena mereka mengikuti sparing atas kemauan diri sendiri dan darah di atas buku perjanjian sebagai barang bukti.


Lingkaran sparing memiliki 5 arena, dan setiap arena berdiameter 8x8 meter.


Zidan memilih tempat duduk yang agak jauh dari keramaian di ikuti Suci, namun sedari tadi Suci hanya diam membisu dengan ekspresi wajah yang sedikit ketus.


Seorang pemuda yang memiliki alis tebal berdiri di atas arena lingkaran sparing, lebih tepatnya di lingkaran sparing yang berada di area tengah.


"Mana pecundang yang tadi menghina Ayahku?".


Teriak pemuda itu dengan lantang.


Semua peserta yang hadir hanya diam membisu, karena pemuda itu adalah anak salah satu orang berpengaruh yaitu tetua Wan.


Belum lagi kemampuannya bisa di bilang yang terbaik di generasi 17 tahun.


"Seperti nya,sudah waktunya untuk bersinar".


Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Zidan berdiri dan melangkahkan kakinya menuju arena sparing yang berada di tengah.


Tampaknya Suci sangat khawatir dengan Zidan, dia ingin menarik tangan Zidan agar tidak melawan anak tetua Wan yang bernama Rio karena Suci mengetahui kehebatan Rio bukanlah sekedar omong kosong.


Hanya saja saat ini Suci sedang sedikit kesal terhadap Zidan.


"Aku pikir kau akan lari dan tidak akan menunjukan batang hidungmu".


"Cuih".


Menanggapi hinaan Rio, Zidan hanya meludah.


"Ka-kau berani ber-".


"Wasit! Cepat mulai".


Bentak Zidan kepada seorang pria yang berdiri di tengah tengah mereka.


"Baiklah,peraturannya sangat simpel.


Kalian cukup membuat musuh keluar dari arena,mengaku kalah atau pingsan.


Peraturan lainnya adalah tidak di perbolehkan seorang peserta memukul wajah dan ******** lawan karena itu bisa berakibat fatal.


Apa kalian sudah mengerti?".


Zidan dan Rio mengangguk bersamaan menanggapi pertanyaan sang wasit.


"Baiklah kalau begitu, dengan ini aku nyatakan pertandingan di mulai!".


Setelah menyatakan pertandingan di mulai, wasit melompat keluar dari arena agar tidak terkena serangan dari para peserta.


"Owh,apakah itu bocah yang berani menghina tetua Wan?".


Tanya seorang wanita yang menutupi bibirnya dengan kipas.


"Ya,seperti nya dia orangnya. Berani menghina keluarga utama, aku harap Rio bisa membuat pecundang itu lumpuh".


Jawab salah seorang pemuda dari keluarga utama.


"Menurutku, pemuda itu lumayan tampan hihihi".


Puji salah seorang wanita lain yang berada di sisi wanita berkipas.

__ADS_1


Sedangkan di atas arena, Zidan maupun Rio masih belum menunjukan gerakan sama sekali.


"Datanglah kemari! Aku berikan kau 3 kesempatan untuk menyerangku terlebih dahulu".


Rio sangat meremehkan Zidan, bahkan tidak segan segan untuk memberikan kesempatan kepada Zidan agar menyerang terlebih dahulu sebanyak 3 kali.


Akan tetapi Zidan bukanlah seseorang yang berlaku curang atau pengecut seperti dahulu kala, kini Zidan berjalan dengan santai ke arah Rio.


"Cuihhh".


Zidan meludah tepat mengenai wajah Rio, lalu kembali dengan santai ke posisi dia berdiri sebelumnya dengan ekspresi seolah olah tidak ada yang terjadi.


"Brengsek! Di beri hati tapi tidak tahu diri!".


Rio mulai serius, wajahnya kini merah padam.


Angin dingin bersama mana berwarna biru mulai menylimuti tubuhnya, hanya dalam sekejap Rio dapat membuat 7 bongkahan es melayang ke udara.


Dengan sigap Zidan memasang kuda kuda untuk menghalau serangan Rio.


"Jika kau merasa takut, sekaranglah saat yang tepat untukmu meminta maaf dan berlutut di hadapanku!".


"Bacot!".


Lagi lagi Zidan menanggapi ucapan Rio dengan acuh tak acuh, tentu saja sifatnya itu membuat para hadirin yang melihat pertandingannya menjadi keheranan.


"Baiklah jika itu maumu, aku harap kau tidak akan menyesalinya di neraka nanti!".


Setelah menyelesaikan ucapannya, bongkahan bongkahan balok es yang melayang di udara mulai berterbangan dengan cepat menuju ke arah Zidan di ikuti oleh Rio yang juga melesat dengan sangat cepat.


Dengan gerakan yang lincah Zidan menghindari bongkahan es yang melayang kearahnya.


Di pertandingan ini,Zidan sama sekali tidak menggunakan kekuatan sihirnya karena jika ia memakainya maka para anggota clan akan mengetahui bahwa ia telah membunuh ribuan orang hanya dengan melihat mana merah yang keluar dari tubuhnya.


Meskipun hanya mengandalkan kelincahan seorang Asassin, Zidan tetap dapat menghindari bongkahan es.


Akan tetapi Rio yang melesat dengan sangat cepat dan lihai membuatnya mudah mendapatkan celah Zidan dan melayangkan sebuah pukulan tepat kearah wajah Zidan.


"Priiiit".


Wasit meniup peluit dengan sangat kencang, membuat semua mata memandang ke arah pertandingan Zidan dan Rio.


"Kenapa kau memukul wajahnya?".


"Haha,maafkan aku wasit. Aku tidak sengaja".


Menanggapi teguran wasit, Rio hanya besikap cuek dan tertawa puas karena berhasil memukul wajah Zidan dengan keras hingga menimbulkan luka berwarna biru.


"Tidak sengaja ya?baiklah".


Setelah mengucapkan kalimat itu, seperti nya Zidan sudah tidak mau lagi menahan diri seperti sebelumnya.


Dengan santai Zidan menarik salah satu kakinya kebelakang, membuat posisi tubuhnya condong ke depan dan bertumpu ke kaki kanannya.


Kedua tangan Zidan memegang erat katana yang ia dapatkan dari gudang senjata akademi melati biru.


"Apakah kau ingin menahan seranganku dengan pedang jelekmu itu? Atau dengan berlari seperti tadi? Percayalah ini akan menjadi serangan terakhirku dan akan kupastikan hanya membuat beberapa tulangmu patah. Kau tidak perlu takut, setidaknya kau kalah karena berhadapan dengan seorang jenius sepertiku".


Mendengar ucapan anaknya, tetua Wan yang duduk di lantai dua bertepuk tangan bersama beberapa tetua lain.


"Bagus bagus,itu baru anak ku. Beri pelajaran kepada anak Zen yang tidak tahu diri itu Nak!".


Zidan mulai memejamkan mata, bibirnya bergerak dengan perlahan seperti menghayati sesuatu.


"Teknik buah kematian, langkah ke tujuh".


Mendengar teknik yang di gunakan Zidan untuk mengahalau serangan balok es Rio,


Para hadirin yang melihat pertandingan itu mulai tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Aku kira dia sudah menjadi kuat,ternyata tetaplah sampah hadehh".


"Kau benar, aku pikir dia menjadi pemberani karena telah menjadi sangat hebat! Ternyata otaknya bermasalah".


Wanita cantik yang menutupi wajahnya dengan kipas pun tidak mau ketinggalan.


"Pemuda itu memang bodoh, seperti nya kita terlalu menilai tinggi dirinya haha".


"Kakak pertama benar, aku pikir pemuda itu berani mencari masalah dengan tetua Wan karena dia sangat hebat.


Kenyataannya selain arogan, pemuda itu juga bodoh".


Semua orang yang melihat pemandangan itu kini hanya menertawakan Zidan, tetua Zen tampak sangat khawatir.


Berbeda dengan Suci yang menutupi kedua matanya dengan tangan, karena jika kakaknya sudah memejamkan mata maka tidak akan ada yang bisa menahan serangannya.


"Baiklah aku mulai, haiyaaa".


Rio berteriak dengan keras bersamaan dengan belasan bongkahan balok es yang melayang dengan sangat cepat.


Zidan yang sebelumnya berada dalam posisi kuda kuda samping,kini kembali berdiri dengan gagah seperti pasrah menerima serangan milik Rio.


"Kenapa bocah itu malah diam berdiri di sana?".


"Sepertinya dia sangat ketakutan seperti seseorang yang bertemu dengan hantu, itulah kenapa dia sekarang hanya diam".


"Selesai sudah,hihi hi".


Gumam wanita berkipas dengan sedikit tertawa kecil.


"Crashhhhh".


"Aaaaaaaa!ka kakiku aaaaa!".


Rio berteriak dengan sangat keras ketika menyadari kedua kakinya kini telah terpisah dari tubuhnya.


"A-apa? Apa yang baru saja terjadi?".


Semua orang yang fokus menonton pertandingan Zidan dan Rio mulai bertanya tanya tentang kejadian apa yang baru saja terjadi di atas arena itu.


Semua sorot mata mengarah kepada Zidan yang perlahan lahan membuka mata dengan wajah tanpa ekspresi dan menatap Rio yang berteriak kesakitan di atas arena.


Semua orang tidak mempercayai kejadian yang kini mereka lihat, bagaimana mungkin Zidan bisa menebas kaki Rio dengan sangat mudah padahal jarak keduanya begitu jauh.


"A-apa apaan itu?".


Rombongan gadis anggota keluarga utama yang sedari awal meremehkan Zidan kini mulai terpaku dengan ekspresi wajah kebingungan.


Dengan perlahan Zidan berjalan ke arah Rio yang sedang tergeletak di atas arena dengan teriakan yang menakutkan.


Melihat Zidan yang mendekat ke arahnya, Rio berteriak semakin keras dengan wajah pucat dan ketakutan.


"Ja-jangan berani mendekat! A-Ayah tolong aku!".


Mendengar rintihan dan rengekan Rio, senyum mulai menghiasi wajah Zidan.


Seakan akan teriakan Rio begitu nikmat untuk di dengar.


"A-aku a aku menyer-".


Belum sempat mengucapkan kalimat menyerah, sepatu hitam Zidan sudah berada tepat di atas wajah Rio dan membungkam mulutnya.


"Apa kau pikir kau bisa menghina keluargaku lalu meminta maaf dengan mudahnya? Perlu kalian ingat, siapapun yang berani menggangguku atau mengusik keluarga ku sekali.


Aku akan membalasnya 10 kali lipat, tidak 100 kali lipat, tidak 1000 kali lipat! Tidak! Aku akan membalas kalian terus menerus hingga membuat kalian hidup dengan tidak tenang!".


Rio mencoba mengalihkan sepatu milik Zidan yang kini menyumpal mulutnya, dengan kedua tangannya Rio terus menerus menarik betis Zidan agar menyingkirkan kaki dari wajahnya.


Tetua Wan yang melihat kejadian itu langsung berdiri dengan wajah merah padam dan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Be-berani beraninya kau! Aku akan membunuhmu brengsek!".


Menanggapi ancaman tetua Wan, Zidan hanya mengeluarkan jari tengah dan meludahi tubuh Rio dengan menatap tetua Wan dan mulai tersenyum.


__ADS_2