Pangeran Kegelapan

Pangeran Kegelapan
8. Bergabung dengan sebuah Club


__ADS_3

Setelah beberapa hari Zidan belajar di sekolah, dia mulai membuat keputusan untuk masuk ke dalam sebuah club.


Namun karena minimnya pengalaman ia pun mencoba bertanya kepada pemuda yang duduk tepat di depannya yang tak lain adalah pemuda yang di juluki iblis manis, meskipun ketika Zidan bertanya ia tidak pernah mendapatkan respon.


"Anu, maaf. Jika boleh aku ingin bertanya kepadamu?".


Ucap Zidan dengan lirih dan sedikit gugup.


Pemuda itu hanya diam dan tetap menatap kearah jendela.


"aku ingin bergabung dengan sebuah club, tapi aku masih bingung untuk masuk kedalam club mana.


Kalau tidak keberatan, aku ingin satu club denganmu hha hha".


Pemuda itu kini melirik Zidan yang sedang tertawa canggung dan menggaruk garuk kepalanya, tak butuh waktu lama pemuda itu berdiri dan keluar kelas.


Sontak Zidan yang melihat tanggapan pemuda itu langsung mengikuti nya, baru kali ini pemuda itu meliriknya di sekolah.


Meskipun mereka berdua 1 kelas dan Zidan selalu mencoba menjalin hubungan komunikasi dengannya, tapi pemuda itu selalu bersikap acuh tak acuh.


Setelah melewati beberapa kelas dan ruangan lain, Zidan yang mengikuti pemuda itu kini sampai pada sebuah ruangan yang memiliki pintu berwarna hitam dan 3 ukiran mawar berwarna merah terang.


Selain itu, ada sebuah plat yang berada di sisi kiri pintu bertuliskan 'Club keputus asa'an'.


Setelah pemuda itu membuka pintu club, Zidan ikut melangkah masuk.


Alangkah terkejutnya Zidan ketika ia melihat sebuah meja panjang yang berada di tengah ruangan club ini, di sisi kanan dan kiri meja terlihat 5 baris kursi yang berderet dengan rapih.


Sedangkan di kedua ujung meja terdapat masing masing 1 kursi yang lebih tinggi dari kursi kursi lainnya.


Ruangan itu bernuansa horor,memiliki dekorasi ala vampir dan mempunyai dinding yang di chat hitam dan kelambu kelambu besar berwarna merah cerah.


Meskipun masih siang hari, Ruangan club keputus asa'an ini terasa mistis dan gelap.


Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari obor yang merekat di dinding dan mempunyai api berwarna biru putih.


Satu satunya hal yang membuat Zidan sedikit bahagia dan bersemangat adalah, club ini masih baru dan hanya memiliki 5 orang anggota dan para anggota club ini adalah semua teman satu kamarnya.


"Kemari Zi, duduklah di sampingku".


Ma'ruf yang duduk di kursi kanan paling pojok menyapa Zidan sembari menepuk nepuk tempat duduk di sampingnya.


"Rasanya sedikit lega bisa 1 club dengan teman satu atap haha".


Pria muda yang di juluki iblis manis itu berjalan menuju tempat duduk tertinggi yang berada di ujung tengah meja.


Zidan merasa begitu bahagia karena baru kali ini dia memiliki teman,meskipun hanya beberapa ia sudah sangat bersyukur.


Karena sedari kecil semua orang yang dekat dengannya menganggap dia layaknya seorang sampah dan selalu mendapatkan perlakuan bullyng.


Dalam hati ia berjanji dengan dirinya sendiri bahwa ia akan membantu teman temannya dan tidak akan membiarkan mereka menanggung kesedihan seorang diri lagi.


Setelah masuk kedalam ruangan club, Zidan mengisi sebuah formulir tanda anggota yang di berikan oleh Ma'ruf.


Percakapan mulai saling terjalin antara Zidan dengan teman teman satu kamar dan satu clubnya ini, beberapa hari berlalu dan Zidan selalu datang keruangan club sebelum pulang bersama teman 1 kamarnya.


Ia mulai terbiasa dengan suasana yang ramai, dan mulai akrab dengan semua anggota club kecuali dengan pemuda sombong yang hanya fokus bermain smartphone yang tak lain adalah iblis manis.


*******


Selain mempelajari teknik tangisan mikail Zidan hanya menyibukan diri dengan pelatihan fisik agar staminanya tidak mudah terkuras dan bisa bertahan dalam pertempuran jangka panjang, karena stamina sangat di butuhkan untuk mengumpulkan mana,mengontrol mana dll. Sedikitnya stamina adalah salah satu kekurangan para asassin dan penyihir, karena para asassin biasa bertarung secara diam diam atau menyergap.


Sedangkan para penyihir atau mage, bertarung di lini belakang untuk membantu para kesatria yang bertarung di garis depan.


Setelah beberapa bulan bergabung dengan club keputus asaan, Zidan mulai mengikuti misi yang baru baru ini di berikan langsung oleh kepala sekolah, misi yang mereka terima kali ini lumayan sulit namun hadiah yang di berikan pun cukup besar.


"Semu anggota sudah berkumpul, mari kita diskusikan misi yang di berikan kepala sekolah menuju kota Menggala besok".


Made berdiri dengan tenang dan memandangi semua anggota club keputus asaan seraya mengajak mereka berkumpul.


"Anu, misi ini sepertinya lebih sulit dari misi misi yang sebelumnya.

__ADS_1


Kira kira hadiah apa yang akan di berikan oleh kepala sekolah?".


Dimas bertanya dengan sopan menyimak perkataan Made.


Sebelum Made menjawab, Ma'ruf yang sedari tadi memandangi si iblis manis yang fokus bermain game kini berdiri dan menjawab pertanyaan Dimas.


"Misi ini termasuk kedalam kategori Rank C, kita akan menjadi penjaga salah satu keluarga bangsawan besar untuk menjamin keselamatan mereka melewati Hutan yang berada di kota Menggala.


Hadiahnya adalah 1 juta rupiah untuk setiap anggota yang menghadiri misi ini, di tambah dengan pil penambah stamina dan kita akan di perbolehkan memasuki gudang senjata sekolah untuk memilih 1 senjata bagi setiap anggota".


Hutan kota Menggala terkenal dengan banyaknya para bandit atau begal yang berada di sana, belum lagi para monster yang menghuni hutan juga menambah tingkat bahayanya.


Tingkat kesulitan sebuah misi di kekaisaran Nuswantara ini di bagi menjadi 6 tingkatan,


Yang terendah adalah A lalu B,C,D,S, dan yang tersulit adalah Z.


Mendengar hadiah yang menggiurkan, Zidan mulai berinisiatif untuk mengajak adik perempuannya yang bernama Suci.


Menurut pandangan Zidan, misi misi yang di jalaninya selama bergabung dengan club keputus asaan tidak terlalu sulit dan relatif aman.


Belum lagi ada seorang prajurit yang pernah menghabisi 600 ribu pasukan musuh seorang diri, membuatnya lebih tenang apabila adiknya masuk kedalam club yang sama dengannya.


"Ruf, apakah bisa aku mengajak satu orang untuk bergabung ke dalam club dan mengikuti misi ini?".


Tanya Zidan sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau boleh tahu, siapa orang yang akan kau ajak bergabung dengan club kita?".


"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?".


"Iya aku ingat, lantas apa hubungannya?".


Ma'ruf bertanya dengan mengerutkan alis dan mencoba mengingat kembali kejadian yang membuatnya bertemu dengan Zidan.


"Apa kau ingat adik perempuanku yang bernama Suci?".


"Oh iya iya, sekarang aku ingat."


"Perempuan? Berapa umurnya? Cantik gak? Tolong kenalin sama gua".


Sahut Dian sambil menggebrakan tangannya ke meja.


Zidan yang awalnya tersenyum saat berbincang bincang dengan Ma'ruf, kini seluruh tubuhnya di selimuti dengan mana berwarna hitam dan ungu.


Belum lagi tatapan matanya yang tajam mengarah tepat ke Dian seakan akan siap mencabik cabik orang yang di tatapnya.


"Dia adik ku, jika salah satu dari kalian berani berbuat yang tidak tidak terhadapnya.


Saya tidak akan menahan diri atau melepaskan kalian, meskipun kalian berlari keujung dunia sekalipun".


Sahut Zidan dengan nada dingin namun penuh ancaman.


Dian yang berpenampilan layaknya preman dan biasanya selalu bertindak ceroboh seakan akan tidak pernah takut terhadap siapapun kini hanya duduk diam mendengar ancaman yang di lontarkan Zidan.


"Baiklah Zhii.


Silahkan bawa formulir club ini, pastikan adikmu mengisi semuanya.


Besok adikmu bisa langsung bergabung ke dalam club dan mengikuti misi kita.


Untuk anggota yang lain, aku harap kalian besok bisa datang ke ruangan club setelah sholat asar paling lambat jam 4 sore.


Jika melebihi batas waktu yang di tetapkan, namun kalian belum juga datang.


Dengan berat hati aku akan menganggap kalian tidak mengikuti misi ini dan tentunya tidak akan mendapatkan hadiah".


Setelah menjelaskan jam pertemuan untuk menjalankan misi club, Ma'ruf keluar dari ruangan tersebut meninggalkan 5 orang yang sedang terjebak dalam suasana canggung.


Setelah pulang dan melaksanakan sholat isya' Zidan pergi menuju asrama putri di mana para siswi tinggal, Jika di tempuh berjalan kaki dengan santai mungkin bisa menghabiskan 25-30 menit untuk menuju asrama putri.


Namun Zidan menggunakan langkah bayangan untuk menghemat waktu.

__ADS_1


Tak butuh waktu yang lama Zidan sudah sampai di depan asrama putri dan di hadang oleh para penjaga.


Setelah dia memperkenalkan diri para penjaga memanggil saudarinya dan memperbolehkannya memasuki asrama putri Sma Melati biru.


"Azhi, kenapa gak ngasih kabar dulu kalau mau berkunjung ke asrama Suci?".


Suci bertanya dengan menggandeng tangan Zidan menuju asrama miliknya.


"iya iya maaf, ada urusan mendadak soalnya".


Suci yang menuntun Zidan membuka pintu asramanya secara perlahan, terlihat beberapa gadis yang hanya mengenakan celana dan baju mini sedang menikmati hidangan bersama di ruang tamu asrama tersebut.


Sontak para gadis yang menyadari kehadiran lelaki memasuki asrama mereka mulai terkejut dan berhamburan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, karena mereka masih menggunakan pakaian yang minim atau sexy.


Menurut kekaisaran Nuswantara, memakai pakaian yang terbuka di depan orang yang tidak memiliki hubungan darah atau bukan anggota keluarga mereka adalah suatu hal yang tabu atau tidak sopan.


Namun, ada seorang gadis yang tidak beranjak dari tempat duduknya dan tetap melanjutkan melahap hidangan di meja.


Gadis itu terlihat tenang, ia memakai gamis berwarna putih dan hijau.


Rambut panjangnya yg lurus dan bergelombang membuatnya terlihat berbeda dari gadis yang lain di tambah warna rambutnya yang putih keperakan memantulkan cahaya bulan yang masuk melewati jendela membuatnya terlihat seperti seorang bidadari tak bersayap.


Suci yang melihat Zidan melamun menatap salah satu teman satu asramanya pun menginjak kaki Zidan sebelum memarahinya.


"Azhiii! Kenapa malah bengong? Ayo duduk, katanya tadi mau bahas hal penting".


" Adadadah,iya iya" jawab Zidan dengan ekspresi terkejut.


Setelah Zidan duduk dan di persilahkan untuk ikut makan malam bersama oleh adiknya, para gadis yang tadi masuk ke dalam ke kamar pun mulai kembali ke ruang tamu satu persatu untuk bergabung dengan makan malam bersama.


Namun,pakaian mereka kali ini sudah tertutup bahkan beberapa ada yang memakai hijab.


"Azhi, tolong jelasin. Kesini tanpa ngasih kabar dulu, sebenarnya ada masalah mendadak apa?".


Celetus Suci dengan wajah penuh tanda tanya.


"Sebenarnya saya kesini mau ngajak kamu gabung ke club saya".


Zidan menjawab dengan singkat.


"Kenapa Suci harus ikutan gabung ke clubnya Azhi?".


"Ya biar saya bisa mantau perkembangan kamu dong".


Jawab Zidan sambil mencubit kedua pipi adiknya.


"adauw,sakit. Azhi ini kenapa setiap ketemu Uchi selalu nyubit, padahal Uchi ndak nakal".


Suci bertanya dengan wajah yang memelas berharap kakaknya segera melepas kedua tangannya dari pipinya.


"Yaudah iya, jadi bagaimana? Suci mau nurut tidak hmm?".


"Iya,tapi lepasin dulu".


Mendengar jawaban adiknya yang setuju, Zidan menyerahkan formulir club dengan tersenyum.


Para gadis saling memandang satu sama lain melihat tingkah laku Suci dan Zidan, mereka bertanya tanya apakah benar hubungan mereka berdua adalah adik kakak dan bukan sepasang kekasih.


Zidan yang merasa telah menyelesaikan urusannya beranjak berdiri dari kursi, sebelum dia pamit untuk undur diri dia sempat mengucapkan beberapa kalimat.


"Besok Uchi bisa langsung dateng ke ruangan club keputus asaan sebelum jam 4 sore.


Oh iya,Makasih buat makanannya yang enak.


Saya jamin perempuan manapun yang bisa menbuat makanan seenak ini pasti suaminya akan selalu bahagia".


Setelah mengucapkan beberapa kalimat, Zidan meninggalkan asrama putri dengan langkah bayangan.


Wanita berambut perak yang sedari tadi hanya fokus menikmati hidangan, sedikit tersenyum dan pipinya mulai memerah mendengar ucapan Zidan.


" B-O-D-O-H".

__ADS_1


Ungkap wanita berambut perak dengan suara lirih setelah Zidan meninggalkan asrama putri.


__ADS_2