
Dengan wajah tanpa ekspresi sedikitpun dan tatapan mata sayup, Zidan mendekati Ridho yang masih tergeletak di atas arena dengan perlahan.
Wajah Ridho sangat ketakutan ketika mendengar langkah demi langkah kaki Zidan yang mulai mendekat.
"Ja-jangan bunuh aku, a-aku akan memberikan apapun yang kau minta! Asalkan kau tidak membunuhku".
Mengingat Zidan bisa membunuh orang lain tanpa rasa bersalah bahkan dengan tersenyum, Ridho sangat ketakutan dan membuang semua harga dirinya agar Zidan tidak merenggut nyawanya.
"Jika kau berani membunuh putraku lagi, akan aku pastikan kau membayarnya bahkan aku akan membuat seluruh keluarga mu ikut menanggung akibatnya meskipun aku harus mati sekalipun".
Tetua Wan terlihat sangat panik dan mulai mengelurkan ribuan pedang es untuk mengancam Zidan yang berjalan perlahan ke arah putranya.
Sepertinya Zidan bisa takut terhadap ancaman tetua Wan, namun Zidan menghentikan langkah kakinya.
"Cukup! Biarkan anak ku keluar dari arena, dengarkan ucapanku atau keluargamu akan menanggung akibatnya".
Ternyata Zidan berhenti bukan karena ancaman tetua Wan, melainkan karena smarthopne miliknya mendapatkan pesan dari aplikasi whats up.
"Sialan,dasar ******** kecil! Berani beraninya kau mengabaikan ucapanku dan malah sibuk bermain dengan smartphone mu!".
Semua orang yang melihat sikap tenang Zidan mulai berfikir, seandainya mereka membully Zidan seperti sebelumnya mungkin nyawa dan tubuh mereka kini sudah terpisah.
Setelah membalas pesan chat dari aplikasi whats up, Zidan kembali melangkahkan kakinya menuju Ridho yang masih tergeletak di atas arena dengan telinga penuh darah.
"Craaaash".
Hanya dalam sekejap dengan wajah tanpa ekspresi,Zidan membuat kepala dan tubuh Ridho terpisah di hadapan ribuan anggota clan bulan sabit merah.
"Setan! Aku akan datang sendiri untuk membunuhmu!".
"Wanto! Jika kau berani turun ke arena dan melukai anak ku, aku tidak akan segan segan lagi terhadap dirimu!".
Tetua Wan mengabaikan ucapan tetua Zen dan mulai melompat dari lantai 2 ke atas arena.
"Aku tidak suka di suruh suruh,apalagi di ancam".
Dengan acuh tak acuh Zidan menatap mata tetua Wan, dan melontarkan beberapa kalimat.
Belum sempat tetua Wan menyerang Zidan, ribuan kelopak bunga mawar berwarna hitam bersama ratusan kelelawar yang datang dari atas mulai berterbangan di sekitar tubuh Zidan dan mulai bersatu membentuk sebuah tubuh.
Terlihat seorang pria muda yang memakai topeng kelinci berwarna putih berdiri tepat di samping kanan Zidan.
Pemuda itu memakai songkok atau kopyah berwarna hitam,jaket yang ia kenakan juga berwarna hitam dan memiliki lambang bunga mawar di punggungnya, sedangkan untuk bawahan pemuda itu hanya memakai sarung yang juga hitam.
Berbeda dengan pemuda yang berdiri di sisi kanan Zidan, pemuda yang berdiri di sisi kiri Zidan memakai jaket berwarna merah, topeng yang pemuda itu kenakan berwarna merah juga memiliki corak bulan yang berwarna abu abu dan satu lubang di mana terlihat sebuah mata semerah darah bersembunyi dari balik topeng itu.
"Aku tidak perduli siapa kalian berdua! Cepat menyingkir atau aku juga akan membunuh kalian".
Ribuan pedang berwarna biru terbang ke arah pemuda tersebut, sedangkan tetua Zen yang melihat tetua Wan menyerang anaknya juga mulai mengeluarkan ribuan pedang untuk menyerang tetua Wan.
"Wuuuuuush".
Semua pedang es yang di buat oleh tetua Wan dan tetua Zen langsung jatuh ke lantai arena, semua anggota clan bulan sabit merah juga jatuh tersungkur dalam posisi tiarap.
Zidan menopang tubuhnya agar tidak jatuh menggunakan lutut dan katana miliknya yang ia tancapkan ke lantai arena.
__ADS_1
Semua anggota clan beserta para tetua jatuh tersungkur tanpa terkecuali, hanya kedua pemuda yang berada di sisi Zidan yang masih sanggup berdiri.
Seorang pemuda yang masih terlihat berusia 19 tahunan, menatap tepat ke arah arena.
Pemuda itu ternyata adalah ketua Rico yang sudah berumur ratusan tahun, ketua Rico sedari tadi hanya diam duduk di atas kursi dengan tangan yang menopang pipi kanannya.
Meskipun ketua Rico terlihat seperti tidur dan memejamkan mata,sebenarnya dia menyimak semua kejadian yang terjadi di sekitarnya melalui pendengaran.
Ketua Rico memakai jaket berwarna hitam, sedangkan lambang bulan sabit yang berada di punggungnya berwarna merah tua.
"Tolong cepat hentikan teknik milikmu,aku sudah tidak tahan lagi!".
"Apa kau bodoh Zhi? Ini bukan teknik milik Ang, jika ini teknik miliknya maka aku juga akan tersungkur dan masuk ke dalam halusinasi rasa keputus asaan".
"Benar juga ucapanmu, aku merasa seperti gravitasi naik berpuluh puluh kali lipat dan tidak mengalami halusinasi.
Lalu,siapa orang yang bisa mengeluarkan teknik sehebat ini!".
"Pemuda yang tengah duduk santai di atas kursi itu yang melakukannya".
Mendengar jawaban Ma'ruf,Zidan mendongakan kepalanya dan menatap ketua Rico duduk yang sedang duduk.
Ketua Rico sebelumnya hanya memejamkan mata dan hanya dengan membuka salah satu matanya, dia bisa menciptakan sebuah tekanan gravitasi sekuat ini.
"Ke-tetua,tolong hentikan. Aku mohon hentikan, biarkan aku membalaskan kematian kedua anak ku!".
"Wan,Zen. Apa kalian sudah tidak menganggap ku sebagai ketua?".
"Hamba tidak berani ketua,hanya saja aku akan membunuh ketiga pemuda ******** ini".
"Apa kau meragukan keputusanku?".
"Lalu kenapa kau masih ingin membunuh putra Zen?".
"Ketua pasti mengetahui, anak Zen ini telah membunuh kedua putra hamba. Jadi tolong ketua,biarkan hamba membalaskan dendam kematian anak hamba dengan membunuh anak Zen dan kedua temannya itu".
Ketua Rico menghilangkan tekanan yang ia buat, semua orang yang sebelumnya tersungkur di atas tanah kini mulai bisa berdiri dan bernafas dengan lega.
"Te-terima kasih ketua,anda telah mengabulkan permintaan hamba".
"Siapa yang mengabulkan permohonanmu? Aku hanya menon aktifkan teknik milik ku, apa kau tahu siapa pemuda yang berdiri di samping anak Zen itu?".
"Hamba tidak tahu ketua,namun jika mereka menghalangi hamba untuk membalaskan dendam maka hamba tidak akan segan!".
"Ketua tolong hentikan Wanto,kedua putranya tewas di atas arena akibat kelalaian mereka dan meremehkan putra hamba".
Tetua Zen dan tetua Wan sepertinya tidak menangkap maksud ucapan ketua Rico, ketua Rico hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah laku bawahannya.
"Haaaah, tenanglah Zen. Wan tidak akan bisa melukai putramu karena ada 2 pemuda itu di sampingnya, dan untukmu Wan apa kau tahu? Kedua pemuda yang berdiri di samping putra Zen adalah Iblis manis dan pendekar topeng purnama".
Sontak wajah tetua Wan beserta seluruh anggota clan bulan sabit merah menjadi pucat pasi, banyak rumor yang beredar bahwa jika sebuah sekte,clan,keluarga atau akademi di datangi oleh kedua orang itu maka akan bisa di pastikan keesokan harinya tempat tempat itu hanya tinggal nama.
"Di kenal oleh orang hebat seperti anda membuat junior ini tersanjung".
Ma'ruf menangkupkan kedua tangannya saat memberi salam kepada ketua Rico.
__ADS_1
"Ahh, aku tidak pantas di sebut senior. Usiaku sudah ratusan tahun namun tetap saja kemampuanku masih sebelas dua belas dengan kalian yang masih berusia belasan tahun".
"Anda tidak perlu sungkan dan merendahkan diri senior, meskipun kemampuan kita sebelas dua belas. Cara berfikir,pengalaman serta kekuasaan senior yang berhasil membuat clan sebesar ini tidak bisa di bandingkan dengan kami".
Menanggapi sanjungan dari Ma'ruf, ketua Rico menghela nafas panjang sebelum kembali bertanya.
"Baiklah. Jika boleh tahu, apa alasan kedua asassin hebat seperti kalian datang kemari?
Aku harap kalian tidak akan menghancurkan clan kecilku ini".
"Tidak tidak senior, kami sebenarnya teman dekat Zidan. Sebelumnya kami berpisah beberapa saat, hanya saja di dalam perjalanan tadi hamba mengirim pesan kepada Zidan dan Zidan langsung menunjukan lokasinya. Maka dari itu junior ini bisa sampai kemari".
"Hmmm baiklah kalau begitu, kalian datang kemari sebagai tamu maka aku akan menyambut kalian dengan lapang dada.
Jika kalian tidak keberatan aku harap kalian mau bertamu kedalam kediaman sederhana miliku dan menginap di sana".
"Baiklah jika senior tidak keberatan, maka junior ini tidak akan sungkan".
"Dengan ini aku nyatakan acara tahunan clan bulan sabit merah telah selesai dan para anggota bisa pulang ke kediaman masing masing! Pelayan tolong antar tamu tamu kita menuju nuwo balak(Bahasa lampung : rumah besar atau utama)".
Para pelayan yang memakai gamis berwarna putih mulai menuntun Zidan,Iblis manis serta Ma'ruf menuju kediaman milik ketua Rico.
Sedangkan para anggota clan bulan sabit merah yang melihat dua orang yang berjalan bersama dengan Zidan mulai diam sampai bernafas pun dengan perlahan dan merinding ketakutan, jika mereka salah bicara bisa saja dua orang itu menghancurkan clan mereka dalam semalam seperti clan Phoenix emas.
"Ke-kenapa anak ku bisa mengenal orang orang berbahaya seperti mereka?".
Tetua Zen yang duduk di lantai arena masih terpaku dalam diam atas kedatangan Iblis manis beserta pendekar topeng purnama yang ternyata adalah teman baik putranya, begitu juga dengan tetua Wan yang masih dalam kondisi terkejut dengan wajah sangat pucat.
Di dalam perjalanan, Zidan tidak kuasa menahan rasa herannya dan mulai bertanya.
"Hei,kenapa ketua Rico bertanya mengenai alasan kalian berdua datang kemari?".
"Apa kau tidak tahu rumor yang beredar?".
"Rumor tentang apa?".
Menilai dari sikap Zidan yang belum mengetahui rumor tentang dirinya sendiri, Ma'ruf tertawa dan mulai menjelaskan.
"Tentu saja rumor tentang hancurnya clan Phoenix emas dalam semalam yang kita sebabkan, karena rumor itu lah ketua Rico menaruh curiga terhadap kami berdua".
"Bukankah itu semua memang benar dan bukan rumor?".
"Maka dari itu,semua tempat yang kami datangi akan waspada karena kau tahu sendiri. Ang memiliki hobi menghancurkan sebuah clan".
"Ah,benar juga. Seperti ungkapan pepatah jawa".
"Iya, seperti ungkapan pepatah jawa.
Witing hobi jalaran soko kulino (filsafat kuno pepatah jawa yang seharusnya witing tresno jalaran soko kulino yang memiliki arti kurang lebih : permulaan cinta berasal dari terbiasa)".
"Hei hei sejak kapan witing tresno menjadi witing hobi?".
"Loh,sudah di berubah?".
Ma'ruf memasang wajah terkejut ketika bertanya kepada Zidan.
__ADS_1
"Memang dari dulu seperti itu bodoh".
Zidan menggelengkan kepala melihat tingkah laku Ma'ruf yang masih saja konyol seperti biasanya, sedangkan Iblis manis hanya diam menikmati nuansa indah kediman milik ketua Rico