Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
11.Bar Atlantis.


__ADS_3

Amora berjalan masuk kedalam Bar Atlantis, sebuah Bar kelas atas yang hanya menerima pengunjung kelas VIP serta VVIP.


Jadi bisa dibayangkan siapa saja yang datang kesana bukan. Tentu saja para perempuan dan pria kaya, serta Borjuis yang butuh hiburan setelah lelah dengan aktifitasnya merekalah anggota VIP serta VVIP disana. Selain mereka tidak ada yang bisa masuk karena Bar Atlantis sangat menjaga privasi setiap anggotanya.


Lalu bagaimana Amora bisa masuk kesana? Tentu saja dia bisa, karena meski dia bukan orang kaya tapi dia terdaftar sebagai anggota VIP disana.


Salah satu kliennya, sebelum Mario Esteban pernah mendaftarkan dirinya sebagai salah satu anggota VIP sebagai ucapan terimakasih karena dia berhasil membantu pria tersebut bercerai dengan istrinya.


Saat itu Amora merasa dia tidak membutuhkannya, tapi jujur saja sekarang dia cukup terbantu dengan itu.


Karena itu, saat Estela menyebutkan Bar Atlantis sebagai tempat biasa suami perempuan tersebut menghabiskan waktu senggangnya, Amora berekspresi biasa.


Sekarang dia hanya tinggal masuk kedalam lalu berusaha mencari tau tentang keberadaan Damian Bernadez. Apakah pria itu ada didalam atau tidak dan kalau ada, maka dia akan berusaha mendekatinya.


" Satu Cocktail," pesannya pada Bartender, begitu berada didalam.


Tak lama si Bartender meletakkan minuman pesanannya.Tapi saat Bartender muda itu akan menjauh, Amora mencegahnya.


" Tunggu, bisa aku bertanya." pinta Amora, menatap pada Bartender tersebut dengan raut penuh harap.


Si Bartender menatap kearah Amora dengan tatapan menelisik sesaat baru kemudian mengangguk, dengan kembali mendekat kehadapan Amora.


" Iya, apa yang ingin anda tanyakan nona?"


Amora mencondongkan badannya kearah si Bartender, lalu dengan suara pelan dia berbisik didekat wajah pria berusia diatas 30 tahun itu.


" Damian Bernadez, apa dia datang?"


Mendengar nama yang ditanyakan oleh Amora ekspresi Bartender itu sedikit berubah tapi langsung kembali seperti semula, saat Amora meletakan beberapa lembar uang dolar ke dalam tangan pria itu.


" Dia baru tiba, bersama seorang temannya," jawab Bartender tersebut.


" Diruang mana?" tanya Amora langsung lega, karena ternyata malam ini kedatangannya kesana tidak sia sia.


" Ruang VVIP Nomor 102."

__ADS_1


" Thanks."


Lalu dia segera pergi dari sana, untuk menuju ruangan yang disebutkan oleh Bartender tersebut.


Ruang VVIP yang dimaksud oleh Bartender tadi berada dilantai 3 Bar Atlantis, Amora menuju kesana dengan menggunakan lift.Sampai di lantai yang khusus bagi anggota VVIP Amora lalu berjalan mencari ruangan yang tadi disebutkan oleh Bartender padanya.


" 100...101 ...102..."


" Ruangan berapa yang sedang anda cari nona?"


Amora langsung menoleh kesumber suara yang baru saja menegurnya. Seorang pria tampan yang mengenakan stelan jas abu abu, sedang condong menatap dirinya.


" Saya .."


Amora mengarahkan jari lentiknya kearah tubuhnya sendiri.


" Ya, apa ada perempuan cantik lain disini sekarang?" ucap pria berambut cokelat keemasan itu dengan pura pura mengedarkan pandangannya kesekitar tempat mereka berdiri sekarang.


" Tidak, memang hanya kita.Saya hanya berjaga jaga saja," ucap Amora membalas pria tampan itu.


Amora langsung mengedikkan bahu dengan maksud tidak perduli.


" Aku suka pria brengsek.Lalu apa anda suka perempuan baik baik?" Pria tampan itu menggeleng dengan raut jahil" no."


Lalu dengan berani Amora mencondongkan tubuhnya, mendekat sampai hampir tak berjarak yang membuat pria tampan itu bisa mencium jelas aroma parfum yang menyeruak keluar dari tubuh Amora.


Dengan raut menggoda Amora bicara dekat disamping wajah pria tersebut.


" Syukurlah karena saya bukan perempuan baik baik. Saya adalah..."


" Lakukan ciuman kalian ditempat lain. Aku tidak suka melihat perbuatan tak bermoral didepan mataku!"


Tubuh Amora seketika membeku, mendengar hardikan kasar yang keluar dari mulut pria yang sekarang sudah berdiri tepat dihadapan mereka berdua.


Alasannya bukan karena pria itu Baru saja melontarkan kata kata kasar padanya, melainkan karena suara pria itu dan wajahnya....

__ADS_1


Raut Amora langsung berubah pucat waktu mendongak dan bersitatap dengan mata hitam dingin dihadapannya.


Dia pasti bermimpi, iya Amora yakin sekarang dia pasti sedang mimpi.Dan itu adalah mimpi buruk setelah 5 tahun.Jadi sekarang dia harus bangun supaya terbebas dari mimpi buruk ini, lalu.... Pergi. Ya, dia harus pergi dari sini sekarang juga supaya tidak perlu lagi melihat wajah yang menjadi mimpi buruknya.


" Damian! Kau sudah membuat nona muda ini ketakutan. Bisakah kau bicara lembut pada perempuan, agar mereka tidak takut padamu seperti para rekan bisnismu selama ini." geram pria rambut coklat gelap tersebut.


Meski sedang syok, Amora bisa mendengar jelas kalau pria dihadapannya dengan tubuh tinggi rambut gelap serta mata gelap tersebut tadi baru saja dipanggil Damian oleh pria yang satunya bukan Tristan. Dia bernama Damian bukan Tristan, sosok pria dari masalalunya.


Ya, Amora harus berpikir jernih sekarang meski syok. Tristan pria yang pernah sangat dicintainya sampai membuat dia rela memberikan segalanya untuk pria itu 5 tahun lalu, hanyalah seorang pria biasa yang tumbuh besar di panti asuhan, tak jauh dari tempatnya tinggal.


Meski sekarang pria itu sudah sukses, tapi tidak mungkin sampai bisa sesukses dua pria dihadapannya sekarang itu idak mungkin,pikir Amora berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau yang sedang berdiri dihadapannya sedang menatap kearah dia dengan wajah penuh kebencian itu pasti bukan Tristan tapi pria bernama Damian itu pasti.


Punya pemikiran seperti itu membuat Amora perlahan bisa menguasai rasa terkejutnya barusan.


Tapi itu hanya sesaat karena panggilan pria berambut coklat gelap pada pria yang sangat mirip dengan Tristannya dulu membuat Amora kembali harus merasa terkejut juga syok.


" Dam. Damian Bernadez! Bisakah kau jangan menakuti kelinci kecilku ini sekarang!"


Damian Bernadez. Pria dihadapannya ini adalah Damian Bernandez.


 Sipria misterius yang merupakan targetnya, suami dari Estela. Oh Tuhan...dia pasti terkena karma sekarang. Amora sangat ingin berbalik dan pergi dari sana, kalau tidak ingat jumlah uang yang akan dibayarkan oleh Estela untuknya dan dengan uang itu dia bisa membayar pendonor untuk Chan, putranya. Serta sisanya bisa digunakannya untuk memulai hidup baru dengan malaikat kecilnya itu nanti, begitu Chan sembuh.


Ingat semua itu, meski masih gugup dan syok, Amora berusaha tersenyum pada dua pria dihadapannya sekarang. Terutama pada pria bernama Damian Bernadez, yang merupakan calon targetnya, meski pria tampan itu terus saja menatap dirinya dengan dingin.


" Tidak masalah tuan..."


Amora mengalihkan tatapannya dari Damian ke pria disampingnya yang memasang wajah lebih ramah padanya.


" Oh aku lupa kalau ternyata kita belum berkenalan tadi nona..."


" Amora, panggil saja begitu. Lalu anda?"


" Nathan Edmund."


" Oh... tuan Nathan Edmund."

__ADS_1


" Jangan memanggilku begitu, tapi panggil saja aku Nathan, itu terdengar lebih menyenangkan ditelinga ," seloroh Nathan yang dibalas senyum menggoda oleh Amora, dibawah tatapan kemarahan dari sosok Damian untuk perempuan cantik itu.


__ADS_2