
" Mommy," Chan Medison turun dari ranjang rawatnya ketika melihat Amora masuk ke ruangan yang ditempatinya itu.
" Hallo darling, bagaimana kabarmu hari ini?" Amora menyambut tubuh kurus Chan yang terlihat mulai pulih lalu memeluknya erat ketika bocah itu sudah berada didekatnya.
" Hari ini aku makan semua makanan yang diberikan suster Mommy," terangnya dengan suara bangga yang terlihat mulai terdengar ceria dibandingkan sebelum sebelumnya.
" Syukurnya kalau begitu, mommy senang mendengarnya sayang..Karena kalau kamu mendengarkan semua yang dikatakan oleh para suster juga dokter maka kamu akan bisa segera pulang."
" Dokter Peter juga bilang begitu padaku."
" Benarkah? Apa yang dikatakannya?" tanya Amora menanggapi celoteh sang putra yang penuh semangat sekarang.
" Dokter Peter bilang, aku harus meminum rutin obat yang mereka berikan lalu juga memakan semua makanan yang disediakan agar bisa segera pulih dan pulang bersama Mommy, ketika adik yang ada diperut mommy ini nanti keluar."
Amora langsung tercekat mendengar perkataan Chan dan segera menarik sang putra kedalam pelukannya, tiba tiba dia merasa terharu karena meski bayi dalam perut nya belum lahir, tapi ikatan batin mereka sebagai saudara sudah terjalin.
" Chan sayang sama bayi diperut mommy?" tanya Amora dengan suara parau, menatap wajah sang putra.
Bocah lima tahun itu mengangguk" Iya, itukan adik Chan makanya aku sayang, mommy."
Ya Tuhan, ini sangat mengharukan dia benar benar merasa tidak karuan sekarang mendengar apa yang dikatakan sang putra.
" Memangnya Chan tidak marah atau benci, karena akan punya saudara nanti?"
Lagi lagi dia menggeleng" Tentu saja tidak mommy, bahkan Chan sudah tidak sabar ingin dia segera lahir, sama seperti Uncle Damian."
" Uncle Damian?" tiba tiba saja dada Amora berdesir, mendengar bagaimana cara Chan memanggil pria yang merupakan ayah biologisnya itu.
" Iya," bocah kecil itu mengangguk" Uncle Damian bilang kalau..."
Amora bahkan tidak terlalu dengar apa saja yang dikatakan oleh Chan, telinganya hanya bisa menangkap kata Uncle Damian, setiap kali sang putra menyebutkan kata itu untuk memanggil Damian.
" Iyakan mommy?"
__ADS_1
Amora hanya bisa menganggukkan kepalanya ketika Chan sudah menyelesaikan semua celoteh panjang lebarnya yang menceritakan tentang Damian.
Sepertinya ini tidak bisa terus dibiarkan, pikir Amora karena merasa mulai khawatir kalau Chan akan seterusnya memanggil Damian hanya Uncle saja.
Dia harus bicara dengan Damian mengenai ini, karena meski pria itu sudah meninggalkan nya dan Chan dulu, tapi sekarang setelah Damian tau tentang keberadaan Chan, putra mereka ini juga berhak tau siapa sebenarnya ayah kandungnya, pikir Amora.
Punya keyakinan itu Amora lalu mengakhiri kunjungannya untuk Chan, karena memang sudah waktunya bocah kecil itu istirahat jadi meski sedikit keberatan Amora pergi dengan berjanji akan datang lagi nanti.
Setelah dibujuk dengan janji seperti itu akhirnya dia mau patuh.
" Mommy, bisakah nanti Mommy datang bersama Uncle Damian kesini," pinta Chan sebelum merebahkan tubuhnya diranjang.
Amora tersenyum lembut dan mengangguk," Ya nanti mommy akan kesini bersama Uncle Damian sayang, jadi sekarang Chan istirahat dulu supaya cepat sembuh, ya."
Bocah 5 tahun itu mengangguk, lalu mulai memejamkan matanya dengan disertai belain lembut sang ibu, dipuncak kepalanya.
Amora masih tinggal disisi sang putra, sampai bocah nafas bocah laki laki itu teratur yang menandakan dia sudah terlelap.
" Kau sudah akan kembali?" tegur Rosi, yang kebetulan berpapasan dengan Amora didepan pintu ruang perawatan Chan.
" Apa kalian punya masalah serius? Bukankah akhir akhir ini hubungan kalian sangat baik?" Dahi Rosaline mengernyit, ketika mendengar ucapan Amora.
Amora menggeleng kearah perempuan yang merupakan sahabat baiknya ini.
" Tidak, bukan seperti itu Ros. Aku menemuinya karena ingin membicarakan, mengenai status Chan."
" Ada apa dengan Chan? Bukankah kondisinya sekarang semakin membaik apa ada masalah lagi?"
Lagi lagi Amora menggeleng" Bukan soal kondisinya melainkan tentang statusnya. Dia sekarang sudah sembuh dan hubungannya dengan Damian juga sangat dekat, tapi dia belum tau kalau pria yang disukainya itu sebenarnya adalah ayah kandungnya, jadi aku ingin bicarakan mengenai memberitau Chan, tentang hubungan mereka yang sebenarnya."
" kurasa akan sulit melakukannya Amora, karena selain Chan masih kecil, dia juga selama ini meyakini kalau ayahnya itu sudah berada di surga."
Wajah Amora seketika berubah suram mendengar ucapan Rosaline, meski membenarkannya.
__ADS_1
" Jadi...harus bagaimana Ros?" Amora bertanya dengan raut sendu.
" Kurasa solusinya tidak terlalu sulit hanya saja kalian berdua, terutama dirimu harus melepaskan ego yang selama ini kau pertahankan itu dulu, maka semuanya pasti akan selesai."
Amora menatap Rosaline" Apa itu?" tanyanya penasaran.
" Kalau kalian berdua bersama, apalagi menikah kurasa masalah hubungan Chan dan Damian akan langsung terselesaikan. Karena kalau kalian menjadi keluarga, kalian akan punya waktu sangat banyak untuk menjelaskan pada Chan soal Damian yang sebenarnya adalah Daddynya. Selain masalah Chan, masalah bayi dalam kandunganmu juga akan menjadi selesai Amora."
Amora terdiam, dia tidak menampik kalau apa yang dikatakan oleh Rosaline itu salah.
Tapi disini masalahnya adalah....
" Bukankah kalian masih saling mencintai sampai sekarang. Jadi apa lagi yang membuatmu terus ragu untuk bersama Damian, Amora. Karena selain Chan, kalian juga akan punya anak lain sebentar lagi. Apa kalian berdua ingin, anak yang belum lahir itu mengalami masalah seperti yang terjadi pada Chan sekarang?"
Amora langsung menggeleng" Tentu tidak Ros, cukup Chan saja."
" Kalau kau berpikir begitu, sebaiknya kalian berdua segera membicarakan masalah kalian dengan serius. Terutama kau Amora, jangan terlalu banyak menimbang, kalau akhirnya akan membuat kalian semua jadi banyak kehilangan waktu berharga bersama. Ambil kesempatan selagi masih ada, untuk kedepannya yakinlah semua pasti baik baik saja, Amora."
Amora terdiam dengan tertunduk, apa yang dikatakan Rosaline sekarang sangat menohok perasaannya dan membuat hati kecilnya menjadi sadar, kalau semua itu benar.
" Ya, kau benar. Selama ini ternyata aku sudah sangat pengecut, Ros dan karena kepengecutan ku ini, aku hampir saja membuat calon anak yang masih didalam perut ku ini menjadi seperti Chan lagi."
" Jadi....kau akhirnya sadar?" Amora mengangguk" Ya, karena itu aku harus pergi untuk bertemu Damian sekarang sebelum aku berubah pikiran lagi."
" Baiklah aku mendukungmu Amora." Rosaline menepuk lembut bahu sahabat baiknya itu dan tersenyum lembut, sebagai bentuk dukungan dari tekad perempuan itu.
" Aku titip Chan, Ros." Lalu dia berjalan menjauh, meninggalkan Rosaline yang masih tetap menatap punggung perempuan itu, sampai sosok Amora menghilang diujung koridor rumah sakit.
" Kau layak untuk bahagia Amora, sudah cukup semua penderitaan kalian selama ini."
Setelah bergumam seperti itu, Rosaline masuk keruangan Chan Medison untuk memeriksa kondisi bocah 5 tahun diranjang.
Rosaline berdiri ditepi ranjang pasien, lalu membelai puncak kepala bocah kecil itu dengan lembut.
__ADS_1
" Bocah malang," gumamnya muram.