
Meski khawatir karena Amora yang belum juga kembali ke Mansion, Damian tetap pergi bersama Estela kerumah kediaman kedua orang tua perempuan yang masih berstatus istrinya tersebut.
" Kupikir kau akan menolak untuk pergi makan malam di kediaman kedua orangtuaku, Dam," celetuk Estela begitu mereka naik kedalam mobil.
" Jangan berpikir apapun yang berkaitan dengan ku Estela, karena tidak ada gunanya lagi," balas Damian dingin.
" Sikapmu sangat dingin padaku sejak perempuan itu datang ke Mansion. Apa itu berarti kau serius menyukainya?" tanya Estela, tanpa memperdulikan sikap dingin yang ditunjukan oleh Damian padanya sekarang.
Damian menoleh kearah Estela yang duduk disampingnya, hanya menoleh. Tanpa mengatakan apapun sebagai jawaban untuk pertanyaan dari perempuan itu, membuat Estela merasa sedikit kesal dengan sikap acuh tak acuh yang ditunjukan Damian sekarang padanya.
" Oh iya sepertinya aku tadi tidak melihat keberadaan perempuan itu di Mansion. Kemana dia? Apa dia pergi kesuatu tempat Dam," Estela bertanya dengan menatap kearah Damian, yang menoleh kearahnya mendengar apa yang diucapkannya, tapi lagi lagi tidak mengatakan apapun pada Estela.
" Kenapa kau begitu dingin padaku Dam? Seolah keberadaan ku ini tidak terlihat oleh mu sejak kedatangan perempuan itu. Sebegitu bencinya kah kau padaku. Ingat bagaimana pun aku ini masih istrimu perempuan yang kau nikahi secara sah berbeda dengan perempuan itu dia hanyalah..."
" Berhentilah menyebutnya perempuan itu Estela, dia punya nama. Jadi panggil dia dengan namanya," potong Damian, dengan nada suara dingin untuk Estela.
Estela ternganga mendengar celetukan Damian, dia tidak menyangka pria yang masih berstatus sebagai suami sahnya itu, secara terang terangan membela perempuan yang menjadi selirnya.
" Aku tidak suka kau memanggilnya dengan sebutan perempuan itu. Jadi jangan lakukan lagi Estela," jelas Damian lagi, yang membuat Estela diam, karena merasa kesal pada sikap Damian berkaitan dengan perempuan bernama Amora itu.
Akhirnya sepanjang jalan menuju kediaman kedua orang tua Estela, mereka tidak lagi saling bicara sibuk dengan pikiran masing masing.
Terutama Damian, dia terus saja memeriksa ponsel ditangannya, berharap segera mendapat khabar dari Nathan mengenai keberadaan Amora yang belum juga didengarnya.
Sampai akhirnya mobil yang dinaikinya bersama Estela sampai dikediaman orang tua perempuan yang menjadi istrinya tersebut, yang berjarak sekitar 1 jam dari Mansion tempat tinggalnya, Nathan belum juga memberi khabar tentang keberadaan Amora. Dan Amora sendiri belum memberi khabar padanya, tentang dimana keberadaannya sekarang.
Bahkan pesan yang dikirim Damian sejak sebelum pergi tadi, sampai detik dia memeriksa ponselnya, pesan itu belum dibaca oleh Amora.
__ADS_1
Damian benar benar merasa cemas, tapi sekarang dia harus menghadapi kedua orang tua Estela, untuk tau apa lagi yang mereka inginkan darinya.
" Damian," sapa pria berusia 70 tahun yang merupakan ayah mertuanya itu, dengan sikap ramah yang terasa berlebihan dimata Damian.Dan hanya ditanggapi dingin oleh Damian sebagai balasan.
" Tuan Robert," balas Damian datar, menyambut uluran tangan yang diberikan oleh pria tua itu.
" Ayo masuk. Aku senang kau bisa datang kemari malam ini." ajak ayah Estela dengan mengajak menantunya untuk masuk kedalam rumah besar keluarga Robert tersebut.
" Mana mommy Dad?" tanya Estela, ketika melihat sang ayah hanya keluar sendiri menyambut mereka.
" Mommy mu ada dibelakang.Dia sedang menyiapkan makan malam yang akan kita santap sayang. Sebentar lagi pasti juga keluar."
Dan benar saja, tak lama kemudian dari arah belakang terlihat keluar seorang perempuan bertubuh sedikit subur, berusia tak jauh beda dari tuan Robert berjalan menghampiri mereka berdua dengan wajah tak kalah sumringah seperti sang suami tadi.
" Estela, putriku sayang," sapa perempuan tua itu, dia mendekat kearah Estela lalu memeluk tubuh putrinya dengan erat.
" Mom," balas Estela lalu melepaskan pelukan itu.
" Damian, senang bisa bertemu denganmu lagi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu bukan? Bagaimana kabarmu?" tegur nyonya Robert dengan sama ramahnya seperti sang suami tadi.
Andai kedua orang tua itu memang biasa bersikap seperti itu setiap kali bertemu dengannya, mungkin Damian akan membalas sapaan ramah mereka dengan melakukan hal yang sama, tapi sayangnya hubungan mereka tidaklah seakrab itu.
Ini pertama kalinya mereka bersikap seperti itu sejak Damian menjadi menantu mereka.
Meski begitu Damian yang sudah mengenal betul bagaimana sifat keluarga ini, tidak memberikan tanggapan yang sama seperti yang mereka tunjukan.
" Saya baik, seperti yang anda lihat sekarang Nyonya Robert," balas Damian datar.
__ADS_1
" Oh, syukurlah sebagai seorang ibu aku senang mendengarnya," balas nyonya Robert sangat ramah.
" Saya kesini untuk memenuhi undangan makan malam dari kalian itu saja, nyonya Robert," tegas Damian .
Dia berusaha menghentikan basa basi tidak berguna antara mereka sekarang dan ingin segera menyelesaikan acara tidak penting ini, lalu mencari keberadaan Amora yang sampai detik ini Nathan belum juga memberi khabar keberadaan perempuan itu.
" Oh, kalau begitu ayo kita segera makan malam sekarang Damian. Aku sudah memasakkan menu yang lezat kuharap kau menyukainya," ajak perempuan tua tersebut, dengan berjalan menuju ruang makan keluarga Robert.
" Duduklah Dam," ajak tuan Robert menawarkan pada Damian.
Damian duduk dikursi makan untuk makan malam bersama mereka.
Semula semua baik baik saja, kedua orang tua Estela mengajak Damian ngobrol layaknya menantu, meski selalu ditanggapi Damian dingin dan datar.
Sampai akhirnya, mereka mulai menanyakan sesuatu yang sudah diduga akan mereka katakan padanya dan tetap ditanggapi dengan ekspresi seperti sebelumnya oleh Damian, karena sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan oleh mereka.
" Bagaimana hubungan pernikahan kalian? Tetap baik bukan? Aku sempat mendengar selentingan tidak sedap dari penyebar gosip kalau kau sekarang punya hobi baru Dam," ucap tuan Robert, dengan tatapan menyelidik kearah pria yang berstatus menantunya tersebut.
" Mungkin saja itu bukan selentingan, tapi khabar yang benar tuan Robert," jawab Damian, menatap kearah pria tua itu ketika mengatakannya.
Ayah Estela yang semula masih pura pura bersikap santai tiba tiba langsung terlihat serius. Duduknya berubah tegak dengan tatapan tajam kearah Damian yang tidak bergeming ditatap seperti itu oleh pria tua yang berstatus sebagai mertuanya itu.
" Apa maksud ucapanmu itu Damian?"
" Maksudku. Tidak ada, tuan Robert. Hanya saja aku tidak ingin lagi pura pura punya hubungan yang baik dengan Estela atau kalian, didepan publik.Jadi.....ayo kita hentikan sandiwara kita ini.Dan mari kita buat kesepakatan untuk menghentikan semuanya."
Kedua orang tua Estela, juga Estela sendiri sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Damian pada mereka.
__ADS_1
Tanpa sadar mereka menjadi saling pandang satu sama lain, dengan perasaan yang sulit digambarkan sekarang.
Maaf baru Up Reader🙏🙏