
Deg!
Amora terkejut, mendengar bagaimana Damian Bernandez memanggil dirinya. Sontak dia langsung menatap kearah pria itu.
Sebuah panggilan yang dulu sering digunakan oleh Tristan untuknya 5 tahun lalu, dengan nada suara yang sama.
Sontak ingatan tentang pria dari masalalunya yang punya wajah, serta suara seperti pria itu bermunculan kembali dalam ingatannya.
Dadanya terasa bergemuruh, ada rasa rindu, marah juga benci disaat bersamaan,ketika memikirkan sosok pria dimasa lalunya dulu yang seolah muncul lagi sekarang dihadapan dia, meski dalam sosok pria yang berbeda.
Ya, sosok Damian Bernadez memang sangat mirip dengan Tristan yang juga merupakan ayah biologis Chan, Amora sudah menyadari hal itu sejak pertama dia melihat sosoknya tadi didepan ruang VIP. Tapi dirinya masih tidak percaya kalau mereka adalah pria yang sama.
Alasannya tentu saja, karena mereka berdua punya latar belakang yang berbeda.
Tristan yang pernah menjadi sosok pria yang sangat dicintainya dulu merupakan pemuda biasa yang tumbuh besar di panti asuhan, dikota tempat dirinya dulu tinggal. Sementara Damian Bernandez, dia adalah putra pemilik perusahaan besar yang sekarang merupakan pewaris perusahaan tersebut.
Amora yakin meski mereka berdua mirip tapi tidak mungkin identitas mereka sama. Nonsen, itu tidak mungkin. Hal seperti itu hanya ada difilm film, tidak mungkin ada didunia nyata, dimana putra seorang pemilik perusahaan besar yang sudah lama hilang, tiba tiba ditemukan lalu diangkat sebagai ahli waris.
Tapi bagaimana, kalau dua pria itu juga memanggil dirinya dengan panggilan dan cara yang sama.Apa itu tetap masih kebetulan, atau memang....
" Apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Kenapa kau mengabaikan perintahku?"
Lamunan Amora buyar, pertanyaan dingin yang dilontarkan Damian, membuat dia kembali kekenyataan sekarang dan untuk apa dia ada disana.
Dia berada disana untuk bekerja, merayu pria dihadapannya tersebut.Bukan untuk membandingkan sosok pria itu, dengan pria dari masalalunya dulu, bukan! Tegasnya dalam hati.
Tristan tidak mungkin Damian, itu sudah pasti, dia harus berpikir seperti itu supaya tidak lagi terbawa perasaan.
" Maaf tuan Damian, saya hanya masih tidak percaya kalau anda...bukan, maksud saya kita bisa duduk bersama ngobrol seperti sekarang".
" Kenapa?" tanya Damian dengan sorot menyelidik kearah Amora.
__ADS_1
Amora mengedikkan bahunya sebelum menjawab pertanyaan pria itu.
" Ya, itu karena saya merasa kalau sosok anda dimata saya itu sosok seorang dewa .Anda tau bukan, maksud saya tuan?" balas Amora, dia berusaha bersikap tenang meski sejujurnya dirinya sangat gugup sekarang, karena hanya berdua saja bersama Damian disana.
" Dewa? Apakah benar kau menilaiku seperti itu?" Damian memicingkan matanya,menatap kearah Amora dengan sengaja saat bertanya.
" Ya, begitu tuan."
" Lalu dewa apa yang sesuai dengan diriku, menurutmu?" cecar Damian lagi.
" E....saya belum bisa memastikan, kira kira sosok siapa yang sesuai untuk gambaran anda," jawabnya pura pura seolah sedang berpikir.
" Tapi aku tidak suka mendengar istilah yang kau gunakan untuk diriku sekarang, my Amor."
Lagi lagi panggilan itu dan nada itu, membuat Amora harus berusaha mengabaikannya dengan bersikap biasa, tapi bersikap biasa dihadapan seorang Damian ternyata tidak semudah seperti yang di inginkannya.
Karena sejak Nathan, bukan lebih tepatnya sejak mereka berdua bertemu tadi, pria tersebut secara terang terangan terus saja menatap dirinya.
Seperti sekarang meski pria itu terus bicara dengan nada suara menggoda pada dia tapi lagi lagi Amora bisa merasa dibalik pertanyaan yang diajukan oleh Damian ada tersimpan makna lain. Bukan hanya tertarik pada sosok dirinya yang mengenakan pakaian sexy, dibalik tubuh indah yang dimilikinya seperti yang tadi sedang dipikirkan oleh Nathan teman pria tersebut,sama sekali bukan.
Dia merasa sosok Damian yang sedang menatap dirinya itu menginginkannya dalam arti mengerikan. Amora tidak tau kenapa tapi itu yang dirasakannya.
Pria itu tertarik pada dirinya juga membencinya disaat bersamaan.
Sejujurnya Amora sedikit bergidik ngeri menyadari itu, tapi sengaja diabaikannya karena sekali lagi, dia butuh uang dari pekerjaan ini.
Chan sedang jatuh uang dalam jumlah banyak dan cepat, jadi seperti apapun resiko yang akan dialaminya nanti dengan sosok Damian Bernandez Amora tidak perduli.
" Kenapa? Bukankah kalau seseorang digambarkan sebagai sosok dewa itu berarti dia..."
" Aku tidak tertarik menjadi sosok dewa terutama dimata mu my Amor."
__ADS_1
Amora sempat terdiam, ketika perkataannya dipotong oleh Damian, dia tidak tau lagi bagaimana harus menanggapi sikap pria itu.
Meski sosok Damian terpesona dengan dirinya, tapi sejujurnya dia lah yang sejak tadi sudah tidak berkutik terhadap pria itu.
Meski sangat mengerikan dan berbahaya Damian benar benar membuat perasaannya terasa tidak karuan, mungkin secara mudahnya bisa digambarkan dia merasa seperti terserang demam.Ya, seperti itu rasanya.
" Lalu? Anda ingin menjadi sosok seperti apa dimata saya.Kalau boleh saya tau tuan Bernadez?"
Amora bisa melihat segaris senyum tipis dibibir pria itu, sebelum dia kembali bicara.
" Mendekat lah kemari my Amor. Akan kuberi tahu," perintah lagi Damian.
Kalau sebelumnya Amora masih ingin menolak perintah mendekat dari pria tersebut, kali ini dia menuruti dengan patuh.
Dia yang semula duduk disisi lain dari Damian bangun lalu berpindah duduk. Semula dia ingin duduk disamping Damian tapi begitu dirinya sudah tepat berada dihadapan sosok Damian, dengan sekali sentak pria itu menarik tubuh Amora hingga jatuh tepat diata pangkuan pria itu.
" Auwww."
Pekik Amora, dia cukup terkejut dengan apa yang tiba tiba dilakukan oleh Damian padanya.
Amora berniat bangun dari posisi ambigu mereka saat itu, tapi sebelum dia berhasil melakukannya, salah satu tangan pria itu sudah memeluk pinggang rampingnya dengan erat.
" Tuan, sebaiknya kita ..."
Amora masih berniat ingin melepaskan diri, meski sadar kalau tangan Damian yang berada dibagian pinggang nya tersebut, sudah mengunci pergerakan dirinya dengan berusaha mengatakan pada pria itu.
Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimat apa yang ingin dikatakan pada Damian,pria itu sudah mencengkram rahangnya dan tanpa mengatakan apapun, bibir Amora langsung dilu* at oleh Damian dengan rakus.
Ciuman yang diberikan pria itu bukan hanya sekedar kecupan atau sesapan biasa, tapi benar benar lu*atan panas.
Damian menekankan bibirnya dengan keras pada bibir Amora, sampai akhirnya perempuan itu membuka bagian mulutnya Lalu begitu berhasil, Damian segera memasukkan lidahnya dan mulai mengobrak abrik seluruh bagian rongga mulut Amora dengan sangat buas,membuat Amora cukup terkejut dengan tindakan pria itu, yang berani menciumnya dengan cukup brutal tanpa minta persetujuan darinya lebih dulu.
__ADS_1