
Didepan ruang operasi tampak Amora duduk gelisah ditemani oleh Rosaline teman baiknya, karena sekarang dua pria terpenting di hidupnya sedang berjuang didalam ruang operasi itu.
Berkali kali dia berdiri mendekat keruang operasi lalu kembali lagi ke kursi itu pun dibujuk oleh Rosaline yang lebih khawatir pada kondisi Amora sekarang dibandingkan pada dua orang yang ada diruang operasi.
" Amora, sebaiknya kau berhenti gelisah, percayakan semuanya pada tim dokter. Bukankah yang menangani mereka adalah dokter dokter terbaik yang sengaja didatangkan oleh Damian untuk Chan sekarang jadi aku rasa mereka pasti akan baik baik saja nantinya."
Meski tau kalau yang dikatakan oleh Rosaline itu benar, tapi tetap sulit rasanya bagi Amora bersikap tenang saat itu.
Saat ini di ruangan yang berbatas pintu kaca kedap suara sedang terbaring putranya dan juga ayah dari putranya, serta calon bayi di perut nya sekarang.
Meski semua dokter yang menangani mereka adalah dokter terbaik, tapi kegagalan serta kesalahan itu bisa selalu terjadi dan hal itu sudah sering disaksikan oleh Amora selama ini, terutama sejak sang putra Chan Medison sakit.
Andai sekarang itu harus terjadi lagi Amora tidak bisa membayangkan bagaimana nanti hidupnya untuk kedepan.
Dia pasti akan hidup dengan dihantui rasa bersalah juga penyesalan terutama untuk Chan,karena sejak putranya itu lahir, dia belum pernah bisa memberikan apapun pada bocah laki-laki itu.
Tak tau berapa lama dia berada didepan ruang operasi, tapi dia langsung berdiri begitu lampu penanda operasi sudah berakhir menyala.
Sebelum pintu kaca itu terbuka Amora sudah berdiri didepan pintu, menunggu dengan perasaan cemas dokter yang akan keluar membawakan khabar mengenai apa yang terjadi didalam.
Mengetahui Amora seketika berdiri, Rosaline juga melakukan hal yang sama.Dia berdiri di samping Amora dengan memeluk bahu perempuan itu erat sebagai bentuk dukungan nya.
" Bagaimana kondisi Chan dan Damian dokter?" tanya Amora, dengan nada suara cemas yang terdengar jelas ketika bertanya pada dokter Peter, yang keluar dari rumah operasi untuk menemui Amora, guna memberitahukan hasil operasi pencangkokan sum sum tulang belakang Putra perempuan itu.
__ADS_1
" Hufft!"
Dokter Peter terdengar menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Amora membuat perempuan itu menjadi semakin cemas, bahkan tanpa dia sadari tubuhnya gemetar akibat perasaan khawatir yang dirasakannya sekarang, mengenai kondisi dia orang pria yang masih ada didalam ruang operasi itu.
" Dokter..." gumamnya lirih dengan wajah yang jelas terlihat pucat dan andai tidak ditopang oleh Rosaline mungkin sekarang dia sudah jatuh karena tidak bisa menopang beban tubuhnya sendiri.
" Nona Amora, jangan cemas. Semuanya berjalan lancar dan sekarang...."
" Bruk!"
Tiba tiba Amora benar benar pingsan sebelum mendengar seluruh ucapan dokter Peter, hingga membuat Rosaline yang sedang memeluk tubuhnya terkejut. Untung saja dengan sigap dokter Peter menangkap tubuh perempuan itu, hingga membuat Amora tidak sampai jatuh kelantai.
Segera dengan sigap dokter Peter meminta perawat membawa tubuh Amora yang pingsan keruangan rawatnya, untuk diberi pertolongan karena syok yang dialaminya itu.
***
Sementara diranjang sampingnya tampak Damian juga sudah ada disana sedang berbaring diam, akibat pengaruh obat bius yang masih ada pasca operasi pengambilan sum sum tulang belakang tadi.
Sementara disofa tampak Rosaline dan Nathan sedang duduk menunggu mereka berdua.Rosaline langsung bangun dari sofa ketika melihat Amora sadar dari pingsannya dan berjalan mendekat keranjang tempat perempuan itu terbaring.
" Amora, bagaiman kondisimu?" tanya Rosaline dengan wajah cemas.
Bukannya menjawab apa yang ditanyakan oleh teman baiknya itu, Amora malah bertanya tentang kondisi Damian juga Chan.
__ADS_1
" Bagaimana kondisi Damian? Apa dia baik baik saja? Lalu Chan juga bagaimana Ros?" tanya Amora dengan raut cemasnya.
Rosaline menoleh sesaat kearah Damian yang terbaring diam diranjang lalu kembali menoleh kearah Amora dengan menggenggam tangan sahabat baiknya itu
" Jangan khawatir semua baik baik saja.Damian hanya belum sadar begitu juga Chan, operasinya berhasil itu menurut keterangan dokter Peter." Tiba tiba Amora bangun dari ranjang setelah mendengar keterangan Rosaline, membuat Rosaline bingung Dnegan sikap perempuan itu.
" Amora," tegur Rosaline.
" Aku akan keruangan Chan untuk melihat kondisinya sekarang. Aku harus melihat sendiri kalau apa yang kau katakan itu tidak bohong Ros," ucapnya dengan bersikeras turun dari ranjang, lalu berniat melepas paksa infus yang terpasang ditangannya, membuat Rosaline terpaksa menahan apa yang akan dilakukan oleh Amora saat itu.
" Amora apa yang kau lakukan?! Kondisimu sekarang masih lemah. Jadi jangan gegabah!" bentak Rosaline Melarang.
" Tapi aku harus melihat Chan sekarang Ros. Tolong jangan cegah aku!" Amora tidak mau kalah, meski dia sadar kalau sekarang kondisinya memang masih lemah, bahkan kakinya saja masih terasa gemetar ketika dia mencoba berdiri.
" Tapi tidak harus sampai senekat itu. Aku akan mengantarkan mu kesana menggunakan kursi roda dan jangan membantah kalau kau ingin menemui Chan!"
Kali ini Amora tidak membantah Rosaline, karena tau kalau dia memang membutuhkan bantuan sahabat baiknya itu untuk bisa sampai keruangan dimana Chan putranya sedang dirawat sekarang.
" Tolong katakan kami pergi ketempat Chan pada Damian ketika dia sadar nanti, Nathan," pesan Rosaline, sebelum mendorong kursi roda Amora keluar dari ruang perawatannya, menuju ruangan tempat Chan dirawat.
Nathan hanya mengangguk mendengar pesan yang disampaikan Rosaline tanpa mengatakan apa apa.
Karena dia tau Amora,akan baik baik saja pergi bersama Rosaline. Selain itu dia juga menepatkan pengawal rahasia atas perintah Damian disekitar rumah sakit, karena khawatir akan keselamatan Amora juga Chan akibat insiden penculikan yang dilakukan oleh Estela dan rekan prianya beberapa waktu yang lalu, meski sekarang mereka berdua sudah ditangkap dan sudah berada dipenjara tapi karena ternyata pria yang merupakan rekan Estela bukan orang sembarangan, Damian tidak ingin mengambil resiko dan memilih menyuruh pengawal mengawasi rumah sakit selama mereka semua dirawat disana.
__ADS_1
Tak lama begitu Amora dan Rosaline keluar dari ruangan itu Damian sadar dari pengaruh obat bius pasca operasi. Nathan yang sudah menduga kalau pria itu pasti akan langsung menanyakan keberadaan Amora, memilih mengatakannya lebih dulu pada Damian sebelum pria itu bertanya padanya.
" Amora sedang keluar menemui Chan Medison, Dam. Dan kurasa mereka tidak akan lama perginya, jadi sebaiknya kau tunggu saja mereka berdua kembali, jangan meminta aku untuk menyusul mereka karena aku tidak ingin mendapat masalah dari dokter dirumah sakit ini, akibat semua pasien VIPnya bersikap keras kepal tidak mau istirahat meski sudah tau kondisi tubuh mereka sedang tidak baik baik saja."