Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
45. Penjelasan Dokter.


__ADS_3

" Lalu bagaiman kondisi kandungan Amora sekarang dok?" tanya Damian dengan nada suara terdengar tidak terlalu antusias ditelinga dokter tersebut.


" Rentan keguguran," jawab dokter itu.


Seketika wajah keras Damian berubah pucat pasi mendengar penjelasan dari dokter dihadapannya itu.


" Rentan keguguran maksud anda bagaimana?!" tanya Damian Dnegan nada tinggi karena cemas. Ya, tiba tiba saja dia mulai merasa cemas ketika tau kalau anaknya. Apa mungkin itu adalah anaknya? Bagaimana kalau bukan, itu yang sebenarnya membuat Damian tidak antusias ketika mendengar tentang khabar kehamilan Amora tadi,tapi dia ketika dokter memberi tahukan kalau kandungan Amora rentan keguguran dia merasa tidak suka.


" Itu efek dari obat penenang yang diberikan oleh orang yang baru saja menculik nona Amora, tuan Damian," terang dokter.


" Brengsek!" maki Damian,tanpa bisa mencegah makiannya meski masih bicara dengan dokter yang menangani Amora sekarang.


" Meski rentan keguguran akibat efek obat penenang dari para penculik tersebut tapi saya rasa bayi dalam perut Nina Amora punya kemungkinan besar untuk selamat, jadi anda masih bisa merasa tenang tuan Damian," jelas dokter itu lagi.


" Kenapa? Apa ada alasannya dok?" tanya Damian heran karena berpikir dokter itu sekarang sedang bicara berputar putar padanya tentang kondisi Amora dan calon anak dalam perutnya itu.


" Iya tuan."


" Apa itu?" tanya Damian penasaran.


" Karena ini bukan kehamilan pertama nona Amora, jadi..."


" Bukan kehamilan pertama?!Apa maksud anda dokter tolong bicara dengan jelas dan jangan berputar putar seperti ini!" bentak Damian emosi.


Si dokter terdiam sesaat, dengan menatap lekat kearah Damian yang terlihat sangat marah sekarang.

__ADS_1


Dia marah pada pria dihadapannya ini, juga marah ketika mendengar kalau sebenarnya Amora sudah pernah hamil sebelum ini. Kapan itu? Apa setelah mereka berpisah dulu,kalau iya dimana anak itu dan siapa ayahnya. Bagaimana bisa dia tidak tau hal ini sampai detik ini, batin Damian dengan gigi bergemeretak menahan marah.


" Apa anda tidak tau kalau sebenarnya nona Amora sudah punya anak sebelum ini. Saya pikir kalian punya hubungan istimewa tuan."


"Ternyata anda tau banyak tentang perempuan milik saya dokter. Apa anda juga tertarik dengannya, karena itu anda terlihat sangat perhatian, bukan selayaknya dokter terhadap pasiennya," sindir Damian sinis.


" Maaf kalau anda sampai merasa seperti itu tuan Damian, tapi memang kalau boleh jujur saya dan nona Amora sering bertemu, karena anak beliau, Chan Medison dirawat dirumah sakit ini dan ditangani oleh dokter Peter yang merupakan teman sejawat saya," terang dokter tersebut, dengan suara tenang, tidak memperdulikan sikap sinis yang ditunjukan Damian barusan.


Wajah Damian Seketika berubah pucat pasi setelah mendengar ucapan dokter itu, dia pikir dia baru saja salah dengar saat dokter tersebut menyebut siapa nama anak Amora.


" Siapa?...Siapa namanya tadi dokter?" tanya Damian, dengan suara tidak lagi sinis atau keras seperti sebelumnya.


" Ya, maksud anda tuan Damian?" tanya dokter tersebut, yang balik bingung dengan maksud dari pertanyaan pria dihadapannya ini.


" nama anak Amora? Siapa?! Apa benar Chan Medison yang sekarang sedang sakit itu atau ada Chan Medison lain?!" tanya Damian dengan nada suara keras, karena mulai merasa gusar memikirkan bahwa anak Amora itu adalah anak laki laki kecil penderitaan kanker Leukimia yang sering dikunjunginya selama ini.


" Saya permisi sekarang dokter, saya perlu bicara dengan dokter Peter sekarang juga," ucap Damian, lalu bangun dari duduknya dan pergi begitu saja dari ruangan dokter itu.


Dokter jaga itu hanya memperhatikan kepergian Damian, tanpa mengatakan apapun, sampai sosok Damian menghilang dibalik pintu ruang praktek miliknya.


****


Setelah dari ruang kerja dokter yang tadi memeriksa kondisi Amora, sambil berjalan Damian menghubungi dokter Peter, dokter yang selama ini menangani kondisi Chan Medison, bocah laki-laki kecil yang membuat dirinya tertarik dan ternyata menurut keterangan dari dokter jaga tadi bocah itu adalah putra Amora, perempuan yang sekarang sedang dirawat diruangan VIP rumah sakit ini dan sekarang sedang mengandung lagi, yang kemungkinan besar itu adalah bayi miliknya melihat dari usia kehamilan perempuan itu, meski Damian belum yakin 100 persen tapi 95 persen dia yakin kalau bayi dalam perut Amora sekarang itu adalah bayi miliknya.


Tapi bukan itu tujuan dia sekarang menghubungi dokter Peter, melainkan untuk memastikan kebenaran ucapan dokter jaga tadi.

__ADS_1


" Halo tuan Damian," jawab dokter Peter dari seberang telepon, membuat Damian tersadar dari pikirannya.


" Diaman anda dokter Peter?" tanya Damian.


" Saya sedang berada dirumah sekarang.Apa ada urusan penting hingga anda menghubungi saya dijam segini?" tanya dokter Peter dengan nada suara heran, karena selama ini pria yang sedang menelponnya tersebut, tidak pernah menghubungi dia di luar jam kerjanya.


" Iya, aku sekarang sedang berada dirumah sakit tempat anda bekerja tuan Peter..."


" Anda disana jam segini? Apa ada masalah dengan kondisi anda?" tanya dokter Peter, dengan nada suara terdengar cemas yang jelas ditelinga Damian sekarang.


" Bukan aku, tapi Amora. Anda kenal nama itu bukan dokter?" tanya Damian tanpa basa basi .


" Iya saya kenal, karena dia adalah ibu dari Chan Medison. Anak laki-laki yang sering anda kunjungi itu. Tapi apa yang terjadi pada nona Amora dan ternyata kalian saling kenal tuan Damian?" ucap dokter Peter, dengan nada suara heran juga bingung.


Bukannya menjawab pertanyaan dari dokter ahli kanker itu, Damian malah mengatakan masalah lainnya yang memang ingin diketahuimya sekarang.


" Itu tidak penting sekarang dokter, tapi tujuan saya menghubungi anda malam malam begini adalah untuk memastikan kalau Chan Medison itu, apa benar dia putra dari Amora Medison yang saya maksud ini?" tanya Damian.


" Iya, saya rasa.Apa anda baru mengetahuinya. Tuan Damian?" tanya balik dokter Peter, yang tidak dijawab oleh Damian karena begitu mendengar jawaban dokter Peter dari seberang telpon perasaannya terasa berkecamuk tidak karuan.


Setelah terdiam cukup lama untuk menenangkan perasaannya, Damian kembali bertanya pada dokter Peter, karena dia yakin dokter ahli kanker itu pasti tahu jawaban dari pertanyaan yang akan dia tanyakan itu.


" Lalu siapa ayah anak itu dokter? Aku yakin anda pasti tau bukan, karena sudah bertahun tahun anda kenal mereka dan menangani Chan selama ini."


" Ayah anak itu sudah tidak ada tuan Damian, karena itu saya tidak bisa meminta nona Amora untuk meminta ayah Chan mendonorkan sum sumnya, untuk bocah kecil itu."

__ADS_1


Kali ini Damian benar benar terhenyak dan tidak tau, bagaimana menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh dokter Peter padanya.


Yang pasti untuk mengetahui semua ini dia harus bertanya langsung pada Amora sendiri, setelah kondisi perempuan itu mulai membaik dan kondisi kandungan nya juga stabil.


__ADS_2