Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
46. Kebenaran Yang Terungkap.


__ADS_3

" Apa Dok, sekarang aku sedang hamil?!"


Amora sangat syok, mendengar apa yang disampaikan oleh dokter yang memeriksa kondisinya pagi itu.


" Benar nona Amora, anda sekarang sedang hamil sekitar 5 Minggu," terang dokter tersebut yang membuat Amora tanpa sadar menekan pelipisnya karena terasa sangat berdenyut sekarang ketika mendengar kenyataan itu.


5 Minggu itu berarti bayi yang ada dalam kandungannya sekarang adalah anak dari Damian, lagi. Hasil dari kejadian malam ketika di Bar waktu itu.


Oh Tuhan, keluh Amora,' ini karma atau petaka, batinnya dengan menekan kepalanya yang terasa sangat berdenyut sekarang, karena menyadari kenyataan itu.


Hidupnya sudah cukup rumit karena harus memikirkan Chan Medison putranya yang sekarang sedang sakit parah, tapi sekarang dia juga harus menanggung calon bayi yang sedang tumbuh dalam perut nya ini. Amora benar benar tidak bisa berpikir, otaknya buntu dan perasaannya terasa campur aduk tidak karuan. Ingin menangis, juga ingin berteriak disaat bersamaan, karena mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan dokter padanya.


" Anda baik baik saja nona Amora," tegur dokter tersebut ketika melihat wajah Amora yang memucat lagi setelah dia menyampaikan khabar kondisinya.


Amora tidak ingin pura pura baik baik saja karena memang sekarang dia sedang tidak dalam kondisi baik, jadi ketika dokter itu bertanya dia langsung menggelengkan kepalanya.


" Tidak dok, saya tidak baik baik saja sekarang. Kehamilan ini sangat mengejutkan saya dan saya rasa, saya tidak menginginkannya....hiks...hiks.." Terangnya sambil terisak.


Dokter itu ingin menghibur Amora yang terlihat sangat kacau sekarang, tapi belum sempat dia melakukannya, tiba tiba pintu ruang perawatan perempuan itu terbuka dengan cukup keras dan sosok Damian masuk kedalam ruangan itu.


" Ada apa ini? Apa yang terjadi padamu, my Amor?!" dengan langkah lebar berjalan mendekat keranjang, tempat Amora berada.

__ADS_1


Melihat Damian masuk, dokter itu mengurungkan niatnya dan memilih mundur kebelakang, untuk membiarkan Damian mendekat kearah ranjang Amora.


" Saya akan keluar, silahkan kalian berdua bicara dengan nyaman," lalu dokter tersebut berjalan menuju pintu ruang perawatan Amora, meninggalkan dua orang tersebut agar bisa bicara dengan bebas.


Setelah pintu ruang perawatan ditutup oleh dokter yang tadi memeriksa kondisi Amora, barulah Damian kembali bicara, pada perempuan itu yang masih terisak seperti ketika dia masuk keruangan tersebut.


Damian mendekat lalu mengulurkan tangannya kearah wajah Amora Dnegan niat ingin menyapu air mata yang masih saja mengalir dipipi perempuan cantik itu.


" Ada apa my Amor?Apa ada yang terjadi sampai kau harus menangis seperti sekarang?" Damian bicara dengan suara lembut untuk menenangkan Amora yang sedang menangis. Tapi bukannya berhenti, tangis Amora semakin kencang bahkan dengan kasar dia menepis tangan Damian yang sedang berada diwajahnya, membuat Damian semakin bingung melihat reaksi yang diberikan Amora sekarang.


" My Amor," bujuk Damian, dengan suara sangat lembut berharap dengan itu tangis Amora reda.


" Pergilah, Dam. Aku tidak ingin melihatmu sekarang!" pinta Amora, dengan mendorong tubuh Damian yang sedang condong kearah dirinya agar menjauh.


" Menjauh Dam! Sudah kubilang aku tidak mau melihatmu lagi sekarang!"


" Kenapa? Apa karena kau sekarang sedang mengandung anak yang kemungkinan besar itu adalah darah dagingku atau karena anakmu yang lain, yang sekarang sedang sakit parah dirumah sakit lain?" tanya Damian tanpa basa-basi, meski sekarang Amora sedang terisak.


Amora yang semula terisak karena sedih memikirkan yang sedang terjadi pada dirinya, seketika terdiam dan dengan tenaga yang tiba tiba muncul entah dari mana, dia mendorong tubuh tinggi besar Damian, sampai membuat pria itu terdorong menjauh darinya.


Setelah mereka berjarak tanpa mengatakan apa apa, dengan tiba tiba Amora mengangkat tangannya dan menampar wajah Damian dengan sangat keras, membuat Damian sangat terkejut dan tidak menyangka kalau Amora akan bereaksi sekeras itu setelah mendengar kata katanya.

__ADS_1


"My Amor, kau..."


" Dasar brengsek kau Damian! Aku membencimu benar benar membencimu! Kau selalu menyakitiku dari dulu sampai sekarang! Selain itu bisa bisanya kau mengatakan bahwa bayi dalam kandunganku sekarang ini bukan anakmu!" teriak Amora penuh emosi.


" Bukan begitu my Amor, aku hanya bilang ada kemungkinan dan kalau boleh jujur, sebenarnya aku ingin yakin kalau itu memang anakku meski kita melakukannya hanya sekali malam itu," jelas Damian, berusaha memberi pengertian pada sikap penuh emosi yang ditunjukan Amora sekarang.


" Kau selalu seperti itu. Tidak pernah mau disalahkan. Dulu juga begitu, kau pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa mau mendengar penjelasanku sama sekali.Kau hanya merasa diriku yang terus salah, sampai membuat Chan harus lahir dan tumbuh tanpa sosok seorang ayah dan sekarang kau juga akan begitu lagi. Kau benar benar bukan manusia Damian! Sebaiknya pergi saja sekarang seperti dulu, karena sekarang kami semua tidak butuh dirimu Dam!"


Kali ini Damian yang berubah terhenyak mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Amora, dalam kondisi penuh amarah.


Dia sangat syok mendengar semua itu, bahkan dia hanya bisa berdiri diam untuk sesaat, karena tidak tau harus bereaksi bagaimana mendengar semua kenyataan itu.


" My Amor,apa semua itu benar?" tanya Damian dengan suara lirih masih sulit mencerna kenyataan yang baru saja didengarnya tadi.


" Tidak! Itu semua tidak benar karena itu pergi saja sana menjauh dariku dan hidup kami semua!" bentak Amora keras tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi Damian saat itu.


Bukannya pergi seperti yang diperintahkan oleh Amora,melainkan Damian tiba tiba berlutut dihadapan Amora dengan berusaha meraih tangan perempuan itu meski berusaha ditepis oleh siempunya.


" Maaf my Amor, maaf...."ucapnya dengan suara lirih, yang masih bisa didengar jelas oleh Amora dan belum bisa membuat perasaan perempuan itu membaik, ketika mendengar ucapan maaf yang dikatakan oleh pria arogan dan angkuh dihadapannya itu.


" Percuma Dam. Menjauh lah kalau kau tidak mau pergi biar aku saja yang pergi sekarang," jawab Amora, dengan menepis tangan Damian dan berniat menjauh dari pria itu, tapi sebelum dia melakukannya, Damian segera meraih tubuh ramping Amora dan menariknya kedalam pelukan.

__ADS_1


" Jangan pergi my Amor kumohon. Aku akan melakukan apa saja untuk membuat mu bisa memaafkan ku dan mulai sekarang aku ingin menebus semua rasa sakit yang dulu sudah kuberikan padamu juga Chan, bagaimanapun caranya. Tolong beri aku kesempatan my Amor, tolong..." pinta Damian dengan suara memohon kepada Amora, yang sama sekali tidak dijawab oleh perempuan itu.


Hati dan pikirannya terlalu campur aduk sekarang, hingga tidak tau apa yang harus dilakukan atau bahkan dikatakan, pada pria yang sedang memohon padanya itu.


__ADS_2