Pelakor Kesayangan Pria Kejam

Pelakor Kesayangan Pria Kejam
43.Dikurung Estela.


__ADS_3

Sementara itu Amora.


Amora membuka mata dan bingung, ketika mendapati dirinya berada disebuah ruangan dengan pencahayaan remang dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat disebuah kursi.


' Dimana ini? Dan apa yang sudah terjadi padanya, sebenarnya? Kenapa dia bisa berada dikamar asing ini sekarang, batin Amora dengan mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan yang berukuran sekitar 2,5 x 3 meter tersebut.


Meski merasa pusing dan bingung, Amora berusaha mengingat lagi setiap detail yang terjadi pada dirinya sejak dia mulai meninggalkan Mansion Damian, sampai akhirnya berada diruangan asing tersebut dalam kondisi tubuh terikat dikursi.


 Untung saja sekarang dia masih mengenakan pakaian lengkap, jadi meski bingung dirinya sedikit tenang, karena berarti orang yang sudah menculik dia tidak melakukan tindakan asusila padanya selama dia tidak sadarkan diri.


Amora terdiam dengan berusaha mengingat setiap detail hal yang sudah terjadi padanya tadi.


Dia keluar dari Mansion Damian, dengan niat pergi kerumah sakit untuk bertemu dengan Chan putranya. Tapi ketika berada disebuah toko mainan, dengan maksud untuk membelikan Chan hadiah kecil yang akan dibawanya kerumah sakit.


Ketika baru saja keluar dari toko mainan, sebelum naik kedalam mobil yang dikendarainya, tiba tiba dia dibekap oleh seseorang yang tidak dikenal.


Setelah dibekap, dia langsung tidak sadarkan diri dan ketika sadar, dia sudah berada diruangan ini.


Jadi ternyata sekarang dia sudah diculik oleh seseorang, pikir Amora mulai bisa memahami situasinya.


Tapi siapa yang sudah tega melakukan ini padanya.Siapa? Pikir Amora berusaha memperkirakan orang yang mungkin punya niat buruk melakukan hal ini padanya.


Tapi belum sempat dia bisa menemukan jawaban dari kebingungannya tersebut, tiba tiba pintu kamar tersebut dibuka dari luar oleh seseorang.


Melihat ada yang akan masuk kedalam kamar tersebut, Amora pun langsung menoleh kearah pintu dengan penasaran.


Dan begitu pintu terbuka. Amora terhenyak, saat melihat siapa yang berdiri didepan pintu kamar tersebut, hingga tanpa sadar langsung mengucapkan nama orang yang sedang berjalan masuk tersebut.

__ADS_1


" Estela...." gumam Amora, tidak percaya melihat sosok istri Damian itu berjalan masuk kedalam ruangan, tempatnya berada sekarang.


" Halo Amora. Apa kau terkejut melihat aku sekarang?" tanya Estela dengan ekspresi sinis, kearah perempuan yang sedang terikat dikursi dikamar itu.


" Ternyata kau yang melakukan ini padaku. Tapi kenapa, Estela?" tanya Amora bingung, karena perempuan dihadapannya itu ternyata sampai berbuat hal tidak masuk akal seperti sekarang pada dirinya.


Estela mendekat kearah Amora, lalu dengan kuat dicengkeramnya dagu Amora sampai terasa sangat sakit.


" Kau bertanya kenapa? Jangan pura pura bodoh dan tidak tau kenapa aku melakukan ini padamu, dasar Pela* ur murahan." maki Estela marah.


" Issshh...lepas Estela," pinta Amora berusaha melepaskan cengkraman jari Amora di dagunya dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri agar cekalan perempuan itu terlepas.


Tapi bukannya melepaskan cekalannya, seperti permintaan Amora, Estela dengan satu tangannya yang lain menarik kuat rambut dikepala Amora, sampai membuat kepala Amora terdongak kebelakang, karena tarikan tangan yang dilakukan Estela.


" Lepas! Enak sekali kau meminta aku melepaskan mu, setelah apa yang kau lakukan padaku, brengsek!" maki Estela, penuh emosi.


"Aauw....sakit Estela. Tolong lepaskan dan mari kita bicara," pinta Amora, masih berusaha membujuk perempuan itu supaya luluh, meski sebenarnya Amora tidak yakin Estela akan mau melakukan permintaannya. Tapi paling tidak, dia harus bisa mengulur waktu sebanyak mungkin sekarang dan berharap, bisa punya kesempatan untuk kabur atau berusaha mencari bantuan, agar selamat dari sekapan Estela.


" Iitu...tidak seperti yang kau pikirkan, Eestela."


" Memangnya kau tau apa yang aku pikirkan brengsek! Kurasa tidak! Kau itu benar benar perempuan tak tau diri apa kau tau itu!" bentak Estela penuh emosi.


" Mmaaf Estela. Aku terpaksa melakukannya."


" Terpaksa....Kau hilang terpaksa! Kau itu sudah merebut Damian dariku lalu sekarang saat aku menghukummu kau bilang kau terpaksa! Dasar Pela* ur murahan! Kau pikir aku akan percaya. Apalagi melihat bagaimana sikap mu selama ini padaku."


"Iitu semua hanya akting. Aku dan Damian sebenarnya tidak punya hubungan apapun. Aku melakukannya karena , Auwww sakit Estela...tolong lepaskan aku," pinta Amora ketika Estela kali ini mulai mencengkram leher Amora berniat untuk men*ekik perempuan itu karena sangat marah.

__ADS_1


Amora benar benar merasa sangat kesakitan sekarang karena Estela sama sekali tidak menahan diri atau sedang pura pura, tapi dia benar benar berniat menghabisi Amora karena sangat marah.


Amora sudah mulai pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Estela, dia sudah hampir pingsan, akibat dari apa yang dilakukan perempuan itu padanya. Tapi disaat dia mulai pasrah, tiba tiba dia mendengar seseorang menghentikan perbuatan gila Estela tersebut.


" Hentikan darling! Jangan kau bunuh dia!"


Seketika Estela menghentikan kegilaannya dan melepaskan, cekalannya pada Amora mendengar larangan tersebut.


" Kenapa kau menghalangi ku, Frans?!" balas Estela, dengan nada suara kesal pada orang yang menghentikannya tersebut.


" Jangan kotori tanganku dengan melakukan perbuatan rendah seperti itu, pada perempuan tidak berharga ini," pinta Frans, dengan menarik Estela menjauh.


Membuat Amora mulai bisa bernafas teratur, hingga perlahan kesadarannya mulai pulih dan dia, bisa melihat sosok orang yang tadi sudah menyelamatkan dia dari kegilaan Estela.


Di hadapannya sekarang, tampak berdiri seorang pria berusia diawal 50 dengan tubuh cukup besar, tapi terlihat berwibawa dan berkelas.


Siapa dia? Batin Amora dengan menatap kearah Estela, juga pria paruh baya disamping istri Damian tersebut.


Meski tidak tau siapa pria paruh baya tersebut, tapi dari kedekatan mereka Amora tau kalau mereka berdua pasti punya hubungan spesial.


" Lalu kalau aku tidak boleh menghabisinya. Bagaimana aku akan membalas apa yang sudah dilakukan padaku Frans? Apa aku hanya harus melihat perempuan itu...." Estela menunjukan jarinya kearah Amora dengan raut penuh kebencian.


" Kau tetap bisa membalaskan sakit hatimu, tanpa perlu mengotori tangan mu, darling," bujuk pria itu dengan membelai pundak Estela lembut, untuk meredakan emosi Estela.


" Bagaimana caranya?" tanya Eetela menoleh, kearah pria paruh baya yang dipanggilnya dengan nama Frans tersebut.


" Kita jual dia."

__ADS_1


Wajah Estela langsung terlihat berbinar, mendengar saran yang dikatakan oleh Frans padanya.Sementara Amora langsung terhenyak, syok mendengar apa yang dikatakan pria tua itu pada Estela.


Oh Tuhan,dia akan dijual oleh mereka bagaimana ini, pikir Amora dengan perasaan cemas dan takut, membayangkan kalau sampai benar benar akan dijual oleh mereka nantinya.


__ADS_2